Kinerja Ekonomi dan Perbankan di tahun 2009, serta Prospeknya Hingga 2010
Enciety.com - 20/11/2009 10:44
Kategori : Topic Of The Week.

Enciety Business Consult
Dialog prospektif bisnis, enciety Business Consult, 20 Nopember 2009 di Suara Surabaya, membahas tentang bagaimana pengalaman, perjalanan dan kesulitan yang sedang atau akan dialami oleh kalangan perbankan selama tahun 2009 serta strategi apa yang akan dilakukan menghadapi 2010.
Sebagai pembuka, bapak Kresnayana Yahya mengungkapkan bahwa meskipun kalau diamati pertumbuhan ekonomi pada triwulan ke-3 cenderung membaik, namun pertumbuhan tinggi ini belum menyentuh sektor riil. BI Rate sudah mencapai 6.5% dan SBI 6.25 %.
Dari fakta yang ada dialog ini mencoba untuk mengkaji ulang bagaimana pendapat perbankan dalam menghadapi 2010, apalagi saat ini perbankan dilanda tsunami kepercaan, dengan ada salah satu bank yang bermasalah image bank di masyarakat menjadi buruk.
Tiap bank memiliki segmen yang berbeda, baik usaha besar maupun UMKM. Namun sekarang bank lebih banyak masuk ke UMKM.
Tiap bank memiliki segmen yang berbeda, baik usaha besar maupun UMKM. Namun sekarang bank lebih banyak masuk ke UMKM. Sedangkan pengolaan dana besar lebih banyak dikelola oleh bank pemerintah terutama pengelolaan dana yang bersumber dari APBD. Hingga sampai bulan Oktober 2009, sebagian besar pertumbuhan cukup bagus dibandingkan tahun lalu. Sehingga diprediksi tahun depan lebih cerah. Optimisme ini disampaikan oleh narasumber diskusi, bapak T.h.M. Pramudito Nugroho, wakil dari perbanas Jatim, yang juga Komisaris Bank Prima Master.
Saat ini kesulitan yang dihadapi oleh perbankan adalah soal dana yang tidak tersalur. Bank lebih memilih menyalurkan dana kredit, dengan margin yang lebih besar, dibandingkan melalui pasar modal atau SBI. Kesulitan saat ini adalah mencari nasabah yang baik. Apalagi dengan pengawasan regulasi yang sangat ketat. Masyarakat juga perlu informasi tentang bagaimana proses mendapatkan kredit. Saat ini bank juga mengalami kesulitan soal kepastian hukum, misalnya untuk penindakan kasus kredit macet.
Saat ini kesulitan yang dihadapi oleh perbankan adalah soal dana yang tidak tersalur.
Pertanyaan yang muncul dari pendengar Suara Surabaya adalah pertama, soal masih tingginya bunga pinjaman kredit yang masih jauh di atas SBI. Seperti diungkapkan pak Iwan bahwa kalau industri mau pinjam, dengan keuntungan yang tipis, dengan bunga 1% per bulan, masih dirasakan berat. Bagaimana perbankan bersikap, ekonomi akan maju apabila bunga kredit bisa turun. Hampir senada, pak Rudi juga mengungkapkan tentang tingginya bunga pinjaman bank, apalagi dengan kondisi overhead pengusaha yang makin tinggi. Harapannya bunga lebih rendah dari 10% atau mendekati SBI.
Kedua, adalah permasalahan tentang lambannya persetujuan kredit dari masyarakat oleh bank. Sebagaimana diungkapkan oleh pak Herman Rivai, bahwa saudaranya merasa lambannya keputusan keluar / tidaknya kredit yang akan digunakan untuk renovasi rumah.
Ada beberapa faktor, menurut pak Nugroho, perbanas (narasumber) dalam menanggapi pertanyaan pertama, soal anggapan masih tingginya suku bunga perbankan. Pertama, adalah soal tingkat resiko – termasuk resiko hukum – ada uncertainty soal hukum dimana secara aturan tertulis bagus, namun dalam implementasi belum tentu bagus. Kedua bank sangat ditentukan oleh cost fund dan overhead. Ketiga, margin keuntungan yang diinginkan. Sehingga ketika SBI rendah, suku bunga belum tentu langsung turun karena berkaitan dengan faktor tersebut. Hal ini juga salah satu alasan mengapa ketika SBI diturunkan suku bunga pinjaman tidak cepat terkoreksi.
Ditambahkan oleh bapak Kresnayana Yahya, perlu adanya stabilitas ekonomi. Kalau fluktuasi SBI tidak gonjang-ganjing, ada kepastian, misalnya SBI ini 6.5% dan stabil maka akan memudahkan bank untuk membuat planning. Juga menanggapi soal lambannya kepastian kredit, hal ini karena masih kurangnya tenaga ahli dalam sektor tertentu seperti konstruksi, maka masyarakat juga hendaknya memilih bank yang ahli dalam kredit sektor ini. Namun hendaknya perbankan juga terus melengkapi, karena dengan tidak adanya ahli, suku bunga pada sektor tersebut akan tinggi, karena bank menganggap sektor ini beresiko lebih tinggi.
Senada juga disampaikan pak Ongki, di mana masih ada kesulitan dalam menembus kredit untuk sektor perikanan. Padahal sektor ini termasuk sektor unggulan. Permasalahan ini juga terkait dengan tenaga ahli yang dimiliki oleh bank.
Pertanyaan lain yang muncul adalah soal penalti yang diberikan karena pelunasan lebih cepat dari jangka waktu yang diberikan, adanya komisi ketika transfer dalam bentuk valuta asing yang memberatkan nasabah. Masih ada anggapan aturan pemberian kredit berbeda, dari bank cabang dengan bank pusat.
Aktivitas dan kelembagaan di sektor perikanan, belum punya jaminan di sektor perbankan. Semua sektor harus punya pattern of business. Resiko hukum hendaknya dikurangi.
Tanggapan pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab tuntas dalam dialog ini. Bapak Nugroho juga menambahkan faktor resiko masih menjadi pertimbangan utama perbankan soal komisi dan penalti, serta perihal profit yang sudah terukur.
Di akhir dialog, masukan dari bapak Kresnayana Yahya, apabila ada masyarakat yang mengalami kesulitan dalam urusan dengan bank, disarankan ke BI, untuk konsultasi dengan konsultan khusus yang menangani permasalah perbankan. Juga, sektor leading / unggulan hendaknya diiringi dengan perangkat untuk menjamin unggulan tersebut terpenuhi. Aktivitas dan kelembagaan di sektor perikanan, belum punya jaminan di sektor perbankan. Semua sektor harus punya pattern of business. Resiko hukum hendaknya dikurangi, banyak makelar kasus, banyak pungutan tidak pasti. membuat kita tidak transparan. Makin bagus kita berada di iklim ekonomi, harus makin ada support dari pemerintah daerah.
Dialog yang dipandu bersama bapak Kresnayana Yahya dan penyiar Radio Suara Surabaya, Restu Indah, ini diharapkan memberikan panduan yang positif. Bagaimana menurut anda ? (unung@enciety.com)


panduan yg sngt bagus!ad baiknya jg mengundang bbrp pengusaha/nasabah yg mewakili,shga bs lbh lngkap pembahsnnya pak!
Terima kasih masukannya mas Fauzi.