enciety Log

Kalimantan Menantang

Ritel360° – Kalimantan telah menjadi primadona penghasil devisa bagi Indonesia. Kayu serta minyak dan gas sempat menjadi komoditas ekspor utama yang luar biasa. Setelah potensinya berkurang, mulailah dibuka tambang batu bara terutama di kawasan timur dan tengah sampai selatan. Menjadikan Kalimantan menjadi kawasan paling padat dengan alat berat dalam tiga tahun terakhir ini.

Pola konsumsi ritel modern di kota–kota utama Kalimantan dan Jawa mempunyai tren yang sama, hanya sedikit berbeda dalam kebiasaan belanja mingguannya.

Kalimantan juga menjadi basis utama penghasil pupuk urea di Indonesia. Dengan ketersediaan gas dalam jumlah dan kualitas, tidaklah mengherankan hampir 70 persen pupuk urea dihasilkan dari kawasan ini. Hanya saja, seperti halnya komoditas hutan dan tambang, sebagian besar pupuk tersebut dikirim ke daerah lain. Sehingga nilai tambah terbesarnya bukan didapat Kalimantan.

Memang telah dimulai pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan penanaman singkong untuk produksi tepung berasal dari ubi kayu itu. Kalimantan merupakan kawasan yang mempunyai potensi air dari berbagai sungai besarnya seharusnya dapat berperan lebih. Bahkan bisa menjadi jawaban atas krisis dunia akan kelangkaan FEW (food, energy, dan water).

Tidak heran jika pertumbuhan ekonomi Kalimantan memang tidak secemerlang Sulawesi. Namun ternyata Kalimantan mempunyai angka yang lebih mengesankan dalam penyaluran kredit maupun angka pengeluaran per kapitanya. Demikian juga laju pertumbuhan penduduk, yang disebabkan migrasi dari Jawa, seharusnya dapat memberikan dorongan bagi laju perdagangan yang luar biasa.

Pola konsumsi ritel modern di kota–kota utama Kalimantan dan Jawa mempunyai tren yang sama. Hanya kebiasaan belanja mingguan di Kalimantan lebih rendah. Gaya hidup ini telah memacu permintaan barang–barang pabrikan serta bahan–bahan segar dari Surabaya. Sehingga tak heran jika investor properti komersial sampai properti hunian di Surabaya banyak yang dari Kalimantan.

Perpaduan gaya hidup dan pola belanja kelompok atas juga telah mendorong semakin banyak hotel yang masuk ke wilayah Kalimantan.

Menonton televisi masih menjadi konsumsi media terbesar, terutama di Balikpapan dan Pontianak. Sementara pembaca koran tertinggi ada di Pontianak dan Banjarmasin. Bahkan untuk persentase pemanfaatan internet di Balikpapan dan Pontianak sudah mulai menyamai kota–kota utama di Jawa. Kondisi ini, dapat menjadi suatu peluang untuk meningkatkan intensitas komunikasi bisnis.

Dengan kemampuan daya beli yang besar dan belum tersedianya banyak aktivitas lain, mendorong tumbuhnya pusat belanja yang menyediakan alternatif makan siang dan malam bagi penduduk yang sebagian besar merupakan pendatang. Perpaduan gaya hidup dan pola belanja kelompok atas juga telah mendorong semakin banyak hotel yang masuk ke wilayah Kalimantan.

Kalimantan memang mempunyai potensi alam yang luar biasa dan memiliki konsumen yang makin modern. Demikian juga dengan ketersediaan sarana telekomunikasi dan media massa serta kemudahan transportasi udara yang makin terbuka. Kalimantan telah menjelma menjadi pasar yang potensial terutama untuk produk–produk branded bagi 20 persen penduduknya.

Saat ini, Kalimantan menantang Indonesia untuk mengelola potensinya sehingga makin banyak usaha produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya.
(don@enciety.com)

Kresnayana Yahya – Chairperson enciety Business Consult

Dimuat di : Ritel360° – KOMPAS – 15 Desember 2009

--oo00oo--

Satu komentar untuk “Kalimantan Menantang”

  1. Margareth @ 15/12/2009 12:56

    Yap betul sekali… Kalimantan sekarang memang primadona, terutama Balikpapan.
    saya salah satu pendatang dari Jakarta yang menyaksikan langsung kepesatan kota ini dalam 4 tahun. Luar biasa! kebetulan juga saya bekerja di bidang property… waktu itu kita yang bangun Apartment and gedung perkantoran pertama yang ada di Balikpapan, sekarang udah mulai banyak pengikutnya…

Masukkan Komentar Anda