Sinergi dengan Bisnis Lokal
Enciety.com - 25/05/2010 09:00
Kategori : Focus.
Ritel 360° – Potensi bisnis lokal sangatlah besar dan bisa dikembangkan. Usaha mikro kecil (UMK) berpeluang memunculkan usaha unggulan. Kebanyakan, peluang bisnis yang digarap, makanan dan minuman dalam kemasan yang bercita rasa lokal, mulai snack tradisional, tape, tape ketan, manisan, kacang, sampai kunyit asam.
Gairah berbelanja di perdagangan ritel yang sehat dapat bermanfaat untuk meningkatkan potensi bisnis usaha mikro kecil (UMK) lokal
Pemahaman selera lokal serta efisiensi biaya yang disebabkan jarak dan biaya transportasi, merupakan peluang yang belum dimanfaatkan menjadi kekuatan sesungguhnya. Persoalannya, secara bisnis kebanyakan mereka punya kelemahan dalam pengemasan, manajemen, maupun pemasaran. UMK memang membutuhkan perdagangan ritel yang lebih berpihak.
Saat ini, keuntungan yang mereka dapatkan sangat kecil, jika dibandingkan para pedagang. Sebagai ilustrasi: udang ukuran kecil. Saat panen harganya tinggal Rp3 ribu per kilogram, walau di pasar dijual seharga Rp30 ribu. Dan jika digoreng, dikemas, serta diberi sambal kemasan dapat dijual Rp65 ribu per 200 gram atau Rp330 ribu per kilogram.
Kemampuan untuk berproduksi sangat terbatas, UMK memilih menjual ”mentah”, seolah–olah tidak memiliki bargaining position. Kalaupun diolah, masih sangat sederhana dan tidak mempunyai standar. Sehingga tidak memberikan nilai tambah yang bersifat visual ataupun rasa, tidak mengherankan posisi UMK menjadi sulit. Belum lagi ancaman dari makanan dan minuman impor, sebagai konsekuensi dari pemberlakuan ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area).
Lagi-lagi persoalan lemahnya daya saing dan tampilan produk menjadi kendala. Sedangkan potensi persaingan dengan makanan dan minuman impor sangat besar. Karena itu, UMK harus didorong untuk membangun usaha yang berbasis komunitas, dan mempunyai partner yang kuat untuk meningkatkan kapasitas ekonominya.
Perdagangan ritel jadi tumpuan harapan, karena selama ini terbukti menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia.
Setelah itu, dapat dilakukan pembenahan yang terkait administrasi, legalitas, kemampuan produksi, pengembangan produk, sampai dengan pemanfaatan kredit. Kemudian, perdagangan ritel dapat membantu akses pemasaran dan distribusi, serta promosi. Perdagangan ritel jadi tumpuan harapan, karena selama ini terbukti menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia.
Dengan kontribusi penggunaan PDRB di atas 60 persen, dan proporsi tenaga kerja sekitar 35 persen, sektor ini terus berkembang bahkan di saat krisis ekonomi sekalipun. Gairah perdagangan ritel menjadi potensi dapat dioptimalkan, untuk meningkatkan kapasitas UMK lokal. Perdagangan ritel yang diprediksikan meningkat antara 9 – 15 persen, menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi.
Kondisi ini tentu menjadi peluang yang baik untuk UMK lokal, seperti industri rumah tangga ataupun pertanian lokal, termasuk makanan olahan.Sudah saatnya kita tidak sekedar menjadi bangsa konsumen semata namun juga mampu menghasilkan produk yang bersaing. Keunggulan komparatif yang dimiliki harus menjadi awalan untuk menuju keunggulan kompetitif.
Hanya saja, kita memang membutuhkan perdagangan ritel yang lebih sehat. Bukan saja untuk kian memudahkan akses bagi konsumen, namun juga guna menawarkan harga kebutuhan rumah tangga yang makin bersaing. Di samping itu, akan memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi UMK lokal. Apalagi sekitar 93,5 persen tenaga kerja dapat diserap oleh UMK.
Kini, saatnya secara bersama-sama mengembangkan ekonomi kerakyatan dengan berbasis semangat gotong-royong yang memanfaatkan gairah perdagangan ritel. Sehingga, pertumbuhan dan perkembangan positif ritel nasional dapat juga meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi domestik, terutama para pelaku UMK. Dan, tentunya juga harus disertai kesungguhan semua pihak yang terlibat. (don@enciety.com)
*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult
Dimuat di Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 25 Mei 2010

