Now or Never
Enciety.com - 30/03/2010 08:08
Kategori : Focus.
Ritel 360° – Pemulihan ekonomi berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. Keseimbangan baru mulai tercipta. Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan sekitar 6 persen dan bahkan dapat mencapai 6,5 persen di tahun depan. Perputaran ekonomi domestik masih merupakan penggerak utamanya.
Kini saatnya pengelola toko tradisional memanfaatkan secara nyata potensi belanja harian konsumen loyalnya di tengah pemulihan ekonomi.
Untuk itu, Indonesia membutuhkan perdagangan ritel yang lebih sehat. Bukan saja makin memudahkan akses bagi konsumen, namun juga akan menawarkan harga kebutuhan rumah tangga yang makin bersaing. Di samping itu, pertumbuhan perdagangan ritel juga akan memberikan ruang akses dan nilai tambah yang lebih baik bagi para petani, peternak, dan nelayan.
Kita tentu menginginkan peritel eksisting akan mendapatkan manfaat peningkatan kapasitas ekonomi Indonesia. Setiap kanal perdagangan ritel memang harus makin fokus pada potensi masing–masing segmennya. Merencanakan aksi nyata berbasiskan peluang dan ancaman menjadi lebih relevan dari sekedar membicarakan kekuatan dan kelemahan semata.
Bagaimana dengan toko tradisional? Selama krisis kinerja berkembang, perilaku belanja konsumen cenderung downgrade baik dalam pemilihan brand maupun ukuran kemasannya. Konsumen cenderung membeli benefit bukan atribut. Demikian juga dalam pemilihan tempat belanja, banyak konsumen yang beralih ke toko tradisional terdekat. Dan dengan ditunjang kemudahan “perizinan”, jumlah toko tradisional cenderung berkembang.
Bagaimana dengan kondisi paska krisis? Konsumen cenderung menemukan keseimbangan baru terkait kecenderungan belanjanya walaupun secara umum telah terjadi proses upgrade. Perubahan gairah berbelanja ini harus disikapi secara cerdas oleh pengelola perdagangan ritel, baik tradisional maupun modern.
Pertumbuhan perdagangan ritel diproyeksikan akan meningkat dalam volume perdagangan maupun jumlah gerainya. Tidak ada alasan industri ritel untuk tidak optimistis, tak terkecuali toko tradisional. Hanya saja, pola persaingannya berbeda tak sekedar mengedepankan paket ekonomis atau harga murah semata. Untuk itu, dibutuhkan perubahan orientasi bisnis.
Dalam situasi perdagangan yang tumbuh dan berkembang selalu memicu kompetisi, yang membutuhkan transformasi bisnis. Revitalisasi bangunan memang hal yang paling mudah dan banyak dilakukan untuk mendorong pembeli untuk datang berbelanja. Menjadi lebih menarik jika dilakukan perubahan positioning, sehingga pasar tradisional menjadi pasar segar atau fresh market, seperti di negara tetangga.
Demikian pula dalam manajemennya, pengelola toko harus masuk dalam jaringan bisnis ritel atau bersepakat membentuk komunitas yang bekerja nyata, sehingga efisien dan efektif. Dengan pooling resources, kita bukan saja akan mendapat harga perolehan lebih baik namun toko kita akan menjadi lebih menarik dengan panduan berusaha yang lebih sesuai.
Dibutuhkan dorongan kreativitas dalam kerangka orientasi kepuasan konsumen. Kemampuan beradaptasi tersebut harus sesuai dengan arus dan zamannya. Dan, hal ini menjadi keharusan dalam usaha ritel untuk mendorong konsumen betah berbelanja dan kembali lagi. Pengalaman yang menyenangkan ini akan menyebabkan word of mouth communication yang sangat efektif.
Dengan kecenderungan perdagangan yang semakin bebas, bukanlah saat yang tepat untuk berharap hadirnya peraturan yang sulit diimplementasikan. Yang lebih dibutuhkan komitmen dari multi stakeholders, termasuk pemerintah untuk melakukan transformasi bisnis ritel, sehingga dapat mulai menata langkah menatap masa depan yang lebih baik. Pilihannya ada di tangan Anda, now or never. (don@enciety.com)
Don Rozano – General Manager enciety Business Consult
Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 30 Maret 2010


Sebagai konsumen, saya melihat bahwa pasar tradisional sudah menjadi fresh market yang menyenangkan karena mampu menyediakan kebutuhan sehari-hari yang fresh, siap masak (terutama ikan segar) dan tips resep masakan. Pedagang cukup kreative menarik konsumen dengan memberikan pelayanan, misalnya pedagang ikan segar, pedagang akan membleteti (baca:membersihkan dari insang dan kotorannya) ikan segar yang dibeli konsumen sehingga siap untuk dimasak dan terkadang memberikan tips resep masakan yang cocok untuk setiap jenis ikan segar yang dibeli.