Wirausaha Lokal Tembus Pasar Nasional
Enciety.com - 01/06/2010 08:00
Kategori : Focus.
Ritel 360° – Jika Anda berbelanja di gerai ritel modern, tentu banyak dijumpai produk sambal dalam kemasan. Sambal ini ternyata tak semuanya produksi pabrikan besar, seperti perusahaan nasional yang sudah go public maupun perusahaan multinasional. Produk kelas usaha mikro kecil (UMK) sudah mengisi rak–rak.
Pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) selain membutuhkan akses pendanaan juga memerlukan Stabilitas Bahan Baku dan Akses Pemasaran
Para pengusaha UMK yang memilih memanfaatkan jaringan gerai ritel modern, mengakui efektivitasnya dalam distribusi. Dengan pemanfaatan jaringan ini, mereka tidak dipusingkan oleh keruwetan operasional. Tanpa harus membuka toko, produksinya bisa bertebaran di banyak tempat. Sehingga dapat berkonsentrasi pada peningkatan kapasitas produksi.
Jaringan gerai ritel dapat memudahkan sebuah merek lokal jika ingin menembus pasar nasional. Tentu saja sebuah merek produk lokal harus lolos “audisi” produk yang dilakukan gerai ritel modern. Ini namanya sebuah terobosan cerdas. Cara ini risikonya relatif lebih kecil dan bahkan lebih murah dibanding mengiklankan produk secara nasional.
Kenyataan tersebut menunjukkan jika perdagangan ritel yang sehat memang mampu meningkatkan kapasitas ekonomi lokal, terutama industri makanan dan minuman, untuk menembus pasar nasional. Industri makanan dan minuman seharusnya dapat berkembang mengikuti pola konsumsi ritel kota–kota utama yang mempunyai tren sama. Sehingga dapat menjadi salah satu mesin utama perkembangan ekonomi domestik.dan mendorong peluang pertumbuhan ekonomi nasional.
Di Indonesia, industri ritel masih dapat berkembang ke kota kedua, ketiga, bahkan keempat di tiap kabupaten. Saluran distribusi barang, kini dituntut makin efektif dan efisien. Karena industri ritel yang sehat, merupakan faktor kunci dalam meningkatkan penetrasi pasar. Khususnya untuk produk kebutuhan sehari-hari yang tergolong fast moving consumer goods (FMCG).
Potensi bisnis makanan dan minuman Indonesia memang sangat besar, mengingat bahan bakunya tersedia melimpah. Biaya produksinya pun relatif lebih murah ketimbang negara berkembang lainnya. Pasarnya pun juga besar, mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar. Hanya mereka membutuhkan akses pendanaan, stabilitas bahan baku, dan akses pemasaran.
Jika UMK dapat bermitra dengan jaringan ritel modern maka kapasitasnya dapat meningkat.
Jika UMK dapat bermitra dengan jaringan ritel modern maka kapasitasnya dapat meningkat. Contoh produksi sambal dalam kemasan produksinya dapat mencapai hingga lebih dari 3,5 ton sambal botol, setelah produknya diterima dan dipasarkan di ritel modern. Demikian juga UMK produsen manisan jambu Bangkok pun telah melakukan langkah yang sama, mampu memproduksi sampai dua juta ton.
Nah, bagi pengelola produk makanan dan minuman lokal yang ingin memanfaatkan gairah industri ritel nasional, dan meningkat menjadi pemain nasional harus mampu mengatasi sejumlah kendala. Kendala utama yang sering dialami adalah soal sumber daya manusia.dan ketiadaan sistem manajeman yang efektif dan efisien.
Tak banyak pengelola produk lokal yang memahami seluk–beluk jaringan distribusi pemasaran gerai ritel nasional. Pada umumnya mereka lebih mengerti tentang proses produksi, tetapi mengabaikan pemasaran dan distribusi. Kebiasaan ini, seharusnya mulai diatasi dengan membentuk komunitas yang mampu bermitra dengan jaringan ritel tersebut.
Kendala berikutnya adalah mengurangi ketergantungan terhadap intervensi pemilik perusahaan pengelola produk lokal, dengan mengembangkan sistem operasi yang efektif dan efisien, untuk menjaga kualitas produk. Sistem kontrol keuangan juga harus diperbaiki, agar kesinambungan produksi terjaga. Memang tidak mudah, namun tidak ada yang tidak bisa kalau kita mau. Apalagi jika melihat peluang ekonomi domestik. Selamat melakukan terobosan. (don@enciety.com)
*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult
Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 1 Juni 2010


Dengan hormat ,
Bersama ini saya hendak menceritakan pengalaman saya dalam mencoba menembus pasar ritel modern .
Ternyata dibutuhkan banyak biaya untuk bisa tampil di rak2 pasar ritel modern tsb , yg mana biayanya diluar kemampuan kami . Hal ini juga terjadi pd saat kami mencoba lagi di jaringan mini market , ternyata biaya yg diminta sampai melebihi Rp.1 milyar/produk untuk bisa produk kami tampil , itupun dgn syarat apabila dlm 3 bln omzet produk km kecil maka produk tsb akan dikeluarkan dari jaringan mini market tsb dan biaya awal yg telah dikeluarkan dianggap hangus .
Padahal produk kami merupakan pionir di Indonesia sejak th1999 dan telah mendapat penghargaan best product & juga telah diekspor ke manca negara sejak th2005 secara rutin .
Untuk produksi kami tidak mempunyai masalah baik untuk perizinan maupun kapasitas dan kualitas dari produk tsb , hanya kami tidak mempunyai kemampuan meningkatkan penjualan lokal(dalam negri) karena terbatasnya jaringan distribusi & kemampuan dalam berpromosi .
Sehingga pasar dalam negeri telah dikuasai produk sejenis dari Amerika Serikat yang katanya memegang 90% dari market di Indonesia .
Demikian sekelumit pengalaman kami dalam mencoba berhubungan dgn peritel modern di Indonesia .
Terimakasih.