Memanfaatkan Perubahan Perilaku Konsumen
Enciety.com - 03/08/2010 08:00
Kategori : Focus.
Ritel 360° – ANDA yang pernah bepergian ke Thailand dan mampir ke pasar tradisional, akan melihat perbedaannya dengan kebanyakan pasar tradisional di Indonesia. Pasar tradisional di Thailand terlihat bersih dan rapi. Pedagang buah di pasar tradisional Thailand memperbolehkan pembeli menikmati buah yang telah dibeli, dengan menyediakan tempat layaknya restoran.
Perilaku jalan – jalan dan berbelanja di pusat belanja / ritel modern merupakan peluang yang seharusnya bisa dimanfaatkan
Pasar tradisional di negara tersebut dikelola layaknya pusat belanja atau mal. Kondisi yang nyaman dan asyik membuat pasar tradisional mampu menarik wisatawan untuk berkunjung. Tidak mengherankan jika pengelola tradisional Indonesia disarankan untuk belajar dari pasar tradisional di Negeri Gajah Putih itu.
Mengapa pasar tradisional yang dikelola layaknya mal di Thailand diminta untuk dicontoh? Tak lain adalah karena konsumen terus cenderung menginginkan kenyamanan dan pengalaman asyik saat berbelanja. Tak heran jika berbagai kalangan di Indonesia, tak terkecuali para pedagang pasar, mengharapkan pasar tradisional dibuat seperti pusat belanja atau mal. Sehingga diharapkan menjadi pasar rakyat yang menarik konsumen.
Bukan hanya perbaikan bangunannya, tetapi yang lebih penting adalah pengelolaannya. Pengaturan pedagang di pasar tradisional masih sering semrawut. Ke depan, pasar rakyat atau pasar segar diharapkan memiliki tata letak yang rapi dan bersih serta menaraik. Mengapa pengelola pasar perlu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen?
Dalam bisnis saat ini, konsumen tak ubahnya darah. Bukan hanya pasar tradisional, ritel modern sekelas hipermarket pun bisa tutup ataupun mati bukan hanya karena kompetisi. Mereka kehilangan nyawa karena tak mampu dan tak mau mengelola bisnisnya sesuai perubahan perilaku konsumen. Jumlah konsumen yang menginginkan pengalaman dalam berbelanja, bakal terus meningkat.
Pasalnya, generasi muda yang menjadi generasi pembelanja potensial masih akan terus bertambah. Karena itu, peritel di berbagai kelas, mulai dari kelas usaha mikro kecil menengah (UMKM), hingga hypermarket, perlu lebih sering memperhatikan perkembangan perilaku konsumen dari berbagai informasi, baik survei maupun dari media dan dari perusahaan penyedia informasi.
Selain untuk beradaptasi, perhatian terhadap informasi itu juga bermanfaat untuk menangkap dan memanfaatkan peluang dari perubahan perilaku konsumen tersebut. Pasalnya, apa yang berhasil kemarin dan hari ini, belum tentu masih bisa digunakan esok hari. Seperti aktivitas utama di hari libur, yaitu jalan – jalan dan belanja di pusat belanja atau mal.
Pertumbuhan penjualan ritel nasional sepanjang Januari–Mei ini, berdasarkan data The Nielsen Company, hanya tumbuh sembilan persen dibandingkan periode yang sama 2009, lebih rendah dibandingkan mobil, motor, dan elektronika. Di mana, sekitar 19,8 persen konsumen mengungkapkan faktor kenyamanan tempat, kemasan, dan promosi menjadi alasan datang ke tempat belanja.
Ini berarti konsumen Indonesia belakangan kian mapan dengan kemampuan daya beli lebih baik. Konsumen tidak lagi gencar memborong kebutuhan harian pada awal bulan atau setiap akhir pekan. Konsumen lebih cenderung untuk membeli durable goods. Tidak mengherankan ritel modern juga memanfaat peluang ini dengan berjualan elektronika dan sepeda motor.
Penjualan ritel nasional dalam periode ini, sebesar Rp44,6 triliun. Peluang industri ini untuk tumbuh dan berkembang masih terbuka jika mengakomodasi kebutuhan akan durable goods. Di samping itu, semestinya peritel lebih kreatif mengemas tempat berjualan, dan berpromosi lebih menarik dengan memanfaatkan teknologi informasi. Efektivitas promosi yang kreatif hanya bisa didukung teknologi informasi yang memadai, sehingga dapat memanfaatkan gairah dan perilaku belanja yang makin kompleks. (don@enciety.com)
*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult
Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 3 Agustus 2010

