Mari Bekerja di Industri Ritel
Enciety.com - 07/09/2010 10:40
Kategori : Focus.
Ritel 360° – Industri ritel terbukti mampu bertahan dari badai krisis. Ketika krisis ekonomi terjadi, bisnis ini masih mampu tumbuh positif. Tahun ini pun industri ini diprediksi mampu tumbuh antara 9 persen hingga 15 persen. Dengan kontribusi dalam penggunaan PDRB di atas 60 persen, dan proporsi tenaga kerja sekitar 35 persen, sektor ini terus merangkak dan berkembang.
Hingga saat ini, perdagangan ritel tetap bisa menjadi tumpuan harapan sebagai penggerak utama ekonomi Indonesia, bersama dengan otomotif dan consumer electronics. Salah satu yang turut mendorongnya, adalah perubahan gaya hidup masyarakat yang kian memerlukan kenyamanan, memicu berkembangnya industri modern.
Tren pertumbuhan industri ritel seharusnya dapat menjadi peluang untuk menyerap angkatan kerja usia muda yang tumbuh signifikan
Industri ritel yang terus berkembang itu makin menuntut saluran distribusi barang yang efektif dan efisien. Inilah yang menjadi faktor kunci keberhasilan pertumbuhan ritel modern. Keefektifan dan keefisienan distribusi itu selain membutuhkan teknologi yang handal, juga ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni serta memadai. Secara kualitas, Indonesia tergolong masih kekurangan SDM di bidang ritel.
Begitu luasnya industri ini, lebih dari 20 persen atau sekitar 2,2 juta angkatan kerja telah terserap di sektor ritel. Jumlah ini diharapkan dapat berkembang, terutama untuk menyerap pertumbuhan pengangguran angkatan kerja muda usia secara signifikan. Penyerapan kelompok usia 20–24 tahun sudah seharusnya menjadi prioritas bersama.
Karena itu, kita harus makin mendorong industri modern ini bukan sekedar bekerja sama langsung dengan universitas/sekolah tinggi namun juga menyerap tenaga lulusan terbaik dari berbagai disiplin ilmu untuk menjalani program management trainee (MT). Program MT dimaksudkan untuk mendidik fresh graduate lulusan perguruan tinggi agar belajar bisnis ritel modern.
Idealnya program ini berlangsung dalam kurun waktu satu tahun. Namun pertumbuhan sebuah bisnis sering kali lebih cepat dari selesainya program, sehingga seringkali program ini pun tidak berjalan sebagaimana dengan waktu yang direncanakan. Jika perusahaan besar mampu menyediakan program MT bagaimana halnya dengan perusahaan ritel skala menengah dan kecil di daerah?
Peritel daerah terus tumbuh dan berkembang. Masing–masing daerah mempunyai local champion. Mereka mempunyai kemampuan untuk bersaing di bisnis ini, namun kurang memiliki pengetahuan tentang bagaimana mendidik seorang fresh graduate untuk menjadi profesional di bisnis ritel. Mereka harus merekrut tenaga yang ada di pasar, meskipun tak semudah itu.
Besarnya jumlah pengangguran usia muda dan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai masih di bawah kebutuhan industri ritel, menggambarkan situasi paradoks. Sudah selayaknya perguruan tinggi dan bahkan sekolah menengah kejuruan melihat fenomena tersebut, dan menangkapnya sebagai peluang menyiapkan SDM yang mampu berkarir di daerah, nasional maupun internasional.
Integrasi ekonomi dunia mengharuskan standarisasi layanan ritel berikut dengan SDM–nya. Sudah selayaknya industri ritel daerah dan bahkan Perusahaan Daerah (PD) Pasar mentransformasikan bisnisnya menjadi modern dan bukan sekedar menarik rente ekonomi semata melalui peningkatan kualitas SDM. Masa transisi ini harus dipersiapkan cepat.
Dari sisi lain tampak bahwa peluang bekerja di industri ritel masih sangat terbuka. Bekerja di sektor ini juga punya kesempatan bagus untuk bisa menjadi manusia global. Hal ini semakin mendapatkan jalannya dengan kehadiran sejumlah peritel multi nasional. Peritel multi nasional saat ini, bukan sekedar mengirim SDM–nya ke gerai–gerainya di luar negeri untuk menimba pengalaman. Bahkan, komitmen salah seorang Presiden Direkturnya untuk mengembangkan SDM Indonesia untuk berkarir di luar negeri. (don@enciety.com)
*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult
Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 7 September 2010

