enciety Log

Manfaatkanlah Budaya Belanja Sembari Rekreasi

Ritel 360° – Di hari apakah pusat perbelanjaan atau mal lebih ramai dibanding hari–hari lainnya? Jawabannya adalah di akhir pekan dan hari libur. Di hari–hari tersebut, kalau Anda cermati sering serombongan keluarga mendatangi mal–mal atau pusat perbelanjaan. Dengan membawa keluarga yang lengkap, jelas mereka bukan sekadar menjadikan tempat itu sebagai ajang berbelanja barang. Mereka juga datang untuk berekreasi. Di Indonesia, berbelanja adalah rekreasi.

Industri ritel nasional seharusnya dapat memanfaatkan gaya hidup konsumen, dengan mempersiapkan penawaran yang menarik panca indera

Bagi orang Indonesia, rekreasi bukan hanya pergi berwisata alam, berkemah, mendaki gunung, rafting atau kegiatan wisata lainnya. Tidak heran jika, keluarga Indonesia gemar menjadwalkan belanja bulanan atau mingguan pada akhir pekan. Inilah kultur orang–orang Asia pada umumnya. Berbelanja menjadi bagian dari melepas kepenatan dari pekerjaan sehari–hari. Berbelanja memberi kesenangan bagi keluarga Asia, termasuk keluarga Indonesia.

Dari survei yang dilakukan oleh enciety Business Consult di kota–kota besar di Indonesia, hanya sekitar 25 persen yang tidak gemar jalan–jalan atau belanja di mal. Di mana, kemungkinan keluarga yang tadinya hanya sekedar jalan–jalan dan kemudian berbelanja cukup tinggi. Cuma 12,5 persen keluarga Indonesia yang hanya jalan–jalan.

Dengan kegemaran semacam ini, tidaklah masalah jika di akhir pekan atau hari libur terjadi antrean panjang para pembelanja di kasir hipermarket atau supermarket. Karena yang mengantre hanya salah satu anggota keluarga. Sedangkan anggota keluarga lainnya sering menunggu sembari duduk–duduk di dekat pintu kasir. Mereka kerap mendatangi toko atau kios yang ada di depan kasir hipermarket tersebut.

Bagi peritel yang ada di depan kasir atau bahkan kios yang berada di sekitarnya, tentu traffic yang tinggi tersebut haruslah dapat dimanfaatkan. Karena peluang pasarnya bukan sekedar dari anggota keluarga yang menunggu, bahkan juga para Ibu yang baru menyelesaikan urusan pembayaran tersebut sering kali tidak langsung pulang. Hanya saja, para pembelanja itu datang untuk rekreasi, maka mereka tentu berharap menjalaninya benar–benar menyenangkan.

Dengan demikian tempat belanja haruslah mempunyai faktor rekreasi atau hiburan yang memberi pengalaman bagi panca indera konsumen. Para peritel harus dapat menarik perhatian dengan memperhatikan tata letak produk jualannya dengan susunan warna–warni yang serasi. Keindahan em>merchandising pun perlu diperhatikan dengan atmosfer yang menggugah, sehingga bisa menstimulasi adrenalin belanja.

Bagi yang berjualan tas kulit perlu untuk selalu menyediakan produk baru sehingga aroma khas kulit bisa tercium konsumen. Bagi yang berjualan roti, ada baiknya memilih bahan baku yang menggoda, sensasi aroma roti yang tengah dipanggang. Jangan lupa untuk menyediakan contoh untuk icip–icip. Mencicipi makanan adalah bagian dari rekreasi. Jika perlu, adakan demonstrasi cara pembuatan masakan atau jajanan.

Bagi yang berjualan pakaian, izinkanlah konsumen untuk dapat menyentuh halusnya kain, mencermati motif–motifnya, serta mencoba pakaian tersebut di tubuh mereka. Bagi yang berjualan produk audio visual, ada baiknya untuk menyediakan tempat bagi pembelanja untuk menjalankan rekreasi pendengaran dengan musik yang membuat hati tenang atau bahkan yang mengundang sensasi luar biasa.

Di sisi lain, keinginan para pembelanja untuk rekreasi juga bisa menjadi peluang tersendiri. Bisnis tempat bermain anak bisa dibuka di dekat kasir hipermarket. Ketika para orang tua berbelanja, sang anak bisa bermain sepuasnya di playground. Kecermatan untuk memanfaatkan peluang dan kegigihan untuk menyajikan sesuatu yang baru atau bahkan memainkan unsur kejutan merupakan kunci kesuksesan.

Tentu saja banyak peluang bisnis lain yang bisa ditangkap sejalan dengan keinginan rekreasi konsumen tersebut. Membuka tempat ngopi tak jauh dari kasir toko modern dengan fasilitas wifi, tempat penitipan anak, toko perlengkapan gadget, atau malah jasa cenayang. Perlu diingat pula, pusat perbelanjaan kini telah menjadi tempat mengekspresikan gaya hidup dan tempat meleburnya budaya. Fenomena ini akan terus berlanjut, karena diperkirakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan terus meningkat, sehingga jumlah kelas menengah pun semakin bertambah. (don@enciety.com)

*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult

Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 23 November 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda