enciety Log

Mari Bertransformasi

Kolom Ritel – Perkembangan industri ritel nasional masih menunjukkan pertumbuhan positif, kendati tak secepat 10 tahun terakhir, tetapi diperkirakan tetap mencapai enam persen. Kondisi yang kurang menggembirakan ini tetap mampu membuat ritel berkontribusi dalam penggunaan PDRB di atas 60 persen, dan proporsi tenaga kerja mencapai sekitar 35 persen.

Dengan kondisi ekspor dan investasi yang masih menurun, industri ritel tentunya menjadi tumpuan harapan. Kita memang membutuhkan perdagangan ritel yang sehat, sehingga diharapkan bisa meningkatkan kapasitas ekonomi lokal, serta memudahkan akses bagi konsumen, dengan harga yang lebih bersaing.

Konsumen Indonesia sampai saat ini memang tergolong multi channel users, sehingga ritel tradisional maupun modern tetap dapat tumbuh dan berkembang. Bahkan tahun lalu keduanya masih dapat tumbuh dua digit. Tahun ini, market share ritel tradisional memang semakin tertekan.

Berdasarkan survei Enciety Business Consult 2009, kebiasaan belanja utama konsumen ritel menunjukkan semakin modern baik di kota–kota utama (ibu kota propinsi di Jawa) maupun di kota–kota kedua dan ketiga (non ibu kota propinsi di Jawa). Survei tersebut menunjukkan, supermarket masih menjadi tempat belanja utama untuk kota–kota kedua dan ketiga di Jawa.

Kecenderungan konsumen ritel yang semakin berperilaku modern, menyebabkan pertumbuhan volume perdagangan ritel modern lebih cepat dari ritel tradisional.

Tren konsumen yang kian modern ini harus disikapi dengan bijak. Di sisi lain, dengan kekuatan pada akses keuangan dan pengadaan barang, kompetisi antarritel modern yakni minimarket, supermarket, dan hypermarket akan makin menarik atau sengit.

Ritel modern diyakini akan tumbuh lebih cepat tahun depan, karena pertumbuhan yang lebih lambat tahun ini bukan karena preferensi konsumen. Persepsi konsumen terhadap ritel modern masih positif, mudah dan nyaman serta harga yang terjangkau. Kondisi ini, lebih karena penundaan pembangunan karena krisis keuangan.

Tidak demikian halnya dengan ritel tradisional. Untuk permasalahan internal, jumlah pelaku ritel tradisional cenderung meningkat, karena kemudahan “pendiriannya”, dan sebagai alternatif lapangan pekerjaan.
Permasalahan eksternal, sebagian besar ritel tradisional lebih cocok untuk konsumen berumur di atas 40 tahun yang mempunyai kedekatan emosional. Seharusnya, ritel tradisional juga memperhatikan konsumen di bawah 40 tahun, melalui revitalisasi dan repositioning, sehingga dapat menemukan mood–nya kembali.

Namun, kita tidak membutuhkan pembatasan toko modern yang hanya menjadikan toko tradisional termajinalisasi. Kita justru berharap terjadi proses transformasi toko tradisional menjadi modern. Proses transformasi tersebut dapat dilakukan dengan didasarkan kondisi bahwa kepemilikan tetap oleh pedagang lama dalam bentuk koperasi atau komunitas dan dilakukan sinergisme dengan ritel modern. Sehingga, dapat diharapkan pelaku ritel Indonesia makin efektif dan efisien, serta dapat menjadi motor penggerak usaha mikro dan kecil secara lebih nyata. Bagaimana menurut Anda ? [don@enciety.com]

*Don Rozano – General Manager Enciety Business Consult

Dimuat di : Kolom Ritel Enciety – KOMPAS – 3 Nopember 20009

Tags:

--oo00oo--

3 komentar untuk “Mari Bertransformasi”

  1. achedy @ 03/11/2009 09:30

    Orang pergi ke pasar tradisional pertimbangannya pada aspek ekonomi pak. Dia mempunyai segment orang-orang kecil. Kalau di transformasikan menjadi pasar modern apa nggak berpengaruh terhadap biaya yg harus dikeluarkan pembeli ?

  2. Unung Istopo @ 03/11/2009 09:43

    Pasar tradisional lebih banyak menyediakan kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan yang sifatnya mingguan/bulanan lebih ke pasar modern karena ada faktor rekreasi, di mana beberapa pasar modern menyediakan area bermain anak-anak. Sebenarnya pasar tradisional bisa menarik, dengan melakukan penataan pasar, sehingga terkesan konsep “desa” namun terhindar dari kesan kumuh, orang tua, dan tidak nyaman. Namun yang tidak dipungkiri, terkadang berjalan-jalan belanja di pasar tradisional memberi kesan yang sulit dilupakan dibanding di pasar modern :) .

  3. syaifullah @ 04/11/2009 07:25

    Pernah beberapa kali diadakan seminar di Jakarta ttg pemberdayaan pasar tradisional ditinjau dari berbagai aspek, yang melibatkan praktisi/pelaku maupun akademisi, namun hingga saat ini dampaknya tidak terlalu significant dibandingkan dengan sumber daya yg telah dikeluarkan dan konsep yg telah digulirkan. Mungkin pertentangan pengaruh perilaku masih terus berlangsung ya…. Saya sangat setuju statemen pak Kres bahwa “Konsumen Indonesia sampai saat ini memang tergolong multi channel users, sehingga ritel tradisional maupun modern tetap dapat tumbuh dan berkembang”.

Masukkan Komentar Anda