enciety Log

“Menunggangi” Pertumbuhan Ritel Modern

Ritel 360° – Belakangan ini tren belanja masyarakat makin meningkat. Seperti dicatat AC Nielsen, keinginan konsumen berbelanja cukup tinggi karena didorong prospek pekerjaan yang naik enam persen dari enam bulan sebelumnya. Sebesar 46 persen konsumen di Indonesia menyatakan saat sekarang adalah waktu yang baik untuk membeli barang yang diinginkan dan dibutuhkan.

Kecenderungan belanja di Ritel Modern menunjukkan kondisi postif di mana pertumbuhan gerainya disertai peningkatan persaingan

Dengan demikian tidaklah mengherankan jika industri ritel modern di Indonesia terus menggeliat. Tingkat hunian peritel di pusat perbelanjaan tahun ini dan tahun depan diprediksikan akan meningkat menjadi 80%–81%, dengan proyeksi pertumbuhan permintaan ruang ritel meningkat sekitar delapan persen per tahun.

Pertumbuhan yang baik itu kian menggembirakan karena pemahaman masyarakat akan keberadaan ritel modern, juga makin meningkat dan dapat menerima keberadaanya secara rasional. Kedatangan ritel modern saat ini sudah bisa dipersepsikan positif. Misalnya, untuk convenience store, saat ini mencapai 450 gerai, dan diperkirakan dalam tiga tahun jumlahnya akan mencapai 750 toko. Sehingga kompetisi antar ritel modern tak terhindarkan.

Jauh di Ternate sana, pemimpin wilayah ini bahkan berani menyatakan munculnya sejumlah pusat perbelanjaan tidaklah mengancam keberadaan pasar tradisional. Pusat perbelanjaan modern dan pedagang tradisional dinilainya memiliki segmen konsumen yang berbeda, sehingga satu sama lain tidak akan saling mematikan, justru saling melengkapi.

Dengan demikian, tak ada alasan untuk tidak memanfaatkan geliat ritel modern yang terus tumbuh tersebut. Tentu saja, banyak pihak telah memahami ini, dan telah mengambil untung dari pertumbuhan tersebut. Simak saja, setidaknya ada 40 ribu item barang di satu hypermarket. Sebanyak 50 persen dari barang pasokannya dari kategori usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Yang menggembirakan, penguasaan pangsa pasar produk lokal mayoritas di gerai ritel modern. Dan lebih dari 50 persen pemasoknya yang masuk ke ritel modern dari UMKM. Hal itu menunjukkan bahwa UMKM yang menjadi pemasok ritel modern terus tumbuh, dan akan semakin tumbuh. Dengan demikian, peluang bagi UMKM yang ingin memanfaatkan gairah industri ritel ini terus terbuka.

Pemanfaatan jaringan gerai ritel memudahkan sebuah produk UMK untuk menembus pasar secara nasional. Tentu saja sebuah merek produk lokal harus lolos seleksi produk yang dilakukan gerai ritel modern. Cara ini risikonya relatif lebih kecil, ketimbang sebuah produk harus memperluas jaringan distribusi sendiri, atau membuat produk baru, dan mengiklankannya secara masif.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa ritel modern pun mampu meningkatkan kapasitas ekonomi lokal, terutama industri makanan dan minuman, untuk menembus pasar nasional. Industri makanan dan minuman yang berkembang mengikuti pola konsumsi ritel kota–kota utama mempunyai tren sama, dan dapat mendorong peluang pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan berbagai aspek positif yang ada pada ritel modern, tak ada salahnya bagi UMK untuk memperbesar dirinya melalui industri ini. Jika langkah ini dilakukan, UMK juga akan didorong lebih cepat memperbaiki diri dalam hal kualitas produk, pengelolaan produk dan keuangan yang efisien, maupun manajemen sumber daya manusia yang efisien pula.

Dan, yang perlu dicatat lagi, bisnis ritel, termasuk ritel modern, terbukti tahan dalam menghadapi gempuran krisis ekonomi global yang imbasnya masih bisa dirasakan hingga saat ini. Tahun ini, tingkat pertumbuhannya diprediksi mencapai sekitar 9–15 persen. Kini, sudah saatnya Pemerintah Pusat dan Daerah bersinergi secara cerdas. Kemudian para pelaku UMK maupun usaha menengah atau dengan skala lebih besar mau atau tidak memanfaatkan peluang tumbuhnya ritel modern. (don@enciety.com)

*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 6 Juli 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda