enciety Log

Persembahan Sampoerna Untuk Surabaya

Kajian Potensi Keanekaragaman Hayati di Pantai Timur Surabaya dipersembahkan PT HM Sampoerna Tbk. untuk Surabaya tepat menjelang Hari Jadi Ke – 716. Suatu kejutan menyenangkan bagi Warga Kota dan makin meyakinkan Walikota Surabaya – Bambang DH untuk mewujudkan Surabaya sebagai kota hunian yang lebih aman dan nyaman.

Walikota Surabaya Bambang DH
Walikota Surabaya Bambang DH

Sebagai perusahaan yang lahir dan berkembang di Surabaya, PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) selalu berkeinginan untuk turut berpartisipasi dalam memajukan kota dan warganya. Salah satunya dengan dukungan Sampoerna melalui Gerakan Penanaman Mangrove dalam pelestarian hutan Mangrove di Pantai TimurSurabaya (Pamurbaya) yang keberadaannya kian memprihatinkan akibat aktivitas penebangan liar.

Menyadari makin pentingnya menjaga kelestarian hutan Mangrove di Surabaya, Sampoerna secara berkelanjutan mewujudkan partisipasi aktifnya. Bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia tahun 2008, Sampoerna menjadi pendukung utama dalam penanaman 15.000 bibit pohon Mangrove di kawasan konservasi Mangrove di pesisir pantai Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. Penanaman ini didukung 1.600 relawan dari berbagai pihak.

Sebagai pendukung utama, Sampoerna. menyediakan 10 perahu karet beserta mesin dan 3 tenda peleton, serta 200 relawan dari SVC (Sampoerna Volunteers Club) dan 89 mahasiswa terbaik peserta Sampoerna Best Student Visit 2008 yang dengan antusias turut membantu menyukseskan pelaksaaan program ini.

“Pelestarian hutan Mangrove yang digagas oleh Pemkot Surabaya merupakan upaya pelestarian lingkungan hidup yang memberikan manfaat bagi warga kota. Untuk itu, Sampoerna berkomitmen untuk konsisten mendukung dan turut berperan aktif dalam program ini,” kata Yos Adiguna Ginting, Direktur Corporate Affairs Sampoerna. Dukungan tersebut juga diwujudkan melalui pelaksanaan seminar Mangrove Nasional di Hotel JW Marriott di tahun yang sama.

Dalam seminar dengan tema “Menuju Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan” yang dibuka oleh Bambang DH, Walikota Surabaya dan diikuti oleh para pakar Mangrove di Indonesia, tercetus keinginan melakukan konservasi Pamurbaya yang lebih terstruktur dan dengan hasil yang lebih terukur.

Untuk mendukung hal tersebut, Bambang DH mengajak Sampoerna untuk mengunjungi Mangrove Information Center(MIC) di Bali Barat. MIC tersebut, merupakan hasil kerjasama Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Pemerintah Jepang (JICA).

Keberhasilan kerjasama tersebut, menambah keyakinan Pemkot untuk mewujudkan MIC di Pamurbaya bukan hanya kawasan konservasi, melainkan juga sebagai pusat penelitian, edukasi, dan rekreasi pantai.

Untuk itu, Pemkot mengajak Sampoerna untuk melakukan penelitian potensi dan studi kelayakan Pamurbaya. “Saya yakin dengan komitmen bersama antara pihak Pemkot dan Sampoerna, maka kita dapat mewujudkan MIC terbaik di Indonesia,” demikian ungkap Bambang DH.

Ajakan tersebut mendapatkan respon positif dari Sampoerna yang dalam pelaksanaannya didukung oleh Yayasan Pendidikan Konservasi Alam (Yapeka) dan Prof. Dr. Hadi Alikodra untuk turut terlibat dalam mewujudkan MIC di Pamurbaya.

Sebagai ahli Mangrove, Prof. Hadi, yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, sudah terlibat dalam berbagai upaya pelestarian Mangrove di Indonesia. “Saya yakin MIC di Surabaya dapat menjadi salah satu pusat penelitian dan edukasi yang akan sangat bermanfaat, selain menjadi kawasan konservasi bagi pelestarian lingkungan,” tuturnya.

Dari hasil penelitian di tiga kawasan, yakni: Wonorejo, Medokan Ayu, dan Gunung Anyar, ternyata Surabaya mempunyai 12 spesies lengkap Mangrove. “Ini merupakan salah satu kawasan alami Mangrove yang paling beragam di Indonesia,” lanjut Prof. Hadi.

Bukan itu saja, Pamurbaya mempunyai keanekaragaman fauna yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Terdapat mamalia sebanyak 7 spesies, 83 spesies burung, serta reptil dan amphibi sejumlah 10 spesies. Selain itu, juga terdapat 18 spesies ikan, 7 spesies udang, dan 53 spesies serangga.

Keanekaragaman ini sungguh luar biasa dan di luar ekspektasi banyak pihak. Namun, untuk memaksimalkan upaya pelestarian dan mendapatkan dukungan masyarakat, maka dibutuhkan kerjasama berbagai pihak yang terkait dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Salah satu harapannya ialah tercapainya peningkatan penghasilan masyarakat pesisir.

Sehingga para nelayan dan petani tambak dapat yakin kehadiran Mangrove merupakan salah satu faktor penentu pada kelimpahan hasil panennya.

Hal ini sudah dibuktikan salah satu kelompok nelayan di sekitar Gunung Anyar yang berhasil menjadi juara tingkat nasional budi daya udang. Dengan mengungguli kelompok nelayan di sepanjang Pantura, dan bahkan di luar Jawa, karena terbantu oleh kondisi hutan Mangrove Pamurbaya.

Jadi semakin terbukti bahwa salah satu potensi kekayaan ekosistem pantai adalah keberadaan hutan Mangrove. Keberhasilan rehabilitasi hutan Mangrove yang terstruktur dan berkelanjutan, akan berdampak pada peningkatan pembangunan ekonomi, khususnya dalam bidang perikanan, pertambakan, industri, rekreasi dan termasuk konservasi alam termasuk spesies langka.

Krisis ekonomi, bukanlah alasan untuk merusak lingkungan hidup, justru dapat menjadi momentum dalam meningkatkan kualitasnya. Jika saat ini Surabaya sudah tampak lebih bersih dan makin hijau, maka keberadaan kawasan MIC diharapkan dapat segera mengukuhkan Surabaya menjadi kota yang aman dan nyaman. Inilah sebagian wujud partisipasi aktif Sampoerna untuk Surabaya. (*)

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda