Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya
Enciety.com - 25/01/2010 12:36
Kategori : Topic Of The Week.
Perubahan radikal di Surabaya merupakan sesuatu yang berkaitan dengan proses, ada sekolompok pemikir mulai kelurahan, kecamatan hingga kota. Semua berhak usulkan sesuatu, kota ini makin terbuka, ada paradigma partisipasi yang tidak bisa dihindari. Tingkat elit pemerintah tidak bisa merencanakan sendiri, perlu influence dari masyarakat. Demikian sari pembuka dari Ir Don Rozano M.M., general manager enciety Business Consult dalam dialog prospektif di radio Suara Surabaya, 22 Januari 2010 yang dipandu oleh Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya.
Besarnya pengaruh global, makin banyaknya investasi asing, menjadikan pintu surabaya ini menjadi pintu yang harusnya makin mengakomodasi kebutuhan global. Trade tidak kenal tempat. Bagaimana kota mengantisipasi hal ini perlu perencanaan dan pemikiran. Visi harus berubah, perdagangan lokal yang luar biasa ini perlu perencanaan matang, sarana infrastruktur mulai jalan, perhubungan juga manusia menjadi penting. Sumber daya manusia juga penting karena akan mengelola. Sehingga investment di pendidikan dan kesehatan menjadi penting, tapi investment di pembinaan dunia usaha juga penting. Kita juga butuh kelanjutan sebuah perencanaan, misalnya setelah MERR, Banyu Urip dibuat, perencanaan selanjutnya seperti apa. Masyarakat butuh panduan. Tambah Drs Kresnayana Yahya MSc, chairperson enciety business consult menyikapi perencanaan kota Surabaya.
Menurut Ir Tri Rismaharini, M.T., kepala Bappeko Surabaya, kota Surabaya ini sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas, Surabaya memperoleh penghargaan city of the future. Mulai banyak investor yang ingin masuk. Investasi di industri juga disesuaikan dengan prospek bisnis. Investor paham arah industri Surabaya ke ICT. Sehingga bagaimana menjaga kondisi bisnis yang kondusif. Misalnya pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan drainase yang berdampak sangat besar.
Surabaya juga menjadi kota termurah dibandingkan kota besar di Jawa, berdasarkan hasil Survey Biaya Hidup Merce Indonesia tahun 2008. Dalam survey ini Surabaya menempati urutan 21, dari tingkat kemahalan, satu tingkat dibawah Jogjakarta. Salah satunya adalah soal penyediaan air bersih, sehingga harapannya target MDG bisa dipenuhi. Juga bagaimana perkembangan kota ini berdampak pada kota disekitarnya, misalnya Gresik dan Sidoarjo. Sehingga akses menuju Gresik dan Sidoarjo harus diperbaiki. Rencana pengembangan pelabuhan di surabaya juga memperhatikan kedua kota tersebut. Bagaimana tingginya konsumsi ikan di surabaya, bisa mewadahi gresik dan sidoarjo.
Bagaimana mempersiapkan sekolah dan pekerjaan bagi yang ingin tinggal di surabaya. Fasilitas kesehatan surabaya juga dipenuhi untuk semua lapisan, untuk orang miskin kita dekati dengan posyandu dan puskesmas keliling. Namun disisi lain, masih ada data menunjukkan pengobatan masih banyak ke Singapore atau Australia.
Bidang pendidikan dengan mendorong sekolah memiliki fasilitas lengkap. Selain lab bahasa, juga ada lab matematika, fisika, bologi dan wirausaha. Fasilitas ini mulai SD akan dilengkapi. Dengan perubahan kebijakan satu kelas dari 40 anak diubah menjadi 25 – 30 anak untuk SD, menyebabkan Surabaya kekurangan 325 guru SD. SMP diperbaiki juga, tidak dibedakan negeri dan swasta. Nanti disetiap kecamatan ada sekolah inklusi, di mana 1 guru ada 4 murid, yang mengalami autis atau cacat netra, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi prioritas dibidang pendidikan.
Riset Financial Times tahun 2008 menempatkan surabaya sebagai kota yang murah atau dalam publikasi fDi Magazine disebutkan Surabaya as top for cost effectiveness, mengalahkan Johor Bahru, Malaysia dan Davao, Philippines. Hal ini terkait dengan upaya memangkas jalur birokrasi yang dilakukan pemkot Surabaya. Dalam sistem perijinan dibangun software / aplikasi sehingga Surabaya memiliki sistem layanan perijinan satu pintu. Surabaya juga akan menempatkan kelurahan sebagai payment point services.
Pemberdayaaan UKM juga disiapkan. Ada hal yang dikritisi, misalnya soal urban farming, Tri Rismaharini menjelaskan bahwa program tersebut baru dan belum ada daerah lain untuk dilakukan benchmark sehingga perkembangannya bertahap. Meskipun saat ini sudah ada wilayah urban farming dengan luas lahan hanya 100 m2 menghasilkan 4 ton lele. Demikian pula juga akan dibangun pasar tradisional baru. Sehingga perencanaan kedepan diarahkan pada dukungan pada semua skala usaha.
Kresnayana Yahya juga mengatakan beberapa hal yang belum dilakukan Surabaya yaitu pentingnya industri atau usaha besar di-support usaha kecil yang banyak sehingga industri tidak perlu outsourcing. Sehingga akan ada usaha lain muncul, misalnya usaha pengamanan, usaha pengangkutan limbah di pabrik sehingga pabrik menjadi bersih dan barang di-utilize. Hal ini tentu akan menjadi unit bisnis yang bagus sekali.
Makin lama masyarakat makin ingin kemudahan, misalnya tidak punya waktu untuk memasak, terdapat banyak pilihan untuk makan di luar. Perlu pasar rakyat yang tidak dikesankan kumuh yang butuh support seperti air, gas dan infrastruktur sehingga makin lama makin efisien. Sehingga pebisnis mau makan di pasar rakyat juga, pasar rakyat akan mewadahi semua lapisan bawah hingga paling mewah.
Perubahan yang telah dilakukan oleh Surabaya pada 2009 dan perencanaan 2011 tentunya masih banyak yang perlu dikritisi dan masukan dari warga kota. Kenyamanan kota, pengembangan usaha kampung, pengembangan pelabuhan dan upaya menarik investasi menjadi topik pertanyaan dari pendengar Suara Surabaya baik langsung maupun melalui group E100 di jaringan sosial Facebook.
Menjawab pertanyaan dari pendengar Suara Surabaya tentang banyaknya impor barang yang tidak melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Tri Rismaharini menjelskan bahwa ada perencanaan untuk membangun pelabuhan. Pelabuhan ini harus didukung infrastruktur untuk akses ke pelabuhan. Sehingga yang dilakukan Surabaya adalah mendorong percepatan pembangunan akses jalan ke pelabuhan, meskipun masih ada kendala koordinasi dengan pusat dan provinsi dalam rencana pengembangan pelabuhan yang harus segera diselesaikan. Kresnayana Yahya juga menambahkan perlu keberanian pemerintah pusat untuk memberikan kewenangan pengelolaan dan kebijakan tarif pelabuhan dilakukan oleh pemerintah kota.
Masukan lain dari warga kota adalah soal pengembangan kampung, khususnya melihatkan banyaknya bangunan mangkrak. Perlu perhatian dari pemerintah kota untuk memperhatikan pengembangan kampung kuno dan bangunan yang mangkrak. Lebih menarik apabila dikaitkan dengan pengembangan industri kreatif di Surabaya. Tri Rismaharini menambahkan bahwa sudah ada perencanaan tentang kota industri kreatif dan pemanfaatan jalan-jalan cagar budaya, diharapkan tahun ini dikoneksikan. Sehingga diupayakan untuk menghidupkan kembali kawasan-kawasan kota lama.
Kota surabaya cukup nyaman, begitu ungkap salah seorang pendengar Suara Surabaya. Tinggal bagaimana menstimulus sehingga makin banyak warga kota peduli membangun kota bersama-sama dengan pemerintah kota. Taman kota yang sudah bagus juga harus tetap dirawat sehingga tidak menimbulkan persoalan.
Tri Rismaharini mengatakan bahwa untuk makin meningkatkan kenyamanan kota, juga disiapkan manajemen pengamanan kota, misalnya dengan pemasangan CCTV. Infrastruktur juga dibenahi, misalnya seperti jalan A Yani, apabila frontage road bisa dibangun maka perpotongan yang terjadi tidak terlalu merisaukan. Namun rencana ini masih mengalami kendala dari pemerintah pusat.
Don Rozano menambahkan bahwa sekarang saatnya pemerintah propinsi dan pusat mendengarkan bahwa perlu perhatian lebih untuk Surabaya. Kontribusi pemakai jalan yang diserahkan ke pusat dan propinsi belum sebanding dengan pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur jalan yang layak yang diberikan propinsi dan pusat sebagai bentuk penghargaan pada pemakai jalan.
Dalam akhir dialog Kresnayana Yahya memberikan masukan bahwa pertama, sistem kita masih seragam, kota maju dan kabupaten tertinggal masih sama dan pembagian pajak tidak merata sehingga kota yang kreatif akhirnya tidak mampu memberikan konstribusi besar sesuai yang direncanakan. Perlu mengaktifkan usaha mikro yang bersinergi dengan usaha besar, sehingga diharapkan semua ini akan harmonis. Kedua, produktifitas per orang di Surabaya lebih tinggi dari kota yang lain. Bahwa faktanya masih ada orang miskin dan tertinggal iya, ini butuh garapan lebih local based. Planning itu adalah decision making, kalau hari ini ada decision, untuk bisa planning on decision harus ada data yang baik. Warga kota memberi konstribusi apa yg diinginkan, menjadi masukan untuk perencana, based on need and wants masyarakat. Dan ini jadi prioritas.
Sekarang ini sudah disampaikan perencanaan pemerintah kota 2011, dimuat dalam situs musrenbang.surabaya.go.id. Apabila ada usulan yang menarik, dapat disampaikan melalui media ini atau melalui musrenbang di kelurahan. Demikian ungkap Tri Rismaharini, menutup dialog prospektif bisnis enciety, jumat pagi. (unung@enciety.com)
Sumber : Disarikan dari dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult, di Radio Suara Surabaya, 22 Januari 2010

