enciety Log

Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Surabaya

Hadirnya taman kota menjadi inspirasi, perekat kebersamaan warga kota, memperkuat ciri khas Surabaya yang egaliter dan makin menjadikan Surabaya cantik. Perubahan wajah kota ini melibatkan ide dan karya anak muda yang mampu memberikan sentuhan taman menjadi alternatif wisata kota yang murah meriah. Surabaya juga menjadi tempat kunjungan yang makin diminati. Ekonomi kota ini mampu tumbuh luar biasa. Capaian omset Surabaya Shopping Festival (SSF) terus meningkat dari tahun ke tahun, bukan hanya menunjukkan partisipasi dan tumbuhnya ekonomi lokal yang bermartabat tapi mampu juga menjadi pendorong ekonomi kreatif. Demikian sari pembuka Dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult dari Ir Don Rozano, MM, General Manager Enciety Business Consult di radio Suara Surabaya FM 100, 30 Juli 2010 yang dipandu oleh Restu Indah.

Hadirnya taman kota menjadi inspirasi, perekat kebersamaan warga kota, memperkuat ciri khas Surabaya yang egaliter dan makin menjadikan Surabaya cantik

Peran desainer muda dalam pengembangan ekonomi kota yang berbasis kreatifitas

Pertama, keterlibatan desainer muda dalam desain taman dan bangunan di kota Surabaya memberikan kontribusi besar pada diri mereka sendiri. Surabaya menjadi galeri untuk menuangkan ide dan kreatifitas. Kesempatan yang diberikan oleh pemkot, disambut sebagai wujud pengabdian kepada Surabaya. Hal ini merupakan investasi. Investasi karya yang dapat dibawa ke luar Surabaya. Kedua, kreatifitas ini memberikan sudut pandang baru. Taman menjadi indah, sekolah menjadi berwarna, memberikan dampak yang baik. Mampu membuka cakrawala, menjadi ruang pemikiran. Taman yang dikreasikan tersebut menjadi tempat bermain yang sehat. Sebagaimana dijelaskan oleh Ir Don Rozano, MM menjawab pertanyaan pembuka dari Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya.

Kesempatan dan Tantangan Membangun Surabaya Cantik

Perubahan wajah kota ini dimulai dari revitalisasi taman Bungkul. Pemerintah kota Surabaya, melalui dinas Kebersihan dan Pertamanan, pada saat itu dipimpin oleh Ir. Tri Rismaharini, MT, memulai menata taman Bungkul dengan memberikan kesempatan partisipasi kepada desainer muda Surabaya. Kesempatan yang diberikan ini dijawab oleh Ipong Putra Indriawan (mas Ipong) dengan senang dan antusias. Sebagai arek asli Suroboyo, desainer muda yang sudah lebih dari 10 tahun terjun di bidang desain arsitektur ini merasa bahwa tantangan untuk mendesain taman Bungkul merupakan kesempatan menyumbangkan sesuatu bagi warga kota. Kesempatan itu pula yang membuat desain taman Bungkul lahir lebih netral dan natural.

Adanya keinginan memberikan warga Surabaya alternatif jalan-jalan selain mall, juga menjadi salah satu alasan mengapa desainer muda ini berani menerima tantangan dari pemerintah kota. Taman Bungkul juga menjadi windows shopping, banyak tersedia makanan, minuman dan mainan anak-anak dijual. Revitalisasi taman ini juga menumbuhkan kreatifitas pedagang asongan. Setelah tiga bulan, mainan kitiran yang dijual berubah kelap-kelip di saat malam. Sebelumnya mainan itu terkesan biasa dan tidak menarik di waktu malam.

Keberadaan taman kota ini dirasakan menjadi ruang baru bagi warga kota untuk berwisata lokal. Wisata murah meriah yang sanggup menyatukan dan mengenalkan warga kota dari berbagai tempat.

Berbeda dengan Ipong, Cahyo yang juga desainer muda Surabaya, awalnya ragu menerima tantangan dari Bappeko untuk terlibat dalam desain kota. Keraguan berdasar dari basis komunitas desainer yang informal. Namun kekhawatiran tersebut dibalik oleh Ir Tri Rismaharini, MT, saat itu menjabat kepala Bappeko Surabaya. Ir Tri Rismaharini, MT meyakinkan bahwa Surabaya ini adalah tempat kita tinggal, apabila ada sesuatu yang salah, dan kita diberi kesempatan untuk memperbaiki apakah kita tidak akan ikut berperan memperbaikinya. Berangkat dari keyakinan tersebut, Cahyo dan rekan-rekan kemudian dapat membuktikan dan merasakan karyanya yang bermanfaat seperti taman pelangi, pasar ikan, pasar burung, kampung ilmu dan lainnya. Kendala untuk membangun komunikasi dengan pemkot agar bagaimana ide kreatif tersebut terwujud juga dapat dilampaui dengan baik. Bahkan memberikan semangat bagaimana dengan adanya keterbatasan dana di pemerintah tetap menghasilkan karya yang lebih baik. Apalagi didukung oleh pemerintah kota yang memiliki ide dan keinginan yang sama, sebagaimana dijelaskan Iman, staf Bappeko Surabaya.

Keberadaan taman kota ini dirasakan menjadi ruang baru bagi warga kota untuk berwisata lokal. Wisata murah meriah yang sanggup menyatukan dan mengenalkan warga kota dari berbagai tempat. Menjadikan Surabaya makin guyub dan semangat gotong royongnya makin kuat. Masih ada kritik baik soal desain, kebersihan dan tempat sampah serta belum meratanya keberadaan taman ini di semua wilayah di Surabaya memberikan lecutan dan semangat agar Surabaya makin cantik.

Ekonomi kreatif bukan hanya soal karya kerajinan. Ide-ide kreatif yang mampu memecahkan persoalan kota, termasuk banjir, juga merupakan sumbangan besar bagi ekonomi kreatif. Adanya pengakuan manfaat positif hadirnya taman-taman kota dari lintas segmen merupakan bentuk dinamika kreatifitas warganya. Dan pemerintah hendaknya tetap harus memberikan ruang untuk berkreasi, dengan tetap menumbuhkan ruang publik dalam pengembangan ekonomi kreatif. Harapan-harapan ini menjadi penutup dalam dialog prospektif bisnis Jumat pagi ini. Semoga lebih baik. (unung@enciety.com)

Disarikan dari : Dialog prospektif Bisnis Enciety di Radio Suara Surabaya FM 100, 30 Juli 2010

--oo00oo--

Satu komentar untuk “Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Surabaya”

  1. handout @ 28/10/2010 10:22

    semoga berhasil pak..

    moga sukses selalu.
    jika ingin tau profil saya silahkan kunjungi..
    click this

Masukkan Komentar Anda