Tantangan Dunia Kerja di Masa Depan

Banyak hal di masa lalu yang masih menjadi acuan masyarakat menghadapi masa depan. Banyak hal yang dulu dianggap populer, kini masih menjadi sesuatu yang biasa saja.

Masyarakat masih banyak yang belum sadar jika saat ini sedang menghadapi percepatan perubahan zaman. Banyak dari profesi yang dulunya memiliki peran sangat penting, kini telah tergantikan dengan makin berkembangnya teknologi.

Sedikitnya, ada banyak profesi yang 10-15 tahun lalu memiliki peran penting dan menjanjikan. Namun, saat ini berbagai profesi tersebut telah tergantikan dengan teknologi. Namun begitu, ada beberapa keahlian profesi yang sampai hingga kini perannya tidak dapat tergantikan teknologi. Di antaranya profesi pelukis, sastrawan, chef (juru masak). Juga pekerjaan di bidang yang lebih menekankan pada desain dan praktik, marketing, menulis laporan, dan arsitek. Keadaan tersebut merupakan tantangan tersendiri yang dihadapi masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, orang tua harus dapat memandu anak-anaknya agar dapat mengetahui minat dan bakat yang mereka miliki. Secara garis besar, ada dua minat dan bakat yang dapat dimiliki oleh anak-anak zaman sekarang. Yakni minat dan bakat untuk dapat mengembangkan nilai intelektual dan vokasional.

Jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan vokasi atau yang biasa disebut dengan sekolah kejuruan, pada penerimaan siswa tahun 2017 ini, sekolah kejuruan masih sedikit peminatnya. Padahal, lulusan sekolah kejuruan dengan beberapa program studi seperti pertanian, perikanan, perawatan gigi dan lain sebagainya, itu sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Banyak peluang kerja dari bidang profesi berlatar kejuruan. Makanya, sangat disayangkan jika masyarakat tidak dapat memanfaatkan peluang tersebut. Untuk itu, mulai saat ini kita harus mengubah pola pikir kita seiring dengan perkembangan zaman.

Perkembangan zaman memang membawa hal-hal baru. Tak terkecuali dengan wawasan melakoni hidup dan wawasan menjalani pekerjaan. Perlu diketahui, produk domestik bruto (PDB) per kapita kita saat ini angkanya mencapai 4.000 sekian poin. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi khawatir mengenai hasil pemasukan yang mereka terima dari sebuah pekerjaan tersebut.

Ke depan, masyarakat tidak lagi mencari-cari pekerjaan yang hanya dapat mendatangkan pemasukan uang semata. Masyarakat bakal lebih memilih pekerjaan yang dapat mendatangkan value atau nilai kemaslahatan bagi orang banyak. Konsep ini disebut creation of meaning. Jadi, selain berpikir mencari pendapatan, masyarakat juga mencari pekerjaan sesuai passionpribadinya.

Perkembangan pada dunia kerja tidak lagi sekadar bertumpu pada kemampuan individual. Masyarakat akan makin sadar, untuk dapat menyelesaikan pekerjaan diperlukan kerjasama tim. Hal ini dikenal dengan istilah cross functional skill. Individualisme telah melemah dan mulai digantikan dengan kerja tim. Ke depan, cara kerja kolaborasi semacam inilah yang sangat relevan untuk digunakan. (wh)