enciety Log

Living in Harmony

Ritel 360° – Pertumbuhan pasar ritel tradisional dan modern yang cenderung menurun pada tahun lalu haruslah disikapi dengan bijak. Tapi, bukan dengan menambah aneka peraturan yang justru makin merumitkan masalah implementasi di lapangan. Lebih dibutuhkan peraturan yang seiring dengan jalannya bisnis ritel.

Pola belanja utama konsumen Indonesia cenderung mempunyai perbedaan yang nyata, belanja harian ke toko tradisional dan bulanan ke modern.

Dengan pola belanja utama konsumen Indonesia cenderung mempunyai perbedaan yang signifikan, belanja harian ke toko tradisional dan belanja bulanan ke toko modern, seharusnya keduanya mempunyai kesempatan untuk berkembang. Hal ini terbukti pada 2008, ketika keduanya dapat tumbuh dan berkembang, dan ini kunci keberhasilan di bisnis ritel.

Persaingan yang seru terjadi antartoko tradisional dan antartoko modern. Semakin banyak toko akan memacu kompetisi, dan konsumen kian diuntungkan. Bukan hanya harga dapat ditekan, tapi pelayanan juga akan meningkat. Jika tidak, toko–toko itu akan berguguran, tak memandang apakah toko itu tradisional atau modern. Bahkan hypermarket pun dapat tutup.

Mengapa toko tradisional cenderung berkembang sementara jumlah pasar dengan jumlah pedagangnya cenderung stagnan? Jawabannya adalah karena membuka toko tradisional tidaklah rumit. Berjualan di teras rumah pun jadi. Membuka toko menjadi alternatif saat lapangan pekerjaan terbatas akibat krisis ekonomi. Di sisi lain, manajemen pasar masih banyak yang berkutat dengan pola terdahulu.

Kita harus melihat tren manajemen pasar di negara–negara tetangga. Rumus ritel masa lalu yakni membeli dengan harga murah, setelah itu menjualnya dengan margin keuntungan tertentu, sudah tidak zamannya lagi. Bukan hanya karena jumlah pedagang yang semakin banyak, namun pedagang haruslah tetap untung dan tidak terjebak bersaing dengan harga yang semakin mencekik. Inilah yang banyak terjadi.

Sudah selayaknya pengelola pasar mulai memperhatikan polling resource

Sudah selayaknya pengelola pasar mulai memperhatikan polling resource. Pengelola pasar selayaknya tak lagi memandang tiap stand atau pedagang sebagai entitas terpisah. Dengan demikian akan tercipta peluang bagi pedagang untuk dapat membeli barang secara grosir, dengan kualitas terjamin. Dan yang tak kalah penting, kenyamanan konsumen dalam berbelanja pun diperhatikan.

Kenyamanan bukanlah sekadar terkait bangunan, namun juga kualitas barang dan pelayanan konsumen, serta perpaduan zona penjualan yang memudahkan. Yang penting juga adalah kelengkapan fasilitasnya, hingga konsumen yang berbelanja bisa mengajak keluarganya untuk makan bareng sembari belanja.

Peritel tradisional dan modern memang harus kreatif, serta berpikir out of the boxes. Pasalnya, saat ini berbelanja bukan lagi cuma membeli barang yang murah saja. Tentu saja, kreativitas tersebut harus mampu dikomunikasikan sesuai dengan karakteristik masing–masing area. Kompetisi yang ketat tidak harus membuat kita mengeluh saja.

Saat ini adalah momentum yang tepat untuk kita mulai menata langkah menatap masa depan yang lebih baik. Pemulihan ekonomi berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan mencapai 6 persen. Tahun depan malah 6,3 persen. Tentunya kita tidak ingin peritel existing tak mendapatkan manfaat dari peningkatan kapasitas ekonomi tersebut.

Peritel existing merupakan pelaku bisnis yang telah memahami konsumennya. Tetapi saat ini, hal tersebut tidaklah cukup. Kita semua harus juga memahami konsumen Indonesia, yang dengan positioning tersebut diharapkan ritel tradisional dan modern dapat bertumbuh-kembang secara harmonis. Peluang itu ada, dan semoga Indonesia dapat mengambil kesempatan kali ini. (don@enciety.com)

*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat : Kolom Ritel 360° KOMPAS – 23 Maret 2010

--oo00oo--

Satu komentar untuk “Living in Harmony”

  1. Teguh Andoria @ 23/03/2010 10:08

    Ada sebuah riwayat, dahulu disebuah pasar ada 2 orang pedagang berjualan barang yang sama, satu muslim satu lagi non muslim. Dari hari ke hari pedagang non muslim ini menjadi laris mengalahkan pedagang muslim. Padahal cara berdagang dia tidak jujur (mengurangi timbangan), berbeda dengan muslim yang selalu berusaha menakar dengan adil. Sahabat muslim ini kemudian mengadu pada Rasulullah saw. Dia menceritakan semua masalahnya, satu saran Rasul, yaitu: lebihkan takaranmu. Bersedekahlah, dan benar saja, setelah dia melakukan saran Rasulullah saw pembeli menjadi banyak.

    Moral dari cerita ini adalah, bahwa berdagang tidak melulu soal untung-rugi dan keadilan dalam memberikan hak orang lain. Sedekah juga sangat perlu, bukan hanya dalam bentuk melebihkan takaran atau memberi diskon, tetapi juga dalam hal kenyamanan, kemudahan bertransaksi dan yang lain.

Masukkan Komentar Anda