Ekonomi Kerakyatan Berbasis Komunitas
Enciety.com - 14/09/2009 11:58
Kategori : Srikandi Nelayan.
Di tengah krisis ekonomi yang masih mengkhawatirkan, terdapat inisiatif Kota Surabaya yang kreatif dan menggembirakan – multi stakeholder partnership. Kerja sama banyak pihak ini, mengambil inspirasi dari budaya gotongroyong. Langkah ini diharapkan mendorong kemajuan usaha mikro dan kecil (UMK) berbasis komunitas secara nyata dan berkelanjutan…

Walikota Surabaya Bambang DH diapit Dian dan Satria (Carrefour); Kresnayana Yahya (Enciety); Irmansyah dan Meta (Sampoerna); Rini dan Gatot (Telkom) membawa hasil produksi Srikandi Nelayan
Sebenarnya dengan 65 persen pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi rumah tangga. Festival atau gelar produk dapat menjadi modal penting untuk tingkatkan konsumsi rumah tangga. Demikian juga perdagangan ritel yang efisien. Perlu diingat, konsumsi rumah tangga memiliki rantai ekonomi yang lebih jelas dibanding denga konsumsi pemerintah.
Upaya–upaya seperti di atas, menguntungkan para pedagang ritel, UMK yang menjadi pemasok,dan para pekerja terkait. Pedagang makanan dan minuman, sopir angkutan umum sampai tukang parkir dapat merasakan dampak positifnya. Bahkan, cara ini juga menguntungkan konsumen, karena biaya pemasaran dan distribusi makin murah.
Hanya saja festival atau gelar produk tersebut dampaknya temporer. Karena itu, dibutuhkan jalur perdagangan ritel yang makin efisien. Dengan kondisi konsumen yang tergolong multi channel users, peluang ini juga dapat dimanfaatkan pemilik toko tradisional untuk bertransformasi menjadi lebih modern. Tentunya dalam bentuk koperasi atau komunitas.
Inilah yang tidak mudah. Semangat gotong royong lebih mudah sekadar dibicarakan ketimbang dilaksanakan. Gotong royong seolah–olah hanyalah wacana semata, tampak saat UMK membeli bahan baku. Padahal, hanya dengan cara inilah kita dapat meningkatkan gairah ekonomi domestik yang lebih semarak dan berkeadilan bagi semua, serta berkelanjutan.
Memang butuh beberapa tahapan untuk mentransformasikan ekonomi kerakyatan itu, terutama dalam paradigma berpikir.
“Salah besar jika UMK (sebagai representatif ekonomi rakyat) dipandang hanya membutuhkan bantuan dana / modal ataupun solar semata,” tegas ketua kelompok nelayan di Bulak – Surabaya Utara.
Saat ini, makin banyak penawaran kredit untuk UMK yang sepintas tampak pro poor policy. Salah satu bank dengan rasio kecukupan modal (CAR) terbesar berhasil menyalurkannya Rp11 triliun tahun lalu, dengan bunga kredit sebesar 24–26 persen. Namun dengan besaran kredit korporasi hanya sebesar 13 persen, memperlihatkan kondisi paradoksal dari “bantuan” untuk kesejahteraan UMK.
”Aid never reduce poverty, bantuan tidak akan pernah menurunkan kemiskinan,” tutur Kresnayana Yahya – Chairperson Enciety Business Consult. Menurut Kresna, bantuan untuk kelompok marjinal, seperti petani dan nelayan tidak akan banyak bermanfaat. “Mereka tetap tidak bisa melawan siklus “abadi”, yakni saat panen justru menjadi waktu yang menyedihkan,” lanjutnya.
Contohnya, harga udang ukuran kecil. Tahun lalu komoditas ini dapat dijual Rp15 ribu per kilogram, bulan lalu masih Rp10 ribu, dan panen bulan ini tinggal Rp5 ribu. Khusus untuk kasus ini, tidaklah mungkin hanya mengandalkan cara semacam festival atau gelar produk semata.
Untuk itulah, intervensi yang lebih cerdas dan peduli sangat dibutuhkan.
“Kemampuan mereka untuk berproduksi sangat terbatas–mikro. Selama ini, mereka menjual mentah, sehingga seolah–olah tidak memiliki bargaining position,” kata Kresna. Kalaupun diolah, masih sangat sederhana dan tidak mempunyai standar operasi. Begitu juga bahan–bahan yang digunakan tidak semuanya layak konsumsi.
Kondisi inilah yang mendorong inisiatif Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggagas solusi yang cerdas dan peduli. Kata kuncinya “Berawal Dari Hati”. Suatu keberpihakan yang nya terhadap usaha berbasis komunitas atau kelompok,” ucap Bambang DH, Wali Kota Surabaya saat meluncurkan solusi kreatif ini tepat HUT ke–716 kota Surabaya kemarin.
“Dengan semangat gotong–royong, kami memanfaatkan skema ekonomi kerakyatan berbasis komunitas,” tuturnya. Ibu–ibu nelayan didorong untuk membentuk UMK berbasis komunitas atau kelompok. Hasil tangkapan nelayan yang segar dengan kualitas utama, dapat langsung dijual dengan harga yang lebih baik tentunya.
Sedangkan yang kualitasnya lebih rendah, atau “kelebihan” hasil tangkapan yang dapat menyebabkan harga anjlok, akan diolah UMK tersebut.
Untuk meningkatkan kapasitas ekonomi kemampuan produksi dan pengembangan produk, mereka akan didampingi pelaku usaha yang peduli, dan memang mempunyai kompetensi di bidang ini.
Adapun untuk meningkatkan kemampuan di bidang pemasaran dan distribusi, para Srikandi Nelayan ini akan didampingi ritel modern yang peduli dan kompeten di bidangnya. Harapannya, makin memudahkan konsumen untuk membeli produk hasil olahan laut tersebut. Tentu saja dengan rasa enak, sehat, dan halal.
Mereka juga akan didampingi pelaku usaha lain, yang mempunyai kepedulian dan kemampuan menyalurkan dana bergulir, serta meningkatkan kualitas hidup komunitas tersebut. Dengan berbasis komunitas dan disertai semangat gotong–royong, usaha tersebut diharapkan dapat segera tumbuh dan berkembang. Sehingga menjadi model yang mudah diadopsi.
Kini, saatnya secara bersama membangkitkan ekonomi kerakyatan yang berbasis komunitas. Semoga inisiatif multi stakeholder partnership dari Surabaya ini, dapat mendorong UMK segera menjadi penggerak ekonomi. Dan, tentunya juga harus disertai kesungguhan semua pihak yang terlibat. Selamat berubah dan Semoga sukses… (don@enciety.com)

