enciety Log

Jadilah Value Creator, Bukan Hanya Trader

Ritel 360° – Rumus ritel adalah membeli dengan harga murah, setelah itu menjualnya dengan lebih mahal. Rumus yang sangat sederhana ini telah membuat banyak pemain ritel makmur. Tapi pemain ritel saat ini jumlahnya sudah jutaan. Mereka pun menjual barang yang tidak jauh berbeda, antara satu dengan lainnya.

Pertumbuhan pasar ritel Indonesia cenderung menurun. Kini, saatnya pemain ritel harus menciptakan value yang di-drive oleh konsumennya, bukan produsen atau lainnya.

Dengan demikian, konsumen semakin punya banyak pilihan. Semakin banyak peritel, konsumen cenderung diuntungkan karena harga makin bisa ditekan. Berarti peritel yang hanya sekedar berjualan akan berguguran dari waktu ke waktu, karena tidak akan kuat bersaing dengan harga yang semakin mencekik. Inilah yang terjadi di banyak pasar di seluruh dunia.

Adanya suplai yang sangat tinggi membuat konsumen mempunyai banyak pilihan, dan membuat mereka memegang power. Jadi isu utama saat ini bagi peritel adalah jangan hanya menjalani trading. Lihat saja supermarket. Dulunya mereka adalah trader, dengan membeli barang dari distributor dan meletakkannya di rak hingga konsumen bisa mengambil dan membayar.

Jika Anda saat ini masih melakukan hal seperti tersebut di atas dalam dunia ritel, sudah sangat bisa diprediksi bisnis Anda akan sulit untuk berlanjut. Anda harus menjadi value creator dalam dunia ritel. Convenient store di Belanda saat ini bukan sekadar toko yang hanya menjual susu, roti, dan minuman bagi konsumen. Toko mereka seperti sudah menjadi dapur yang nyaman dan praktis bagi konsumennya.

Konsumen bisa mengambil croissant yang masih panas dan harum. Atau, kopi mocca hangat baru di–grounded, ayam panggang rotiseri untuk makan siang, atau pun jus buah yang baru saja dibikin. Lalu, supermarket di Korea juga menjalankan cara yang mirip. Di dalam supermarket selalu ada department ready to eat food, seperti ikan bakar Hokaido, mi Korea, Kim Chi aneka rasa, dan shushi. Sungguh nyaman dan praktis.

Sehingga, konsumen yang berbelanja bisa makan ketika lapar. Hal ini sudah menjadi standar di dunia ritel negara maju dengan penduduk yang semakin sibuk, dan mengutamakan kesegaran, praktis, dan sanggup membeli nilai. Hypermarket di Spanyol pun menjual mulai dari biskuit, lemari es, berlian, hingga mobil. Kelengkapan merupakan bagian dari value.

Pemain ritel kini harus mulai menciptakan value bagi konsumennya. Value ini juga di–drive oleh demand yaitu konsumennya, bukan produsen ataupun peritel. Jadi dengarkan konsumen Anda, dan buatlah apa yang mereka mau. Karena itu, sigaplah mendengar konsumen di segmen pasar Anda. Pasang telinga.

Gunakan kreativitas untuk menciptakan value yang unik dan sukar ditiru oleh kompetitor.

Gunakan kreativitas untuk menciptakan value yang unik dan sukar ditiru oleh kompetitor. Buatkan sebuah brand jika perlu. Fokus dalam memasarkan value yang Anda bangun. Kembangkanlah value itu bersama value baru lainnya. Menarik pula disimak cerita supermarket lokal yang harus bersaing dalam kompetisi yang ketat. Mereka kemudian membuat kue brownies.

Mereka menamakannya Killer Brownies. Kue ini ternyata dapat membuat pelanggan supermarket lokal di Amerika Serikat tersebut menjadi makin loyal, karena mereka tidak bisa mendapatkannya di mana pun. Pemain supermarket lain, kini juga membuka area seperti restoran bagi konsumen. Bahkan, membuat jasa katering bagi perusahaan atau keluarga yang hendak membuat acara perayaan.

Peritel adalah orang yang bisa meramu atau orang yang membuat gado–gado. Mereka meramu assortment, dan juga cita rasa brand–nya. Brand retail Anda mewakili kehebatan Anda dalam meramu. Tinggalkan trading, tambahkan value baru ke dalam bisnis Anda. Anda sekarang harus menjadi KOKI bukan pedagang sayur lagi, jika ingin pelanggan tetap membeli sayur yang Anda jual! (don@enciety.com)

*) Yongky Surya Susilo, Director Retailer Service The Nielsen Indonesia

Dimuat di : Ritel 360° – KOMPAS – 9 Maret 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda