Menjadi Tuan di Negeri Sendiri
Enciety.com - 09/02/2010 08:04
Kategori : Focus.
Ritel 360° – Musim hujan adalah waktu yang ditunggu petani, karena musim tanam telah tiba, dan peluang mendulang uang menjadi terbuka. Ramai petani bekerja di sawah, dari pagi hingga petang dengan senyum mengembang. Namun mungkin tidak di tahun ini, petani Indonesia dikejutkan mulai dijalankannya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN–China (CAFTA) awal tahun ini.
Apakah benar produk pertanian kita tidak mampu bersaing?
Apakah benar produk pertanian kita tidak mampu bersaing? Kalau memang demikian, ini hal yang serius. Sekitar 40 juta orang terlibat di bidang ini dipertaruhkan masa depannya. Demikian juga jutaan pekerja terkait dengan mata rantainya, mulai dari bibit, alat produksi, pupuk, sampai penjualan.
Di bandingkan dengan petani di China, petani Indonesia mempunyai keunggulan terkait dengan jarak tempuh dan musim. Petani dengan empat musim memerlukan biaya yang lebih besar untuk tetap bercocok tanam, misalnya harus memanfaatkan “rumah kaca” di saat cuaca tidak bersahabat.
Sebetulnya petani Indonesia sudah terlebih dahulu merasakan pasar bebas. Sejak 2007, sektor buah dan sayur impor telah melenggang dengan bea masuk nol persen. Bukan hanya di ritel modern, di pasar tradisional pun hortikultura impor melimpah ruah. Bahkan sampai di pelosok desa sekali pun. Buah–buahan impor tersebut mempunyai kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.
Pangan merupakan produk strategis yang harus dijaga keberadaannya.
Pangan merupakan produk strategis yang harus dijaga keberadaannya. Namun kalau dilihat dari nilai tukar petani (NTP), hortikultura punya nilai jauh lebih tinggi dibanding pangan. Di sini seharusnya peran pemerintah dibutuhkan untuk harmonisasinya. Potensi masih terbuka, karena baru separuh dari 50 juta hektare lahan pertanian yang siap untuk ditanami.
Dengan luasan lahan garap per petani Indonesia, hanya sekitar 0,3 hektar. Kita seharusnya tidak memaksakan orientasi pada pasar ekspor. Buah–buahan tropis, seperti mangga, manggis, nanas, pisang, rambutan, salak, dan durian, juga mempunyai konsumen domestik fanatik. Pasar lokal yang berdaya beli mempunyai jumlah sangat besar di antara negara ASEAN.
Dengan fokus pasar lokal, petani Indonesia mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan petani China. Di samping lebih eksotik, buah–buahan lokal bisa lebih segar. Buah impor harus melalui jalan lebih jauh dan rumit untuk sampai di konsumen. Sehingga seringkali harus masuk refrigerator (ruang pendingin).
Apakah produksi kita bisa lebih murah dibanding China? Kita seharusnya punya keunggulan komparatif dari sisi murah, jika mengacu survey Financial Times fDI Magazine (London). Nah, masalahnya kita menghadapi kapasitas ekonomi petani dan kendala transportasi lokal yang membutuhkan solusi cerdas.
Kemitraan komunitas petani dengan industri ritel yang telah ada dapat menjadi salah satu solusinya.
Kemitraan komunitas petani dengan industri ritel yang telah ada dapat menjadi salah satu solusinya. Karena industri ritel juga membutuhkan buah–buahan segar yang sesuai dengan selera konsumen domestik, dengan harga dan kualitas yang bersaing. Sehingga petani kita dapat menjadi tuan di negeri sendiri, seperti halnya industri makanan dan minuman.
Pola konsumsi kota–kota utama dapat menjadi stimulus sesungguhnya bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Di Indonesia, industri ritel masih dapat berkembang ke ibukota kabupaten dan ibukota kecamatan. Masuknya industri ini bisa meningkatkan akses bagi petani kita. Khususnya untuk produk buah–buahan dan sayur mayur yang membutuhkan penanganan lebih baik. (don@enciety.com)
Don Rozano – General Manager enciety Business Consult
Dimuat : Ritel 360° – KOMPAS – 9 Februari 2010

