enciety Log

Tantangan Perluasan dan Peningkatan Pemberdayaan

Ritel 360° – Perdagangan global telah mendorong terbentuknya jaringan distribusi, dan pusat penjualan yang kian tersebar. Penyebaran terjadi dalam jaringan yang kuat, hidup, dan bersistem. Dalam bisnis ritel di Indonesia, tumbuhnya perekonomian serta teknologi informasi, dan saluran distribusi kian menjadi topik utama.

Konsumen ritel di kota-kota besar Indonesia mempunyai tren makin modern, integrasi jasa layanan ritel merupakan keharusan.

Lantas, apa yang bisa ditumbuhkan sebagai jasa layanan ritel terpadu? Kekuatan utama ritel sekarang adalah keterlibatan dan keterkaitannya dalam sebuah jaringan dengan sistem yang kian terintegrasi. Biaya ritel sepertinya akan makin tergantung pada seberapa kuat, dan besar pergudangan, armada pendukung, sampai pada kecanggihan perencanaan persediaan yang terintegrasi yang memakai teknologi informasi mutakhir.

Namun, jasa layanan ritel sepertinya akan jauh lebih besar dari sekadar ongkos angkut dan pergudangan. Kecakapan dan kompetensi dalam bidang ritel sangat ditentukan tersedianya sistem, infrastruktur, dan personil untuk merancang dan memahami perilaku konsumen di setiap wilayah.

Integrasinya meliputi keahlian, kecerdasan, kreativitas, dan sekaligus ketepatan survei kebutuhan pasar yang khusus di setiap wilayah jaringan distribusinya. Karena itu, peningkatan daya beli di banyak wilayah yang sedang tumbuh karena hadirnya proyek, dan aktivitas pembangunan infrastruktur, telah menjadikan pemutakhiran data tentang kondisi jalan, wilayah, dan peta transportasi sebagai kekuatan utama perencanaan ritel masa depan.

Ketepatan serta pemerataan distribusi dengan siklus waktu yang kian pendek akan makin menentukan optimasi, dan kestabilan harga di banyak tempat yang belum punya jadwal pengiriman barang terjadwal dan teratur.Transportasi multimoda akan menjamin stabilitas harga antardaerah, dan akan menjamin stabilnya daya beli masyarakat. Dan, nilai mata uang rupiah pun makin terkendali dari waktu ke waktu.

Sebagai contoh, mengangkut dan menyalurkan barang di Jakarta menjadi jauh lebih cepat dan murah, karena kepadatan penduduk yang tinggi dan jumlah barang yang besar. Hal ini tentu berbeda dengan daerah pinggiran, pedalaman, dan terpencil yang membutuhkan usaha terpadu dan waktu tunggu yang tidak pasti.

Pasar seharusnya menjadi simpul utama perencanaan ritel terpadu ini.

Pasar seharusnya menjadi simpul utama perencanaan ritel terpadu ini. Model manajemen pasar saat ini harus dirombak agar mampu menjadi kekuatan saluran distribusi terpadu. Di pasar modern, keterpaduan ini dikerjakan oleh manajemen modern dengan kekuatan personil yang sangat memadai. Pada pasar tradisional, umumnya saat ini terjadi ketimpangan karena manajemennya hanya mengurus sewa-menyewa, sedikit tentang kebersihan, dan tempat parkir.

Manajemen ritel dalam pasar harus berubah menjadi peduli pada integrasi biaya. Bukan hanya dari sisi harga barang, tapi justru dari sisi ketertiban penyediaan informasi, sampai logistik. Kalau saja setiap pasar terkelola dengan sistem jaringan terpadu itu, maka siapa pun yang terjun dalam usaha ritel ini, apakah pengusaha besar atau gurem, sepanjang terhubung dalam sistem layanan ritel terpadu, tak akan ada masalah harga dan kualitas layanannya.

Jadi, tak perlu lagi ada perbedaan antara yang besar dan yang kecil, maupun yang modern dan tradisional. Kalau saja ada perusahaan yang dibangun sebagai pusat jasa layanan ritel, maka dipastikan peritel sekecil apa pun masih akan hidup berkelanjutan. Pasalnya, di Jawa saja ada jutaan peritel yang telah hidup bertahun-tahun sukses melayani pelanggan di kota besar hingga daerah terpencil.

Lalu, seandainya perusahaan telekomunikasi dan listrik menyatu dan menjadi penyedia jasa layanan ritel, tentu terjadi pengaturan yang sangat efisien dan efektif. Sebab, sekitar 55 juta rumah tangga menjadi pelanggan kedua usaha tersebut. (don@enciety.com)

Kresnayana Yahya, Chairperson enciety Business Consult

Dimuat di : Kolom ritel 360° – KOMPAS – 27 April 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda