Visualisasi Data : Thermometer Chart (2)

October 31st, 2009

Visualisiasi Marketing performance dashboard, selain menggunakan line, time series, barchart dan mini pie chart dapat pula kita tambahkan thermochart. Membandingkan indeks antar variabel, lebih mudah kita visualisasikan dengan thermochart. Contoh visualisasi ini dapat kita temukan dalam artikel sebelummya yaitu Visualisasi Data Thermometer Chart. Dalam contoh tersebut visualisasi dibangun dengan menggunakan fungsi line, rect dan polygon.

Saat ini penulis membuat thermo function yang menggabungkan antara image dan fungsi rect.

thermochart(x=20.6,px=100)
thermochart(x=75.2,px=300)
thermochart(x=65.8,px=500)
thermochart(x=89.7,px=700)

Hasilnya adalah sebagai berikut :

Dengan menggunakan image, maka kita lebih mudah menggunakan warna degradasi dan desain yang tidak kaku. Thanks. [unung@enciety.com]

R Scripts ,

Modifikasi Visualisasi Tabel Menggunakan R

July 4th, 2009

Dalam bahasan lalu, penulis membangun desain dashboard dengan menggunakan Open Office Calc. Dengan materi data yang sama, maka kita coba untuk membangun detail dashboard dengan menggunakan R, khususnya pada materi pengembangan tabel. Rancangan visualisasi tabel dalam marketing executive dashboard merupakan hal yang penting.

Agar tabel yang kita buat cukup dinamis dan mampu terisi dengan berbagai macam obyek (:cell) maka kita terlebih dahulu menuangkan ide obyek table tersebut kedalam UML Class Diagram. Hal ini kita perlukan untuk menangkap fungsi-fungsi dasar dalam tabel seperti colnum, rownum, colspace, rowspace, colors dan lain sebagainya. Termasuk bagaimana hubungan struktur antara tabel dengan items yang ada didalamnya.

Berikut ini hasil R script, yang merupakan implementasi dari desain tabel dengan bantuan notasi UML.

Salam.

unung@enciety.com.

R Scripts , ,

Komunikasi, Edukasi dan Community

May 6th, 2009

Tidak semua produk cocok dengan model marketing berjenjang ini, ada keunikan yang menyertai dalam pengembangan bisnis dan pemasaran. Namun ada hal yang cukup kuat dipahami oleh pemilik perusahaan, sehingga dengan tepat dia tahu kapan dan jenis produk yang cocok dibangun loyalitasnya melalui MLM. Bukan hanya ilmu marketing handal dan emosional marketing yang dimainkan di sini, namun juga kemampuan sales, kemampuan edukasi dan kemampuan membangun komunitas yang makin lama makin menggurita.

Ambil contoh, salah satu produk MLM yang lagi marak, herba. Produk ini mungkin udah hampir 10 tahun ada, model pengembangan yang sederhana tidak sebesar produk MLM yang lain, tetapi cukup mampu berperan menjadi alternatif bisnis dan wirausaha. Dua produk utamanya yang cukup terkenal Kopi dan Minyak, cukup mampu diserap pasar. Bahkan kopi ini sempat harus antri pada bulan agustus 2008, sehingga yang pesan bulan ini baru akan mendapat kopi 2 hingga 3 bulan lagi. Tentu, bagian produksi akan kewalahan dengan peningkatan jumlah customer yang tajam. Strategi dan manajemen teknologi akan menjadi penentu, suksesnya bisnis ini. Sales force melalui member sangat bagus, dalam mengedukasi market.

Kita dapat mengenali loyalitas customer dengan mengamati perilaku pelanggan kita, pertama kemampuan dan keinginan kuat akan membeli kembali produk kita di masa mendatang, tentu dengan jumlah yang sama atau lebih. Kedua, memberikan rekomendasi kepada orang lain untuk turut serta memiliki pengalaman sukses yang sama yang diceritakan dan dikomunikasi kan dalam tingkat persepsi gold pada produk itu, hingga menimbulkan kebanggaan.

Produk herbal sangat tepat mengundang orang untuk repurchase, anggapan bahwa jamu tradisional, herba memiliki pengaruh yang lebih jangka panjang dibandingkan dengan obat kimiawi menjadi unggulan terserapnya produk ini dengan mudah. Sehingga orang akan terus membeli untuk memenuhi waktu terapinya sesuai dengan tingkat penyakit yang diderita. Cara komunikasi efektif yang dilakukan MLM herba ini, dengan panduan dan pelatihan yang standar bagi stokis nya tentu memiliki dampak komunikasi yang sama dan tepat, dan selalu bertambah. Membangun keyakinan sembuh bagi pelanggan jauh lebih penting dibandingkan meyakinkan pentingnya herbal. Hal ini membuat munculnya klinik herba dan pelatihan kesehatan di tingkat region yang lebih kecil.

Apakah model pemasaran ini akan mengganggu market share yang udah ada. Belum tentu, tetapi menganggu market size ? Silahkan bersama amati. (unung@enciety.com)

R Forum