<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Enciety Dot Com &#187; Topic Of The Week</title>
	<atom:link href="http://enciety.com/blog/category/topic-of-the-week/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enciety.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Jun 2011 03:35:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inspirasi Kresnayana Yahya : Kiat Menghadapi Globalisasi</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/08/inspirasi-kresnayana-yahya-kiat-menghadapi-globalisasi/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/08/inspirasi-kresnayana-yahya-kiat-menghadapi-globalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 07:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=711</guid>
		<description><![CDATA[Kresnayana Yahya Bagaimana kesiapan kita sebagai pribadi dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi era globalisasi? Hal Apa saja yang harus dipertahankan dan peluang apa yang belum kita manfaatkan? Ada dua hal yang penting diperhatikan. Pertama, meningkatkan efektifitas pada industri lokal dan berbahan baku lokal. Banyak bahan baku alam yang belum diolah dan dijadikan komoditi produk atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_right" style="width:150px;"><img src="http://enciety.com/files/2008/07/kresnayana1-150x150.jpg" alt="Kresnayana Yahya"  align="right"><br style="clear:both" /><span>Kresnayana Yahya</span></div> Bagaimana kesiapan kita sebagai pribadi dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi era globalisasi? Hal Apa saja yang harus dipertahankan dan peluang apa yang belum kita manfaatkan? Ada dua hal yang penting diperhatikan. Pertama, meningkatkan efektifitas pada industri lokal dan berbahan baku lokal. Banyak bahan baku alam yang belum diolah dan dijadikan komoditi produk atau <em>service</em> yang dapat memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Kedua, pada saat yang sama, harus memperbesar ekspansi pasar dan agresif. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi di banyak negara yang dapat mendorong peningkatan <em>supply</em> kita ke sana. Tentu harus ada yang mau melakukan studi dan melakukan sosialisasi terhadap informasi ini sehingga pebisnis lokal menjadi tahu. Informasi yang berkaitan tentang kebutuhan di luar negeri. Demikian sari pembuka inspirasi Kresnayana Yahya, 27 Agustus 2010, di Radio Suara Surabaya FM 100 dipandu oleh Restu Indah.</p>
<p>Menurut Kresnayana Yahya, ketahanan lokal ini dapat dicermati dari masih banyaknya ekspor bahan baku / bahan dasar. Perlu pengolahan satu tahap saja, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas industri dan meningkatkan <em>added value</em> dari sisi tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan luar negeri. Saat ini kita ekspor kopi, kakau dan barang tambang mentahan seperti butiran emas, nikel, mangan. Ada banyak potensi produk lokal, baik itu hasil pertanian dan pertambangan yang dijual tanpa ada sentuhan nilai tambah. </p>
<p>Meskipun kita paham bahwa ada persoalan serius dalam meningkatkan potensi lokal. Pertama, skala industri belum ekonomis. Kedua, belum ada investasi cukup untuk pengolahan dasar. Ketiga, belum tersedianya infrastruktur. Di sisi lain pasar global ini sudah terlanjur punya industri yang kuat, besar dan efesien. Misalnya kakau, negara yang tidak punya kebun, tapi punya kekuatan di <em>knowledge</em>-nya, memperoleh keuntungan. Industri kita menjadi susah bersaing padahal konsumen lokal kita juga besar. Pada titik ini sebetulnya, <em>added value </em>bisa dilakukan. Dengan memperkuat ketahanan lokal, kekuatan teknologi kita juga akan meningkat. Sehingga ini akan memberi aktivitas di dalam negeri lebih besar dan makin banyak mata rantai yang akan berpengaruh. Contoh lain soal rumput laut, seringkali dikatakan,”<em>you can supply, how much you can produce</em>”. Ini memberikan gambaran tentang banyak hal yang kita belum kuasai dan tidak diberi penjelasan. Padahal rumput laut ini jenis olahannya cukup banyak, menjadi produk makanan, kosmetik dan obat. Teknologi dan investasi kita belum cukup dan jikalau ada pabrik masih dalam skala kecil. </p>
<p>Apakah kita mampu membangun industri dalam skala besar? Saat ini kita belum punya BUMN dan BUMD unruk memperkuat pengolahan pangan. Kita belum memiliki perusahaan negara atau daerah yang mengolah bahan baku lokal sehingga menjadi kekuatan. Misalnya industri tepung dari ketela pohon atau umbi-umbian yang lain, industri bumbu dan sebagainya. Kalau itu semua digarap, ketahanan lokal kita akan luar biasa. Karena skala industri besar, maka negara musti terlibat. Hutan kita kalau dibangun program ketahanan pangan, kita bisa banyak menanam seperti empon-empon, ubi kayu. Kita mempertahankan hutannya, sekaligus humusnya bisa dipakai. Sesuatu yang dulu hanya dikelola swasta, sekarang ini negara perlu ikut mengelola. Pertumbuhan ketersediaan pangan lokal dibawah angka pertumbuhan penduduk, sepuluh tahun lagi akan serius. Masih banyak komoditi pangan kita impor seperti jagung, kedelai, gandum, bawang merah dan bawang putih. </p>
<p>Kebutuhan dunia pada <em>energy</em>, <em>water resources</em> dan <em>food</em> cukup tinggi. Khususnya pangan, diperlukan skala industri besar untuk memenuhinya. Skala industri makanan / pangan kecil memiliki potensi mati. Saatnya membangun ketahanan lokal dengan skala yang cocok. Misalnya, di Maluku dibangun pabrik sagu, Ambon industri pengalengan ikan, jadi ikan tidak diangkut saat masih mentah. Dengan kekuatan negara kepulauan ini, bisa dibangun industri yang memperkuat ketahanan lokal. Diharapkan skala industri ini menjadi efisien dengan pemanfaatan sumber daya lokal. Kita juga punya kesempatan mengembangkan kultur. </p>
<p>Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih belum berkualitas. Porsi lokal dalam ekonomi ini masih kurang. Kalau kita pakai telepon, 70 % lari ke luar, perbankan 30 &#8211; 40 % lari ke luar. Kita tidak melarang. Namun pertumbuhan ekonomi ini hendaknya diikuti pada tumbuhnya ekonomi di tingkat bawah. Informasi pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan penjalasan yang tuntas. Segala usaha harus ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan lokal. Perilaku kita yang <em>import minded</em>, juga ikut merusak. Di skala yang wajar, kita sebenarnya bisa makan pecel 8 ribu rupiah sudah enak dan lengkap gizinya, namun lebih memilih roti impor dengan kandungan gizi minim seharga 22 ribu rupiah. Harus dimulai dari keluarga, misalnya sejak kecil anak dididik untuk mencintai produk pangan lokal. Mengajak dan mengkonsumsi produk pangan lokal akan menjadi teladan dan menolong ketahanan lokal. Demikian harapan dan inspirasi Kresnayana Yahya, menutup dialog jumat pagi ini. (unung@enciety.com)</p>
<p>Disarikan dari : Dialog Inspirasi Kresnayana Yahya, 27 Agustus 2010, di Radio Suara Surabaya FM 100</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/08/inspirasi-kresnayana-yahya-kiat-menghadapi-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangkitkan Optimisme Warga Kota</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/08/membangkitkan-optimisme-warga-untuk-menggairahkan-perekonomian-kota-surabaya/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/08/membangkitkan-optimisme-warga-untuk-menggairahkan-perekonomian-kota-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 08:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[Dalam enam bulan terakhir, ada kecenderungan penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Kota Surabaya. Angka Citizen Satisfaction Index (CSI) juga turun hingga mencapai angka 67, sebelumnya CSI Surabaya sempat menyentuh angka 74. Fakta bahwa IKK, IEK dan optimisme warga terhadap pelayanan publik menurun secara bersama-sama harus menjadi perhatian. Data Bank [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam enam bulan terakhir, ada kecenderungan penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Kota Surabaya. Angka <em>Citizen Satisfaction Index</em> (CSI) juga turun hingga mencapai angka 67, sebelumnya CSI Surabaya sempat menyentuh angka 74. Fakta bahwa IKK, IEK dan optimisme warga terhadap pelayanan publik menurun secara bersama-sama harus menjadi perhatian. Data Bank Indonesia dan enciety CSS ini memperlihatkan ada sesuatu yang membuat warga tidak optimis. Bagaimana bersama membangkitkan optimisme warga, dengan capaian yang sudah ada ini, mampu menggairahkan perekonomian kota Surabaya. Demikian sari pembuka Dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult dari Ir. Don Rozano, MM, General Manager Enciety Business Consult di radio Suara Surabaya FM 100, 20 Agustus 2010 yang dipandu oleh Restu Indah.</p>
<p><strong>Memperkuat Kemampuan Ekonomi Lokal untuk Tumbuh</strong></p>
<p>Pesimisme warga kota ini harusnya dapat diatasi. Ada aktivitas yang mungkin memberikan dampak positif tetapi tidak diketahui oleh warga. Misalnya peresmian SSC yang harusnya bisa membuat sebuah optimisme baru. Namun sibuknya pembukaan dan kemacetan yang terjadi malah mengemuka. Kita musti menatap ke depan, hal ini karena 60 hingga 65 persen ekonomi kita didorong oleh konsumsi dalam negeri. Terlebih dengan menguatnya nilai rupiah, dapat menjadi  masalah dalam eskpor kita. Keramaian toko pada saat masuknya bulan puasa juga belum tampak. Hal ini apakah karena ada <em>saving</em> atau diakibatkan warga tidak berani belanja. Tambah Ir Don Rozano, MM menjelaskan.  </p>
<p>Data struktur usaha ekonomi kita menunjukkan bahwa 98,5 persen usaha di kota Surabaya tergolong kecil dan micro. Kelompok ini dikhawatirkan tidak sempat melakukan <em>recovering</em> dengan kondisi yang ada. Pekerjaan rumah bersama adalah menunjukkan bahwa Surabaya saat ini tidak dalam posisi terpuruk. Masih banyak potensi dan aktivitas yang mungkin belum dikomunikasikan dengan baik. Bukan kepastian siapa walikotanya yang menjadi perhatian, namun siapa walikota yang mampu memberikan <em>guidance</em> ke depan. Yang memiliki agenda dengan baik. Sehingga ada kegairahan baru di masyarakat. Ulas Ir Don Rozano, MM menjawab pertanyaan Restu Indah terkait fakta usaha ekonomi yang ada.</p>
<p>Drs Subagyo, Ahli ekonomi pembangunan mengatakan bahwa banyak faktor yang menyebabkan optimisme. Bukan hanya faktor lokal, namun juga nasional. Yang terpenting, kita harus tetap optimis. Turunnya IKK dan IEK dalam 6 bulan terakhir, musti dicari faktor penyebabnya. Inflasi juga turut mempengaruhi. Misalnya, inflasi bulan Juli yang harusnya sudah bergerak dari bahan pokok ke pendidikan, nyatanya kenaikan harga bahan pokok terus terjadi dan masuk ajaran baru. Sehingga orang datang ke toko kecil menjadi kurang karena ada <em>saving</em> dalam <em>family expenditure</em>.</p>
<p><strong>Peningkatan Kemampuan Bersaing pada Usaha Kecil dan Mikro</strong></p>
<p>Ir Tri Rismaharini, MT, ahli perencanaan pembangunan kota, menjelaskan bahwa usaha kecil dan mikro, yang mencapai 98,5 persen dari total usaha di Surabaya, menjadi hal utama untuk disiapkan. Disiapkan agar dapat <em>survive</em> dari tekanan ekonomi global, minimal untuk memenuhi kebutuhan Surabaya sendiri.<br />
Untuk menangani hal ini tidaklah mudah. Butuh ketelatenan, fokus dan meluangkan waktu lebih banyak. Ada kebutuhan kerjasama dengan pihak swasta, untuk mengangkat usaha kecil dan mikro ini agar bisa berkembang dan lebih kuat, termasuk pada usaha pracangan, toko-toko kecil dan kampung unggulan yang ada. </p>
<p>Menurut Ir Tri Rismaharini, MT menjawab pertanyaan Restu Indah tentang perkembangan kampung unggulan, bahwa saat ini usaha yang ada masih belum memperhatikan kebutuhan ekspansi, masih menjalankan bisnis secara tradisional. Diperlukan bantuan pihak lain untuk mendorong agar usaha berkembang lebih luas dan dan tidak hanya terfokus pada dirinya. </p>
<p><strong>Mempercepat Pengembangan Infrastruktur</strong></p>
<p>Disamping memperhatikan usaha mikro dan kecil, usaha besar juga harus tetap bisa berkembang. Untuk menopang ini diperlukan percepatan pengembangan infrastruktur. Misalnya mewujudkan infrastruktur jalan seperti <em>frontage road</em> dan MERR. Selain infrastruktur jalan, air bersih juga harus terus diperhatikan. Permasalahan yang ada harus segera disolusikan oleh PDAM sehingga kebutuhan air di Surabaya Barat dan Timur dapat optimal. Untuk sistem drainase, Surabaya sudah pada posisi <em>on the track</em>. Dan hal ini membutuhkan ketelatenan, keberanian dan persiapan matang. </p>
<p>Unit usaha yang ada hendaknya dapat diakses melalui jalan utama. Perencanaan kota dibuat untuk bisa mengakomodir kegiatan dalam satu gedung dan diakses lebih mudah. Sehingga ada keyakinan kuat, Surabaya akan menjadi kota lebih murah. Tentunya perlu dorongan aktivitas yang kuat dalam 3 bulan ke depan. Sehingga siapapun yang akan memimpin, mustinya dapat dilakukan karena sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Dan ini membutuhkan energi besar. Kalau dilakukan dengan biasa, maka hasilnya akan biasa-biasa saja.</p>
<p><strong>Pengembangan Pasar Tradisional dan Penataan PKL, serta Penguatan Ekonomi Lokal</strong></p>
<p>Menurut Ir Don Rozano, MM, menjawab pertanyaan dari Iwan dan Sugiarto Gani, pendengar Suara Surabaya bahwa Surabaya perlu fokus pada pasar tradisional dan pengembangannya. Pasar tradisional dapat bersaing asalkan memiliki <em>supply chain</em> yang baik, yang dapat dilakukan melalui koperasi.  </p>
<p>Usulan dan masukan pendengar SS lainnya adalah hendaknya ada kegiatan atau aktivitas ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja seperti konstruksi dan pembangunan pantai yang membangkitkan ekonomi masyarakat. Serta bagaimana memberdayakan penguatan ekonomi masyarakat lokal, sehingga kehadiran taman-taman baru dapat secara langsung menguatkan ekonomi masyarakat sekitar.</p>
<p>Menjawab pertanyaan Restu Indah dan pendengar SS tentang hadirnya pusat bisnis baru, Ir Tri Rismaharini, MT menjelaskan bahwa ada mekanisme perijinan perdagangan yang dilakukan di pusat. Sehingga yang bisa dilakukan adalah bagaimana agar toko-toko tradisional bisa survive. Kalau dibiarkan bisa tidak bertahan, karena harus mengikuti pola pasar modern. Surabaya ini memiliki 80 minimarket dan 38 ribu toko tradisional. Kompetitifnya toko tradisional adalah dekat dengan pemukiman. Contohnya pernah ada kerjasama dengan toko besar keuntungan menjadi besar. Dengan kulakan bersama maka harga dapat bersaing. Teknik melayani pembeli yang baik akan menjadi kekuatan toko tradisional.</p>
<p><strong>Memperkuat Kerjasama dengan Daerah Lain di sekitar Surabaya</strong></p>
<p>Menurut Drs Subagyo, Surabaya dapat menjadi kota kondusif untuk investasi ekonomi melalui penataan sentra-sentra PKL. Hal ini juga terkait dengan masalah ketersediaan lahan. Ketika pemkot membangun kota dengan cukup bagus, masalah lain muncul. Peningkatan ekonomi dan fasilitas di Surabaya ini mengundang pendatang dari berbagai daerah. Jika tidak ditangani, walikota baru akan menghadapi masalah multi kompleks untuk pengembangan ke depan.</p>
<p>Komplesitas permasalahan yang ada membuat Surabaya harus bekerjasama dengan daerah lain, yang saling memberi dampak yang bagus. Kerjasama Surabaya Gempol misalnya, membuat Gempol makin berkembang. Termasuk kerjasama dengan Mojokerto dan Madura. Yang harus dipersiapkan pemda adalah bagaimana menangkap hal itu. Kesulitan menata PKL yang ada selama ini, karena ada <em>demand</em>, terutama PKL makanan. Tahun 2010 pemkot membangun 19 sentra PKL. Juga harus dipikirkan bagaimana masyarakat sekitar mendapatkan nilai dari adanya pasar di lingkungannya. Ulas Ir Tri Rismaharini, MT menjawab pertanyaan Budi, pendengar SS tentang pemberdayaan ekonomi lokal, mikro kecil dan menengah.</p>
<p><strong>Edukasi Pengembangan Usaha PKL dan Kebutuhan Pasar</strong></p>
<p>Diperlukan usaha untuk mengedukasi PKL dalam pengembangan usaha, kebersihan dan cara berusaha. Meski hal ini sangat melelahkan, namun harus dilakukan oleh pemerintah kota. Saat ini pasar tradisional sudah mulai dibangun. Di Rungkut, terkesan lambat, karena usulannya baru masuk pada pertengahan lalu. Sehingga  tahun depan ada perencanaan untuk membangun pasar rakyat. Pagi untuk pasar tradisional dan sore malam untuk sentra PKL dan ini hanya untuk warga Rungkut. Tambah Ir Tri Rismaharini, MT terkait dengan keberadaan PKL dan minimnya pasar tradisional di beberapa kawasan.</p>
<p>Kebutuhan pasar juga memperhatikan jumlah dan kepadatan penduduk. Perlu pengembangan pasar di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara dan Selatan. Diharapkan pasar ini dekat dengan pemukiman, tidak terlalu jauh dan tidak harus beli mlijo (tukang sayur). Warga kota Surabaya yang selama ini sebagai mlijo tidak perlu khawatir karena mendapatkan akses untuk masuk pasar. </p>
<p>Setiap kawasan harus dikembangkan dengan produk lokal. Tidak ada diskriminasi, kawasan mana yang menjadi prioritas. Meski sebetulnya kalau dilihat potensinya Surabaya Utara belum mendapatkan akses dibandingkan kawasan lain. Namun melihat tumbuhnya pemukiman baru di Surabaya Timur dan Barat membuat tidak bisa hanya memprioritaskan kawasan tertentu. Karakter masing-masing area berbeda dan semuanya harus dikembangkan sesuai spesifikasi masing-masing. Sebagaimana dijelaskan Ir Tri Rismaharini, MT menjawab pertanyaan Restu Indah tentang kawasan Surabaya mana yang menjadi prioritas pengembangan.</p>
<p>Drs Subagyo menambahkan bahwa infrastruktur harus dapat diakses, <em>spatial spreading</em> juga harus diperhatikan. Agar tidak mengumpul di satu tempat. Bagaimana <em>public utilities</em> dibangun dan menumbuhkan kesan psikologis bahwa Surabaya ini menjadi nyaman dan murah. Sehingga IKK naik dan membuat ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan pendapatannya makin tinggi. </p>
<p>Surabaya ini harus makin maju dan kemajuan ini diikuti seiring dengan kemajuan yang dirasakan warganya. Optimisme harus tumbuh,  ketika warga pesimis, karena yang memanfaatkan kemajuan ini bukan warga kota Surabaya. Harus ada pemimpin yang memberikan <em>guidance</em> ke mana arahnya. Sehingga bukan hanya ekonomi atas saja yang bergerak. Harus dibangkitkan energi lokal. Surabaya memiliki kemampuan. Manajemen <em>supply chain</em> usaha kecil dan pracangan harus dikelola. Hal ini belum disentuh siapapun. Dibutuhkan hubungan Surabaya dengan <em>interland</em>-nya. Kita harus punya inisiatif bersama. Tetap optimis dan warga Surabaya berhak mendapatkan<em> quality of life </em>lebih baik. Demikian harapan Ir Don Rozano MM, menutup dialog prospektif bisnis jumat pagi ini. Semoga Surabaya lebih baik. (unung@enciety.com)</p>
<p>Disarikan dari : Dialog prospektif bisnis Enciety di Radio Suara Surabaya FM 100, 20 Agustus 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/08/membangkitkan-optimisme-warga-untuk-menggairahkan-perekonomian-kota-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Surabaya</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/07/mengembangkan-ekonomi-kreatif-di-surabaya/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/07/mengembangkan-ekonomi-kreatif-di-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 06:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=701</guid>
		<description><![CDATA[Hadirnya taman kota menjadi inspirasi, perekat kebersamaan warga kota, memperkuat ciri khas Surabaya yang egaliter dan makin menjadikan Surabaya cantik. Perubahan wajah kota ini melibatkan ide dan karya anak muda yang mampu memberikan sentuhan taman menjadi alternatif wisata kota yang murah meriah. Surabaya juga menjadi tempat kunjungan yang makin diminati. Ekonomi kota ini mampu tumbuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hadirnya taman kota menjadi inspirasi, perekat kebersamaan warga kota, memperkuat ciri khas Surabaya yang egaliter dan makin menjadikan Surabaya cantik. Perubahan wajah kota ini melibatkan ide dan karya anak muda yang mampu memberikan sentuhan taman menjadi alternatif wisata kota yang murah meriah. Surabaya juga menjadi tempat kunjungan yang makin diminati. Ekonomi kota ini mampu tumbuh luar biasa. Capaian omset <em>Surabaya Shopping Festival</em> (SSF) terus meningkat dari tahun ke tahun, bukan hanya menunjukkan partisipasi dan tumbuhnya ekonomi lokal yang bermartabat tapi mampu juga menjadi pendorong ekonomi kreatif. Demikian sari pembuka Dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult dari Ir Don Rozano, MM, General Manager Enciety Business Consult di radio Suara Surabaya FM 100, 30 Juli 2010 yang dipandu oleh Restu Indah.</p>
<p class='textboxleft'>Hadirnya taman kota menjadi inspirasi, perekat kebersamaan warga kota, memperkuat ciri khas Surabaya yang egaliter dan makin menjadikan Surabaya cantik</p>
<p><strong>Peran desainer muda dalam pengembangan ekonomi kota yang berbasis kreatifitas</strong></p>
<p>Pertama, keterlibatan desainer muda dalam desain taman dan bangunan di kota Surabaya memberikan kontribusi besar pada diri mereka sendiri. Surabaya menjadi galeri untuk menuangkan ide dan kreatifitas. Kesempatan yang diberikan oleh pemkot, disambut sebagai wujud pengabdian kepada Surabaya. Hal ini merupakan investasi. Investasi karya yang dapat dibawa ke luar Surabaya. Kedua, kreatifitas ini memberikan sudut pandang baru. Taman menjadi indah, sekolah menjadi berwarna, memberikan dampak yang baik. Mampu membuka cakrawala, menjadi ruang pemikiran. Taman yang dikreasikan tersebut menjadi tempat bermain yang sehat. Sebagaimana dijelaskan oleh Ir Don Rozano, MM menjawab pertanyaan pembuka dari Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya.</p>
<p><strong>Kesempatan dan Tantangan Membangun Surabaya Cantik</strong></p>
<p>Perubahan wajah kota ini dimulai dari revitalisasi taman Bungkul. Pemerintah kota Surabaya, melalui dinas Kebersihan dan Pertamanan, pada saat itu dipimpin oleh  Ir. Tri Rismaharini, MT, memulai menata taman Bungkul dengan memberikan kesempatan partisipasi kepada desainer muda Surabaya. Kesempatan yang diberikan ini dijawab oleh Ipong Putra Indriawan (mas Ipong) dengan senang dan antusias. Sebagai arek asli Suroboyo, desainer muda yang sudah lebih dari 10 tahun terjun di bidang desain arsitektur ini merasa bahwa tantangan untuk mendesain taman Bungkul merupakan kesempatan menyumbangkan sesuatu bagi warga kota. Kesempatan itu pula yang membuat desain taman Bungkul lahir lebih netral dan natural.</p>
<p>Adanya keinginan memberikan warga Surabaya alternatif jalan-jalan selain mall, juga menjadi salah satu alasan mengapa desainer muda ini berani menerima tantangan dari pemerintah kota. Taman Bungkul juga menjadi <em>windows shopping</em>, banyak tersedia makanan, minuman dan mainan anak-anak  dijual. Revitalisasi taman ini juga menumbuhkan kreatifitas pedagang asongan. Setelah tiga bulan, mainan kitiran yang dijual berubah kelap-kelip di saat malam.  Sebelumnya mainan itu terkesan biasa dan tidak menarik di waktu malam. </p>
<p class='textboxleft'>Keberadaan taman kota ini dirasakan menjadi ruang baru bagi warga kota untuk berwisata lokal. Wisata murah meriah yang sanggup menyatukan dan mengenalkan warga kota dari berbagai tempat. </p>
<p>Berbeda dengan Ipong, Cahyo yang juga desainer muda Surabaya, awalnya ragu menerima tantangan dari Bappeko untuk terlibat dalam desain kota. Keraguan berdasar dari basis komunitas desainer yang informal. Namun kekhawatiran tersebut dibalik oleh Ir Tri Rismaharini, MT, saat itu menjabat kepala Bappeko Surabaya. Ir Tri Rismaharini, MT meyakinkan bahwa Surabaya ini adalah tempat kita tinggal, apabila ada sesuatu yang salah, dan kita diberi kesempatan untuk memperbaiki apakah kita tidak akan ikut berperan memperbaikinya. Berangkat dari keyakinan tersebut, Cahyo dan rekan-rekan kemudian dapat membuktikan dan merasakan karyanya yang bermanfaat seperti taman pelangi, pasar ikan, pasar burung, kampung ilmu dan lainnya. Kendala untuk membangun komunikasi dengan pemkot agar bagaimana ide kreatif tersebut terwujud juga dapat dilampaui dengan baik. Bahkan memberikan semangat bagaimana dengan adanya keterbatasan dana di pemerintah tetap menghasilkan karya yang lebih baik. Apalagi didukung oleh pemerintah kota yang memiliki ide dan keinginan yang sama, sebagaimana dijelaskan Iman, staf Bappeko Surabaya.</p>
<p>Keberadaan taman kota ini dirasakan menjadi ruang baru bagi warga kota untuk berwisata lokal. Wisata murah meriah yang sanggup menyatukan dan mengenalkan warga kota dari berbagai tempat. Menjadikan Surabaya makin guyub dan semangat gotong royongnya makin kuat. Masih ada kritik baik soal desain, kebersihan dan tempat sampah serta belum meratanya keberadaan taman ini di semua wilayah di Surabaya memberikan lecutan dan semangat agar Surabaya makin cantik.</p>
<p>Ekonomi kreatif bukan hanya soal karya kerajinan. Ide-ide kreatif yang mampu memecahkan persoalan kota, termasuk banjir, juga merupakan sumbangan besar bagi ekonomi kreatif. Adanya pengakuan manfaat positif hadirnya taman-taman kota dari lintas segmen merupakan bentuk dinamika kreatifitas warganya.  Dan pemerintah hendaknya tetap harus memberikan ruang untuk berkreasi, dengan tetap menumbuhkan ruang publik dalam pengembangan ekonomi kreatif. Harapan-harapan ini menjadi penutup dalam dialog prospektif bisnis  Jumat pagi ini. Semoga lebih baik. (unung@enciety.com)</p>
<p>Disarikan dari : Dialog prospektif Bisnis Enciety di Radio Suara Surabaya FM 100, 30 Juli 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/07/mengembangkan-ekonomi-kreatif-di-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sosialisasi Sensus Penduduk 2010</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/04/sensus-penduduk-2010-mengapa-data-kependudukan-begitu-penting/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/04/sensus-penduduk-2010-mengapa-data-kependudukan-begitu-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 05:21:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Pertama, ada yang musti kita ketahui bahwa pada tiap tahun berakhiran nol diadakan sensus penduduk di dunia, tiap tahun berakhiran lima ada SUPAS (Survey penduduk antar sensus). Kedua, mengapa data kependudukan begitu penting. Semua proses perencanaan di dunia usaha, bisnis dan pemerintahan menggunakan data kependudukan. Demikian pula marketing planner, pendidikan, transportasi semuanya mengutamakan data dasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama, ada yang musti kita ketahui bahwa pada tiap tahun berakhiran nol diadakan sensus penduduk di dunia, tiap tahun berakhiran lima ada SUPAS (Survey penduduk antar sensus). Kedua, mengapa data kependudukan begitu penting. Semua proses perencanaan di dunia usaha, bisnis dan pemerintahan menggunakan data kependudukan. Demikian pula <em>marketing planner</em>, pendidikan, transportasi semuanya mengutamakan data dasar kependudukan. </p>
<p>Data kependudukan memuat struktur penduduk, angka kelahiran, angka kematian, pertumbuhan penduduk pada semua area dari nasional hingga kecamatan. Perbaikan data kependudukan diperlukan agar tidak kehilangan jejak, terutama untuk pengambilan keputusan. Untuk itu BPS akan mengadakan Sensus Penduduk (SP 2010) mulai 1 Mei hingga 31 Mei 2010. Dihimbau dukungan penuh masyarakat untuk memberikan jawaban yang benar dan jujur. Demikian sari pembuka dari Drs. Kresnayana Yahya, MSc, dalam dialog prospektif bisnis <em>enciety business consult</em> di radio Suara Surabaya, 9 April 2010 yang dipandu oleh penyiar Radio Suara Surabaya. </p>
<p class="textboxleft">Semua proses perencanaan di dunia usaha, bisnis dan pemerintahan menggunakan data kependudukan.</p>
<p>Bagi masyarakat, data kependudukan menjadi penting karena tercatat. Ada perbedaan antara data kependudukan untuk administrasi yang merupakan registrasi kependudukan dari RT/RW hingga kecamatan. Sedangkan Sensus Penduduk merekam potret kegiatan masyarakat yang hasilnya digunakan untuk kebijakan kesehatan, pendidikan dan program kebijakan lainnya. Sehingga partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan, demikian Kresnayana Yahya menambahkan.</p>
<p>Sensus Penduduk merupakan kegiatan pengumpulan data penduduk di seluruh indonesia, baik WNI maupun WNA, kecuali keduataan besar. Kegiatan ini mengacu pada UU no 16 tahun 1997 tentang statitsik, di mana BPS sebagai lembaga pemerintah non pemerintahan yang menyelenggarakan statistik dasar. Pengumpulan data BPS dilakukan melalui sensus, survey, kombinasi dan cara lain. Tiap sepuluh  tahun ada berbagai sensus. Sensus pertanian dilakukan pada tahun berakhir angka 3, Sensus Ekonomi pada tahun berakhir angka 6 dan pada tahun berakhir angka 0 akan mendata semua penduduk Indonesia melalui Sensus Penduduk, di mana tiap penduduk akan dihitung hanya sekali dalam 10 tahun. Ulas Irlan Indrocahyo, SE, MSi, Kepala BPS Jawa Timur, tentang kegiatan Sensus Penduduk 2010.</p>
<p class="textboxleft">Sensus Penduduk mengumpulkan berbagai karakteristik penduduk, menurut gender, agama, pendidikan, kesehatan, buta huruf dan perumahan.</p>
<p>Sensus Penduduk mengumpulkan berbagai karakteristik penduduk, menurut gender, agama, pendidikan, kesehatan, buta huruf dan perumahan. Pada SP 2010 ada 41 pertanyaaan, pertanyaaan yang lebih komprehensif dibandingkan SP sebelumnya. Ada hal penting yang ingin diketahui, pertama membangun data terkini, tentang profil kependudukan yang diperlukan untuk kerangka pembangunan di daerah. Bagi penduduk, hasil SP bisa digunakan untuk perencanaan. Perencanaan ekonomi dan sosial sangat terkait dengan jumlah penduduk. </p>
<p>Kedua, disamping data karakteristik penduduk, SP 2010 juga akan mendapatkan database kependudukan sebagai bahan survey lanjutan. Ketiga, data kependudukan ini dapat digunakan untuk menilai keberhasilan MDG di Indonesia, maupun di Jawa Timur. Keempat, data kependudukan ini menunjang program depdagri dalam siak. Siak bicara administrasi kependudukan, BPS dengan SP bicara statistik kependudukan. Sebagaimana dijelaskan Irlan Indrocahyo, tentang manfaat Sensus Penduduk.</p>
<p>Kenapa Sensus Penduduk tiap 10 tahun sekali ? Pertama, amanat UU no 16 Tahun 1997 yang merupakan pembaharuan UU 6 tahun 1960 tentang Sensus. Kedua, Tentunya karena kegiatan ini mendata seluruh penduduk, termasuk yang ada di luar negeri, maka membutuhkan dana dan tenaga yang sangat besar. Proses pengolahan data juga perlu waktu relatif agak panjang. Namun, BPS juga punya survey lain yang mendukung. </p>
<p>Dalam pengumpulan data tiap instansi berbeda, terutama tentang konsep dan definisi. Konsep dan definisi SP mengikuti definisi dunia, yaitu seseorang yang tinggal di Jawa Timur  sekurangnya 6 bulan. Hal ini lain dengan konteks pilkada. Di mana konsep BPS ditambah plus KTP. Namun dengan SP 2010 data ini dapat dipakai sebagai informasi tambahan tentang SIN dan kesehatan. Untuk kesehatan, data SP 2010 digunakan sebagai dasar pengambilan sampel untuk penelitian tentang penyakit. Jadi memang mengapa data SP ini tidak langsung dipakai, dan instansi lain melakukan survey lain, karena data SP dipakai sebagai basis data. Penjelasan Irlan Indrocahyo menjawab pertanyaan pendengar tentang hubungan SP dengan survey yang dilakukan instansi lain.</p>
<p class="textboxleft">BPS akan mengadakan Sensus Penduduk mulai 1 Mei hingga 31 Mei 2010</p>
<p>Dalam SP 2010 petugas BPS menggunakan mitra. Mitra ini mengenal lingkungan. Sebelum terjun ke lapangan ada pelatihan bagaimana mengisi kuesioner. Tiap petugas memiliki atribut, membawa peta blok sensus, surat tugas dan baju khusus. Dalam pengumpulan data SP 2010 ini, BPS tidak memungut biaya apapun. Semua pengumpulan data tidak terkait dengan pajak. </p>
<p>BPS menginginkan data ini menggambarkan konsep lapangan. Petugas di lapangan merupakan panglima, panglimanya kejujuran. Sehingga BPS minta jaminan kepada petugas. Bahwa petugas  bersedia melaksankana SP 2010 dengan jujur. Pengawasan juga dilakukan, tiap 3 petugas ada kortim.Di atas kortim ada korlab – korlab diawasi kabupaten – korlab kabupaten diawasi provinsi &#8212; provinsi diawasi nasional. Sebagaimana diungkapkan Irlan Indrocahyo menjawab pertanyaan pendengar tentang pelaksanaan SP 2010.</p>
<p>Data kependudukan bukan hanya dibutuhkan pemerintah tapi juga dunia bisnis. Relatif ini telah menjadi kekuatan. Mulai tahun 1950 sudah mulai, tahun 1961, 1971. Sebagai orang statistik kita bisa melihat manfaatnya. Yang menjadi titik lemah daerah remote, di mana tidak ada akses jalan dan persoalan perbatasan hendaknya disolusikan. Juga bagaimana teknologi pendataan kita mampu memanfaatkan teknologi dengan baik. Bagaimana perencanaan mampu merujuk data dasar kependudukan, merupakan hal penting, sehingga antisipasi terhadap kejadian di lapangan menjadi sangat penting. Keberhasilan SP 2010 ini dinantikan melalui pelaksanaan yang jujur serta dukungan masyarakat dalam menjawab dengan benar dan jujur. Demikian harapan Kresnayana Yahya, <em>chairperson enciety Business Consult,</em> menutup dialog prospektif bisnis, jumat pagi. (unung@enciety.com)</p>
<p>Disarikan dari Diskusi Prospektif Bisnis Enciety di Radio Suara Surabaya FM 100, 9 April 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/04/sensus-penduduk-2010-mengapa-data-kependudukan-begitu-penting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Pengembangan Perumahan dan konstruksi</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/03/tantangan-pengembangan-perumahan-dan-konstruksi/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/03/tantangan-pengembangan-perumahan-dan-konstruksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 02:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Pertumbuhan penduduk, pertambahan jumlah keluarga dan kesenjangan antara jumlah keluarga yang sudah dan belum memiliki rumah merupakan fakta masih besarnya kebutuhan perumahan di Jawa Timur.  Saat ini pertambahan pengembangan perumahan baru makin tersebar di luar kota surabaya. Pertambahan ini juga sangat tergantung dari kesiapan dan kebijakan pemda. 
Ada kecenderungan baru di pengembangan perumahan, misalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertumbuhan penduduk, pertambahan jumlah keluarga dan kesenjangan antara jumlah keluarga yang sudah dan belum memiliki rumah merupakan fakta masih besarnya kebutuhan perumahan di Jawa Timur.  Saat ini pertambahan pengembangan perumahan baru makin tersebar di luar kota surabaya. Pertambahan ini juga sangat tergantung dari kesiapan dan kebijakan pemda. </p>
<p>Ada kecenderungan baru di pengembangan perumahan, misalnya dengan dibangunnya apartemen. Dengan luas tanah 2000 m persegi, dapat dibangun 5 hingga 6 rumah, namun dengan apartemen bisa 50 – 80 unit. Hal ini akan menjadi pertimbangan penting untuk masa depan. Dengan makin terbatasnya lahan maka model ini akan menjadi pilihan.  Termasuk perumahan yang sesuai dengan tata kelola lingkungan.</p>
<p class="textboxleft">Sektor konstruksi hendaknya dapat menjadi pendorong lapangan kerja dan usaha yang konstruktif.</p>
<p>Pada saat yang sama, kita berharap pengembang jadi motor. Sektor konstruksi hendaknya dapat menjadi pendorong lapangan kerja dan usaha yang konstruktif. Tentunya dengan dorongan dan support kebijakan. Demikian sari pembuka dari Drs Kresnayana Yahya, MSc,  dalam dialog prospektif bisnis <em>enciety business consult</em> di radio Suara Surabaya, 12 Februari 2010 yang dipandu oleh Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya. </p>
<p><strong>Prospek Industri Perumahan </strong></p>
<p>Ketersediaan lahan / tanah bagi perumahan merupakan bahan baku utama. Berbeda dengan material, semen dan pendukung perumahan lainnya, tanah menjadi kunci. Perlu upaya dan inovasi untuk mengatasi keterbatasan lahan. Dari sisi pengembang, sebagaimana dijelaskan oleh Nurul Haki – Wakil Ketua DPD REI Jawa Timur – dalam dua tahun terakhir ada kecenderungan membaik. Pengembang masih mempunyai stok lahan, sehingga dapat memproduksi rumah baru. </p>
<p>Tentunya pengembang siap menghadapi persoalan tanah. Disampaikan juga oleh Nurul Haki bahwa ada upaya membangun apartemen, misalnya seperti di Jakarta. Meskipun langkah ini belum menyelesaikan masalah. Khususnya saat penghuni melakukan aktivitas bersamaan. Diperlukan upaya rekayasa <em>traffic</em> dan banyak hal yang harus dipikirkan bersama. </p>
<p>Selain ketersediaan lahan, dukungan sektor perbankan juga mendukung pertumbuhan perumahan baru. Perbankan yang lolos dari krisis global, mampun menyediakan dana untuk modal kerja dan kredit konstruksi. Hal ini sangat membantu, meskipun bunga masih tinggi.</p>
<p>Dari sisi <em>demand</em>, ada perbaikan dari daya beli, meskipun tidak terlalu signifikan. Jadi bisa <em>saving</em> uang muka dan KPR.  Saat ini orang bujang ingin mandiri, memiliki rumah kecil atau apartemen. Ditambah adanya penumpukan kebutuhan rumah (<em>backlog</em>) menambah makin tingginya kebutuhan pengembangan perumahan baru. Sehingga menurut REI, sebagaimana diungkapkan Nurul Haki, adalah saat ini bagaimana berupaya agar masyarakat mendapatkan kemudahan mendapatkan rumah baru.</p>
<p>Sedangkan kawasan pengembangan rumah saat ini selain Surabaya, meliputi kawasan Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Malang, Madiun, Kediri, Tuban, Jember dan Banyuwangi. Bahkan di beberapa kawasan, sudah mencapai tingkat kecamatan, seiring dengan makin siap dan bagus infrastruktur yang ada. Misalnya di Madiun. Dukungan perijinan, tata ruang alokasi perumahan yang makin baik dari tahun ke tahun juga merupakan daya dukung berkembangnya perumahan baru ini, ungkap Nurul Haki melengkapi.</p>
<p><strong>Industri Semen Pendukung Sektor Konstruksi</strong></p>
<p>Semen seringkali dikatakan identik dengan konstruksi, satu ton semen itu memiliki mata rantai dengan besi dan material lainnya. Yang pasti memiliki mata rantai dengan tenaga kerjanya. Ungkap Kresnayana Yahya, membuka pertanyaan tentang prospek industri semen 2010.</p>
<p>Kebutuhan semen Jawa Timur seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan konstruksi. Tahun 2009,  pertumbuhan di atas dua persen. Di mana kondisi 2009 ini memiliki pola cukup menarik, di mana pertumbuhan permintaan semen di semester satu turun, namun saat masuk ke semester dua permintaan lebih tinggi dibanding 2008. Nampaknya kondisi ini masih dirasakan di awal 2010. Jadi diharapkan prospek ke depan cukup baik, dalam hal perputaran semen ini. Sebagaimana dijelaskan oleh Rudi Hartono &#8211; Bagian Perencanaan Pemasaran PT. Semen Grasik, Tbk. Terutama dengan tingginya loyalitas masyarakat Jawa Timur terhadap <em>brand</em> Semen Gresik – Kokoh Tak Tertandingi.</p>
<p>Kebutuhan semen juga terdiri dari beberapa tipe. Misalnya OPC (<em>Ordinary Portland Cement</em>) yang digunakan untuk keperluan bangunan konstruksi beton masif, PPC (<em>Portland Pozzolan Cement</em>) untuk kebutuhan secara umum. Memiliki kelebihan tahan dari serangan asam, terhindari dari korosi beton. Selain itu ada produk khusus, misalnya dalam pembangunan jembatan Suramadu menggunakan semen tipe SBC (<em>Special Blended Cement</em>). Serta tipe semen lainnya.  </p>
<p><strong>Harga Semen dan Pengembangan RSH</strong></p>
<p>Harga semen tentu menjadi perhatian serius bagi pengembang. Dengan harga stabil pengembang dapat melakukan perencanaan lebih baik. Karena kenaikan harga semen memberi dampak psikologis. Kenaikan harga semen akan memicu kenaikan besi, dan material konstruksi lainnya. Khususnya dalam pengembangan RSH, kelangkaan semen jarang terjadi, sebagaimana diungkapkan Nurul Haki. Keterbatasan RSH untuk belanja semen, membuat pengembang menekan <em>production cost</em>. Sehingga diperlukan kerjasama mendapatkan semen dalam bentuk curah, dengan harga yang terbaik dari supplier.</p>
<p>Menanggapi pertanyaan pendengar, tentang tidak adanya fasilitas lift di rumah susun. Nurul Haki menjelaskan bahwa agar harga rusun terjangkau maka dipilih menggunakan tangga. Lift membuat ada <em>service charge</em> sehingga <em>cost</em> jadi mahal. Rusun sederhana baik milik / sewa memiliki masalah soal harga, sehingga memang dalam hal penempatan fasilitas harus dipikirkan. Kalau pakai lift perlu <em>maintenance</em>. </p>
<p>Skema untuk RSH-pun sampai sekarang ada kendala bagi masyarakat yang bekerja disektor informal. Sehingga dimasukkan program rusun murah pemerintah. Sedangkan untuk swasta, masih menggunakan  skema lama, namun memang naiknya harga cukup tinggi. Hal ini juga belum adanya skema pembayaran dengan model asuransi jangka panjang dan terkait HGB yang dijaminkan kembali oleh perbankan. </p>
<p><strong>Perumahan, Konstruksi dan Harapan Masa Depan</strong></p>
<p>Saat ini, masyarakat sudah mulai familiar, ada rusunawa, ada rusun hak milik. Trend ini tidak bisa didorong terlalu cepat, tapi dihambat tidak mungkin. Harga tanah yang tinggi, menjadi kurang ekonomis untuk membuat rumah yang biasa. Diperlukan pilihan jenis rumah di kota yang padat. Perlu juga dipikirkan pengembangan perumahan yang memperhatikan faktor kondisi lingkungan. Misalnya di Surabaya Utara, justru pelabuhan dapat menjadi pemandangan yang luar biasa. Diperlukan integrasi perumahan dengan pelabuhan. Sehingga transportasi menjadi murah, diharapkan tercapai energi rasional. Juga, bagi pengembang, <em>addeed value</em> jangan hanya dari tanah. Tanah bisa miliki siapa aja, tapi perlu pengembangan services di atasnya.</p>
<p>Harapannya bagaimana industri konstruksi khususnya perumahan ini menjadi mata rantai. Sehingga mampu menjadi pendorong ekonomi dan daya serap tenaga kerja. Perumahan harus dikelola secara terintegrasi. Khususnya semen juga berpacu dengan tambahan kapasitas produksi. Pengembangan perumahan sangat signifikan dengan pertumbuhan penduduk usia produktif yang lebih cepat dari angka kelahiran. Ada kebutuhan akumulasi kebutuhan perumahan secara umum yang harus direspon. Demikian harapan Kresnayana Yahya, <em>chairperson enciety Business Consult</em> menutup dialog Prospektif Bisnis Jumat pagi. (unung@enciety.com)</p>
<p><em>Disarikan dari : Diskusi Prospektif Bisnis – enciety Business Consult – di Radio Suara Surabaya – 12 Februari 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/03/tantangan-pengembangan-perumahan-dan-konstruksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potensi Ekspor 2010</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/02/potensi-ekspor-2010/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/02/potensi-ekspor-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 04:53:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Peluang ekspor 2010 diprediksi meningkat, hal ini nampak dari pergerakan pertumbuhan ekonomi dunia. Indikasi tersebut menjelaskan bahwa pasar makin membesar, sehingga peluang juga makin besar, terlepas ada CAFTA atau tidak. Saat ini seluruh dunia juga berupaya memulihkan kondisi ekonominya. Indikasi lain menunjukkan adanya pergerakan di pelabuhan Hongkong dan Taiwan. Aktivitasnya meningkat 20 hingga 30 persen. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peluang ekspor 2010 diprediksi meningkat, hal ini nampak dari pergerakan pertumbuhan ekonomi dunia. Indikasi tersebut menjelaskan bahwa pasar makin membesar, sehingga peluang juga makin besar, terlepas ada CAFTA atau tidak. Saat ini seluruh dunia juga berupaya memulihkan kondisi ekonominya. Indikasi lain menunjukkan adanya pergerakan di pelabuhan Hongkong dan Taiwan. Aktivitasnya meningkat 20 hingga 30 persen. Ini menunjukkan pelabuhan internasional sudah mulai menambah kapasitas. Bagaimana potensi Jatim untuk ekspor ? Kita perlu cermati, supaya peluang tertangkap. Demikian sari pembuka dari Drs Kresnayana Yahya, MSc,  enciety dalam dialog prospektif bisnis <em>enciety business consult</em> di radio Suara Surabaya, 5 Februari 2010 yang dipandu oleh Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya. </p>
<p>Ekspor hasil tambang dan pertanian, kini sedang bagus. <em>Food product</em> di dunia harga meningkat, peluang baik untuk ekspor. Angka kumulatif 2009 <em>agri product</em> juga meningkat. China dan India menjadi semacam tumpuan harapan. Ekonomi mereka tumbuh, membutuhkan <em>supply</em> bahan makanan tinggi. Retail juga tumbuh di atas 30 persen. Ada peluang ekspor pada negara dengan pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen. Urai Kresnayana Yahya menambahkan.</p>
<p>Hingga bulan September 2009 ada kenaikan ekspor pada produk furniture, kimia, tekstil dan sepatu. Sedangkan penurunan lebih banyak pada produk <em>manufacture</em>. Bahkan untuk sektor komoditi, tembaga dan batubara naiknya cukup positif. Potensi kerjasama dengan Cina juga nampak dengan diawalinya kunjungan China ke Jawa Timur, terutama untuk produk sepatu dan mesin. China memerlukan bahan pertanian. Di mana saat ini daya beli di China meningkat, <em>lifestyle</em> muda meningkat. Sebagaimana diungkapkan oleh Isdarmawan GPEI Jawa Timur.  </p>
<p>Agung Kuncoro dari Terminal Peti Kemas (TPS) menyatakan bahwa trend 2010 cukup menarik. Data TPS menunjukkan ada kecenderungan meningkat. Import meningkat sampai 50% dibandingkan Januari 2009. Kalau dibandingkan dengan 2008 pun sudah meningkat 7%. Sedangkan ekspor naik 34.9 persen dibandingkan Januari 2009. Selain itu juga adanya permintaan kontainer kosong. Permintaan terbesar dari Asia Tenggara. Hal ini mengindikasikan bahwa roda perdagangan di luar negeri mulai meningkat. </p>
<p>Kesiapan TPS dalam mengantisipasi pergerakan ini cukup baik. Kapasitas TPS sekarang yang mencapai 1800 Teus dalam 1 tahun dengan volume 160 ribu Teus masih dapat menampung ketika ada lonjakan ekspor impor. Bulan ini sudah mengoperasikan 11 <em>Container Crane</em> dan <em>Rubber Tyre Gantry</em> (RTG) akan menambah pelayanan di lapangan. Sebagian peralatan juga ditambah dengan cara menyewa. TPS juga akan membangun terminal operating system, di mana hal ini diharapkan membawa dampak yang signifikan pada 2010. Proses transformasi dari sistem lama ke sistem baru juga sudah disiapkan sehingga diharapkan efesiensi dan akurasi meningkat. Sistem baru ini diharapkan berjalan akhir tahun ini ujar Agung Kuncoro meyakinkan.</p>
<p><strong>Kekuatan Bahan Baku Lokal</strong></p>
<p>Jawa Timur juga diprediksi siap menghadapi pasar bebas ASEAN – China, khususnya untuk ekspor produk sepatu. Keyakinan ini didukung dengan adanya peluang pasar di Amerika dan Eropa. Negara kompetitor seperti China juga masih kena kebijakan dumping. Keunggulan lainnya adalah produk sepatu Jatim lebih kompetitif dari sisi harga dan kualitas. Sehingga pasar ekspor secara riil masih aman. </p>
<p>Permasalahannya justru dengan produk dalam negeri. Pedagang sudah mulai <em>wait and see</em>. Pedagang juga sudah mulai mengurangi order. <em>Home industry</em> di China banyak sekali, masih ada sisa produk. Apabila produk tersebut dikumpulin dan digerojok ke Indonesia maka dapat berdampak. Selain adanya kendala tenaga kerja siap pakai. Sebagaimana diungkapkan oleh Ali dari Asosiasi Persepatuan Jatim (Apresindo) dalam diskusi ini. </p>
<p>Sebagian produk lokal kita masih mendatangkan bahan baku dari Kalimantan dan Sulawesi. Ada beberapa produk import dari New Zealand. Bahan baku seperti kopi harus didatangkan dari Lampung, Timor Leste  dan Vietnam. Harusnya ada upaya yang serius untuk meningkatkan daya saing salah satunya peningkatan infrastruktur sehingga revitalisasi bisa dipenuhi. Sebagaimana ditambahkan oleh Isdarmawan GPEI Jatim menyoroti kekuatan bahan baku lokal Jawa Timur dalam mendukung industri. </p>
<p><strong>Investasi Riset </strong></p>
<p>Makin banyak negara menginvestasikan untuk <em>research</em>. Informasi disusun pada bulan Oktober – Nopember, sehingga Januari sudah muncul <em>new product</em>. Realita pasar begitu dinamis, melalui riset juga Malaysia dapat memasok kopi ke Indonesia. Sehingga <em>investement</em> bukan hanya di barang modal, namun juga bagaimana menebak selera masyarakat. Sehingga<em> need and want</em> <em>supply match</em> karena kebiasaan riset di negaranya, kata Kresnayana Yahya menambahkan. </p>
<p>Potensi ekspor ini harus disikapi. Pertama, membangun struktur bahan baku yang bagus, bagaimana dapat dipenuhi dari dalam negeri. Terutama struktur bahan baku, yang biasa import, bagaimana dipenuhi dari dalam negeri. Kedua, bagi yang mulai memiliki kemampuan kreasi dan desain, ada peluang bagus. Mesinnya juga tidak mahal. Tapi sayang <em>business</em> kita nggak ada informasi, nggak ada riset. Dengan jumlah penduduk 240 juta, maka kebutuhan bahan baku luar biasa. Insentif dan investment tidak ditujukan untuk mengurangi ketergantungan, prioritas lapangan kerja belum disentuh. Masyarakat musti digerakkan, nggak bisa dipaksa. Kalau produk tersebut sesuai selera akan dibeli. Kita musti pandai memhami masyarakat. Masyarakat kita pendapatan meningkat 50 persen. Produsen melihat seperti 10 tahun lalu. Kita harus masuk ke <em>economy creative</em>. Persaingan bukan harga tapi kreasi. Kalau kita kenal market diluar, bisa lebih baik lagi. Demikian harapan Kresnayana Yahya, chairperson enciety Business Consult menutup dialog Prospektif Bisnis Jumat pagi. (unung@enciety.com)</p>
<p><em>Sumber : Disarikan dari dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult, di Radio Suara Surabaya, 5 Februari 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/02/potensi-ekspor-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Kresnayana Yahya : Service Occupation</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/02/inspirasi-kresnayana-yahya-service-occupation/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/02/inspirasi-kresnayana-yahya-service-occupation/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 08:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Kresnayana YahyaCAFTA banyak dibicarakan, banyak orang ribut karena produk China masuk, namun sedikit orang ribut karena SDM luar masuk. Termasuk SDM yang akan mengisi pekerjaan-pekerjaan services. Apalagi saat ini masih banyak orang beranggapan bahwa kerja harus di sektor industri, dan enggan memilih pekerjaan services. Di masa mendatang, pekerjaan services akan menjadi tren, makin bersaing dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_left" style="width:150px;"><img src="http://enciety.com/files/2008/07/kresnayana1-150x150.jpg" alt="Kresnayana Yahya" align="left"><br style="clear:both" /><span>Kresnayana Yahya</span></div>CAFTA banyak dibicarakan, banyak orang ribut karena produk China masuk, namun sedikit orang ribut karena SDM luar masuk. Termasuk SDM yang akan mengisi pekerjaan-pekerjaan <em>services</em>. Apalagi saat ini masih banyak orang beranggapan bahwa kerja harus di sektor industri, dan enggan memilih pekerjaan <em>services</em>. Di masa mendatang, pekerjaan<em> services</em> akan menjadi tren, makin bersaing dengan SDM asing yang kompeten dan profesional. Demikian sari pembuka inspirasi Kresnayana Yahya, 29 Januari 2010, Jumat Pagi di Radio Suara Surabaya FM 100,  dipandu oleh Restu Indah.</p>
<p>Pekerjaan <em>services</em> dibutuhkan dalam era<em> creative economy</em>, yaitu ekonomi yang komponen terbesarnya bersumber dari desain, yang timbul dari buah pikiran manusia. Sehingga saat ini memulai usaha tidak harus dimulai dengan membeli mesin atau mengumpulkan modal. Saat ini berusaha sendiri bisa, ada komputer, <em>network</em>, internet dan <em>software</em> yang mendukung. Manusia-nya menjadi super penting. <em>Services Occupation </em>mewajibkan manusianya kreatif dan empati, peduli dengan orang lain.</p>
<p>Membentuk manusia yang kreatif dan empati menjadi hal yang sangat penting.  Hilangnya kepekaan terhadap orang lain dan makin individualistis makin dirisaukan sebagian orang. Perlu panduan untuk mulai, di mana hal ini tidak bisa dibebankan pada sekolah. Sekolah sudah terbebani dengan beragam kompleksitas. </p>
<p class="textboxleft"><em>Services Occupation </em>mewajibkan manusianya kreatif dan empati, peduli dengan orang lain.</p>
<p>Menurut Kresnayana Yahya keluarga harus memegang peranan, keluarga perlu memberikan kesempatan anak untuk peduli orang, kreatif dan mau melayani orang. Keluarga juga diharapkan mempersiapkan anak menjadi orang yang mampu memahami bahwa bekerja itu berdasarkan kekuatan ilmu, kekuatan kreatifitas dan kekuatan peduli melayani orang. Keluarga juga makin penting untuk mendesain aktivitas anak, khususnya beragam aktivitas yang banyak bertemu atau bersosialisasi dengan orang, sehingga anak terhindari dari <em>over domination</em>, tidak peduli lingkungan apalagi tidak peduli masa depan. </p>
<p>Tidak hanya dibutuhkan manusia yang canggih dalam menghadapi kompetisi. Canggih ini musti dilihat dari sisi yang konstruktif, kalau pintar sendiri, tapi tidak pintar memahami orang lain juga tidak bermanfaat. Kepandaian akan bermanfaat, kalau kita mampu memahami kebutuhan orang lain, kemampuan imaginatif tentang manusia, jelas Kresnayana Yahya menambahkan.</p>
<p>Memahami kebutuhan ini menjadi penting, sehingga pendidikan juga harus berubah. Seringkali kita ini tidak punya pemandu. Harus makin adaptif dengan perubahan, sehingga tidak terpaku pada akreditasi. Sehingga kedepan makin profesional, pendidik juga makin bagus. Industri juga harus makin adaptif. Misalnya sistem gaji, bukan hanya dinilai dari jam kerja,  harus performance based. Era <em>creative economy</em> menuntut kreatifitas dan <em>performance</em>, bukan hanya soal jam kerja atau ijazah.</p>
<p class="textboxleft">Kita harus mulai mengerti orang dulu sebelum ingin dimengerti orang. Hendaknya kita mulai mengerti diri sendiri, untuk mengerti orang lain.</p>
<p>Di akhir dialog, Kresnayana Yahya mengatakan bahwa kita harus mulai mengerti orang dulu sebelum ingin dimengerti orang. Pekerjaan <em>services</em> membutuhkan kemampuan memahami manusia. Di bidang <em>tourism</em>, diperlukan<em> image</em> yang bagus dalam melayani, memahami orang yang ingin melihat keaslian dan keunikan culture Indonesia. Pelayanan di bengkel, loketnya masih seperti loket industri, harus dibuat lebih manusiawi. Praktek dokter, masih ada yang<em> customer service</em>-nya di jaga pak Bon, belum ada prioritas penanganan pasien. Pendidik yang berhasil, pendidik yang bisa memahami siswanya, kalau cuman <em>technical</em>, maka akan gagal. Era di mana industri harus mengutamakan empati, harus merubah paradigma.</p>
<p>Sehingga dalam era <em>creative economy</em>, hendaknya kita mulai mengerti diri sendiri, untuk mengerti orang lain. Penting memahami bagaimana harus bergaul, sehingga bisa sensitif dengan manusia dan memberikan manfaat. (unung@enciety.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/02/inspirasi-kresnayana-yahya-service-occupation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/01/perencanaan-pembangunan-kota-surabaya-untuk-mendukung-pembangunan-dunia-usaha/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/01/perencanaan-pembangunan-kota-surabaya-untuk-mendukung-pembangunan-dunia-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 05:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan radikal di Surabaya merupakan sesuatu yang berkaitan dengan proses, ada sekolompok pemikir mulai kelurahan, kecamatan hingga kota. Semua berhak usulkan sesuatu, kota ini makin terbuka, ada paradigma partisipasi yang tidak bisa dihindari. Tingkat elit pemerintah tidak bisa merencanakan sendiri, perlu influence dari masyarakat. Demikian sari pembuka dari Ir Don Rozano M.M., general manager enciety [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perubahan radikal di Surabaya merupakan sesuatu yang berkaitan dengan proses, ada sekolompok pemikir mulai kelurahan, kecamatan hingga kota. Semua berhak usulkan sesuatu, kota ini makin terbuka, ada paradigma partisipasi yang tidak bisa dihindari. Tingkat elit pemerintah tidak bisa merencanakan sendiri, perlu influence dari masyarakat. Demikian sari pembuka dari Ir Don Rozano M.M., <em>general manager enciety Business Consult </em>dalam dialog prospektif di radio Suara Surabaya, 22 Januari 2010 yang dipandu oleh Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya. </p>
<p>Besarnya pengaruh global, makin banyaknya investasi asing, menjadikan pintu surabaya ini menjadi pintu yang harusnya makin mengakomodasi kebutuhan global. <em>Trade </em>tidak kenal tempat. Bagaimana kota mengantisipasi hal ini perlu perencanaan dan pemikiran. Visi harus berubah, perdagangan lokal yang luar biasa ini perlu perencanaan matang, sarana infrastruktur mulai jalan, perhubungan juga manusia menjadi penting. Sumber daya manusia juga penting karena akan mengelola. Sehingga <em>investment</em> di pendidikan dan kesehatan menjadi penting, tapi <em>investment</em> di pembinaan dunia usaha juga penting. Kita juga butuh kelanjutan sebuah perencanaan, misalnya setelah MERR, Banyu Urip dibuat, perencanaan selanjutnya seperti apa. Masyarakat butuh panduan. Tambah Drs Kresnayana Yahya MSc, <em>chairperson enciety business consult</em> menyikapi perencanaan kota Surabaya.</p>
<p>Menurut Ir Tri Rismaharini, M.T., kepala Bappeko Surabaya, kota Surabaya ini sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas, Surabaya memperoleh penghargaan <em>city of the future</em>. Mulai banyak investor yang ingin masuk. Investasi di industri juga disesuaikan dengan prospek bisnis. Investor paham arah industri Surabaya ke ICT. Sehingga bagaimana menjaga kondisi bisnis yang kondusif. Misalnya pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan drainase yang berdampak sangat besar.</p>
<p>Surabaya juga menjadi kota termurah dibandingkan kota besar di Jawa, berdasarkan hasil Survey Biaya Hidup Merce Indonesia tahun 2008. Dalam survey ini Surabaya menempati urutan 21, dari tingkat kemahalan, satu tingkat dibawah Jogjakarta. Salah satunya adalah soal penyediaan air bersih, sehingga harapannya target MDG bisa dipenuhi. Juga bagaimana perkembangan kota ini berdampak pada kota disekitarnya, misalnya Gresik dan Sidoarjo. Sehingga akses menuju Gresik dan Sidoarjo harus diperbaiki. Rencana pengembangan pelabuhan di surabaya juga memperhatikan kedua kota tersebut. Bagaimana tingginya konsumsi ikan di  surabaya, bisa mewadahi gresik dan sidoarjo. </p>
<p>Bagaimana mempersiapkan sekolah dan pekerjaan bagi yang ingin tinggal di surabaya. Fasilitas kesehatan surabaya juga dipenuhi untuk semua lapisan, untuk orang miskin kita dekati dengan posyandu dan puskesmas keliling. Namun disisi lain, masih ada data menunjukkan pengobatan masih banyak ke Singapore atau Australia. </p>
<p>Bidang pendidikan dengan mendorong sekolah memiliki fasilitas lengkap. Selain lab bahasa, juga ada lab matematika, fisika, bologi dan wirausaha. Fasilitas ini mulai SD akan dilengkapi. Dengan perubahan kebijakan satu kelas dari 40 anak diubah menjadi 25 – 30 anak untuk SD, menyebabkan Surabaya kekurangan 325 guru SD. SMP diperbaiki juga, tidak dibedakan negeri dan swasta. Nanti disetiap kecamatan ada sekolah inklusi, di mana 1 guru ada 4 murid, yang mengalami autis atau cacat netra, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi prioritas dibidang pendidikan.</p>
<p>Riset <em>Financial Times</em> tahun 2008 menempatkan surabaya sebagai kota yang murah atau dalam publikasi <em>fDi Magazine</em> disebutkan Surabaya <em>as top for cost effectiveness</em>, mengalahkan Johor Bahru, Malaysia dan Davao, Philippines. Hal ini terkait dengan upaya memangkas jalur birokrasi yang dilakukan pemkot Surabaya. Dalam sistem perijinan dibangun software / aplikasi sehingga Surabaya memiliki sistem layanan perijinan satu pintu. Surabaya juga akan menempatkan kelurahan sebagai <em>payment point services</em>. </p>
<p>Pemberdayaaan UKM juga disiapkan. Ada hal yang dikritisi, misalnya soal <em>urban farming</em>, Tri Rismaharini menjelaskan bahwa program tersebut baru dan belum ada daerah lain untuk dilakukan <em>benchmark</em> sehingga perkembangannya bertahap. Meskipun saat ini sudah ada wilayah <em>urban farming</em> dengan luas lahan hanya 100  m2 menghasilkan 4 ton lele. Demikian pula juga akan dibangun pasar tradisional baru. Sehingga perencanaan kedepan diarahkan pada dukungan pada semua skala usaha.</p>
<p>Kresnayana Yahya juga mengatakan beberapa hal yang belum dilakukan Surabaya yaitu pentingnya industri atau usaha besar di-<em>support</em> usaha kecil yang banyak sehingga industri tidak perlu <em>outsourcing</em>. Sehingga akan ada usaha lain muncul, misalnya usaha pengamanan, usaha pengangkutan limbah di pabrik sehingga pabrik menjadi bersih dan barang di-<em>utilize</em>. Hal ini tentu akan menjadi unit bisnis yang bagus sekali. </p>
<p>Makin lama masyarakat makin ingin kemudahan, misalnya tidak punya waktu untuk memasak, terdapat banyak pilihan untuk makan di luar. Perlu pasar rakyat yang tidak dikesankan kumuh yang butuh <em>support</em> seperti air, gas dan infrastruktur sehingga makin lama makin efisien. Sehingga pebisnis mau makan di pasar rakyat juga, pasar rakyat akan mewadahi semua lapisan bawah hingga paling mewah.</p>
<p>Perubahan yang telah dilakukan oleh Surabaya pada 2009 dan perencanaan 2011 tentunya masih banyak yang perlu dikritisi dan masukan dari warga kota. Kenyamanan kota, pengembangan usaha kampung, pengembangan pelabuhan dan upaya menarik investasi menjadi topik pertanyaan dari pendengar Suara Surabaya baik langsung maupun melalui group E100 di jaringan sosial Facebook. </p>
<p>Menjawab pertanyaan dari pendengar Suara Surabaya tentang banyaknya impor barang yang tidak melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Tri Rismaharini menjelskan bahwa ada perencanaan untuk membangun pelabuhan. Pelabuhan ini harus didukung infrastruktur untuk akses ke pelabuhan. Sehingga yang dilakukan Surabaya adalah mendorong percepatan pembangunan akses jalan ke pelabuhan, meskipun masih ada kendala koordinasi dengan pusat dan provinsi dalam rencana pengembangan pelabuhan yang harus segera diselesaikan. Kresnayana Yahya juga menambahkan perlu keberanian pemerintah pusat untuk memberikan kewenangan pengelolaan dan kebijakan tarif pelabuhan dilakukan oleh pemerintah kota.</p>
<p>Masukan lain dari warga kota adalah soal pengembangan kampung, khususnya melihatkan banyaknya bangunan mangkrak. Perlu perhatian dari pemerintah kota untuk memperhatikan pengembangan kampung kuno dan bangunan yang mangkrak. Lebih menarik apabila dikaitkan dengan pengembangan industri kreatif di Surabaya. Tri Rismaharini menambahkan bahwa sudah ada perencanaan tentang kota industri kreatif dan pemanfaatan jalan-jalan cagar budaya, diharapkan tahun ini dikoneksikan. Sehingga diupayakan untuk menghidupkan kembali kawasan-kawasan kota lama.</p>
<p>Kota surabaya cukup nyaman, begitu ungkap salah seorang pendengar Suara Surabaya. Tinggal bagaimana menstimulus sehingga makin banyak warga kota peduli membangun kota bersama-sama dengan pemerintah kota. Taman kota yang sudah bagus juga harus tetap dirawat sehingga tidak menimbulkan persoalan. </p>
<p>Tri Rismaharini mengatakan bahwa untuk makin meningkatkan kenyamanan kota, juga disiapkan manajemen pengamanan kota, misalnya dengan pemasangan CCTV. Infrastruktur juga dibenahi, misalnya seperti jalan A Yani, apabila <em>frontage road</em> bisa dibangun maka perpotongan yang terjadi tidak terlalu merisaukan. Namun rencana ini masih mengalami kendala dari pemerintah pusat. </p>
<p>Don Rozano menambahkan bahwa sekarang saatnya pemerintah propinsi dan pusat mendengarkan bahwa perlu perhatian lebih untuk Surabaya. Kontribusi pemakai jalan yang diserahkan ke pusat dan propinsi belum sebanding dengan pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur jalan yang layak yang diberikan propinsi dan pusat sebagai bentuk penghargaan pada pemakai jalan. </p>
<p>Dalam akhir dialog Kresnayana Yahya memberikan masukan bahwa pertama, sistem kita masih seragam, kota maju dan kabupaten tertinggal masih sama dan pembagian pajak tidak merata sehingga kota yang kreatif akhirnya tidak mampu memberikan konstribusi besar sesuai yang direncanakan. Perlu mengaktifkan usaha mikro yang bersinergi dengan usaha besar, sehingga diharapkan semua ini akan harmonis. Kedua, produktifitas per orang di Surabaya lebih tinggi dari kota yang lain. Bahwa faktanya masih ada orang miskin dan tertinggal iya, ini butuh garapan lebih <em>local based</em>.<em> Planning</em> itu adalah <em>decision making</em>, kalau hari ini ada <em>decision</em>, untuk bisa <em>planning on decision</em> harus ada data yang baik. Warga kota memberi konstribusi apa yg diinginkan, menjadi masukan untuk perencana, <em>based on need and wants </em>masyarakat. Dan ini jadi prioritas. </p>
<p>Sekarang ini sudah disampaikan perencanaan pemerintah kota 2011, dimuat dalam situs  <a href="http://musrenbang.surabaya.go.id">musrenbang.surabaya.go.id</a>. Apabila ada usulan yang menarik, dapat disampaikan melalui media ini atau melalui musrenbang di kelurahan. Demikian ungkap Tri Rismaharini, menutup dialog prospektif bisnis enciety, jumat pagi. (unung@enciety.com)</p>
<p>Sumber : Disarikan dari dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult, di Radio Suara Surabaya, 22 Januari 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/01/perencanaan-pembangunan-kota-surabaya-untuk-mendukung-pembangunan-dunia-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Industri Makanan dan Minuman, serta Tantangan Pengembangannya</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/01/industri-makanan-dan-minuman-serta-tantangan-pengembangannya/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/01/industri-makanan-dan-minuman-serta-tantangan-pengembangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 04:29:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Ketakutan dan kecemasan karena CAFTA bisa dipahami, meskipun kita harus memilah, ada kekuatan yang harusnya kita kembangkan dan kita taruhkan bersama. Makanan dan minuman menjadi jangkar utama dari kegiatan manusia yang sangat culture base, local content base. Industri makanan  dan minuman harus diperkuat dan memberi nilai tambah terbesar serta tidak merubah budaya, karena kemasukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketakutan dan kecemasan karena CAFTA bisa dipahami, meskipun kita harus memilah, ada kekuatan yang harusnya kita kembangkan dan kita taruhkan bersama. Makanan dan minuman menjadi jangkar utama dari kegiatan manusia yang sangat <em>culture base</em>,<em> local content base</em>. Industri makanan  dan minuman harus diperkuat dan memberi nilai tambah terbesar serta tidak merubah budaya, karena kemasukan barang impor. </p>
<p class="textboxleft">Makanan dan minuman menjadi jangkar utama dari kegiatan manusia yang sangat <em>culture base</em>,<em> local content base</em>.</p>
<p>Dalam <em>free trade agreement </em>, 2010 &#8211; 2015 masih ada pembatasan untuk produk pertanian dan nanti masih ada lagi 2015 &#8211; 2020 baru akan dibahas seperti beras. Sehingga mestinya tidak sampai terguncang karena adanya <em>free trade agreement</em>. Demikian pengantar Drs Kresnayana Yahya MSc, <em>chairperson</em> Enciety Business Consult dalam Dialog Prospektif Bisnis, 15 Januari 2010, di Suara Surabaya yang dipandu oleh Restu Indah, penyiar Suara Surabaya.</p>
<p>Dalam dialog prospektif bisnis ini Kresnayana Yahya juga menambahkan bahwa di lain sisi, tugas kita bersama adalah mempersiapkan industri makanan dan minuman dalam <em>roadmap</em> yang jelas. Ada keragaman dalam produk kita, ada makanan yang super lokal dan masih kecil. Namun ada yang sudah bisa dilipatgandakan sampai di-<em>franchise</em>-kan. Sehingga konsistensi penyajian bisa dijamin. Ada juga industri manufacturing makanan minuman. Ada makanan siap saji / resto / gledekan. Negeri ini kaya ragam bentuk.</p>
<p>Dialog prospektif bisnis ini menghadirkan Yakto Willy Sinarta (GAPMMI Jawa Timur) dan dua pelaku franchise makanan yang memberikan uraian inspiratif tentang industri makanan dan minuman.</p>
<p class="textboxleft">CAFTA memang sangat populer, sangat menakutkan, namun industri makanan minuman di Jawa Timur khususnya di Surabaya, harusnya produk lokal lebih kuat&#8230; </p>
<p>Sebagai pembuka Yakto Willy Sinarta lebih mengkritisi tentang peranan pemerintah dalam mendukung industri makanan dan minuman, serta optimisme terkait kekuatan industri makanan lokal. Menurutnya bahwa CAFTA memang sangat populer, sangat menakutkan, namun industri makanan minuman di Jawa Timur khususnya di Surabaya, harusnya produk lokal lebih kuat dibandingkan produk Tiongkok. Dalam industri makanan minuman, pertama, harga berbanding lurus dengan kualitas. Kedua, bagi UMKM, perlu sosialiasi dan pemerintah hendaknya memberikan peluang sebesar-besarnya. Untuk menengah ke atas. pemerintah hendaknya turut membantu produk lokal. Misalnya pembatasan pada lima pelabuhan di seluruh indonesia. </p>
<p>Masih menurut Yakto, ada kebijakan BPOM yang dirasakan agak memberatkan pengusaha lokal. Yaitu aturan pergantian nomor MD (Kode Registrasi Makanan Dalam Negeri) tiap 5 tahun sekali diganti, hal ini membuat ada <em>cost</em> produksi. Meskipun ada sisi positif, namun apakah tidak bisa hanya diregistrasi saja. Daftar sekali untuk seterusnya. Uji lab tetap dilakukan tiap lima tahun sekali. Hal ini jika termasuk melindungi, mutu produk dalam negeri tidak kalah dari luar. Cuman kebijakan mengganti nomor MD ini memberatkan bagi produk lokal. </p>
<p>Meningkatnya <em>franchise</em> makanan dan minuman pada UMKM merupakan terobosan yang sangat bagus. Diharapkan pengusaha lokal mengutamakan mutu dan higinies. Misalnya, penggunaan gula ke pemanis buatan. Sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pada bagian pengamanan makanan dan minuman.</p>
<p>Industri makanan dan minuman lokal, terutama untuk UMKM juga dihadapkan pada harga bahan baku.  Di mana UMKM cenderung sulit mendapatkan harga dari penyedia pertama, sehingga harga jual menjadi lebih mahal dan tidak standard. Sedangkan pada tingkat industri menengah ke atas cenderung kuat dan yakin menghadapi kompetisi 2010.</p>
<p><strong>Satu Ide, Banyak Outlet </strong></p>
<p>Menurut Kresnayana Yahya, pemerintah harus berubah, kebijakan harus paham bisnis dan <em>cost</em>. Keunggulan kita dibandingkan luar negeri ada, kalau sinerginya terbentuk. Sehingga diharapkan tidak menambah beban <em>cost</em>, atau memberikan kelonggaran pada usaha yang sudah berjalan lama. Misalnya lab, bebas biaya untuk usaha yang sudah 10 tahun. Ada usaha UKM dengan cost mahal, skala kecil dan pengelolaan tidak standar. Persoalan ini bisa dimulai dengan standarisasi, dengan <em>pooling resources</em>. Satu ide untuk banyak outlet. Hal ini bisa kita masukan dalam <em>roadmap </em>baru. misalnya produk lokal kita di-<em>franchise</em>-kan, dengan jaminan higienis dan <em>quality</em> bisa disatukan. </p>
<p>Misalnya<em> franchise</em> makanan cita rasa timur tengah Baba Rafi, ide dasar <em>franchise</em> ini diawali dari kejelian Hendi, pemilik Baba Rafi, di mana saat ayahnya kerja di Qatar, ada makanan yg sangat digandrungi di sana, yang kayaknya pas apabila dijual di indonesia. Dari ide tersebut Baba Rafi kemudian membuka outlet pertama di Unitomo. Setelah mendapatkan respon yang bagus akhirnya membuka  2-3 outlet baru yang bisa diterima pasar. Dalam perjalanannya, membuka outlet baru membutuhkan persiapan banyak, sehingga ada ide melakukan <em>franchise</em>. Sebagaimana diceritakan oleh Hasan <em>Finance Account</em> Baba Rafi.</p>
<p>Agung pengelola franchise pecel Bu Tari mengatakan bahwa meledaknya <em>franchise</em> Baba Rafi, juga menginspirasi usaha pecel Bu Tari untuk berkembang melalui <em>franchise</em>. Awalnya sebelum menggunakan gerobak, masih menggunakan meja. Persaingan usaha pecel sangat tinggi, sehingga harus ada inovasi baru, dengan menampilkan konsep yang berbeda. </p>
<p><strong>Harga Murah, Berkualitas, Hindari Bahan Pengawet</strong></p>
<p>Bagaimana strategi yang harus dipersiapkan produk makanan dan minuman Indonesia untuk tetap kuat di pasar, dengan tetap menjaga kualitas dan higienis serta kemampuan menghadapi produk asing ditengah tingginya persaingan dan harga bahan baku. Jaminan kualitas, murah dan bebas dari bahan pengawet atau bahan kimia berbahaya menjadi topik pertanyaan dari pendengar Suara Surabaya baik langsung maupun melalui group E100 di jaringan sosial Facebook. </p>
<p>Produk Baba Rafi tidak ada bahan pengawet, murni fresh, semua bahan baku lokal. Produk yang dihasilkan memiliki cita rasa timur tengah. Untuk mengatasi harga bahan baku yang mahal,  sudah ada bagian divisi produksi, sehingga harga jual bisa kita turunkan, tanpa menurunkan kualitas. Demikian penjelasan Hasan dari Baba Rafi menjawab pertanyaan pendengar soal jaminan kualitas.</p>
<p>Demikian pula Agung pengelola pecel Bu Tari menambahkan, bahwa visi kedepan adalah kebersihan, pelayanan dan<em> taste</em>. Ada aturan tentang area outlet <em>franchise</em>, ada tipe produk untuk rumah makan, depot dan kaki lima. Jangkauan pasar luas, satu outlet satu kecamatan, sehingga diharapkan potensi keuntungan juga besar.  </p>
<p>Bumbu pecel kemasan Bu Tari tidak pernah pakai bahan pengawet. Bumbu pecel dapat digunakan maksimal dua bulan. Pecel Bu Tari memiliki resep untuk bumbu, 100 % tanpa pengawet. Dalam pengembangan ke depan ada keinginan untuk melibatkan pihak lain. Pengembangan internal SDM dan manajemen bisnis diperoleh melalui training dan seminar. </p>
<p class="textboxleft">Masih perlu sosialisasi, sehingga penggunaan bahan pengawet tidak menggunakan formula “kira-kira cukup”, harus menggunakan batas aturan yang ditetapkan pemerintah.</p>
<p>Soal aturan penggunaan bahan pengawet, sudah diatur rapi melalui peraturan menteri kesehatan. Misalnya Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88, tentang persyaratan bahan tambahan makanan yang diijinkan, dosis pemakaian, dan label kemasan, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 208/Menkes/Per/IV/85, tentang penggunaan pemanis buatan dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 239/Menkes/Per/V/85, tentang pemakaian zat warna yang dilarang. Sehingga pengusaha harus mengikuti ketentuan ini. Saat ini ada pengusaha tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. Masih perlu sosialisasi, sehingga penggunaan bahan pengawet tidak menggunakan formula “kira-kira cukup”, harus menggunakan batas aturan yang ditetapkan pemerintah. Sebagaimana disinggung oleh Yakto dari GAPPMI terkait aturan penggunaan bahan pengawet.</p>
<p>Yakto Willy Sinarta juga menjelaskan sikap GAPPMI terkait penggunaan bahan pengawet adalah membuka seluasnya bagi pengusaha yang ingin mengetahui tentang aturan yang ditetapkan. GAPPMI bersama dinkes juga melakukan penyuluhan pada pengusaha baru dan memberikan sertifikat. Sedangkan untuk masalah <em>packaging</em> atau kemasan, pengusaha harus memahami kebutuhan konsumen, dengan tetap menjaga mutu dan higienis. </p>
<p><strong>Strategi dan Inovasi Memperkuat Pasar</strong></p>
<p>Menurut Agung, pecel Bu Tari dibuat berbeda, <em>packaging</em> lebih menarik, dulu pakai pembungkus <em>styrofoam</em>. Namun sekarang sudah diganti kardus dan dicetak pakai uvi sehingga terkesan eksklusif. Kemasan ini lebih diterima oleh konsumen dan mempengaruhi penjualan. </p>
<p>Demikian pula Baba Rafi ketika pasar mulai mengalami titik jenuh, maka cepat bikin inovasi. Saat ini Baba rafi go internasional ke malaysia. Juga menambah outlet di jakarta, di mana bisnis mamin cukup kuat dan tidak pernah mati. Strategi lain adalah dengan membuat menu baru, misalnya roti mariyam, dengan membuka anak perusahaan baru. Ungkap Hasan dari Baba Rafi menambahkan.</p>
<p>Dalam akhir dialog prospektif bisnis Enciety, Kresnayana Yahya mengingatkan bahwa ada satu yang kita takut, karena kita ribut diujungnya, yaitu produksi bahan pertanian, peternakan dan perkebunan. Kita takut suatu saat akan kekuarangan bahan. Masih banyak lahan tidur yang belum dimanfaatkan. Hulunya harus dibenahi, di-<em>invest</em>, diberi dukungan. supaya pengusaha makanan dan minuman tidak harus import, misalnya tauge. Ketika harus bersaing, kita harus mampu. Kalau manajemennya diperbaiki, daging kita mustinya bagus. Namun <em>support</em> dari teknologi pembiakan musti dibantu. Kalau bahan baku import maka daya saing menjadi kurang. Harus ada inovasi. Tepung terigu bisa pindah ke tepung ketela, tepung sagu. Air kelapa misalnya. Ada banyak yang belum digarap secara serius. Juga soal pengangkutan, misalnya kacang panjang atau sayur mayur &#8211; belum ada inovasi. Pengangkutan bisa pakai box, kesegaran terjamin, meskipun cost lebih tinggi. Mata rantai ini harus kita <em>support</em>. </p>
<p class="textboxleft">Masyarakat harus diedukasi, masyarakat jangan disalahkan, yang punya produk harus mengerti bagaimana meningkatkan awareness soal product knowledge. Suatu saat konsumen akan lebih perhatian soal kalori.</p>
<p>Harapannya depkes menerbitkan petugas kesehatan, menjadi advokasi untuk pengusaha pemula. misalnya pendampingan bikin bumbu dengan standarisasi atau daging. Seringkali ini belum terjadi, sehingga kita tidak hanya ngatur soal pajak. Perlu keterlibatan kampus, bisa dianggap sebagai <em>resources</em>, persaingan ini tidak hanya bisa ditahan dengan aturan. Siapa yang inovatif akan menang. </p>
<p>Masyarakat harus diedukasi, masyarakat jangan disalahkan, yang punya produk harus mengerti bagaimana meningkatkan<em> awareness </em>soal <em>product knowledge</em>. Suatu saat konsumen akan lebih perhatian soal kalori. Sehingga dengan informasi kandungan kalori pada produk makanan dan minuman kita akan menjadi <em>knowledge</em>. Yaitu adanya kemampuan memahami, produk makanan dan minuman yang dibeli cocok dengan kebutuhan. Perlu ada badan pengawas, ada lembaga pemantau kualitas. Sehingga keterlibatan pihak lain ini akan hidup sebagai bagian integral di tengah makin berkembangnya industri makanan dan minuman. Demikian harapan Kresnayana Yahya, <em>chairperson</em> enciety Business Consult menutup dialog Prospektif Bisnis Jumat pagi. (unung@enciety.com)</p>
<p><em>Sumber : Disarikan dari dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult, di Radio Suara Surabaya, 15 Januari 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/01/industri-makanan-dan-minuman-serta-tantangan-pengembangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kresnayana Yahya: Saatnya Bank Danai Sektor Pertanian</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/12/kresnayana-yahya-saatnya-bank-danai-sektor-pertanian/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/12/kresnayana-yahya-saatnya-bank-danai-sektor-pertanian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 03:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Kresnayana YahyaKETIKA musim hujan datang, sebagian be­sar petani di Indonesia senang karena pe­luang mendulang uang mulai dibuka. Musim tanam memang jarang diberitakan, pun saat persoalan pangan sudah sangat serius dan kritis. Ketersediaan pa­ngan dunia dalam ancaman kekura­ngan dan kenaikan harga disebabkan pemanfaatan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gula untuk dijadikan biofuel, peme­nuhan kebutuhan energi.
Karena itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_left" style="width:150px;"><img src="http://enciety.com/files/2008/07/kresnayana1-150x150.jpg" alt="Kresnayana Yahya" align="left"><br style="clear:both" /><span>Kresnayana Yahya</span></div>KETIKA musim hujan datang, sebagian be­sar petani di Indonesia senang karena pe­luang mendulang uang mulai dibuka. Musim tanam memang jarang diberitakan, pun saat persoalan pangan sudah sangat serius dan kritis. Ketersediaan pa­ngan dunia dalam ancaman kekura­ngan dan kenaikan harga disebabkan pemanfaatan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gula untuk dijadikan <em>biofuel</em>, peme­nuhan kebutuhan energi.</p>
<p>Karena itu, Indonesia harus jauh berpikir ke depan untuk menjaga ketahanan pa­ngan­nya. Indonesia memiliki sekitar 50 juta hektare lahan pertanian. Sayang, ba­ru separo dari lahan itu yang siap dita­nami. Bayangkan jika seluruh lahan bi­sa dimanfaatkan secara serentak ketika musim tanam tiba. Sungguh luar biasa&#8230;</p>
<p>Investasi di bidang pangan ini sangat menggiurkan. Mengapa? Begini cerita­nya. Lebih dari 40 juta orang terlibat di bi­dang pangan ini. Pangan memiliki ma­ta rantai pendukung yang panjang, dari pengadaan bibit, alat pertanian, pupuk, hingga pengaturan irigasi. Mata rantai ini­lah yang menjadi penjaga kesuksesan mu­sim tanam, yang memang menentukan keter­se­diaan pangan 240 juta penduduk.</p>
<p class="textboxleft"> &#8230; 60 per­sen ketergantungan ekonomi berada di mata rantai pangan</p>
<p>Komoditas pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, tebu atau ternak semisal sa­pi, kambing, ayam, serta perikanan se­cara meluas menjadi tulang punggung eko­nomi Indonesia. Harap diingat, 60 per­sen ketergantungan ekonomi berada di mata rantai pangan. Simak saja, mata rantai dari perusahaan penggilingan da­ging, pembibitan tanaman dan ternak, ser­ta perusahaan pengolah makanan dan pakan. Restoran dan rumah tangga akan jadi penyedia akhirnya. Sekitar Rp 2000 triliun yang berputar di Indonesia per tahun berasal dan berawal dari mata ran­tai pangan.</p>
<p>Kebutuhan 70 juta ton setara beras per tahun untuk Indonesia selama tiga tahun terakhir masih bisa dipenuhi. Swasembada beras menjadi bukti kemandirian penyedia­an pangan secara menyeluruh dan indepen­den. Hal ini juga membuktikan mata rantai dari penyedia bibit hingga jutaan keluar­ga petani yang menjadi penanggung kerja dan penggagas keberhasilan tanam itu berjalan dengan baik.</p>
<p>Sekitar 50-60 persen produksi beras tersebut dihasilkan dalam musim ta­nam utama Desember 2009-April 2010. Inilah masa yang menentukan ke­berhasilan ketahanan pangan, yang menjamin ketahanan politik dan peme­rintahan. Sekitar Rp 200 triliun diperta­ruhkan dalam empat bulan tersebut ha­nya dari tersedianya beras.</p>
<p>Masa empat bulan itu tentu saja juga akan memengaruhi ketahanan ekonomi. Pasalnya, hingga saat ini penyebab inflasi berantai yang paling ganas adalah jika ketersedia­an beras dan mata rantainya terganggu.</p>
<p class="textboxleft">&#8230; kemauan pemerintah me­naik­kan dan mengatur harga dasar gabah untuk menaikkan kesejahteraan petani justru menjadi sumber utama perbaikan daya beli masyarakat tahun depan.</p>
<p>Karena itu, kemauan pemerintah me­naik­kan dan mengatur harga dasar gabah untuk menaikkan kesejahteraan petani justru menjadi sumber utama perbaikan daya beli masyarakat tahun depan.</p>
<p>Kalau saja petani mendapat dukungan kenaikan harga dasar gabah sekitar 15-20 persen, maka dapat dipastikan mata rantai 40 juta orang itu akan men­dapat pe­ning­katan daya beli sampai 30 persen. Hal ini tentu akan meningkatkan da­ya beli di sektor riil secara berantai. Pem­belian sandang, peningkatan kon­sum­si pulsa, sampai investasi sepeda motor dan mobil akan meningkat 5-10 persen hanya dari sektor pertanian. Tentu dengan mata rantai yang menyer­tai sektor tersebut.</p>
<p>Potensi ini perlu disinergikan dengan berbagai rencana pengurangan subsidi pupuk dan bibit sebagai pendongkrak­nya. Pemanfaatan kesadaran dan pe­nge­ta­huan untuk menggunakan pupuk or­ga­nik dan majemuk seperti Phonska akan menjadikan produktivitas pertanian secara menyeluruh makin terjamin.</p>
<p>Persoalan utama yang menjadi dasar penjaminan adalah rehabilitasi irigasi pertanian secara radikal dan menyeluruh. Sentuhan yang lambat terhadap penyedia­an irigasi yang selama ini sering terjadi se­jak era otonomi daerah harus diakhiri dengan pengadaan alokasi anggaran yang wajar dan sadar untuk mendukung ketahanan pangan.</p>
<p>Selama ini, dana untuk rehabilitasi pengairan dan manajemen air secara ke­seluruhan sangat minim jika dibanding­kan dengan harapan dan kebutuhan petani untuk meningkatkan produktivitas pangan secara berkelanjutan. Belum lagi, banyaknya lahan produktif beralih fungsi. Pun, sungai kian dangkal karena menumpuknya lumpur. Masih lagi ditam­bah puluhan sumber mata air ke­ring karena lingkungan yang rusak di wilayah pegunungan dan hulu sungai.</p>
<p class="textboxleft">Sentuhan yang lambat terhadap penyedia­an irigasi yang selama ini sering terjadi se­jak era otonomi daerah harus diakhiri dengan pengadaan alokasi anggaran yang wajar dan sadar untuk mendukung ketahanan pangan.</p>
<p>Manajemen air dan lahan yang buruk itu membuat sentuhan teknologi yang terus melaju di sisi pengadaan bibit, perbaikan mutu pupuk, dan integrasi pemanfaatan pupuk organik menjadi kurang bermakna. Kini sangat dibutuhkan pengadaan perbaikan saluran air serta pening­katan mutu pekerja dan penyuluh tata cara cocok tanam yang produktif.</p>
<p>Keterpaduan untuk ketahanan pangan masih membutuhkan sentuhan kebijakan yang integral sehingga bisa fokus untuk menjamin ketersediaan pangan selama 10-20 tahun ke depan. Penyusutan lahan, berkurangnya petani produktif karena usia, dan kebutuhan beras yang akan meledak tidak akan mampu teratasi de­ngan pola yang berlaku saat ini. Penangan­an yang radikal sangat dibutuhkan.</p>
<p>Pengadaan petani baru yang mendapat pelatihan secara mendasar dan mutakhir agar mampu jadi pelopor pengerjaan sawah serta lahan pertanian dengan memadukan integrasi teknologi dan pemaham­an lingkungan sangat diperlukan. Namun, hal ini hanya akan berlangsung jika kebija­kan pertanian dan ketahanan pangan melibatkan ahli manajemen air, pengadaan irigasi, dan pembangunan waduk atau embung, serta makin terlibatnya ahli klima­tologi secara terpadu.</p>
<p>Jawa Timur punya tugas menyediakan cadangan pangan sekitar empat juta ton setara beras dan Sulawesi 2,5 juta ton. Dua wilayah ini harus menjadi perhatian khu­sus agar negara aman. Demikian pu­la penga­daan jagung, jika digenjot, ki­ta bukan hanya menghemat devisa, na­mun juga meningkatkan devisa saat har­ganya sedang naik. Melihat poten­sinya, Kalimantan dan Papua semestinya segera disiapkan untuk menjadi penyandang penyedia pangan masa depan dengan pola intensif dan berstruktur serta melibatkan masyarakat.</p>
<p>Mari kita dorong kemampuan para petani dan pemasok pertanian menjadi pahlawan ekonomi bangsa. Mari kita pintarkan bank agar mau menjadi penyandang dana inves­tasi pertanian, dan mari kita sokong anak muda supaya mau ikut terjun dalam dunia pertanian yang makin menjanjikan dan strategis buat ketahanan bangsa.</p>
<p><strong><em>Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult</em></strong></p>
<p>Dimuat di : <a href="http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=108418">JAWA POS</a>, 30 Desember 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/12/kresnayana-yahya-saatnya-bank-danai-sektor-pertanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

