Gairah Pendidikan Semarakkan Ritel
Enciety.com - 04/05/2010 08:00
Kategori : Focus.
Ritel 360° – Sebuah keluarga pergi ke pasar swalayan. Sang ibu belanja kebutuhan bulanan. Sang ayah mengantar anaknya ke bagian komputer, dengan harapan sang anak dapat menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Gambaran itu menunjukkan saat ini orang tua makin berharap penggunaan IT (Information Technology) akan menunjang pendidikan dan masa depan anaknya.
Mereka memerlukan perlengkapan IT yang harus dimiliki secara pribadi. Hal ini berbeda dengan masa lalu, ketika fasilitas harus dan diadakan lembaga pendidikan. Bahkan, perpustakaan yang seyogianya menyediakan buku pelajaran untuk setiap siswa, telah berubah menjadi berbasis IT, dan hanya menyediakan sedikit buku referensi saja.
Peningkatan gairah menggapai tingkat pendidikan lebih tinggi merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan industri ritel
Belanja keluarga pun menjadi lebih beragam. Belanja terencana bahkan wajib, harus disediakan untuk alokasi siswa dan atau mahasiswa. Di perkotaan mulai terasa setiap anak makin merasa perlu punya komputer jinjing dan bisa akses ke internet.
Belanja bisa menjadi lebih besar karena telepon seluler pun sudah bisa akses ke internet, sekalipun dalam skala dan layar yang sangat terbatas. Semua itu menunjukkan, ritel dalam sektor terkait pendidikan makin lama makin berkembang karena daya beli, dan sekaligus tren di dunia pembelajaran pada umumnya. Kendati demikian, di tengah melonjaknya pemakai IT, minat baca dan membudayakan membaca tetap saja melonjak.
Karena itu, selain perlengkapan IT dan internet, ruang ritel untuk penjualan alat tulis dan buku pun produktivitasnya pun tetap membesar. Indikasi ini menunjukkan makin melebarnya jaringan toko buku dan peralatan sekolah. Dari kota propinsi sudah sampai ke kota kabupaten.
Bahkan, makin banyak jenis usaha tersebut masuk ke mal dan hingga ke kota kecamatan, karena permintaan (demand) yang makin beragam, dan kemampuan yang makin tinggi untuk meraih akses IT secara umum. Tidak heran jika 30–40% biaya pendidikan yang ditanggung keluarga saat ini bukanlah pengeluaran klasik seperti pakaian seragam, alat tulis dan kantor, serta perlengkapan penunjang persekolahan.
Buku dan majalah impor juga mengalami peningkatan sekalipun konsumennya terbatas di kelas atas, dan hanya tersedia di perkotaan. Alat peraga dan mainan anak yang sangat bervariasi dan berjenjang menunjukkan makin banyaknya educational toas, sebagai cara dan media belajar anak dan bayi secara berkelanjutan. Lalu, hampir semua sekolah melengkapi dirinya dengan perlengkapan multimedia.
Contohnya, televisi, LCD projector untuk menggantikan papan tulis dan OHP (over head projector). Tren itu juga menggerek secara tajam penjualan perlengkapan untuk internet seperti laptop/ netbook. Perangkat pembantu serta penyediaan media penyimpan data seperti flash disk, external hard disk, dan modem tentu saja permintaannya ikut melonjak.
Bagi masyarakat yang pengeluaran konsumsi makannya sudah di bawah 50 persen, pengeluaran rumah tangganya makin menunjukkan keragaman pola belanja dan prioritasnya.
Pembukaan cabang dan penempatan cabang toko dalam mal kian menjadi tren. Tapi kini banyak pula supermarket dan hypermarket ikut menjual, bahkan mengobral alat tulis dan buku bacaan sampai VCD dan video bernuansa pendidikan dan musik. Nah, bagi masyarakat yang pengeluaran konsumsi makannya sudah di bawah 50 persen, pengeluaran rumah tangganya makin menunjukkan keragaman pola belanja dan prioritasnya.
Ada kecenderungan pembelanjaan untuk pulsa dan internet sudah lebih besar dari uang jajanan, dan uang untuk konsumsi kosmetiknya. Hal ini memberikan arah baru dari ritel terkait dengan peningkatan kesadaran dan kebutuhan untuk membaca, serta mencari berita bahkan sampai menikmati apresiasi budaya.
Penjualan buku agama, sastra, dan novel menjadi andalan, dan bahkan menunjukkan potensi yang sangat mengesankan. Karena itu, butuh dukungan dan dorongan agar makin tinggi prioritas pada penikmatan dan keterampilan pada seni, budaya, musik, dan olahraga. (don@enciety.com)
Kresnayana Yahya, Chairperson encienty Business Consult
Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 4 Mei 2010

