enciety Log

2011: Consumer Demand

Ritel 360° – Bagaimanakah bisnis ritel tahun depan? Semakin cerah. Pertumbuhannya bisa lebih baik ketimbang tahun ini. Ada banyak hal yang membuat optimisme itu mencuat. Setelah 2009, pertumbuhan ritel mengalami kontraksi akibat dampak krisis ekonomi global, pertumbuhan ritel sampai Oktober 2010 saja sudah mencapai 2 (dua) digit, 12 persen.

Industri ritel nasional sudah tumbuh lebih cepat, namun dibutuhkan inovasi dalam interaksi dengan konsumen untuk kesinambungan

Hasil survei Nielsen menunjukkan, nilai transaksi pedagang ritel 2009 mencapai Rp 108,069 triliun. Dan, per Oktober 2010, transaksi ritel sudah mencapai Rp 120,192 triliun. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di atas 6 persen, bahkan ADB memperkirakan 6,3 persen, makin menopang optimisme itu. Ditambah lagi, pendapatan per kapita Indonesia mencapai lebih dari US$3,500. Sehingga, bisnis ritel tahun depan bisa tumbuh 13 persen atau bahkan 15 persen.

Kendati demikian, yang tetap harus diwaspadai adalah cara pemasarannya. Peritel tidak bisa lagi memakai cara pemasaran lama, seperti hanya sekedar beriklan dan promosi diskon harga. Teknik penggarapan pasar ini akan menjadi faktor penentu karena cara permintaan konsumen sudah berubah dari sekadar memperoleh informasi dari media cetak, kini telah bercampur dengan informasi yang diperoleh melalui social media (facebok, twitter, blog).

Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap berbelanja adalah hiburan baik bersama keluarga maupun yang terkasih atau dengan teman. Karena itu, memahami teknologi informasi akan turut mendorong revolusi konsumen, dengan senantiasa membangun visi di sekitar kebutuhan konsumen yang dinamis. Yaitu, diyakini konsumenlah yang menjadi penentu utama arah pengembangan bisnis termasuk ritel.

Inilah yang menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para manajer bisnis ritel di Indonesia. Kita berada di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang positif di kawasan Asia Timur yang eksotik, yang tengah mengubah fase pemulihan krisis menjadi pertumbuhan berkelanjutan. Namun ternyata banyak di antara manajer bisnis yang hanya mendapatkan kinerja yang moderat, dalam dua tahun akhir.

Penjualan produk dan brand memang meningkat tapi tidak memenuhi ekspektasi, pertumbuhan organik toko juga tipis. Dalam kondisi demikian, akan sangat mudah menuding konsumen kehilangan daya beli. Kompetitor dituduh menjalankan strategi perang harga. Dan, pemerintah dikatakan senang menggelontorkan barang–barang impor. Oversupply dan complex demand adalah akar perubahan ini.

Di dalam proses mencoba mengerti konsumen, kita selalu berpikir telah mengenalnya. Padahal, kadang tidak demikian adanya. Kita merasa durian selalu kuning warnanya. Benar? Persisnya kan tidak, lantaran ada durian berwarna merah. Karena itu penting mencermati perubahan perilaku konsumen di Indonesia. Kendati negara berkembang, tetapi gaya hidup digital (digital lifestyle) telah menguasai masyarakat kita.

Mulai dari tukang bakso hingga pengusaha besar, akrab dengan dunia digital. Perkembangan teknologi telekomunikasi yang sangat cepat, mendorong perilaku ini. Facebook, twitter, browsing, chatting sudah menjadi keseharian. Melalui internet, masyarakat bertukar gambar dan fashion. Informasi real time sudah menjadi oksigen konsumen dan pertukaran ide melalui jejaring sosial menjadi infus. Fenomena ini telah memperkenalkan the new social currency.

Fenomena ini berpadu dengan fakta peningkatan pendapatan per kapita telah mendorong pertumbuhan penjualan consumer electronic, sepeda motor, dan mobil lebih tinggi dari consumer goods. Sehingga kini, orang akan lebih memilih membeli pulsa ketimbang membeli permen. Demikian juga ketika Lebaran lalu penjualan sirup, biskuit, dan pakaian tidaklah meningkat tajam seperti tahun–tahun sebelumnya.

Apakah konsumen Indonesia memang tidak berbelanja saat Lebaran? Oh tunggu dulu. Penjualan netbook mencapai 12 ribu buah hanya dalam waktu tiga minggu. Pada kuartal ketiga 2010 itu, penjualan smartphone meningkat hingga 78 persen. Pada tahun depan fenomena gaya hidup digital dan peningkatan pendapatan per kapita ini akan terus terjadi, dan makin meningkat. Kita akan terus terkejut jika tidak mengikutinya. Gerakan demokrasi merek konsumen ini sudah sangat nyata, pemasar sudah harus memberikan kemerdekaan, dan menyerahkan kontrol kepada konsumen. (don@enciety.com)

*) Yongky Surya Susilo, Director Retailer Services The Nielsen Indonesia

Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 14 Desember 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda