Potensi Ekspor 2010
Enciety.com - 22/02/2010 11:53
Kategori : Topic Of The Week.
Peluang ekspor 2010 diprediksi meningkat, hal ini nampak dari pergerakan pertumbuhan ekonomi dunia. Indikasi tersebut menjelaskan bahwa pasar makin membesar, sehingga peluang juga makin besar, terlepas ada CAFTA atau tidak. Saat ini seluruh dunia juga berupaya memulihkan kondisi ekonominya. Indikasi lain menunjukkan adanya pergerakan di pelabuhan Hongkong dan Taiwan. Aktivitasnya meningkat 20 hingga 30 persen. Ini menunjukkan pelabuhan internasional sudah mulai menambah kapasitas. Bagaimana potensi Jatim untuk ekspor ? Kita perlu cermati, supaya peluang tertangkap. Demikian sari pembuka dari Drs Kresnayana Yahya, MSc, enciety dalam dialog prospektif bisnis enciety business consult di radio Suara Surabaya, 5 Februari 2010 yang dipandu oleh Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya.
Ekspor hasil tambang dan pertanian, kini sedang bagus. Food product di dunia harga meningkat, peluang baik untuk ekspor. Angka kumulatif 2009 agri product juga meningkat. China dan India menjadi semacam tumpuan harapan. Ekonomi mereka tumbuh, membutuhkan supply bahan makanan tinggi. Retail juga tumbuh di atas 30 persen. Ada peluang ekspor pada negara dengan pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen. Urai Kresnayana Yahya menambahkan.
Hingga bulan September 2009 ada kenaikan ekspor pada produk furniture, kimia, tekstil dan sepatu. Sedangkan penurunan lebih banyak pada produk manufacture. Bahkan untuk sektor komoditi, tembaga dan batubara naiknya cukup positif. Potensi kerjasama dengan Cina juga nampak dengan diawalinya kunjungan China ke Jawa Timur, terutama untuk produk sepatu dan mesin. China memerlukan bahan pertanian. Di mana saat ini daya beli di China meningkat, lifestyle muda meningkat. Sebagaimana diungkapkan oleh Isdarmawan GPEI Jawa Timur.
Agung Kuncoro dari Terminal Peti Kemas (TPS) menyatakan bahwa trend 2010 cukup menarik. Data TPS menunjukkan ada kecenderungan meningkat. Import meningkat sampai 50% dibandingkan Januari 2009. Kalau dibandingkan dengan 2008 pun sudah meningkat 7%. Sedangkan ekspor naik 34.9 persen dibandingkan Januari 2009. Selain itu juga adanya permintaan kontainer kosong. Permintaan terbesar dari Asia Tenggara. Hal ini mengindikasikan bahwa roda perdagangan di luar negeri mulai meningkat.
Kesiapan TPS dalam mengantisipasi pergerakan ini cukup baik. Kapasitas TPS sekarang yang mencapai 1800 Teus dalam 1 tahun dengan volume 160 ribu Teus masih dapat menampung ketika ada lonjakan ekspor impor. Bulan ini sudah mengoperasikan 11 Container Crane dan Rubber Tyre Gantry (RTG) akan menambah pelayanan di lapangan. Sebagian peralatan juga ditambah dengan cara menyewa. TPS juga akan membangun terminal operating system, di mana hal ini diharapkan membawa dampak yang signifikan pada 2010. Proses transformasi dari sistem lama ke sistem baru juga sudah disiapkan sehingga diharapkan efesiensi dan akurasi meningkat. Sistem baru ini diharapkan berjalan akhir tahun ini ujar Agung Kuncoro meyakinkan.
Kekuatan Bahan Baku Lokal
Jawa Timur juga diprediksi siap menghadapi pasar bebas ASEAN – China, khususnya untuk ekspor produk sepatu. Keyakinan ini didukung dengan adanya peluang pasar di Amerika dan Eropa. Negara kompetitor seperti China juga masih kena kebijakan dumping. Keunggulan lainnya adalah produk sepatu Jatim lebih kompetitif dari sisi harga dan kualitas. Sehingga pasar ekspor secara riil masih aman.
Permasalahannya justru dengan produk dalam negeri. Pedagang sudah mulai wait and see. Pedagang juga sudah mulai mengurangi order. Home industry di China banyak sekali, masih ada sisa produk. Apabila produk tersebut dikumpulin dan digerojok ke Indonesia maka dapat berdampak. Selain adanya kendala tenaga kerja siap pakai. Sebagaimana diungkapkan oleh Ali dari Asosiasi Persepatuan Jatim (Apresindo) dalam diskusi ini.
Sebagian produk lokal kita masih mendatangkan bahan baku dari Kalimantan dan Sulawesi. Ada beberapa produk import dari New Zealand. Bahan baku seperti kopi harus didatangkan dari Lampung, Timor Leste dan Vietnam. Harusnya ada upaya yang serius untuk meningkatkan daya saing salah satunya peningkatan infrastruktur sehingga revitalisasi bisa dipenuhi. Sebagaimana ditambahkan oleh Isdarmawan GPEI Jatim menyoroti kekuatan bahan baku lokal Jawa Timur dalam mendukung industri.
Investasi Riset
Makin banyak negara menginvestasikan untuk research. Informasi disusun pada bulan Oktober – Nopember, sehingga Januari sudah muncul new product. Realita pasar begitu dinamis, melalui riset juga Malaysia dapat memasok kopi ke Indonesia. Sehingga investement bukan hanya di barang modal, namun juga bagaimana menebak selera masyarakat. Sehingga need and want supply match karena kebiasaan riset di negaranya, kata Kresnayana Yahya menambahkan.
Potensi ekspor ini harus disikapi. Pertama, membangun struktur bahan baku yang bagus, bagaimana dapat dipenuhi dari dalam negeri. Terutama struktur bahan baku, yang biasa import, bagaimana dipenuhi dari dalam negeri. Kedua, bagi yang mulai memiliki kemampuan kreasi dan desain, ada peluang bagus. Mesinnya juga tidak mahal. Tapi sayang business kita nggak ada informasi, nggak ada riset. Dengan jumlah penduduk 240 juta, maka kebutuhan bahan baku luar biasa. Insentif dan investment tidak ditujukan untuk mengurangi ketergantungan, prioritas lapangan kerja belum disentuh. Masyarakat musti digerakkan, nggak bisa dipaksa. Kalau produk tersebut sesuai selera akan dibeli. Kita musti pandai memhami masyarakat. Masyarakat kita pendapatan meningkat 50 persen. Produsen melihat seperti 10 tahun lalu. Kita harus masuk ke economy creative. Persaingan bukan harga tapi kreasi. Kalau kita kenal market diluar, bisa lebih baik lagi. Demikian harapan Kresnayana Yahya, chairperson enciety Business Consult menutup dialog Prospektif Bisnis Jumat pagi. (unung@enciety.com)
Sumber : Disarikan dari dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult, di Radio Suara Surabaya, 5 Februari 2010

