enciety Log

Dongkrak Ritel dengan Koran dan Televisi

Ritel 360° – Industri ritel nasional memasuki saat–saat yang menentukan. Setelah menikmati pertumbuhan yang cepat dalam 10 tahun terakhir, diperkirakan sampai akhir tahun ini hanya tumbuh satu digit. Pertumbuhan enam persen sampai triwulan ketiga bukan berita bagus, karena biasanya industri ini dapat tumbuh dua digit.

Tren konsumen ritel untuk mengonsumsi media televisi dan koran masih tinggi, seiring peningkatan konsumsi internet pada konsumen di bawah 30 tahun

Tahun lalu, baik ritel tradisional dan modern dapat tumbuh dua digit. Walau persentase pertumbuhan ritel modern lebih cepat, namun jumlah pertumbuhan toko tradisional baru per tahun masih lebih tinggi. Kemudahan “perizinan” pendirian dan “kesederhanaan” model bisnis toko tradisional menjadi penyebabnya.

Seharusnya, toko modern maupun toko tradisional yang dikelola secara modern dapat menjadi lokomotif utama pertumbuhan industri ini. Bahkan, pertumbuhan ekonomi nasional, karena kontribusi sektor ini dalam penggunaan PDRB masih di atas 60 persen, dan proporsi tenaga kerja mencapai sekitar 35 persen.

Kita membutuhkan perdagangan ritel yang sehat, yang dapat meningkatkan kapasitas ekonomi lokal. Baik bagi industri lokal maupun sumber daya manusia lokal yang berkualitas. Ritel yang sehat juga memudahkan konsumen untuk mendapatkan kebutuhan rumah tangga, dengan harga dan kualitas yang bersaing.

Di samping krisis ekonomi yang menyebabkan penjadwalan ulang pembangunan beberapa sentra perdagangan, ketidakpastian perizinan menyebabkan lambatnya pendrian gerai baru. Semua investor pasti membutuhkan kepastian dalam berusaha, terutama di saat krisis likuditas masih melanda.

Kondisi ini seharusnya dapat mendorong industri ritel untuk makin memahami konsumennya, terutama di saat konsumen Indonesia terkesan “takut” atau “ragu–ragu” dalam berbelanja. Salah satu yang disarankan ialah berkomunikasi secara bijak dengan memanfaatkan media habits dari konsumen ritel.

Situasi dan kondisi masyarakat memerlukan sebuah pendekatan yang lebih cerdas dan peduli. Tidaklah cukup hanya dengan hard selling, sekedar promosi harga murah, atau pun diskon ganda maupun tawaran hadiah saja.

Situasi dan kondisi masyarakat memerlukan sebuah pendekatan yang lebih cerdas dan peduli. Tidaklah cukup hanya dengan hard selling, sekedar promosi harga murah, atau pun diskon ganda maupun tawaran hadiah saja. Kita seharusnya dapat mendorong konsumen untuk datang dan berbelanja, tidak sekedar window shopping semata.

Konsumen kota–kota utama punya kecenderungan menonton televisi dan membaca koran. Seiring dengan tren peningkatan pemanfaatan internet, terutama konsumen di bawah 30 tahun, dan yang terbiasa berbelanja di toko modern. Gairah konsumsi media di tiap kota dan clusters bisa berbeda. Ini patut untuk kita perhatikan.

Industri ritel modern dan tradisional harus makin kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan konsumsi media. Tidak sekadar melanjutkan yang pernah dijalankan. Harap diingat, konsumen makin dinamis. Contohnya, kecenderungan pria untuk berbelanja dan makan di luar rumah belum banyak digarap peritel.

Kini, saatnya untuk keluar dari kebiasaan lama. Tidak perlu takut untuk berubah. Industri ritel membutuhkan kepastian untuk tumbuh dan berkembang, seiring kebutuhan konsumennya untuk memperoleh informasi ritel yang makin terpadu, dan terpandu. (don@enciety.com)

*Don Rozano – General Manager Enciety Business Consult

Dimuat : Ritel 360° – KOMPAS – 17 Nopember 2009

--oo00oo--

3 komentar untuk “Dongkrak Ritel dengan Koran dan Televisi”

  1. Teguh Andoria @ 17/11/2009 09:29

    bener juga, untuk membuka toko kecil di depan rumah bisa terasa amat sangat mudah, dibandingkan dengan membuka toko dengan merek tertentu. Sebab gak perlu ijin usaha dan urusan administrasi yang beribet.

    boleh jadi, bila pemilik toko tradisional bisa melakukan promosi atau manajerial layaknya toko yang bermerek maka dagangannya akan laku keras.

  2. Unung Istopo @ 18/11/2009 09:36

    Iklan televisi cukup kuat untuk “menggerakan” konsumen ber-belanja. Apalagi seringkali informasi detail terdapat di Koran, dengan price dan diskon yang diberikan. Namun, kepastian ketersediaan barang ini musti ada, sehingga konsumen yang sudah jauh-jauh datang, tidak kecewa dan “trauma”. Tentu dengan komunikasi yang bagus, hal ini mudah diatasi.

    Sebenarnya untuk ritel modern, hal di atas cukup mudah dan biasa dilakukan. Penggunaan media cetak, elektronik bahkan internet menjadi pola komunikasi dengan pelanggannya. Apalagi beberapa ritel modern memiliki kartu smart card, yang digunakan sebagai market basket analysis.

    Bagaimana dengan pasar atau ritel tradisional ? Ini tantangan yang menarik bagi pengelola untuk unik, profesional dan tetap memberikan layanan terbaik bagi pelanggan setianya.

  3. paijo @ 31/12/2009 08:30

    Piye carane bersaing kalo para raksasa seperti carrefour ikut bermain di sektor ritelnya wong cilik melalui alfamartnya . Jadi mereka pemain besar yang menyamar sebagai pemain kecil yang bisa mematikan ritel rakyat kita. Sangat tragis enciety berbicara masalah UKM yang notabene milik rakyat kecil , tetapi juga menjadi mitranya careffour

Masukkan Komentar Anda