enciety Log

Berubah untuk Menjadi Besar

Ritel 360° – Bisnis ritel terbukti tahan menghadapi gempuran krisis ekonomi global yang imbasnya masih bisa dirasakan hingga saat ini. Tahun ini, tingkat pertumbuhannya diprediksi masih bisa mencapai dua digit. Pertumbuhan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil ini, merupakan pencapaian yang luar biasa.

Tren penyaluran kredit usaha kecil mengalami peningkatan, keberpihakannya dapat dilakukan melalui pembukaan akses pasar

Hingga Mei ini, tingkat penjualan ritel sudah mencapai dua digit, dan masih akan tumbuh seiring datangnya musim liburan dan lebaran. Peluang ini, seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemasok eksisiting dan potensial produk domestik terutama Usaha Mikro dan Kecil (UMK), terutama untuk mengisi peluang pertumbuhan non organik berupa pembukaan gerai baru.

Salah satu yang bisa dimanfaatkan UMK untuk memperbesar usahanya adalah dengan menjadi pemasok makanan ringan atau snack, yang termasuk kelompok barang yang sering dicari konsumen (fast moving konsumer goods). Mulai dari manisan, dodol, bakpia, pastel hingga beragam jenis keripik. Pilihan ini tetap prospektif kendati persaingannya ketat.

Pasalnya, masyarakat Indonesia kerap menyantap camilan saat santai sambil menonton televisi apalagi saat menonton Piala Dunia, atau bahkan pada acara–acara resmi seperti jamuan penting, menu camilan tak pernah ketinggalan. Tidak mengherankan jika masih banyak UMK yang tertarik menggeluti bisnis yang satu ini. Mengingat mudahnya bahan baku di dapat dan proses pembuatannya dapat dipelajari dengan cepat. Di sinilah diferensiasi menjadi dibutuhkan.

Indonesia punya keunikan kacang–kacangan. Seperti kacang tanah, kacang koro, kacang panjang, kacang kedele, kacang mede, makademia, dan masih terdapat puluhan ragam yang belum popular. Semestinya kita juga dapat mengemas secara bersama beberapa macam kacang dengan menarik. Di samping menunjang keanekaragaman makanan ringan, juga menawarkan sesuatu yang baru.

Inovasi kerupuk dan keripik, masih bisa dikembangkan mendorong kreasi baru dari ragam kripik alami. Dan jika inovasi ini dilakukan dapat menjadi andalan untuk menghidupkan mata rantai produk pertanian, serta menjadi makanan lokal yang eksotik dan tetap sehat. Dengan cara menggoreng tanpa minyak, sebagai pilihan proses untuk sajian camilan yang sehat.

Dengan tingkat persaingannya yang ada, UMK bukan saja perlu memperhatikan inovasi produknya, hingga dapat hasilkan produk baru. UMK sudah seharusnya mengelola bisnisnya dengan lebih baik. Tidaklah cukup menjadi “superman” yang dapat menangani semua hal, tetapi menjadi lebih menarik jika mampu membentuk kerja sama tim. Kerja sama multi stakeholder dapat menjadi jawabannya.

Keterlibatan pemerintah bukanlah sekedar untuk menyalurkan kredit pada usaha kecil. Namun perlu pula dipikirkan bagaimana skema kredit untuk usaha mikro. Banyak pertanyaan tentang bagaimana bisa menjadi pemasok di industri ritel? Produk UMK jika ingin masuk menjadi pemasok haruslah masuk dalam skala bisnisnya.

Untuk masuk dalam pemasok potensial bagi industri ritel, usaha kecil dan apalagi mikro haruslah membentuk komunitas, karena keberlanjutan dan fleksibilitas pasokan serta penawaran harga menjadi prasyarat utama. Dengan komunitas yang jelas maka program pemberdayaan pemerintah dan corporate social responsibility menjadi lebih bermakna.

Jika semua hal ini bisa diatasi, maka usaha ini tetap menjanjikan untuk bisa tumbuh dan berkembang di industri ritel. Tentu saja komunitas UMK harus bersedia untuk menerima masukan untuk berubah, guna memperbesar skala bisnisnya. Salah satunya, komunitas UMK perlu untuk mengetahui pertimbangan gerai tersebut dalam membeli barang. Pertimbangan tersebut antara lain adalah ketepatan, baik soal produk, waktu, tempat, harga, kuantitas, kualitas, dan cara penjualan. (don@enciety.com)

*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 15 Juni 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda