Industri Makanan dan Minuman, serta Tantangan Pengembangannya
Enciety.com - 21/01/2010 11:29
Kategori : Topic Of The Week.
Ketakutan dan kecemasan karena CAFTA bisa dipahami, meskipun kita harus memilah, ada kekuatan yang harusnya kita kembangkan dan kita taruhkan bersama. Makanan dan minuman menjadi jangkar utama dari kegiatan manusia yang sangat culture base, local content base. Industri makanan dan minuman harus diperkuat dan memberi nilai tambah terbesar serta tidak merubah budaya, karena kemasukan barang impor.
Makanan dan minuman menjadi jangkar utama dari kegiatan manusia yang sangat culture base, local content base.
Dalam free trade agreement , 2010 – 2015 masih ada pembatasan untuk produk pertanian dan nanti masih ada lagi 2015 – 2020 baru akan dibahas seperti beras. Sehingga mestinya tidak sampai terguncang karena adanya free trade agreement. Demikian pengantar Drs Kresnayana Yahya MSc, chairperson Enciety Business Consult dalam Dialog Prospektif Bisnis, 15 Januari 2010, di Suara Surabaya yang dipandu oleh Restu Indah, penyiar Suara Surabaya.
Dalam dialog prospektif bisnis ini Kresnayana Yahya juga menambahkan bahwa di lain sisi, tugas kita bersama adalah mempersiapkan industri makanan dan minuman dalam roadmap yang jelas. Ada keragaman dalam produk kita, ada makanan yang super lokal dan masih kecil. Namun ada yang sudah bisa dilipatgandakan sampai di-franchise-kan. Sehingga konsistensi penyajian bisa dijamin. Ada juga industri manufacturing makanan minuman. Ada makanan siap saji / resto / gledekan. Negeri ini kaya ragam bentuk.
Dialog prospektif bisnis ini menghadirkan Yakto Willy Sinarta (GAPMMI Jawa Timur) dan dua pelaku franchise makanan yang memberikan uraian inspiratif tentang industri makanan dan minuman.
CAFTA memang sangat populer, sangat menakutkan, namun industri makanan minuman di Jawa Timur khususnya di Surabaya, harusnya produk lokal lebih kuat…
Sebagai pembuka Yakto Willy Sinarta lebih mengkritisi tentang peranan pemerintah dalam mendukung industri makanan dan minuman, serta optimisme terkait kekuatan industri makanan lokal. Menurutnya bahwa CAFTA memang sangat populer, sangat menakutkan, namun industri makanan minuman di Jawa Timur khususnya di Surabaya, harusnya produk lokal lebih kuat dibandingkan produk Tiongkok. Dalam industri makanan minuman, pertama, harga berbanding lurus dengan kualitas. Kedua, bagi UMKM, perlu sosialiasi dan pemerintah hendaknya memberikan peluang sebesar-besarnya. Untuk menengah ke atas. pemerintah hendaknya turut membantu produk lokal. Misalnya pembatasan pada lima pelabuhan di seluruh indonesia.
Masih menurut Yakto, ada kebijakan BPOM yang dirasakan agak memberatkan pengusaha lokal. Yaitu aturan pergantian nomor MD (Kode Registrasi Makanan Dalam Negeri) tiap 5 tahun sekali diganti, hal ini membuat ada cost produksi. Meskipun ada sisi positif, namun apakah tidak bisa hanya diregistrasi saja. Daftar sekali untuk seterusnya. Uji lab tetap dilakukan tiap lima tahun sekali. Hal ini jika termasuk melindungi, mutu produk dalam negeri tidak kalah dari luar. Cuman kebijakan mengganti nomor MD ini memberatkan bagi produk lokal.
Meningkatnya franchise makanan dan minuman pada UMKM merupakan terobosan yang sangat bagus. Diharapkan pengusaha lokal mengutamakan mutu dan higinies. Misalnya, penggunaan gula ke pemanis buatan. Sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pada bagian pengamanan makanan dan minuman.
Industri makanan dan minuman lokal, terutama untuk UMKM juga dihadapkan pada harga bahan baku. Di mana UMKM cenderung sulit mendapatkan harga dari penyedia pertama, sehingga harga jual menjadi lebih mahal dan tidak standard. Sedangkan pada tingkat industri menengah ke atas cenderung kuat dan yakin menghadapi kompetisi 2010.
Satu Ide, Banyak Outlet
Menurut Kresnayana Yahya, pemerintah harus berubah, kebijakan harus paham bisnis dan cost. Keunggulan kita dibandingkan luar negeri ada, kalau sinerginya terbentuk. Sehingga diharapkan tidak menambah beban cost, atau memberikan kelonggaran pada usaha yang sudah berjalan lama. Misalnya lab, bebas biaya untuk usaha yang sudah 10 tahun. Ada usaha UKM dengan cost mahal, skala kecil dan pengelolaan tidak standar. Persoalan ini bisa dimulai dengan standarisasi, dengan pooling resources. Satu ide untuk banyak outlet. Hal ini bisa kita masukan dalam roadmap baru. misalnya produk lokal kita di-franchise-kan, dengan jaminan higienis dan quality bisa disatukan.
Misalnya franchise makanan cita rasa timur tengah Baba Rafi, ide dasar franchise ini diawali dari kejelian Hendi, pemilik Baba Rafi, di mana saat ayahnya kerja di Qatar, ada makanan yg sangat digandrungi di sana, yang kayaknya pas apabila dijual di indonesia. Dari ide tersebut Baba Rafi kemudian membuka outlet pertama di Unitomo. Setelah mendapatkan respon yang bagus akhirnya membuka 2-3 outlet baru yang bisa diterima pasar. Dalam perjalanannya, membuka outlet baru membutuhkan persiapan banyak, sehingga ada ide melakukan franchise. Sebagaimana diceritakan oleh Hasan Finance Account Baba Rafi.
Agung pengelola franchise pecel Bu Tari mengatakan bahwa meledaknya franchise Baba Rafi, juga menginspirasi usaha pecel Bu Tari untuk berkembang melalui franchise. Awalnya sebelum menggunakan gerobak, masih menggunakan meja. Persaingan usaha pecel sangat tinggi, sehingga harus ada inovasi baru, dengan menampilkan konsep yang berbeda.
Harga Murah, Berkualitas, Hindari Bahan Pengawet
Bagaimana strategi yang harus dipersiapkan produk makanan dan minuman Indonesia untuk tetap kuat di pasar, dengan tetap menjaga kualitas dan higienis serta kemampuan menghadapi produk asing ditengah tingginya persaingan dan harga bahan baku. Jaminan kualitas, murah dan bebas dari bahan pengawet atau bahan kimia berbahaya menjadi topik pertanyaan dari pendengar Suara Surabaya baik langsung maupun melalui group E100 di jaringan sosial Facebook.
Produk Baba Rafi tidak ada bahan pengawet, murni fresh, semua bahan baku lokal. Produk yang dihasilkan memiliki cita rasa timur tengah. Untuk mengatasi harga bahan baku yang mahal, sudah ada bagian divisi produksi, sehingga harga jual bisa kita turunkan, tanpa menurunkan kualitas. Demikian penjelasan Hasan dari Baba Rafi menjawab pertanyaan pendengar soal jaminan kualitas.
Demikian pula Agung pengelola pecel Bu Tari menambahkan, bahwa visi kedepan adalah kebersihan, pelayanan dan taste. Ada aturan tentang area outlet franchise, ada tipe produk untuk rumah makan, depot dan kaki lima. Jangkauan pasar luas, satu outlet satu kecamatan, sehingga diharapkan potensi keuntungan juga besar.
Bumbu pecel kemasan Bu Tari tidak pernah pakai bahan pengawet. Bumbu pecel dapat digunakan maksimal dua bulan. Pecel Bu Tari memiliki resep untuk bumbu, 100 % tanpa pengawet. Dalam pengembangan ke depan ada keinginan untuk melibatkan pihak lain. Pengembangan internal SDM dan manajemen bisnis diperoleh melalui training dan seminar.
Masih perlu sosialisasi, sehingga penggunaan bahan pengawet tidak menggunakan formula “kira-kira cukup”, harus menggunakan batas aturan yang ditetapkan pemerintah.
Soal aturan penggunaan bahan pengawet, sudah diatur rapi melalui peraturan menteri kesehatan. Misalnya Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88, tentang persyaratan bahan tambahan makanan yang diijinkan, dosis pemakaian, dan label kemasan, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 208/Menkes/Per/IV/85, tentang penggunaan pemanis buatan dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 239/Menkes/Per/V/85, tentang pemakaian zat warna yang dilarang. Sehingga pengusaha harus mengikuti ketentuan ini. Saat ini ada pengusaha tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. Masih perlu sosialisasi, sehingga penggunaan bahan pengawet tidak menggunakan formula “kira-kira cukup”, harus menggunakan batas aturan yang ditetapkan pemerintah. Sebagaimana disinggung oleh Yakto dari GAPPMI terkait aturan penggunaan bahan pengawet.
Yakto Willy Sinarta juga menjelaskan sikap GAPPMI terkait penggunaan bahan pengawet adalah membuka seluasnya bagi pengusaha yang ingin mengetahui tentang aturan yang ditetapkan. GAPPMI bersama dinkes juga melakukan penyuluhan pada pengusaha baru dan memberikan sertifikat. Sedangkan untuk masalah packaging atau kemasan, pengusaha harus memahami kebutuhan konsumen, dengan tetap menjaga mutu dan higienis.
Strategi dan Inovasi Memperkuat Pasar
Menurut Agung, pecel Bu Tari dibuat berbeda, packaging lebih menarik, dulu pakai pembungkus styrofoam. Namun sekarang sudah diganti kardus dan dicetak pakai uvi sehingga terkesan eksklusif. Kemasan ini lebih diterima oleh konsumen dan mempengaruhi penjualan.
Demikian pula Baba Rafi ketika pasar mulai mengalami titik jenuh, maka cepat bikin inovasi. Saat ini Baba rafi go internasional ke malaysia. Juga menambah outlet di jakarta, di mana bisnis mamin cukup kuat dan tidak pernah mati. Strategi lain adalah dengan membuat menu baru, misalnya roti mariyam, dengan membuka anak perusahaan baru. Ungkap Hasan dari Baba Rafi menambahkan.
Dalam akhir dialog prospektif bisnis Enciety, Kresnayana Yahya mengingatkan bahwa ada satu yang kita takut, karena kita ribut diujungnya, yaitu produksi bahan pertanian, peternakan dan perkebunan. Kita takut suatu saat akan kekuarangan bahan. Masih banyak lahan tidur yang belum dimanfaatkan. Hulunya harus dibenahi, di-invest, diberi dukungan. supaya pengusaha makanan dan minuman tidak harus import, misalnya tauge. Ketika harus bersaing, kita harus mampu. Kalau manajemennya diperbaiki, daging kita mustinya bagus. Namun support dari teknologi pembiakan musti dibantu. Kalau bahan baku import maka daya saing menjadi kurang. Harus ada inovasi. Tepung terigu bisa pindah ke tepung ketela, tepung sagu. Air kelapa misalnya. Ada banyak yang belum digarap secara serius. Juga soal pengangkutan, misalnya kacang panjang atau sayur mayur – belum ada inovasi. Pengangkutan bisa pakai box, kesegaran terjamin, meskipun cost lebih tinggi. Mata rantai ini harus kita support.
Masyarakat harus diedukasi, masyarakat jangan disalahkan, yang punya produk harus mengerti bagaimana meningkatkan awareness soal product knowledge. Suatu saat konsumen akan lebih perhatian soal kalori.
Harapannya depkes menerbitkan petugas kesehatan, menjadi advokasi untuk pengusaha pemula. misalnya pendampingan bikin bumbu dengan standarisasi atau daging. Seringkali ini belum terjadi, sehingga kita tidak hanya ngatur soal pajak. Perlu keterlibatan kampus, bisa dianggap sebagai resources, persaingan ini tidak hanya bisa ditahan dengan aturan. Siapa yang inovatif akan menang.
Masyarakat harus diedukasi, masyarakat jangan disalahkan, yang punya produk harus mengerti bagaimana meningkatkan awareness soal product knowledge. Suatu saat konsumen akan lebih perhatian soal kalori. Sehingga dengan informasi kandungan kalori pada produk makanan dan minuman kita akan menjadi knowledge. Yaitu adanya kemampuan memahami, produk makanan dan minuman yang dibeli cocok dengan kebutuhan. Perlu ada badan pengawas, ada lembaga pemantau kualitas. Sehingga keterlibatan pihak lain ini akan hidup sebagai bagian integral di tengah makin berkembangnya industri makanan dan minuman. Demikian harapan Kresnayana Yahya, chairperson enciety Business Consult menutup dialog Prospektif Bisnis Jumat pagi. (unung@enciety.com)
Sumber : Disarikan dari dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult, di Radio Suara Surabaya, 15 Januari 2010

