enciety Log

Menggarap Perubahan Gaya Hidup Kota Besar

Ritel 360° – Ketika jam pulang kantor di kota–kota besar tiba, para pekerja mulai berbondong–bondong balik ke rumah. Ada yang mengendarai mobil pribadi. Ada pula yang naik angkutan umum. Banyak juga yang memakai sepeda motor. Di antara mereka tak terkecuali adalah para ibu rumah tangga yang juga bekerja kantoran, yang perlu belanja untuk kebutuhan rumah tangganya.

Tak jarang di tengah jalan menuju ke rumah, mereka berhenti belanja dulu. Mereka membutuhkan kepraktisan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tidak heran jika kemudian banyak pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di perempatan, atau di pusat keramaian lain yang memungkinkan orang pulang kerja untuk mampir.

Beragam dagangan yang ditawarkan mulai dari makanan, minuman, buah–buahan, mainan anak–anak, hingga pakaian. Namun, jarang sekali yang menjual sayur– sayuran, ikan, atau lauk–pauk dalam kemasan praktis. Padahal, para ibu tersebut tentu ingin berbelanja pula kebutuhan sehari–hari mereka, kendati sudah pulang kerja. Suatu peluang sebenarnya bisa dimanfaatkan pedagang pasar basah dengan merubah format dan jam buka.

Tingkat kesibukan yang tinggi di kota-kota besar memang membuat perilaku para pekerja kantoran, yang notabene adalah konsumen ritel, lambat laun berubah. Para ibu rumah tangga itu, lama–kelamaan tak bisa lagi berbelanja kebutuhan sehari–hari di pagi hari. Pasalnya, pada pagi hari mereka sudah sibuk untuk bersiap–siap berangkat ke kantor.

Karena itu, tak ada salahnya menangkap peluang perubahan gaya hidup pekerja kantoran ini. Bukan hanya pasar basah yang juga buka mulai sore hingga malam hari. Toko–toko tradisional yang berada di perempatan, atau di pusat keramaian dapat menyesuaikan jam buka. Dengan demikian, para ibu rumah tangga tersebut tetap bisa berbelanja untuk kebutuhan harian dengan nyaman.

Untuk memanfaatkan peluang convenience store, maka tradisional seharusnya tingkatkan skala ekonominya secara berkomunitas

Perubahan perilaku konsumen di kota besar ini, pada tingkat tertentu, sudah dilayani oleh hadirnya convenience store. Convenience store adalah ritel seperti minimarket, tetapi lebih banyak menjual makanan dan minuman siap saji serta buka 24 jam. Convenience store biasanya terdapat di tempat keramaian, SPBU, dan ruang publik lainnya serta mempunyai harga lebih baik.

The Nielsen Indonesia memprediksi perkembangan gerai skala kecil dengan format convenience store di Indonesia akan terus berlanjut, dan diperkirakan jumlahnya akan mencapai sekitar 750 gerai pada 2013. Untuk sekarang ini, jumlah convenience store di Indonesia sudah ada 450 gerai. Pertumbuhannya ini haruslah diantisipasi oleh toko tradisional.

Perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya di kota-kota besar harusnya menjadikan toko tradisional merubah pola bisnisnya secara cerdas. Perkembangan convenience store dan apalagi minimarket bukan hanya mengharuskan penyesuaian jam operasional namun juga penyesuaian cara mendapatkan dan pembayaran barang dagangan. Penerapan supply chain sebagai alternatifnya.

Untuk menerapkannya tentulah dibutuhkan kesungguhan untuk gotong royong. Hanya dengan berbentuk komunitas atau kelompok, misal koperasi, maka skala bisnis untuk menerapkannya menjadi masuk akal. Keterlibatan multistakeholder menjadi alternatif untuk menggerakkan usaha rakyat yang mampu bersaing sebagai Tuan dan Nyonya di negeri sendiri.

Penjualan ritel nasional dalam periode ini, sebesar Rp44,6 triliun. Peluang industri ini untuk tumbuh dan berkembang masih terbuka. Sudah selayaknya peritel tradisional bisa memanfaatkan perubahan gaya hidup yang lebih membutuhkan kenyamanan dan kepraktisan. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berperan lebih kreatif dengan memanfaatkan teknologi dalam filosofi kebersamaan bersaing namun tetap seiring. Sehingga kita dapat memanfaatkan gairah dan perilaku belanja yang makin modern. (don@enciety.com)

*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 24 Agustus 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda