<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Enciety Dot Com &#187; Srikandi Nelayan</title>
	<atom:link href="http://enciety.com/blog/category/srikandi-nelayan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enciety.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Jun 2011 03:35:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersama Membangun Surabaya dengan Isinya</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/11/bersama-membangun-surabaya-dengan-isinya/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/11/bersama-membangun-surabaya-dengan-isinya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 06:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Srikandi Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran multi stakeholders partnership punya banyak keunggulan. Artinya, satu sama lain tidak lagi muncul ego sektoral, saling melengkapi dan yang paling penting saling mendukung. Apresiasi itu disampaikan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono, di sela–sela peluncuran produk unggulan Srikandi Nelayan di Golden City Mall.
Menurut dia, mengajak orang berjalan bersama itu tidaklah mudah. Banyak yang cemas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehadiran multi stakeholders partnership punya banyak keunggulan. Artinya, satu sama lain tidak lagi muncul ego sektoral, saling melengkapi dan yang paling penting saling mendukung. Apresiasi itu disampaikan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono, di sela–sela peluncuran produk unggulan Srikandi Nelayan di Golden City Mall.</p>
<p>Menurut dia, mengajak orang berjalan bersama itu tidaklah mudah. Banyak yang cemas jika berjalan bersama, sinarnya akan pudar. “Tetapi sungguh suatu kebahagiaan, nampaknya kali ini di belakang program pemberdayaan ekonomi kerakyatan terdapat orang–orang cerdas dan ikhlas,” ujarnya.</p>
<p>Salah satu ciri orang cerdas adalah, tidak merasa khawatir ketika harus berjalan bersama. Tiga perusahaan itu punya keyakinan kuat, dan punya kelebihan sendiri–sendiri. Mereka berbagi pengalaman, ilmu, dan dana. Mereka tahu sesuatu yang dibagi tidak bakal habis. Ini luar biasa. Mencerminkan semangat gotong–royong yang ikhlas, Berawal Dari Hati (BDH).</p>
<p><a href="http://enciety.com/wp-content/uploads/2009/11/abon_udang.jpg"><img src="http://enciety.com/wp-content/uploads/2009/11/abon_udang.jpg" alt="" title="abon_udang" width="280" height="206" class="alignleft size-full wp-image-610" /></a></p>
<p>“Srikandi Nelayan kita, dulu tidak begini. Pertama kali saya melihat didikan 3 (tiga) perusahaan besar yang bekerja sama ini, campur aduk perasaan saya. Bangga, terharu, luar biasa campur macem–macem perasaan saya. Kita memulai hal yang baik dan mudah–mudahan ini bisa direplikasi di tempat lain. Dari Surabaya untuk Indonesia,” tutur Bambang DH.</p>
<p>Dia menambahkan,”Ndak mudah, kalau bukan orang cerdas. Ndak mungkin mau dan bisa berjalan bersama. Karena biasanya kalau orang tak cerdas itu logikanya hanya melihat kekurangan orang, atau bahkan perbedaan pun dianggap permusuhan. Tapi kalau orang cerdas sungguh beda, mana ada titik temu, bertemu, dan jalan. JUST DO IT!”</p>
<p>Bambang DH juga mengingatkan,”Sering saya katakan, jangan cuma membangun di Surabaya, tetapi bangunlah Kota Surabaya. Kalau membangun Surabaya, ya Surabaya dengan isinya. Termasuk meningkatkan taraf hidup keluarga dan masyarakat kota Surabaya.”</p>
<p>Ini juga menjadi catatan sejarah terhadap upaya pemberdayaan  UMKM (usaha mikro kecil menengah) di Indonesia. Dengan berbasis komunitas dan disokong oleh beberapa komponen badan usaha yang peduli, selain pemerintah kota Surabaya selaku mediator. Program ini merupakan kecerdasan dari semua pihak yang terlibat dan sangat bermanfaat secara langsung pada perekonomian nelayan di pesisir utara Surabaya.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_left" style="width:280px;"><img src="http://enciety.com/web/data/kripik_kentang.jpg" alt="Keripik Kentang Rasa Udang : Produk Srikandi Nelayan Surabaya" align="left"><br style="clear:both" /><span>Keripik Kentang Rasa Udang : Produk Srikandi Nelayan Surabaya</span></div></p>
<p>Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Tri Rismaharini menambahkan, gagasan ini muncul setelah pemerintah kota melihat hasil tangkapan nelayan di Surabaya Utara, terutama di daerah Bulak. Nilainya cenderung merosot dan sering kali terbuang, karena hanya dijual mentah tanpa diolah.</p>
<p>Kabar yang menggembirakan juga bertiup. Setelah peluncuran, produk unggulan Srikandi Nelayan Surabaya Utara ternyata laku keras. Menjelang Idul Fitri 1430 H dan sesudahnya, jumlah pemesanan pihak Carrefour terus meningkat. Bahkan sudah lebih dari 3.000 kemasan abon udang dan keripik kentang rasa udang telah laku terjual. (don@enciety.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/11/bersama-membangun-surabaya-dengan-isinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Produk Srikandi Nelayan Surabaya Hasilnya Nyata</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/produk-srikandi-nelayan-surabaya-hasilnya-nyata/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/produk-srikandi-nelayan-surabaya-hasilnya-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 04:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Srikandi Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Pengembangan sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) telah menjadi perhatian utama. tidak dibutuhkan wacana, diskusi, ataupun pembahasan yang berkepanjangan. produk srikandi nelayan merupakan upaya keberpihakan dengan hasil yang nyata.
Tidak perlu basa basi dan langsung menukik ke arah sasaran yang jelas. Sehingga hasilnya pun jelas karena dapat dinikmati secara kasat mata. Pelaku sektor UMK memang memerlukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengembangan sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) telah menjadi perhatian utama. tidak dibutuhkan wacana, diskusi, ataupun pembahasan yang berkepanjangan. produk srikandi nelayan merupakan upaya keberpihakan dengan hasil yang nyata.</p>
<p>Tidak perlu basa basi dan langsung menukik ke arah sasaran yang jelas. Sehingga hasilnya pun jelas karena dapat dinikmati secara kasat mata. Pelaku sektor UMK memang memerlukan suatu keberpihakan yang nyata dan dilakukan  melalui semangat gotong– royong banyak pihak.<br />
Inilah yang dikerjakan oleh tiga pilar usaha “plus” Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, dengan gamblang memberdayakan usaha ekonomi kerakyatan. Mereka adalah PT Carrefour Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk, dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Tekadnya  sangat luhur: ingin menjadikan kota Surabaya lebih baik dan “wong cilik” bangkit menuju keluarga sejahtera.</p>
<p>Sebuah gambaran bagaimana para pelaku usaha yang cerdas dan peduli bisa membaca ke arah mana mereka harus bekerja keras. Untuk selanjutnya dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya.Sebagai kelompok mayoritas, setiap pertumbuhannya pastilah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan bahkan mengurangi kesenjangan antar pelaku usaha.</p>
<p>Kesuksesan Pemkot Surabaya menggabungkan <em>multi stakeholders</em> dan komunitas para ibu rumah tangga di pesisir Surabaya yang tergabung dalam kelompok Srikandi Nelayan, patut ditiru. Sebagai wujud nyata komitmen <em>multi stakeholders partnership</em> Pemkot Surabaya dan badan usaha yang peduli untuk mengembangkan potensi ekonomi warga kota Surabaya yang masih marjinal.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_left" style="width:280px;"><img src="http://enciety.com/files/2009/09/adv_jp_30092009_thumbnail.jpg" alt="Triana Mulyatsa (Telkom), Walikota Surabaya Bambang DH, Irawan D Kadarman (Carrefour) dan Yos Adiguna Ginting (Sampoerna) dengan bangga membawa hasil produksi Srikandi Nelayan Surabaya" align="left"><br style="clear:both" /><span>Triana Mulyatsa (Telkom), Walikota Surabaya Bambang DH, Irawan D Kadarman (Carrefour) dan Yos Adiguna Ginting (Sampoerna) dengan bangga membawa hasil produksi Srikandi Nelayan Surabaya</span></div></p>
<p>Program ini berawal dari kepedulian Pemkot Surabaya terhadap warga pesisir yang memiliki keterbatasan kapasitas ekonomi, untuk mengolah hasil laut dan perikanan.</p>
<p>Mereka cenderung menjual langsung hasil tangkapan, sehingga harganya tak stabil dan makin merosot ketika panen raya.</p>
<p>Kondisi inilah yang mendorong gagasan solusi yang cerdas dan peduli serta ikhlas. Kata kuncinya “Berawal Dari Hati”, suatu keberpihakan terhadap usaha mikro berbasis komunitas.</p>
<p>Dengan semangat gotong–royong, dan skema ekonomi kerakyatan, para ibu rumah tangga di pesisir Surabaya didorong membentuk UMK berbasis kelompok.</p>
<p>Melalui pendekatan ini, diharapkan nelayan di Surabaya dapat langsung menjual hasil tangkapan yang segar dan berkualitas utama, dengan harga yang baik.</p>
<p>Sedangkan “kelebihan” dari hasil tangkapan nelayan yang dapat menyebabkan harga anjlok, akan diolah para Srikandi Nelayan menjadi produk unggulan yang lezat, sehat, dan bergizi.</p>
<p>Kerja sama yang kreatif ini mengundang apresiasi tokoh Surabaya dan media yang hadir dalam Launching Produk Srikandi Nelayan.<br />
Produk Srikandi Nelayan Surabaya yang diluncurkan berupa abon udang, keripik kentang rasa udang dan bakso ikan. Semuanya mengandung varian rasa manis dan rasa pedas. Peluncuran di Golden City Mall ini dilakukan Wali Kota Surabaya Bambang DH bersama <em>Corporate Affairs Director</em> PT Carrefour Indonesia Irawan D. Kadarman, <em>Corporate Affairs Director</em> PT HM Sampoerna Tbk. Yos Adiguna Ginting, dan <em>Executive General Manager</em> PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Divisi Regional V Jawa Timur Triana Mulyatsa.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, juga ditandatangani Kesepahaman Bersama untuk mendukung keberlanjutan upaya ini dalam Sentra Bisnis Hasil Olahan Perikanan dan Kelautan Bulak, yang diharapkan akan berdiri dalam tahun ini. Kerja sama yang baru pertama kalinya diimplementasikan di Indonesia  tidaklah mudah untuk diwujudkan. Karena semangat gotong–royong lebih mudah untuk dibicarakan daripada dilaksanakan.<br />
”Kerja sama ini menunjukkan tingkat kecerdasan dan kepedulian dari berbagai pihak yang terlibat,”  kata Bambang DH Walikota Surabaya. Kerja sama ini bukan hanya menarik, namun juga nyata. Masing–masing pihak telah melaksanakan komitmen sesuai kompetensinya, untuk meningkatkan kapasitas ekonomi Srikandi Nelayan.</p>
<p>“Hanya pribadi dan perusahaan yang hebat, yang tidak takut untuk bekerja sama (seperti dalam program ini) dan kami yakin akan kesinambungannya,” lanjut Bambang DH.</p>
<p>Kini, saat yang tepat untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan yang berbasis komunitas secara nyata. Dengan memanfaatkan semangat gotong–royong, inisiatif multi stakeholders partnership yang dimulai dengan lahirnya produk unggulan Srikandi dari Surabaya ini, dapat mendorong UMK segera menjadi penggerak ekonomi. Dan, tentunya juga harus disertai kesungguhan semua pihak yang terlibat.</p>
<p>Dimuat : Jawa Pos, 30 September 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/produk-srikandi-nelayan-surabaya-hasilnya-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekonomi Kerakyatan Berbasis Komunitas</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/ekonomi-kerakyatan-berbasis-komunitas/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/ekonomi-kerakyatan-berbasis-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 04:58:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Srikandi Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah krisis ekonomi yang masih mengkhawatirkan, terdapat inisiatif Kota Surabaya yang kreatif dan menggembirakan – multi stakeholder partnership. Kerja sama banyak pihak ini, mengambil inspirasi dari budaya gotongroyong. Langkah ini diharapkan mendorong kemajuan usaha mikro dan kecil (UMK) berbasis komunitas secara nyata dan berkelanjutan…
Walikota Surabaya Bambang DH diapit Dian dan Satria (Carrefour); Kresnayana Yahya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em><span>Di tengah krisis ekonomi yang masih mengkhawatirkan, terdapat inisiatif Kota Surabaya yang kreatif dan menggembirakan – multi stakeholder partnership. Kerja sama banyak pihak ini, mengambil inspirasi dari budaya gotongroyong. Langkah ini diharapkan mendorong kemajuan usaha mikro dan kecil (UMK) berbasis komunitas secara nyata dan berkelanjutan…</span></em></p>
<div class="imagecaptioneasy_top_left"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_ft size-full wp-image-114" style="width:300px;"><img class="alignleft size-full wp-image-114" src="http://enciety.com/files/2009/09/img_1793-300x200.jpg" alt="Walikota Surabaya Bambang DH diapit Dian dan Satria (Carrefour); Kresnayana Yahya (Enciety); Irmansyah dan Meta (Sampoerna); Rini dan Gatot (Telkom) membawa hasil produksi Srikandi Nelayan" width="300" height="200" /><br style="clear:both" /><span>Walikota Surabaya Bambang DH diapit Dian dan Satria (Carrefour); Kresnayana Yahya (Enciety); Irmansyah dan Meta (Sampoerna); Rini dan Gatot (Telkom) membawa hasil produksi Srikandi Nelayan</span></div></div>
<p class="MsoNormal"><span>Sebenarnya dengan 65 persen pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi rumah tangga. Festival atau gelar produk dapat menjadi modal penting untuk tingkatkan konsumsi rumah tangga. Demikian juga perdagangan ritel yang efisien. Perlu diingat, konsumsi rumah tangga memiliki rantai ekonomi yang lebih jelas dibanding denga konsumsi pemerintah.<span id="more-48"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Upaya–upaya seperti di atas, menguntungkan para pedagang ritel, UMK yang menjadi pemasok,dan para pekerja terkait. Pedagang makanan dan minuman, sopir angkutan umum sampai tukang parkir dapat merasakan dampak positifnya. Bahkan, cara ini juga menguntungkan konsumen, karena biaya pemasaran dan distribusi makin murah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hanya saja festival atau gelar produk tersebut dampaknya temporer. Karena itu,<span> </span>dibutuhkan jalur perdagangan ritel yang makin efisien. Dengan kondisi konsumen yang tergolong <em>multi channel users</em>, peluang ini juga dapat dimanfaatkan pemilik toko tradisional untuk bertransformasi menjadi lebih modern. Tentunya dalam bentuk koperasi atau komunitas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Inilah yang tidak mudah. Semangat gotong<span> </span>royong lebih mudah sekadar dibicarakan ketimbang dilaksanakan. Gotong<span> </span>royong seolah–olah hanyalah wacana semata, tampak saat UMK membeli bahan baku. Padahal, hanya dengan cara inilah kita dapat meningkatkan gairah ekonomi domestik yang lebih semarak dan berkeadilan bagi semua, serta berkelanjutan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Memang butuh beberapa tahapan untuk mentransformasikan ekonomi kerakyatan itu, terutama dalam paradigma berpikir.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Salah besar jika UMK (sebagai representatif ekonomi rakyat) dipandang hanya membutuhkan bantuan dana / modal ataupun solar semata,” tegas ketua kelompok nelayan di Bulak – Surabaya Utara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>S</span><span>aat ini, makin banyak penawaran kredit untuk UMK yang sepintas tampak pro <em>poor policy</em>. Salah satu bank dengan rasio kecukupan modal (CAR) terbesar berhasil menyalurkannya Rp11 triliun tahun lalu, dengan bunga kredit sebesar 24–26 persen. Namun dengan besaran kredit korporasi hanya sebesar 13 persen, memperlihatkan kondisi paradoksal dari “bantuan” untuk kesejahteraan UMK.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>”<em>Aid never reduce poverty</em>, bantuan tidak akan pernah menurunkan kemiskinan,” tutur Kresnayana Yahya – <em>Chairperson</em> Enciety Business Consult. Menurut Kresna, bantuan untuk kelompok marjinal, seperti petani dan nelayan tidak akan banyak bermanfaat. “Mereka tetap tidak bisa melawan siklus “abadi”, yakni saat panen justru menjadi waktu yang menyedihkan,” lanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Contohnya, harga udang ukuran kecil. Tahun lalu komoditas ini dapat dijual Rp15 ribu per kilogram, bulan lalu masih Rp10 ribu, dan panen bulan ini tinggal Rp5 ribu. Khusus untuk kasus ini, tidaklah mungkin hanya mengandalkan cara semacam festival atau gelar produk semata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk itulah, intervensi yang lebih cerdas dan peduli sangat dibutuhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Kemampuan mereka untuk berproduksi sangat terbatas–mikro. Selama ini, mereka menjual mentah, sehingga seolah–olah tidak memiliki <em>bargaining position</em>,” kata Kresna. Kalaupun diolah, masih sangat sederhana dan tidak mempunyai standar operasi. Begitu juga bahan–bahan yang digunakan tidak semuanya layak konsumsi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kondisi inilah yang mendorong inisiatif Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggagas solusi yang cerdas dan peduli. Kata kuncinya “Berawal Dari Hati”. Suatu keberpihakan yang nya terhadap usaha berbasis komunitas atau kelompok,” ucap Bambang DH, Wali Kota Surabaya saat meluncurkan solusi kreatif ini tepat HUT ke–716 kota Surabaya kemarin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Dengan semangat gotong–royong, kami memanfaatkan skema ekonomi kerakyatan berbasis komunitas,” tuturnya. Ibu–ibu nelayan didorong untuk membentuk UMK berbasis komunitas atau kelompok. Hasil tangkapan nelayan yang segar dengan kualitas utama, dapat langsung dijual dengan harga yang lebih baik tentunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sedangkan yang kualitasnya lebih rendah, atau “kelebihan” hasil tangkapan yang dapat menyebabkan harga anjlok, akan diolah UMK tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk meningkatkan kapasitas ekonomi kemampuan produksi dan pengembangan produk, mereka akan didampingi pelaku usaha yang peduli, dan memang mempunyai kompetensi di bidang ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Adapun untuk meningkatkan kemampuan di bidang pemasaran dan distribusi, para Srikandi Nelayan ini akan didampingi ritel modern yang peduli dan kompeten di bidangnya. Harapannya, makin memudahkan konsumen untuk membeli produk hasil olahan laut tersebut. Tentu saja dengan rasa enak, sehat, dan halal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mereka juga akan didampingi pelaku usaha lain, yang mempunyai kepedulian dan kemampuan menyalurkan dana bergulir, serta meningkatkan kualitas hidup komunitas tersebut. Dengan berbasis komunitas dan disertai semangat gotong–royong, usaha tersebut diharapkan dapat segera tumbuh dan berkembang. Sehingga menjadi model yang mudah diadopsi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kini, saatnya secara bersama membangkitkan ekonomi kerakyatan yang berbasis komunitas. Semoga inisiatif <em>multi stakeholder partnership</em> dari Surabaya ini, dapat mendorong UMK segera menjadi penggerak ekonomi. Dan, tentunya juga harus disertai kesungguhan semua pihak yang terlibat. Selamat berubah dan Semoga sukses… (don@enciety.com)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/ekonomi-kerakyatan-berbasis-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelompok Srikandi Nelayan Diberdayakan</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/kelompok-srikandi-nelayan-diberdayakan/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/kelompok-srikandi-nelayan-diberdayakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 07:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Srikandi Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Ibu-ibu yang tergabung dalam Srikandi Nelayan cukup menguasai teknologi mengolah hasil ikan
Konsumsi rumah tangga memiliki rantai ekonomi yang jelas dibanding konsumsi pemerintah. Dengan 65% pertumbuhan ekonomi, berasal dari konsumsi rumah tangga.
Konsumsi rumah tangga ini bisa ditingkatkan melalui festival atau gelar produk. Dan upaya–upaya tersebut tidak hanya menguntungkan para pedagang ritel namun juga UMK yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="imagecaptioneasy_top_left"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_ft" style="width:280px;"><img class="alignleft" src="http://www.suarasurabaya.net/v04/clips/200905/kk65632_clip2.JPG" alt="Ibu-ibu yang tergabung dalam Srikandi Nelayan cukup menguasai teknologi mengolah hasil ikan" width="280" height="213" /><br style="clear:both" /><span>Ibu-ibu yang tergabung dalam Srikandi Nelayan cukup menguasai teknologi mengolah hasil ikan</span></div></div>
<p>Konsumsi rumah tangga memiliki rantai ekonomi yang jelas dibanding konsumsi pemerintah. Dengan 65% pertumbuhan ekonomi, berasal dari konsumsi rumah tangga.</p>
<p>Konsumsi rumah tangga ini bisa ditingkatkan melalui festival atau gelar produk. Dan upaya–upaya tersebut tidak hanya menguntungkan para pedagang ritel namun juga UMK yang menjadi pemasok dan para pekerja terkait. Bahkan, pedagang makanan dan minuman, sopir angkutan umum sampai tukang parkir dapat merasakan dampak positifnya.</p>
<p>Dengan cara ini pula sangat menguntungkan konsumen, karena biaya pemasaran dan distribusi makin murah. Untuk itulah, multi stakeholders partnership yang terdiri dari Pemkot Surabaya, PT Carefour Indonesia, PT HM Sampoerna dan PT Telkom Indonesia mengambil inisiatif program pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasiskan komunitas bagi kelompok Srikandi – para istri nelayan- yang berada di kawasan Bulak Cumpat Kenjeran, Minggu (31/05).</p>
<p>BAMBANG DH Walikota Surabaya dalam peluncuran program pemberdayaan ekonomi kerakyatan mengatakan di tengah kondisi krisis saat ini mendorong inisiatif Pemkot Surabaya menggagas solusi yang cerdas dan peduli. “Kata kuncinya “Berawal Dari Hati”. Suatu keberpihakan terhadap usaha berbasis komunitas atau kelompok,”ucap BAMBANG dalam siaran pers yang diterima suarasurabaya.net.</p>
<p>Dengan semangat gotong–royong, ujar BAMBANG, pihaknya memanfaatkan skema ekonomi kerakyatan berbasis komunitas. ”Ibu–ibu nelayan didorong untuk membentuk UMK berbasis komunitas atau kelompok. Hasil tangkapan nelayan yang segar dengan kualitas utama, dapat langsung dijual dengan harga yang baik,”ujarnya.</p>
<p>Sedangkan yang kualitasnya lebih rendah, atau “kelebihan” hasil tangkapan yang dapat menyebabkan harga anjlok, akan diolah UMK tersebut. Untuk meningkatkan kapasitas ekonomi kemampuan produksi dan pengembangan produk, mereka akan didampingi PT HM Sampoerna di bawah bendera Sampoerna Untuk Indonesia.</p>
<p>Adapun pemasaran dan distribusi, para Srikandi Nelayan ini akan didampingi PT Carrefour Indonesia. Harapannya, makin memudahkan konsumen untuk membeli produk hasil olahan laut tersebut. Tentu saja dengan rasa enak, sehat, dan halal.</p>
<p>Kata BAMBANG, Srikandi Nelayan juga akan didampingi PT Telekomunikasi Indonesia, yang mempunyai kepedulian dan kemampuan menyalurkan dana bergulir, serta meningkatkan kualitas hidup komunitas tersebut.</p>
<p>KRESNAYANA YAHYA Chairperson Enciety Business Consult mengatakan sampai saat ini banyak penawaran kredit untuk UMK yang sepintas tampak pro poor policy. Satu diantara bank dengan rasio kecukupan modal (CAR) terbesar berhasil menyalurkannya Rp 11 trilyun tahun lalu, dengan bunga kredit sebesar 24%–26%.</p>
<p>”Namun dengan besaran kredit korporasi hanya sebesar 13% memperlihatkan kondisi paradoksial dari “bantuan” untuk kesejahteraan UMK. Aid never reduce poverty, bantuan tidak akan pernah menurunkan angka kemiskinan,”tuturnya.</p>
<p>Menurut KRESNAYANA bantuan untuk kelompok marjinal, seperti petani dan nelayan tidak akan banyak bermanfaat. “Mereka tetap tidak bisa melawan siklus “abadi”, yakni saat panen justru menjadi waktu yang menyedihkan,” lanjutnya.</p>
<div class="imagecaptioneasy_top_left"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_ft" style="width:280px;"><img class="alignleft" src="http://www.suarasurabaya.net/v04/clips/200905/kk65632_clip3.JPG" alt="Multi stakeholders partnership dalam peluncuran program ekonomi kerakyatan" /><br style="clear:both" /><span>Multi stakeholders partnership dalam peluncuran program ekonomi kerakyatan</span></div></div>
<p>Ia mencontohkan harga udang ukuran kecil. Tahun lalu komoditas ini dapat dijual Rp15 ribu per kilogram, bulan lalu masih Rp10 ribu, dan panen bulan ini tinggal Rp5 ribu. Khusus untuk kasus ini, tidaklah mungkin hanya mengandalkan cara semacam festival atau gelar produk semata. Untuk itulah, intervensi yang lebih cerdas dan peduli sangat dibutuhkan.</p>
<p>Kemampuan mereka untuk berproduksi sangat terbatas–mikro. Mereka memilih menjual mentah tanpa proses, sehingga seolah–olah tidak memiliki bargaining position apa pun. Kalaupun diolah, masih sangat sederhana dan tidak mempunyai standar apalagi daya tarik bagi pembeli. Begitu juga bahan–bahan yang digunakan tidak semuanya layak konsumsi.</p>
<p>Sementara itu, DON ROZANO GM Enciety Business Consult pada suarasurabaya.net, menjelaskan, untuk tahap awal program ini diikuti 20 Srikandi Nelayan. Ditargetkan, kelompok bisa berkembang dengan jumlah anggota 200 orang.</p>
<p>“Kalau sistemnya berjalan dengan baik, optimis dalam satu tahun bisa menjaring 200 ibu-ibu nelayan. Pemkot Surabaya sendiri memberikan dana pancingan Rp 60 juta untuk mengurus perijinan lokasi, usaha dan sertifikasi produk,”tukas DON.</p>
<p>DON menambahkan dengan program yang komprehensif, ibu-ibu nelayan akan memiliki jiwa wirausaha dan kemandirian. Mereka akan menguasai teknologi produksi, pengurusan ijin serta kemandirian di bidang finansial. (tin)</p>
<p>Sumber : <a href="http://ekonomibisnis.suarasurabaya.net/?id=13d1e10bfca1c5d94e9226ff20f46f62200965632">Ekonomi Bisnis, Suara Surabaya.Net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/kelompok-srikandi-nelayan-diberdayakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

