enciety Log

Ayo Tingkatkan Pasar Domestik

Ritel 360° – Asia merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia saat ini. Bahkan China, India, dan Indonesia merupakan tiga negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi. Kondisi ini, seharusnya dapat menjadi titik tolak untuk meningkatkan gairah pasar domestik kita. Bukan saatnya untuk takut bersaing.

Indonesia masih mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara–negara Asia, terkait dengan pembiayaan, bahan bakar, dan pajak. Biaya tersebut meliputi: upah, industrial, properti dan kantor, serta perizinan konstruksi. Murah memang tidak membanggakan, namun bisa menjadi ruang untuk bersaing.

Sebagai best cost effectiveness, usaha mikro dan kecil (UMK) yang merupakan mayoritas usaha di Indonesia, punya keunggulan untuk bersaing dari sisi harga. Di samping itu, jarak antara tempat produksi dengan tempat pemasaran dan pemahaman terhadap selera lokal juga menjadi keunggulannya. Nah, bagaimana caranya UMK dapat bersaing di pasar domestik?

Keinginan untuk maju, menjadi prasyarat utamanya. Sikap nyaman adalah musuh utamanya. Di saat pasar bergerak dinamis, kita pun dituntut untuk mengikutinya.

Keinginan untuk maju, menjadi prasyarat utamanya. Sikap nyaman adalah musuh utamanya. Di saat pasar bergerak dinamis, kita pun dituntut untuk mengikutinya. Bahkan kalau perlu, dapat menjadi market driver, pembentuk tren di pasar. Misalnya, kalau kita mempunyai usaha membuat tempe, kita jangan sekadar memasok tempe biasa saja, karena persaingannya pasti sudah ketat.

Sering kali UMK terjebak dengan “perang” harga. Kelihatannya masih untung, namun mereka acap kali tidaklah memasukkan komponen gaji sebagai karyawan, tempat usaha, dan bahkan cost of fund. Ada cerita menarik, seorang perajin tempe yang melihat persaingan makin ketat di pasar, mencoba untuk memasuki ritel modern. Namun, ternyata di ritel modern pun kondisinya juga ketat.

Oleh ritel modern tersebut, UMK ini disarankan untuk memasok jajanan basah yang persaingannya masih longgar, dan memungkinkan terdapatnya ruang untuk berinovasi. Dan akhirnya UMK ini, menerima tantangan untuk membuat pastel dengan rasa kare, tentunya dengan margin keuntungan yang lumayan.

Produk grocery, seperti jajanan basah memang masih berpeluang tumbuh dan berkembang.

Produk grocery, seperti jajanan basah memang masih berpeluang tumbuh dan berkembang. Di samping tidak terpengaruh dengan penerapan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN–China (CAFTA), produsennya juga dapat memanfaatkan jaringan perdagangan ritel, sehingga pertumbuhannya tidaklah sekadar organik semata.

Bergeraknya jajanan basah dari hanya berjualan di pasar, dan kini memasuki ritel modern patut mendapatkan apresiasi. Selain memberi kesempatan UMK untuk berkembang, hal ini bisa menjadi wahana untuk mengekspos hal–hal yang semula dianggap tradisional menjadi aset kultural kita. Hanya saja, standar kebersihan, kemasan dan tampilan yang bagus tetap dibutuhkan.

Apakah sudah cukup? Masih dibutuhkan sentuhan experience economy, melalui open kitchen. Dari dapur yang terbuka di ritel modern, konsumen bisa melihat langsung mulai pemilihan bahan baku sampai cara memasaknya. Dan, tentunya konsumen akan lebih tergoda untuk membeli karena UMK dan ritel modern dapat menyentuh aneka indera dalam saat yang bersamaan.

Keberhasilan di satu gerai perdagangan ritel, merupakan paspor untuk memasuki gerai yang lain dalam satu kota dan lain kota, bahkan jaringan ritel yang lainnya. Sinergisme semacam ini mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan penguasaan pasar domestik. Sehingga, kehadiran industri ritel dapat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang makin berkualitas. (don@enciety.com)

Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat di : Ritel 360° – KOMPAS – 23 Februari 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda