Naikkan Margin Ritel dengan Otak Kanan
Enciety.com - 08/12/2009 08:00
Kategori : Focus.
Ritel 360° – Oktober lalu, saya melihat pameran kue bulan di Takshimaya Singapura. Beragam bentuk, isi dan rasa, serta kemasannya mempesona. Rasanya sebenarnya tak jauh berbeda dengan kue di Glodok. Karena dibuat koki hotel bintang lima, kue di pameran ini harganya mahal, sehingga marginnya cukup tinggi. Di Glodok, Anda bisa mendapatkan kue serupa dengan harga cukup murah. Tetapi bentuk, isi dan kemasannya kebanyakan seragam dan standar.
Kekuatan otak kanan sangat penting dalam membangun bisnis. Kekuatan ini tercermin dalam brand dan desain. Keduanya adalah perangkat yang harus digunakan sebelum produk dipasarkan.
Tetapi di sebuah hotel bintang lima di Jakarta saya menemukan kue keranjang terindah tahun ini. Bentuknya mirip sekali dengan ikan koi asli, dan dijual 10 kali lipat harga kue standar. Sudah pasti marginnya tinggi.
Ini menunjukkan, pengusaha barang konsumen makanan atau nonmakanan Indonesia, punya potensi luar biasa dalam membuat produk berkualitas, bahkan sanggup bersaing dengan produk negara lain. Tetapi, kita sering lupa membangun bisnis karena terlalu fokus pada penjualan dan pendapatan yang instan.
Jika fokus pada produk saja, maka kian hari marginnya terus menipis lantaran persaingan yang sengit. Di sinilah perbedaan antara selling/trading dengan pembangun bisnis (developing business).
Kekuatan otak kanan sangat penting dalam membangun bisnis. Kekuatan ini tercermin dalam brand dan desain. Keduanya adalah perangkat yang harus digunakan sebelum produk dipasarkan, karena memberi competitive advantage yang lebih baik, dan margin yang lebih tinggi.
Merek dan desain yang memberi aspirasi bagi pelanggan tidak serta-merta dapat ditiru. Kepuasan emosi dan hati pelanggan terhadap merek dan desain melekat pada total produk, dan menjadi pengalaman pelanggan. Karena itu, pelaku usaha harus berubah dari menjual produk saja, menjadi fokus pada experience para pelanggannya.
Pelanggan akan lebih loyal, dan total produk dapat mempromosikan dirinya sendiri melalui cerita yang disebarkan pelanggan. Experience memberikan makna lebih dalam dari merek dan produk tersebut, dari awal hingga akhir.
Soto Gebrak di Setiabudi, tak bakal terkenal dan diantre pelanggannya tanpa pengalaman kaget akibat gebrakan botol kecap oleh si koki. iPod lebih menjual pengalaman gaya hidup ketimbang menjual alat mendengarkan lagu. Jelaslah, berbelanja bagi konsumen bukan hanya mencari produk.
Bangun desain toko dan produk, sehingga memberi aspirasi dan pengalaman panca indera yang tak terlupakan kepada pelanggan.
Jika ingin berlanjut dalam persaingan bisnis ritel, membangun bisnis menjadi langkah tak terelakan. Kembangkan dan jagalah merek bagi toko, produk, atau service. Bangun desain toko dan produk, sehingga memberi aspirasi dan pengalaman panca indera yang tak terlupakan kepada pelanggan.
Otak kanan adalah modal masa depan industri kita. Maka, berkolaborasilah dengan desainer luar biasa di negeri ini, dan gunakan jasa pengembang merek yang sangat terampil di pasar ini. Jadikan produk berkualitas tinggi, dengan desain mempesona dan kemasan berdaya tarik tinggi sebagai standar nasional.
Maka, kita akan menggapai sejumlah keunggulan sekaligus yakni trust, reputation, dan loyality yang dibarengi ekonomi bermargin tinggi. Di sinilah kita akan memperbaiki ekonomi pelaku usaha Indonesia, dari bawah hingga atas. (don@enciety.com)
*Yongky Surya Susilo – Director Retailer Service The Nielsen Indonesia
Dimuat : Ritel360° – KOMPAS – 8 Desember 2009


masuklah produk anda ke otak pelanggan, menelusup ke ingatan dan menabrak mata serta mengusik telinga. ketika itu telah terjadi maka brand image produk telah tercipta.
sukses luar biasa cerdas untuk team enciety