<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Statistical Graphics &#38; Data Visualization &#187; article</title>
	<atom:link href="http://enciety.com/community/R/tag/article/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enciety.com/community/R</link>
	<description>Innovation and New Experimentation Model with R</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 May 2010 03:44:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Komunikasi, Edukasi dan Community</title>
		<link>http://enciety.com/community/R/2009/05/06/komunikasi-edukasi-dan-community/</link>
		<comments>http://enciety.com/community/R/2009/05/06/komunikasi-edukasi-dan-community/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 08:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Unung Istopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[R Forum]]></category>
		<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/community/R/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua produk cocok dengan model marketing berjenjang ini, ada keunikan yang menyertai dalam pengembangan bisnis dan pemasaran. Namun ada hal yang cukup kuat dipahami oleh pemilik perusahaan, sehingga dengan tepat dia tahu kapan dan jenis produk yang cocok dibangun loyalitasnya melalui MLM. Bukan hanya ilmu marketing handal dan emosional marketing yang dimainkan di sini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak semua produk cocok dengan model marketing berjenjang ini, ada keunikan yang menyertai dalam pengembangan bisnis dan pemasaran. Namun ada hal yang cukup kuat dipahami oleh pemilik perusahaan, sehingga dengan tepat dia tahu kapan dan jenis produk yang cocok dibangun loyalitasnya melalui MLM. Bukan hanya ilmu marketing handal dan emosional marketing yang dimainkan di sini, namun juga kemampuan sales, kemampuan edukasi dan kemampuan membangun komunitas yang makin lama makin menggurita.</p>
<p><img src="http://enciety.com/web/data/komunikasiedukasi.png" alt="" align="left"/>Ambil contoh, salah satu produk MLM yang lagi marak, herba. Produk ini mungkin udah hampir 10 tahun ada, model pengembangan yang sederhana tidak sebesar produk MLM yang lain, tetapi cukup mampu berperan menjadi alternatif bisnis dan wirausaha. Dua produk utamanya yang cukup terkenal Kopi dan Minyak, cukup mampu diserap pasar. Bahkan kopi ini sempat harus antri pada bulan agustus 2008, sehingga yang pesan bulan ini baru akan mendapat kopi 2 hingga 3 bulan lagi. Tentu, bagian produksi akan kewalahan dengan peningkatan jumlah customer yang tajam. Strategi dan manajemen teknologi akan menjadi penentu, suksesnya bisnis ini. Sales force melalui member sangat bagus, dalam mengedukasi market. </p>
<p>Kita dapat mengenali loyalitas customer dengan mengamati perilaku pelanggan kita, pertama kemampuan dan keinginan kuat akan membeli kembali produk kita di masa mendatang, tentu dengan jumlah yang sama atau lebih. Kedua, memberikan rekomendasi kepada orang lain untuk turut serta memiliki pengalaman sukses yang sama yang diceritakan dan dikomunikasi kan dalam tingkat persepsi gold pada produk itu, hingga menimbulkan kebanggaan.</p>
<p>Produk herbal sangat tepat mengundang orang untuk <em>repurchase</em>, anggapan bahwa jamu tradisional, herba memiliki pengaruh yang lebih jangka panjang dibandingkan dengan obat kimiawi menjadi unggulan terserapnya produk ini dengan mudah. Sehingga orang akan terus membeli untuk memenuhi waktu terapinya sesuai dengan tingkat penyakit yang diderita. Cara komunikasi efektif yang dilakukan MLM herba ini, dengan panduan dan pelatihan yang standar bagi stokis nya tentu memiliki dampak komunikasi yang sama dan tepat, dan selalu bertambah. Membangun keyakinan sembuh bagi pelanggan jauh lebih penting dibandingkan meyakinkan pentingnya herbal. Hal ini membuat munculnya klinik herba dan pelatihan kesehatan di tingkat region yang lebih kecil. </p>
<p>Apakah model pemasaran ini akan mengganggu market share yang udah ada. Belum tentu, tetapi menganggu market size ? Silahkan bersama amati. (unung@enciety.com)</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fenciety.com%2Fcommunity%2FR%2F2009%2F05%2F06%2Fkomunikasi-edukasi-dan-community%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px;height:25px;margin-top:5px;"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/community/R/2009/05/06/komunikasi-edukasi-dan-community/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar ber-Rekreasi dalam Rekreasi Belajar</title>
		<link>http://enciety.com/community/R/2009/01/03/belajar-ber-rekreasi-dalam-rekreasi-belajar/</link>
		<comments>http://enciety.com/community/R/2009/01/03/belajar-ber-rekreasi-dalam-rekreasi-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 06:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Unung Istopo</dc:creator>
				<category><![CDATA[R Forum]]></category>
		<category><![CDATA[article]]></category>
		<category><![CDATA[enciety]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/community/R/2009/01/03/belajar-ber-rekreasi-dalam-rekreasi-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Membangun kota yang bersih dan berpendidikan serta beretika di tengah makin sempitnya ruang bergerak, karena meningkatnya jumlah penduduk, titik lokasi usaha serta meledaknya jumlah kendaraan bermotor, tidak mudah bagi Surabaya, kota metropolis dengan berbagai etnis yang cukup egaliter ini. Surabaya harus berjuang untuk menata dan mengelolanya, sehingga ditengah himpitan beban masih mampu tersenyum bagi orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.enciety.com/web/data/mappuskesmassby2004_at.png" alt="" / align="left"/>Membangun kota yang bersih dan berpendidikan serta beretika di tengah makin sempitnya ruang bergerak, karena meningkatnya jumlah penduduk, titik lokasi usaha serta meledaknya jumlah kendaraan bermotor, tidak mudah bagi Surabaya, kota metropolis dengan berbagai etnis yang cukup egaliter ini. Surabaya harus berjuang untuk menata dan mengelolanya, sehingga ditengah himpitan beban masih mampu tersenyum bagi orang lain, yang diharapkan senyum itu menjadi aura positif yang memancar di lingkungannya. </p>
<p>Data Survey Biaya Hidup BPS tahun 2007 menunjukkan ada perubahan sangat signifikan pada distribusi pola konsumsi masyarakat, yang menyedot konsumsi dasar pendidikan, pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga, menjadi sangat dominan sejak tahun 1996. Kita bisa amati, pada tahun 1996 persentase konsumsi pendidikan adalah 56.7 % dan rekreasi dan olah raga mendapatkan porsi 43.7 %, pada tahun 2002 konsumsi pendidikan termasuk kursus dan peralatan pendidikan adalah 71.7 % dan rekreasi dan olah raga 28.2 %. Bagaimana dengan tahun 2007, rekreasi dan olah raga hanya mendapatkan porsi 17.5 % sedangkan pendidikan, kursus dan pendukung lainnya mendapatkan perhatian cukup tinggi yaitu 82.4 %. </p>
<p>Cukup menarik, memperhatikan prioritas pendidikan menjadi hal utama dan dominan, yang diharapkan berdampak positif bagi perkembangan kota dalam memenuhi SDM yang cerdas. Apalagi jika konsep pendidikan kita bukan lagi berkutat pada kelas yang membelenggu dan mematikan kreatifitas anak didik.</p>
<p>Kesibukan dan tekanan pada orang tua yang memiliki anak pada usia partisipasi sekolah menjadi masalah yang tidak asing lagi dan selalu berulang terjadi setiap tahun pada bulan Juli hingga Oktober. Angka inflasi kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga di Kota Surabaya, khususnya jasa pendidikan menunjukkan pola time series musiman. Pada bulan-bulan tersebut sejak tahun 2004 inflasi jasa pendidikan dapat mencapai angka rata-rata 6% bahkan pada tahun 2004 sempat mencapai angka 16 %. Tentunya tanpa persiapan yang cukup ketat, manajemen finansial keluarga serta kepemilikan asuransi pendidikan, beban biaya sekolah ini menjadi sesuatu yang tidak sederhana.</p>
<p>Menarik sekali program Bappeko Surabaya yang cukup detail dalam merencanakan serta mengawasi program pendidikan di Surabaya. Meminimalisasi pungutan di luar peraturan resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya, membangun fasilitas infrastruktur pendidikan serta melakukan pengawasan terhadap pengeluaran anggaran pendidikan diharapkan mampu meringankan beban masyarakat dalam hal anggaran pendidikan.</p>
<p>Masyarakat kota Surabaya saat ini memiliki kebun bibit Bratang di wilayah Surabaya Timur dan taman kota lain yang tersebar di beberapa sudut kota. Lokasi taman kota yang cukup strategis ditengah lokasi pendidikan, bisnis dan transportasi membuat kebun bibit Bratang seolah menjadi sangat atraktif. Bukan dalam rangka mengangkat citra kebun bibit, namun dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi bagaimana program CSR bekerjasama dengan perencana kota mampu merubah area yang dulu ramai penuh sesak sebagai tempat adu suara burung ini menjadi taman kota yang asri, nyaman, apik dan berpendidikan.</p>
<p>Belajar bukan lagi kelas yang menyeramkan. Rumah dan taman serta lingkungan kita adalah tempat belajar, belajar mengimplementasikan apa yang ditulis, yang diajarkan, bukan hanya belajar menghapal tanpa makna. Bahkan area ini bukan hanya tempat pendidikan, tetapi tempat rekreasi dan olah raga.</p>
<p>Jika kita kembali amati data konsumsi dasar di atas, hal ini mampu memberikan alternatif bagi masyarakat kota, di mana dengan semakin berkurangnya porsi konsumsi untuk rekreasi, masih banyak tempat yang bisa digunakan untuk membangun konsep belajar yang rekreasi dan rekreasi yang belajar dengan berkunjung di taman-taman kota dengan bebas biaya.</p>
<p>Masyarakat juga diharapkan membangun kecintaan belajar bukan hanya menyenangi membaca buku namun menjadikan membaca buku, serta semua informasi yang ada dan disediakan dalam lingkungan sekitar baik internet maupun media lain menjadi kebutuhan yang indah, tidak memaksa dan menyenangkan. Karena anak-anak tidak lagi membedakan sekolah itu harus duduk diam di dalam kelas, tetapi mengajak anak memahami lingkungan adalah sekolah dan tempat belajar yang murah. </p>
<p>Tantangan kedepan adalah bagaimana perencana kota berupaya membekali calon orang tua atau orang tua muda dengan pemahaman pendidikan anak yang benar yang berwawasan lingkungan. Terus berbenah Surabayaku, semoga kepahlawananmu tidak memudar. unung@enciety.com – 5 Nopember 2008. </p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fenciety.com%2Fcommunity%2FR%2F2009%2F01%2F03%2Fbelajar-ber-rekreasi-dalam-rekreasi-belajar%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px;height:25px;margin-top:5px;"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/community/R/2009/01/03/belajar-ber-rekreasi-dalam-rekreasi-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

