enciety Log

Memang Bukan Berarti Kiamat

Ritel 360° – “Presiden: Bukan Berarti Kiamat” menjadi judul Kompas (26/1) halaman 21, yang mengangkat komentar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (CAFTA). Memang seharusnya kita tidak sekadar saling menyalahkan, karena sudah lebih dari lima tahun tidak ada persiapan signifikan yang dilakukan. Pun komunikasi publik tidak dilakukan, sehingga perjanjian itu baru menjadi topik menarik dua bulan terakhir.

Apakah benar produk Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan produk China? Industri makanan dan minuman (mamin) terbukti mampu bersaing. Tidaklah mengherankan sesaat akan diberlakukannya CAFTA, industri mamin hanya mengusulkan negosiasi satu dari 409 pos tarif yang terkait dengannya. Industri ini tetap tumbuh dan berkembang di saat krisis sekalipun.

Perdagangan ritel yang sehat telah meningkatkan kapasitas ekonomi lokal, terutama industri yang memiliki pemahaman selera lokal yang baik.

Mengapa industri mamin kita dapat bersaing? Perdagangan ritel yang sehat telah meningkatkan kapasitas ekonomi lokal, terutama industri yang memiliki pemahaman selera lokal yang baik. Jangan lupa, 240 juta penduduk Indonesia menjadi kekuatan pasar yang sungguh luar biasa. Jumlah konsumen lokal yang punya daya beli, lebih besar dari jumlah penduduk Singapura atau Malaysia sekalipun.

Bagaimanakah Indonesia bisa memenangkan CAFTA? Memahami keunggulan dan mengakui ketertinggalan, tentunya dengan menggunakan ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan. Kita punya keunggulan di komoditas utama yang paling dicari FEW (Food, Energy, Water), sehingga menyimpan potensi untuk langsung diekspor, atau lebih baik diolah terlebih dahulu.

Di saat dunia sedang mencari kondisi normal yang baru, sudah selayaknya dioptimalkan potensi FEW. Jika kita hanya mengekspor crude palm oil (CPO), dan pangan yang akan secara masif ditanam di Merauke, atau mengekspor gas alam dan batu bara atau air bersih semata, kita akan merugi. Pasalnya, nilai tambah akan didapatkan justru di negeri orang.

Apakah mungkin kita menjadi “Tuan di negeri sendiri”? Sangat mungkin. Hasil survey Financial Times fDI Magazine (London) di 133 kota terkemuka di Asia, yang menobatkan Surabaya sebagai the Best Cost Effectivness di antara Asian Cities of the Future 2009/2010, menjadi bukti. Hasil lengkap penilaian ini beredar di World Economic Forum yang saat ini berlangsung di Davos, Swiss.

Keberhasilan ini, patut dibanggakan karena efektivitas biaya di Indonesia (Surabaya) ternyata merupakan yang terbaik di episentrum utama pertumbuhan ekonomi dunia. “Kita bersyukur karena biaya berbisnis di Surabaya lebih terjangkau bahkan jika dibandingkan kota–kota di China sekalipun. Kita punya modal untuk bersaing dan menang,” kata Bambang DH, Walikota Surabaya.

Kita tidak boleh berhenti. Kini saatnya juga dapat bersaing pada kualitas hidup, infrastruktur, dan kenyamanan untuk berbisnis.

Kita tidak boleh berhenti. Kini saatnya juga dapat bersaing pada kualitas hidup, infrastruktur, dan kenyamanan untuk berbisnis. Kita pasti mampu menarik investasi asing seraya meningkatkan kapasitas ekonomi lokal. Alokasi anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur harus seiring dengan dengan keberpihakan pada ekonomi rakyat.

Di Surabaya, ritel modern diberi kesempatan untuk berkembang dengan memberikan affirmative action bagi produk lokal. Sedangkan Pemerintah Kota membangun tujuh pasar masyarakat baru dan 19 sentra pedagang kaki lima baru dalam dua tahun terakhir. Dengan optimisme dan sinergitas, kita dapat menghindari “kiamat” bahkan bisa mewujudkan Indonesia yang lebih baik. (don@enciety.com)

Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat di : Ritel 360° – KOMPAS – 2 Februari 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda