Segmentasi Konsumen Ritel Indonesia
Enciety.com - 29/09/2009 15:18
Kategori : Focus.
Dengan industri yang masih tumbuh dua digit, seharusnya ritel tradisional dan modern saling melengkapi bukan saling menggantikan.
Perkembangan industri ritel nasional 2009 secara keseluruhan masih menunjukkan kecenderungan yang positif dengan pertumbuhan dua digit. Sampai saat ini dampak krisis ekonomi dunia tidak membuat pertumbuhan ekonomi dan industri ritel nasional menjadi minus.
Kita memang membutuhkan perdagangan ritel yang sehat. Alasannya bukan karena kontribusi sektor ini dalam penggunaan PDRB masih di atas 60 persen, atau proporsi tenaga kerjanya mencapai sekitar 35 persen, saja.Krisis ekonomi yang masih mendekap dunia saat ini yang membuat ekspor dan investasi menurun, yang kian membuat industri ritel menjadi tumpuan harapan.
Industri ritel yang efisien dan maju diharapkan bisa meningkatkan ekonomi lokal, baik industri manufaktur ataupun pertanian lokal (makanan olahan). Bukan itu saja, dengan perdagangan ritel yang sehat, akses bagi konsumen akan semakin mudah, dengan harga kebutuhan rumah tangga yang bersaing.
Konsumen Indonesia yang tergolong multichannel users menjadi sebuah kekuatan penangkal krisis. Pasalnya, ritel tradisional maupun modern tetap dapat tumbuh dan berkembang, lantaran sifat konsumen yang masih mendatangi kedua jenis ritel ini.
Berdasarkan survei Enciety Business Consult 2009, kebiasaan belanja utama konsumen ritel tradisional dan modern menunjukkan perbedaan yang signifikan. Konsumen Indonesia lebih cenderung memanfaatkan ritel tradisional untuk belanja utama harian.
Kondisi ini seharusnya dapat dimanfaatkan para pengelola warung kelontong dan pasar tradisional. Frekuensi bertemu yang lebih sering, kalau dioptimalkan dapat meningkatkan kapasitas ekonomi dari para pelaku ritel tradisional.
Hanya saja, untuk dapat tumbuh dan berkembang, ritel tradisional menghadapi dua tantangan. Pertama, jumlah pelaku ritel tradisional cenderung meningkat, karena mudahnya pendiriannya (tanpa ijin pun bisa berjualan), dan sebagai alternatif lapangan pekerjaan. Kedua, sebagian besar ritel tradisional lebih cocok untuk konsumen berumur di atas 40 tahun.
Untuk kelompok anak muda dan keluarga muda yang di bawah 40 tahun di kota–kota utama di Jawa, membutuhkan pendekatan yang berbeda. Mereka sangat mengedepankan pragmatisme atau kemudahan dan kenyamanan, dan tentunya dengan standar hygiene yang memadai. Tidaklah mengherankan jika ritel tradisional membutuhkan revitalisasi dan repositioning.
Di sisi lain, konsumen Indonesia lebih condong memanfaatkan ritel modern untuk belanja utama mingguan dan bulanan. Nah, kompetisi intra dan antar minimarket, supermarket, dan hypermarket sungguh menarik. Masing–masing ritel modern ini, memiliki kekuatan (akses keuangan dan pengadaan barang), serta semakin dekat dengan perumahan.
Minimarket mempunyai tingkat pertumbuhan ritel tercepat. Kelebihan utamanya adalah letaknya lebih terjangkau, kelengkapan yang cukup memadai, dengan harga yang cukup bersaing. Di samping itu, sudah disediakan pula alternatif pola pembayaran. Kendati didesain cash and carry, jenis ritel ini juga sudah menerima kartu debit atau bahkan e–wallet.
Dengan kelebihan ini tidaklah mengherankan, berdasarkan survei Enciety Business Consult 2009, minimarket mendominasi sebagai tempat belanja kelompok usia di bawah 20 tahun. Adapun untuk kelompok usia 20–29 tahun ketiga ritel modern tampak berimbang. Sedangkan di atas usia 30 tahun, konsumen hypermarket cenderung lebih besar.
Kompetisi memang bukan sesuatu yang menyenangkan, namun dapat mendorong kreativitas, dan bahkan kesempatan memperluas segmen. Terbentuknya pola ritel menurut kohor usia juga makin memberikan kesempatan menjangkau segmen pembelanjanya. Untuk itu, dibutuhkan kemampuan beradaptasi melalui inovasi yang terpandu. [don@enciety.com]
* Kresnayana Yahya – Chairperson Enciety Business Consult
Dimuat : Kolom Ritel – Kompas – 24 September 2009


Artikel yang bagus sekali pak, karena dilengkapi dengan data survey.
pak, bagaimana dengan konsep ritel dengan sistem networking,jd kita menggabungkan ritel dengan network marketing. Kebetulan baru-baru ini perusahaan kita kembangkan konsep ini.
Sebagai contoh, dalam dua bulan ini di Bangkalan saja sdh terjual 40 franchise, Jatim total 200an (per franchise @45juta) dan sekarang sdh buka namanya BannerPoint ritel. sementara ini yang kita jual 9 bahan pokok. harga kita pake ELP.
Thanks