enciety Log

Perempuan: Pahlawan Ekonomi

Ritel 360° – Usaha Mikro dan Kecil (UMK) tumbuh subur sejak krisis moneter meluas menjadi krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia sejak 1997. Kesempatan kerja yang terbatas menjadi alasan utamanya. Uniknya kondisi ini juga memerkuat inovasi pengembangan UMK. Di mana, data menunjukkan bahwa para pelakunya ternyata didominasi kaum perempuan.

Aid never reduce poverty, untuk itu dibutuhkan intervensi pemerintah yang lebih cerdas dan peduli terutama dalam merasionalkan resiko usaha dari pelaku UMK

Fenomena ini ternyata menarik bagi para pelaku ritel besar dan kecil, mereka tidak segan lagi melakukan kolaborasi dengan pelaku UMK. Di beberapa gerai dalam dua tahun ini telah terpajang produk–produk UMK dari berbagai kota di sekitarnya. Aneka produk handycraft, grocery food dan fresh food dengan mudah dapat ditemui setiap saat. Keberhasilan UMK menerobos pasar modern tentu tak main–main, sebab persyaratannya pun rumit, karena itu harus terus didukung.

Upaya pemerintah dan badan usaha yang peduli atas kelangsungan UMK patut memperoleh acungan jempol. Gerakan pelaku pasar modern merangkul UMK boleh jadi sebuah kolaborasi yang memerlukan keseriusan dan kesinambungan. Oleh karena itu UMK bukan hanya butuh pendampingan yang dapat meyakinkan semua pihak namun juga keberpihakan secara nyata. Kenyataan ini menunjukkan dengan perdagangan ritel yang sehat akan mampu meningkatkan kapasitas ekonomi lokal.

Aid never reduce poverty – bantuan tak akan pernah menurunkan kemiskinan. Untuk itu dibutuhkan peran utama pemerintah, dan atau komunitas untuk merasionalkan resiko usaha dengan menjamin legalitas (termasuk kualitas) dan kepastian bisnis (pasokan dan penjualan). Kemudian menjamin sustainable product (pasokan) ke pasar modern, baru setelah itu peran penjaminan modal dengan manfaatkan skema kemitraan atau CSR.

Pendekatan menarik telah dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan badan usaha yang peduli dalam memandang UMK sebagai organisme hidup. Untuk itu, Surabaya membuat terobosan untuk mengatasi permasalahan ekonomi dengan mengajak banyak pihak untuk bekerja sama. Skema Kemitraan Usaha Mikro dan Kecil merupakan upaya untuk memahami positioning dari masing–masing stake holder.

Di Surabaya, berdasarkan survei jumlah pelaku usaha mencapai 362.000 unit, yang 98,5 persennya berstatus mikro dan kecil. Pemkot Surabaya bukan hanya menggenjot program–program kerakyatan dengan keberpihakan yang bertujuan untuk dapat “mengurangi” pengeluaran keluarga. Namun juga program peningkatan kapasitas ekonomi rumah tangga yang dimulai dari tingkat kecamatan, lalu kelurahan, dan sampai ke RW.

”Sebagai pelopor pemberdayaan warga, perempuan paling hebat. Kalau sudah sukses, dia pasti mengajak tetangganya” ujar Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada acara Roadshow Pahlawan Ekonomi Surabaya.” UMK perempuan jadi embrio pemberdayaan ekonomi kampung. Produk mereka diharapkan menjadi pilihan utama warga. Mereka layak menyandang predikat pahlawan yang dibutuhkan masa kini. Pahlawan untuk memerangi kemiskinan.

Hal terpenting dalam program pemberdayaan kaum perempuan melalui pengembangan UMK, adalah memotivasi perempuan agar lebih mandiri. Dengan cara demikian, perempuan tetap bisa ikut mendongkrak ekonomi keluarga meski bekerja dari rumah. Pada 2010, program Pahlawan Ekonomi akan membina tiga UMK dari 31 kecamatan. Tahun 2011, diharapkan setiap Kelurahan harus memiliki minimal tiga unit UMK. Dan 2012, masing–masing RW akan mempunyai tiga buah UMK unggulan.

Surabaya mempunyai contoh keberhasilan penanganan UMK komunitas perempuan. Saat itu, udang dapat dijual Rp15 ribu per kilogram, lalu masih bisa Rp10 ribu dan hari–hari panen tinggal Rp3 ribu. Dari kasus ini, tampak dilema yang dihadapi dan seolah tak berujung. Dijual mentah harga cenderung turun drastis saat “panen”. Kata kuncinya keberpihakan terhadap usaha berbasis komunitas atau kelompok.

Kini, produk yang dihasilkan komunitas isteri nelayan Surabaya tersebut kini telah mendapatkan akses ke pasar modern. Produknya setahun telah berkembang menjadi belasan. Peningkatan daya beli dan perubahan penampilan telah mendorong keyakinan mengembangkan program perempuan sebagai pahlawan ekonomi. Di mana setiap peserta program diharapkan dapat mengelola usaha, mengembangkan jaringan, dan membuka pasar. Gerakan ini sangat jelas, industri ritel harus memberikan keberpihakannya, dan menyerahkan pertumbuhannya pada perempuan. Semoga! (don@enciety.com)

*) Don Rozano Sigit Prakoeswa, GM enciety Business Consult

Dimuat di : Kolom Ritel 360° – KOMPAS – 29 Desember 2010

--oo00oo--

Masukkan Komentar Anda