enciety Log

Di Indonesia Seharusnya Kita Jaya

Ritel 360° – Jika kepastian hukum dapat ditegakkan di negeri ini, investasi baru akan kembali marak. Negeri ini, seharusnya dapat berjaya. Tahun lalu, Indonesia masuk dalam tiga besar negara pertumbuhan ekonomi tertinggi. Di ASEAN, kita merupakan satu–satunya negara yang menganut kebijakan devisa bebas, dengan capital inflow lebih besar dari capital outflow.

Negeri ini, sesungguhnya masih mempunyai keunggulan komparatif dari sisi “murah”, jika mengacu hasil survey Financial Times fDI Magazine (London). Bayangkan, Surabaya dan Jakarta, dinobatkan sebagai best cost effectiveness nomer satu dan empat di antara 133 kota di Asia. Dua kota utama di Indonesia ini, bersaing dengan kota–kota di ASEAN serta Dongguan dan Shenyang.

Dongguan dan Shenyang yang bukan merupakan kota–kota utama di China pun ternyata lebih “mahal”, apalagi kota–kota utamanya pasti jauh lebih “mahal”. Memang bukanlah sesuatu yang luar biasa namun hasil tersebut dapat menjadi cermin untuk memahami kelebihan dan kekurangan kita dibandingkan kompetitor di Asia.

Jika menginginkan masuknya investasi berkualitas, dibutuhkan peningkatan kapasitas yang terkait…

Jika menginginkan masuknya investasi berkualitas, dibutuhkan peningkatan kapasitas yang terkait: economic potential, human resources, quality of life, infrastructure, business friendliness, dan promotion strategy. Secara alami, investor akan mencari tempat yang paling menguntungkan.

Industri ritel, sebetulnya merupakan investor yang telah siap untuk tumbuh dan berkembang dengan cepat. Industri ini selalu tumbuh dalam dua digit, bahkan di 2008 ritel modern dan tradisional dapat tumbuh secara bersama. Hanya sayang di 2009, industri ini hanya tumbuh kurang dari enam persen.

Banyak faktor yang mempengaruhi, di samping kepastian hukum, krisis ekonomi dunia juga mempunyai pengaruh. Terkait dengan ketersediaan lahan dan konstruksi bangunannya. Serta yang terpenting juga informasi yang terus–menerus tentang krisis masih membayangi konsumen Indonesia, sehingga banyak dari kita menjadi memilih tidak membelanjakan uang.

Kita sebenarnya tak sekedar membutuhkan investasi industri ritel, namun membutuhkannya tumbuh dan berkembang, karena terkait dengan sekitar 60 persen pembentuk produk domestik bruto (PDB). Dinamikanya menguntungkan konsumen dan dapat meningkatkan akses petani, yang merupakan lapangan kerja terbesar.

Kemitraan komunitas petani dengan industri ritel yang telah ada harus dapat didorong dengan cepat. Keduanya saling membutuhkan untuk dapat memotong rantai perdagangan dari petani sampai ke konsumen. Kenaikan harga beras saat ini seharusnya dapat menjadi pelajaran bersama. Karena ternyata bukanlah petani yang mendapatkan keuntungan terbesarnya di dalam situasi ini.

Kini, saatnya masing–masing mulai menata langkah dengan optimis…

Kini, saatnya masing–masing mulai menata langkah dengan optimis. Di antara pekerjaan rumah yang masih harus dibenahi pemerintah, ternyata kita masih punya keunggulan. Sehingga penerapan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN–China (CAFTA) bukanlah untuk dihindari, mari kita melihat potensi yang menguntungkan dengan memanfaatkan existing energy kita.

Dengan fokus pada pasar lokal, produksi kita diharapkan dapat tumbuh. Karena sebetulnya hasil pertanian dan produksi UKM kita masih punya keunggulan komparatif. Saat ini, sekitar 75 persen pemasok industri ritel dari kategori UKM. Seiring gairah perkembangan industri ritel tahun ini, dapat menyiratkan keyakinan di Indonesia seharusnya kita jaya… (don@enciety.com)

Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 16 Februari 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda