enciety Log

Pengembangan Layanan Kesehatan

Kesehatan diri dan keluarga akan menjadi pendorong yang kuat bagi kesehatan masyarakat. Makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami kesehatan keluarga, baik melalui informasi pemerintah,  melalui media cetak, TV, radio maupun internet mendorong makin berubahnya perilaku kesehatan masyarakat. Pemahaman tentang kanker sejak dini, pentingnya pemberian ASI eksklusif, atau terganggunya fungsi organ yang dikenali sejak dini diharapkan akan memberikan warning kewaspadaan bersama untuk saling mengatasi.

Selain kesehatan fisik, rentannya daya juang “kejiwaan” dalam menghadapi problema di kota ini juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Namun sudahkah layanan kesehatan di kota Surabaya, sudah lengkap, bagus dan mampu memenuhi kebutuhan warga kota ? Apa yang perlu dikembangkan, ditambah dan informasi apa yang harusnya diketahui bersama ? Bagaimana soal pengembangan layanan kesehatan jiwa ?

Materi  ini akan dikupas tuntas dalam dialog prospektif bisnis enciety Business Consult di Radio Suara Surabaya, Jum’at, 9 Oktober 2009.

Talkshow ini akan dipandu oleh Ir Don Rozano, MM (enciety) dengan nara sumber dari Klinik Onkologi Surabaya – dr. Ario Djatmiko, FICS yang akan membahas pengembangan pelayanan kesehatan terpadu, dan Ibu Nalini M Agung, dengan sub bahasan pengembangan layanan kesehatan jiwa.

Masukan warga kota Surabaya diharapkan akan memperdalam materi diskusi ini, sehingga pendengar memperoleh informasi yang lengkap tentang pengembangan layanan kesehatan. Bagaimana menurut anda ?

[Admin]

Tags:

--oo00oo--

2 komentar untuk “Pengembangan Layanan Kesehatan”

  1. marmotji bin markudun @ 08/10/2009 20:38

    Sudah lengkapkah layanan kesehatan di Surabaya ?
    Dari sisi mana dahulu hendak dimulai untuk menilai kelengkapan layanan kesehatan di satu kota ?

    Saya melihatnya dari dua sisi :
    1, Sisi kuantitatif; hobi para birokrat dalam menyatakannya selalu dalam bentuk perbandingan, misal; ketersediaan dokter berbanding sekian n populasi, ketersediaan n apotik dalam sebuah lingkup wilayah. Kenyataannya tidak pernah ada kata ‘merata’.

    2. Sisi kualitatif : perilaku yang tidak pernah memungkinkan pasien dan keluarganya mencari ’second opinion’. Ini saya alami sendiri untuk 3 kasus keluarga sendiri dalam setahun terakhir, bahkan kepada ketua IDI Surabaya pun ditolak. Pengetahuan ringkas tentang situasi terakhir yang diderita saja tidak ada, padahal pasien selalu harus membayar semua biaya.

    Beberapa minggu terakhir ini saja, ada seorang kepala PUSKESMAS yang terang-terangan mengelak bahwa tidak ada obat kadaluarsa, padahal ditangannya jelas2 terpegang obat kadaluarsa yang saya komplain.

    Perspektif Layanan Kesehatan ini aneh, ataukah memang seharusnya begitu ? bayar dulu, baru advice ? Pokoknya berobat, urusan sehat, entahlah

  2. Unung Istopo @ 09/10/2009 11:12

    Mengikuti cerita “the magic school bus” dalam sebuah stasiun TV Anak cukup menarik perhatian. Cerita kartun ini mengajak kita dekat dan belajar tentang alam, kesehatan dan fisika dalam pemahaman yang mudah.

    Perilaku layanan kesehatan hendaknya memberikan motivasi bagi pasien untuk mengenali, peduli dan memberikan referensi yang mudah untuk dipelajari bersama.

    Sehingga fungsi layanan ini lebih kuat mengajak kesadaran perilaku kesehatan.

Masukkan Komentar Anda