<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Enciety Dot Com</title>
	<atom:link href="http://enciety.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enciety.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Jun 2011 03:35:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Perempuan: Pahlawan Ekonomi</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/12/perempuan-pahlawan-ekonomi/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/12/perempuan-pahlawan-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 01:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Usaha Mikro dan Kecil (UMK) tumbuh subur sejak krisis moneter meluas menjadi krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia sejak 1997. Kesempatan kerja yang terbatas menjadi alasan utamanya. Uniknya kondisi ini juga memerkuat inovasi pengembangan UMK. Di mana, data menunjukkan bahwa para pelakunya ternyata didominasi kaum perempuan.
Aid never reduce poverty, untuk itu dibutuhkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Usaha Mikro dan Kecil (UMK) tumbuh subur sejak krisis moneter meluas menjadi krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia sejak 1997. Kesempatan kerja yang terbatas menjadi alasan utamanya. Uniknya kondisi ini juga memerkuat inovasi pengembangan UMK. Di mana, data menunjukkan bahwa para pelakunya ternyata didominasi kaum perempuan.<span id="more-726"></span></p>
<p class="textboxleft"><em>Aid never reduce poverty</em>, untuk itu dibutuhkan intervensi pemerintah yang lebih cerdas dan peduli terutama dalam merasionalkan resiko usaha dari pelaku UMK</p>
<p>Fenomena ini ternyata menarik bagi para pelaku ritel besar dan kecil, mereka tidak segan lagi melakukan kolaborasi dengan pelaku UMK. Di beberapa gerai dalam dua tahun ini telah terpajang produk–produk UMK dari berbagai kota di sekitarnya. Aneka produk <em>handycraft</em>, <em>grocery food</em> dan <em>fresh food</em> dengan mudah dapat ditemui setiap saat. Keberhasilan UMK menerobos pasar modern tentu tak main–main, sebab persyaratannya pun rumit, karena itu harus terus didukung. </p>
<p>Upaya pemerintah dan badan usaha yang peduli atas kelangsungan UMK patut memperoleh acungan jempol. Gerakan pelaku pasar modern merangkul UMK boleh jadi sebuah kolaborasi yang memerlukan keseriusan dan kesinambungan. Oleh karena itu UMK bukan hanya butuh pendampingan yang dapat meyakinkan semua pihak namun juga keberpihakan secara nyata. Kenyataan ini menunjukkan dengan perdagangan ritel yang sehat akan mampu meningkatkan kapasitas ekonomi lokal. </p>
<p><em>Aid never reduce poverty</em> – bantuan tak akan pernah menurunkan kemiskinan. Untuk itu dibutuhkan peran utama pemerintah, dan atau komunitas untuk merasionalkan resiko usaha dengan menjamin legalitas (termasuk kualitas) dan kepastian bisnis (pasokan dan penjualan). Kemudian menjamin sustainable product (pasokan) ke pasar modern, baru setelah itu peran penjaminan modal dengan manfaatkan skema kemitraan atau CSR.</p>
<p>Pendekatan menarik telah dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan badan usaha yang peduli dalam memandang UMK sebagai organisme hidup. Untuk itu, Surabaya membuat terobosan untuk mengatasi permasalahan ekonomi dengan mengajak banyak pihak untuk bekerja sama. Skema Kemitraan Usaha Mikro dan Kecil merupakan upaya untuk memahami <em>positioning</em> dari masing–masing <em>stake holder</em>.</p>
<p>Di Surabaya, berdasarkan survei jumlah pelaku usaha mencapai 362.000 unit, yang 98,5 persennya berstatus mikro dan kecil. Pemkot Surabaya bukan hanya menggenjot program–program kerakyatan dengan keberpihakan yang bertujuan untuk dapat “mengurangi” pengeluaran keluarga. Namun juga program peningkatan kapasitas ekonomi rumah tangga yang dimulai dari tingkat kecamatan, lalu kelurahan, dan sampai ke RW.</p>
<p>”Sebagai pelopor pemberdayaan warga, perempuan paling hebat. Kalau sudah sukses, dia pasti mengajak tetangganya” ujar Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada acara Roadshow Pahlawan Ekonomi Surabaya.” UMK perempuan jadi embrio pemberdayaan ekonomi kampung. Produk mereka diharapkan menjadi pilihan utama warga. Mereka layak menyandang predikat pahlawan yang dibutuhkan masa kini. Pahlawan untuk memerangi kemiskinan. </p>
<p>Hal terpenting dalam program pemberdayaan kaum perempuan melalui pengembangan UMK, adalah memotivasi perempuan agar lebih mandiri. Dengan cara demikian, perempuan tetap bisa ikut mendongkrak ekonomi keluarga meski bekerja dari rumah. Pada 2010, program Pahlawan Ekonomi akan membina tiga UMK dari 31 kecamatan. Tahun 2011, diharapkan setiap Kelurahan harus memiliki minimal tiga unit UMK. Dan 2012, masing–masing RW akan mempunyai tiga buah UMK unggulan.  </p>
<p>Surabaya mempunyai contoh keberhasilan penanganan UMK komunitas perempuan. Saat itu, udang dapat dijual Rp15 ribu per kilogram, lalu masih bisa Rp10 ribu dan hari–hari panen tinggal Rp3 ribu. Dari kasus ini, tampak dilema yang dihadapi dan seolah tak berujung. Dijual mentah harga cenderung turun drastis saat “panen”. Kata kuncinya keberpihakan terhadap usaha berbasis komunitas atau kelompok.</p>
<p>Kini, produk yang dihasilkan komunitas isteri nelayan Surabaya tersebut kini telah mendapatkan akses ke pasar modern. Produknya setahun telah berkembang menjadi belasan. Peningkatan daya beli dan perubahan penampilan telah mendorong keyakinan mengembangkan program perempuan sebagai pahlawan ekonomi. Di mana setiap peserta program diharapkan dapat mengelola usaha, mengembangkan jaringan, dan membuka pasar. Gerakan ini sangat jelas, industri ritel harus memberikan keberpihakannya, dan menyerahkan pertumbuhannya pada perempuan. Semoga! (don@enciety.com)</p>
<p><em>*) Don Rozano Sigit Prakoeswa, GM enciety Business Consult</em></p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 29 Desember 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/12/perempuan-pahlawan-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2011: Consumer Demand</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/12/2011-consumer-demand/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/12/2011-consumer-demand/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 02:15:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Bagaimanakah bisnis ritel tahun depan? Semakin cerah. Pertumbuhannya bisa lebih baik ketimbang tahun ini. Ada banyak hal yang membuat optimisme itu mencuat. Setelah 2009, pertumbuhan ritel mengalami kontraksi akibat dampak krisis ekonomi global, pertumbuhan ritel sampai Oktober 2010 saja sudah mencapai 2 (dua) digit, 12 persen.
Industri ritel nasional sudah tumbuh lebih cepat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Bagaimanakah bisnis ritel tahun depan? Semakin cerah. Pertumbuhannya bisa lebih baik ketimbang tahun ini. Ada banyak hal yang membuat optimisme itu mencuat. Setelah 2009, pertumbuhan ritel mengalami kontraksi akibat dampak krisis ekonomi global, pertumbuhan ritel sampai Oktober 2010 saja sudah mencapai 2 (dua) digit, 12 persen.<span id="more-725"></span></p>
<p class="textboxleft">Industri ritel nasional sudah tumbuh lebih cepat, namun dibutuhkan inovasi dalam interaksi dengan konsumen untuk kesinambungan</p>
<p>Hasil survei Nielsen menunjukkan, nilai transaksi pedagang ritel 2009 mencapai Rp 108,069 triliun. Dan, per Oktober 2010, transaksi ritel sudah mencapai Rp 120,192 triliun. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di atas 6 persen, bahkan ADB memperkirakan 6,3 persen, makin menopang optimisme itu. Ditambah lagi, pendapatan per kapita Indonesia mencapai lebih dari US$3,500. Sehingga, bisnis ritel tahun depan bisa tumbuh 13 persen atau bahkan 15 persen.</p>
<p>Kendati demikian, yang tetap harus diwaspadai adalah cara pemasarannya. Peritel tidak bisa lagi memakai cara pemasaran lama, seperti hanya sekedar beriklan dan promosi diskon harga. Teknik penggarapan pasar ini akan menjadi faktor penentu karena cara permintaan konsumen sudah berubah dari sekadar memperoleh informasi dari media cetak, kini telah bercampur dengan informasi yang diperoleh melalui <em>social media </em>(facebok, twitter, blog). </p>
<p>Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap berbelanja adalah hiburan baik bersama keluarga maupun yang terkasih atau dengan teman. Karena itu, memahami teknologi informasi akan turut mendorong revolusi konsumen, dengan senantiasa membangun visi di sekitar kebutuhan konsumen yang dinamis. Yaitu, diyakini konsumenlah yang menjadi penentu utama arah pengembangan bisnis termasuk ritel.</p>
<p>Inilah yang menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para manajer bisnis ritel di Indonesia. Kita berada di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang positif di kawasan Asia Timur yang eksotik, yang tengah mengubah fase pemulihan krisis menjadi pertumbuhan berkelanjutan. Namun ternyata banyak di antara manajer bisnis yang hanya mendapatkan kinerja yang moderat, dalam dua tahun akhir. </p>
<p>Penjualan produk dan <em>brand</em> memang meningkat tapi tidak memenuhi ekspektasi, pertumbuhan organik toko juga tipis. Dalam kondisi demikian, akan sangat mudah menuding konsumen kehilangan daya beli. Kompetitor dituduh menjalankan strategi perang harga. Dan, pemerintah dikatakan senang menggelontorkan barang–barang impor. <em>Oversupply</em> dan <em>complex demand</em> adalah akar perubahan ini. </p>
<p>Di dalam proses mencoba mengerti konsumen, kita selalu berpikir telah mengenalnya. Padahal, kadang tidak demikian adanya. Kita merasa durian selalu kuning warnanya. Benar? Persisnya kan tidak, lantaran ada durian berwarna merah. Karena itu penting mencermati perubahan perilaku konsumen di Indonesia. Kendati negara berkembang, tetapi gaya hidup digital (<em>digital lifestyle</em>) telah menguasai masyarakat kita.</p>
<p>Mulai dari tukang bakso hingga pengusaha besar, akrab dengan dunia digital. Perkembangan teknologi telekomunikasi yang sangat cepat, mendorong perilaku ini. Facebook, twitter, <em>browsing</em>, <em>chatting</em> sudah menjadi keseharian. Melalui internet, masyarakat bertukar gambar dan <em>fashion</em>. Informasi <em>real time</em> sudah menjadi oksigen konsumen dan pertukaran ide melalui jejaring sosial menjadi infus. Fenomena ini telah memperkenalkan<em> the new social currency</em>. </p>
<p>Fenomena ini berpadu dengan fakta peningkatan pendapatan per kapita telah mendorong pertumbuhan penjualan <em>consumer electronic</em>, sepeda motor, dan mobil lebih tinggi dari <em>consumer goods</em>. Sehingga kini, orang akan lebih memilih membeli pulsa ketimbang membeli permen. Demikian juga ketika Lebaran lalu penjualan sirup, biskuit, dan pakaian tidaklah meningkat tajam seperti tahun–tahun sebelumnya. </p>
<p>Apakah konsumen Indonesia memang tidak berbelanja saat Lebaran? Oh tunggu dulu. Penjualan netbook mencapai 12 ribu buah hanya dalam waktu tiga minggu. Pada kuartal ketiga 2010 itu, penjualan <em>smartphone</em> meningkat hingga 78 persen. Pada tahun depan fenomena gaya hidup digital dan peningkatan pendapatan per kapita ini akan terus terjadi, dan makin meningkat. Kita akan terus terkejut jika tidak mengikutinya. Gerakan demokrasi merek konsumen ini sudah sangat nyata, pemasar sudah harus memberikan kemerdekaan, dan menyerahkan kontrol kepada konsumen. (don@enciety.com)</p>
<p><strong>*) Yongky Surya Susilo, Director Retailer Services The Nielsen Indonesia</strong> </p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 14 Desember 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/12/2011-consumer-demand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaatkanlah Budaya Belanja Sembari Rekreasi</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/11/manfaatkanlah-budaya-belanja-sembari-rekreasi/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/11/manfaatkanlah-budaya-belanja-sembari-rekreasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 01:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Di hari apakah pusat perbelanjaan atau mal lebih ramai dibanding hari–hari lainnya? Jawabannya adalah di akhir pekan dan hari libur. Di hari–hari tersebut, kalau Anda cermati sering serombongan keluarga mendatangi mal–mal atau pusat perbelanjaan. Dengan membawa keluarga yang lengkap, jelas mereka bukan sekadar menjadikan tempat itu sebagai ajang berbelanja barang. Mereka juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Di hari apakah pusat perbelanjaan atau mal lebih ramai dibanding hari–hari lainnya? Jawabannya adalah di akhir pekan dan hari libur. Di hari–hari tersebut, kalau Anda cermati sering serombongan keluarga mendatangi mal–mal atau pusat perbelanjaan. Dengan membawa keluarga yang lengkap, jelas mereka bukan sekadar menjadikan tempat itu sebagai ajang berbelanja barang. Mereka juga datang untuk berekreasi. Di Indonesia, berbelanja adalah rekreasi.<span id="more-724"></span></p>
<p class="textboxleft">Industri ritel nasional seharusnya dapat memanfaatkan gaya hidup konsumen, dengan mempersiapkan penawaran yang menarik panca indera</p>
<p>Bagi orang Indonesia, rekreasi bukan hanya pergi berwisata alam, berkemah, mendaki gunung, <em>rafting</em> atau kegiatan wisata lainnya. Tidak heran jika, keluarga Indonesia gemar menjadwalkan belanja bulanan atau mingguan pada akhir pekan. Inilah kultur orang–orang Asia pada umumnya. Berbelanja menjadi bagian dari melepas kepenatan dari pekerjaan sehari–hari. Berbelanja memberi kesenangan bagi keluarga Asia, termasuk keluarga Indonesia.</p>
<p>Dari survei yang dilakukan oleh enciety Business Consult di kota–kota besar di Indonesia, hanya sekitar 25 persen yang tidak gemar jalan–jalan atau belanja di mal. Di mana, kemungkinan keluarga yang tadinya hanya sekedar jalan–jalan dan kemudian berbelanja cukup tinggi. Cuma 12,5 persen keluarga Indonesia yang hanya jalan–jalan.</p>
<p>Dengan kegemaran semacam ini, tidaklah masalah jika di akhir pekan atau hari libur terjadi antrean panjang para pembelanja di kasir hipermarket atau supermarket. Karena yang mengantre hanya salah satu anggota keluarga. Sedangkan anggota keluarga lainnya sering menunggu sembari duduk–duduk di dekat pintu kasir. Mereka kerap mendatangi toko atau kios yang ada di depan kasir hipermarket tersebut.</p>
<p>Bagi peritel yang ada di depan kasir atau bahkan kios yang berada di sekitarnya, tentu <em>traffic</em> yang tinggi tersebut haruslah dapat dimanfaatkan. Karena peluang pasarnya bukan sekedar dari anggota keluarga yang menunggu, bahkan juga para Ibu yang baru menyelesaikan urusan pembayaran tersebut sering kali tidak langsung pulang. Hanya saja, para pembelanja itu datang untuk rekreasi, maka mereka tentu berharap menjalaninya benar–benar menyenangkan. </p>
<p>Dengan demikian tempat belanja haruslah mempunyai faktor rekreasi atau hiburan yang memberi pengalaman bagi panca indera konsumen. Para peritel harus dapat menarik perhatian dengan memperhatikan tata letak produk jualannya dengan susunan warna–warni yang serasi. Keindahan em>merchandising</em> pun perlu diperhatikan dengan atmosfer yang menggugah, sehingga bisa menstimulasi adrenalin belanja.</p>
<p>Bagi yang berjualan tas kulit perlu untuk selalu menyediakan produk baru sehingga aroma khas kulit bisa tercium konsumen. Bagi yang berjualan roti, ada baiknya memilih bahan baku yang menggoda, sensasi aroma roti yang tengah dipanggang. Jangan lupa untuk menyediakan contoh untuk icip–icip. Mencicipi makanan adalah bagian dari rekreasi. Jika perlu, adakan demonstrasi cara pembuatan masakan atau jajanan.</p>
<p>Bagi yang berjualan pakaian, izinkanlah konsumen untuk dapat menyentuh halusnya kain, mencermati motif–motifnya, serta mencoba pakaian tersebut di tubuh mereka. Bagi yang berjualan produk audio visual, ada baiknya untuk menyediakan tempat bagi pembelanja untuk menjalankan rekreasi pendengaran dengan musik yang membuat hati tenang atau bahkan yang mengundang sensasi luar biasa.</p>
<p>Di sisi lain, keinginan para pembelanja untuk rekreasi juga bisa menjadi peluang tersendiri. Bisnis tempat bermain anak bisa dibuka di dekat kasir hipermarket. Ketika para orang tua berbelanja, sang anak bisa bermain sepuasnya di <em>playground</em>. Kecermatan untuk memanfaatkan peluang dan kegigihan untuk menyajikan sesuatu yang baru atau bahkan memainkan unsur kejutan merupakan kunci kesuksesan.</p>
<p>Tentu saja banyak peluang bisnis lain yang bisa ditangkap sejalan dengan keinginan rekreasi konsumen tersebut. Membuka tempat ngopi tak jauh dari kasir toko modern dengan fasilitas <em>wifi</em>, tempat penitipan anak, toko perlengkapan <em>gadget</em>, atau malah jasa cenayang. Perlu diingat pula, pusat perbelanjaan kini telah menjadi tempat mengekspresikan gaya hidup dan tempat meleburnya budaya. Fenomena ini akan terus berlanjut, karena diperkirakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan terus meningkat, sehingga jumlah kelas menengah pun semakin bertambah. (don@enciety.com)</p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 23 November 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/11/manfaatkanlah-budaya-belanja-sembari-rekreasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Value dan Mengejar Traffic</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/11/membangun-value-dan-mengejar-traffic/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/11/membangun-value-dan-mengejar-traffic/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 01:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=723</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Ritel modern di Indonesia dimulai sejak 1970. Namun perkembangan yang luar biasa justru sepuluh tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung positif menjadi faktor utama mendorong pesatnya industri ritel di Tanah Air. Potensi besarnya jumlah penduduk Indonesia juga tak dapat diabaikan. Faktor–faktor inilah yang membuat masuknya investasi baru dalam industri ini. 
Industri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Ritel modern di Indonesia dimulai sejak 1970. Namun perkembangan yang luar biasa justru sepuluh tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung positif menjadi faktor utama mendorong pesatnya industri ritel di Tanah Air. Potensi besarnya jumlah penduduk Indonesia juga tak dapat diabaikan. Faktor–faktor inilah yang membuat masuknya investasi baru dalam industri ini. <span id="more-723"></span></p>
<p class="textboxleft">Industri ritel nasional masih tumbuh namun tidaklah secepat sebelumnya, dibutuhkan upaya berkesinambungan membangun value konsumen.</p>
<p>Bisnis ritel menuntut pergerakan yang sangat cepat. Produk–produk baru yang bermunculan harus segera dijual. Walaupun ukuran atau besaran volume bisnis sering menjadi penentu dalam memenangkan persaingan, tetapi kini hal itu bukanlah segalanya. Kegagalan &#8220;pemain&#8221; ritel besar dan bahkan raja ritel lokal dapat jadi acuan.</p>
<p>Saat peluncuran Retail Rules, Yongky Surya Susilo memberi gambaran kepada peritel bagaimana mengasah kemampuan membaca keinginan konsumen, kecepatan mengantisipasi perubahan atau dalam memberikan penawaran yang menarik. Di samping itu, ketepatan dalam operasional, hingga kreativitas dalam diferensiasi bisnis, bisa menjadi kunci sukses peritel. Sudah saatnya industri ini berani keluar dari keberhasilan sebelumnya. </p>
<p>Sampai saat ini, bisnis ritel modern masih identik dengan program–program diskon. Mereka merasa harus menerapkan program itu demi menggaet pelanggan dan memperbesar omzet meski harus tergerus marjinnya. Industri ritel merupakan bisnis yang bermain di marjin tipis. Sehingga, jika peritel hanya bermain diskon untuk menggaet pelanggan maka imbasnya margin yang diperoleh makin tipis. Sehingga seharusnya membangun <em>value</em>, bukan hanya diskon.</p>
<p>Membangun <em>value</em> atau nilai bisa terus dikembangkan oleh peritel dengan lebih memperhatikan aspek layanan ke pelanggan. Pengembangan <em>value</em> bisa melalui sistem <em>delivery</em> barang ke rumah–rumah pelanggan bagi yang berbelanja toko ritel. Atau bahkan pemesanan dapat pula dilakukan melalui telepon, terutama untuk barang–barang kebutuhan keluarga harian yang sudah dikenal kualitas dan ukuran serta harganya. </p>
<p><em>Value</em> bisa juga dengan memberikan perhatian atau <em>follow up </em>bagi pelanggan yang telah membeli produk. Bisa dilakukan dengan cara mengontak kembali pelanggan, menanyakan produk yang telah dibelinya apakah sesuai harapan, memberikan informasi terkini yang relevan. Untuk itu dapat peritel memanfaatkan <em>digital lifestyle</em> yang berkembang luar biasa. Generasi <em>Information Technology literate and adopters</em> tumbuh signifikan. </p>
<p>Untuk men–<em>deliver value</em>, peritel sudah seharusnya membangun basis data pelanggan. Melalui penerbitan kartu “belanja” yang bukan lagi dipandang sebagai <em>cost center</em> melainkan <em>profit center</em>. Karena bukan saja sekedar dapat menangkap profil namun juga bisa menangkap kebiasaan berbelanja. Sehingga kecepatan pertumbuhan <em>smart phone</em> dan <em>ipad</em> dapat dimanfaatkan peritel yang cerdas. </p>
<p>Konsumen juga makin menginginkan informasi dengan cara interaksi, bukan searah. Serta sangat memperhatikan komentar dan saran dari ”anggota” komunitasnya. Dibutuhkan bukan sekedar teknologi namun juga inovasi dan kreativitas dalam melayani konsumen, termasuk menambahkan basis data yang relevan untuk menangkap keinginan konsumen. Inilah peluang yang tak berkesudahan. </p>
<p>Ritel tahun ini dipastikan mengalami pertumbuhan lebih baik dari 2009 namun belum sebaik 2008. Tahun depan dengan ditopang penambahan gerai–gerai, diperkirakan tumbuh 13–15 persen. Di samping membangun basis data, penambahan gerai tersebut bisa menjadi peluang bisnis. Seperti pemilihan lokasi toko yang tak jauh dari kasir hipermarket, karena memiliki <em>traffic</em> yang cukup tinggi.</p>
<p>Perlu diingat bahwa dalam konsep ritel, sering dikatakan faktor strategis adalah 3L, yaitu lokasi, lokasi, dan lokasi. Karena itu, pemilik toko harus pandai memilih lokasi yang bisa mendatangkan <em>traffic</em> sehingga <em>impulse buying</em> bisa terjadi. Untuk membangun <em>value</em> dan mengejar <em>traffic</em> dibutuhkan faktor kepemimpinan yang mampu menangkap dinamika pasar yang luar biasa. Karena melalui kepemimpinan diharapkan bisa membawa timnya untuk terus berubah, berbagi mimpi, membangun manusianya, atau menyatukan intuisi dengan teknologi. (don@enciety.com)</p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</p>
<p><em>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 9 November 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/11/membangun-value-dan-mengejar-traffic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Besar Ritel Kini Bernama Konsumen</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/10/guru-besar-ritel-kini-bernama-konsumen/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/10/guru-besar-ritel-kini-bernama-konsumen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 01:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Ada satu hal yang disetujui semua peritel saat ini: konsumen semakin tidak sabaran, kian menuntut, dan makin susah digapai. Hal ini membuat semua teori dan trik berjualan pemasaran yang selama ini ampuh, terlihat tumpul. Akibatnya, walau industrinya masih tumbuh, banyak kinerja bisnis peritel yang menurun. Dalam kondisi semacam itu, sering yang disalahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Ada satu hal yang disetujui semua peritel saat ini: konsumen semakin tidak sabaran, kian menuntut, dan makin susah digapai. Hal ini membuat semua teori dan trik berjualan pemasaran yang selama ini ampuh, terlihat tumpul. Akibatnya, walau industrinya masih tumbuh, banyak kinerja bisnis peritel yang menurun. Dalam kondisi semacam itu, sering yang disalahkan adalah peraturan, karena dinilai tak memberikan proteksi atau sandaran.<span id="more-720"></span></p>
<p class="textboxleft">Dinamika persaingan di industri ritel telah mendorong transformasi organisasi menjadi makin modern dan berorientasi pada konsumen.</p>
<p>Tetapi ada yang memilih mencari tahu apa yang sedang terjadi pasar di zaman yang kini serba sarat perubahan tersebut.  Mereka ingin tahu kira–kira seperti apa masa depan. Mereka tekun mempelajari perubahan, dan mencoba mengantisipasi dengan membuat solusi baru bagi pasar esok. Ada yang berhasil, ada yang tetap berusaha.</p>
<p>Ternyata memang ada perubahan perilaku yang sangat mendasar. Dahulu para pelaku pasar adalah guru. Mereka yang mengajari konsumen bagaimana mendengarkan musik melalui piringan hitam dan tape recorder. Mengajari konsumen berkomunikasi jarak jauh dengan prangko dan telegram. Ada pula ajaran secara temurun agar berbagi di hari bahagia dengan minuman sirup dan biskuit.</p>
<p>Kini pembelajaran itu sudah <em>obsolete</em>. Mereka yang masih menganggap bahwa pelaku pasar adalah gurunya konsumen, akan menelan pil pahit. Guru besar ritel saat ini adalah konsumen. Konsumenlah yang mengajari kita bahwa mendengarkan musik harus berkualitas suara tinggi, praktis, cepat, kapan saja dan bisa di mana saja. Mereka mengajarkan bahwa berkomunikasi harus murah, dua arah, dengan gambar dan video, di mana saja dan kapan saja.</p>
<p>Lalu, mereka mengajari bahwa untuk berbagi di hari bahagia tidak lagi dengan makanan dan minuman sedap, tetapi dengan produk yang memberikan <em>the new social currency</em>. Karena itu, untuk para peritel dinamis, ikutilah kuliah konsumen di lapangan. Jangan sungkan bertanya pada guru besar ritel ini. Pahami ajarannya. Kerjakanlah pekerjaan rumah yang diberikan. Ambillah ujian untuk membuktikan Anda sudah paham.</p>
<p>Mereka yang sering bolos kuliah dan tak rajin membaca ajaran baru itu, sudah bisa dipastikan bakal gagal. Yang gagal tak bisa minta ajaran dan kurikulum diubah, atau dosennya diganti. Tak akan ada kesempatan berikutnya. Sedangkan bintang kelas yang muncul adalah peserta kuliah yang <em>passion</em> terhadap pelajaran pasar ini, dan memiliki tujuan untuk menjadi <em>leader of the market place</em>.</p>
<p>Peritel besar atau kecil, berpengalaman panjang atau pendek, berfinansial kuat atau lemah, kini bukan menjadi faktor penentu menjadi <em>leader of the market</em>.  Simak saja, kegagalan &#8220;pemain&#8221; global yang menarik diri dari sejumlah kota besar dan bahkan dari Indonesia. Lalu, raja ritel lokal di Jakarta dan Surabaya yang sangat mengenal pasarnya, banyak yang telah almarhum.</p>
<p>Banyak &#8220;pemain&#8221; raksasa dengan merek yang luar biasa tak dapat mempertahankan kepemimpinan market share.  Mengapa demikian? Struktur organisasi mereka secara tidak sadar hanya mengikuti kebiasaan, yang ternyata sudah <em>obsolete</em>. Sedangkan fokus dan cara berpikirnya masih pada kehebatan di masa lampau. Sudah lama mereka menggunakan kapak, tapi sering lupa mengasah.</p>
<p>Sang guru besar ritel setidaknya mengajarkan beberapa perubahan yang harus dipahami dan dibuatkan aksinya. Hal itu antara lain iklan melalui kampanye massal sudah tidak dipercaya. Membangun merek melalui <em>engagement</em> lebih mengena kepada konsumen. Saat ini konsumen tak dapat dikontrol. Konsumenlah yang mengontrol karenanya dibutuhkan transformasi nyata dalam industri ini.</p>
<p>Konsumen juga menginginkan informasi dengan cara interaksi, bukan searah. Karena konsumen adalah bos perusahaan, maka layanilah mereka. Inovasi dan kreativitas adalah bahan bakar bagi usaha masa mendatang. Ikutkan konsumen dalam pembuatan ”peraturan”agar tak cepat kadaluwarsa dan memiliki perspektif keadilan. Riset membuat peritel akan selalu terhubung dengan konsumen dan pasar. Peritel pun harus membangun infrastruktur berbasis teknologi informasi untuk merealisasi kemampuan menangkap keinginan guru besar ritel. (don@enciety.com)</p>
<p>*) Yongky Surya Susilo, Director Retailer Service The Nielsen Indonesia</p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 19 Oktober 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/10/guru-besar-ritel-kini-bernama-konsumen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Consumer Confidence Index</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/10/consumer-confidence-index-6/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/10/consumer-confidence-index-6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Oct 2010 03:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://enciety.com/wp-content/uploads/2011/06/IKK_Juni2011.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/10/consumer-confidence-index-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Toko Tradisional Tetap Dapat Berkembang</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/10/toko-tradisional-tetap-dapat-berkembang/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/10/toko-tradisional-tetap-dapat-berkembang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 01:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=718</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Warga Perumahan Sukatani Permai, Tapos Depok memanggilnya Engkok. Hanya sedikit yang tahu nama aslinya. Si Engkok ini memiliki toko kelontong yang biasa disebut dengan Warung Engkok. Warungnya ini menjual berbagai kebutuhan sehari–hari mulai dari beras, minyak goreng, terigu, sabun, kopi, gula hingga permen. Warung Engkok sebenarnya tak beda jauh dengan toko kelontong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Warga Perumahan Sukatani Permai, Tapos Depok memanggilnya Engkok. Hanya sedikit yang tahu nama aslinya. Si Engkok ini memiliki toko kelontong yang biasa disebut dengan Warung Engkok. Warungnya ini menjual berbagai kebutuhan sehari–hari mulai dari beras, minyak goreng, terigu, sabun, kopi, gula hingga permen. Warung Engkok sebenarnya tak beda jauh dengan toko kelontong lainnya yakni mengambil bagian depan rumah pemiliknya.<span id="more-718"></span></p>
<p class="textboxleft">Untuk mendorong optimisme peritel tradisional, perlu didukung dengan ketersediaan pusat distribusi atau kemitraan dengan ritel modern.</p>
<p>Pembeli di warung ini datang silih berganti, dan tak jarang harus mengantre, begitu warung dibuka. Warung ini seperti tak terpengaruh oleh kehadiran dua minimarket ternama di perumahan yang sama. Alasan pembeli datang ke warung Engkok adalah harganya yang murah. Bahkan, adakalanya untuk beberapa item barang, harganya lebih murah ketimbang di toko modern. Setidaknya, harganya relatif bersaing dengan harga–harga di minimarket.</p>
<p>Tetapi harga bukan menjadi satu-satunya alasan. Dalam melayani, si Engkok yang dibantu istri dan adiknya, memperhatikan perubahan perilaku konsumen, dengan memperkenankan pembeli mengambil barang yang diinginkan secara swalayan dan melayani <em>delivery order</em> untuk pembelian minimal Rp200 ribu. Tiap lebaran, si Engkok selalu mengirim parcel sederhana bagi para pelanggan setianya.</p>
<p>Harga barang di Warung Engkok bisa berkompetisi, karena pemiliknya menerapkan prinsip gotong royong. Melalui jalinan kerjasama dengan sejumlah pemilik toko kelontong lainnya, yang beberapa di antaranya masih memiliki hubungan keluarga, ketika kulakan dagangan. Dengan demikian, harga yang didapat pun bisa lebih <em>miring</em>. </p>
<p>Si Engkok juga rajin berburu barang–barang di hipermarket yang lagi didiskon dengan persentase besar. Jika dicermati, boleh dibilang Si Engkok memadukan pengelolaan warung tradisional dengan manajemen ritel modern. Dia melakukan efisiensi distribusi barang dengan membentuk jaringan dan komunitas warung kelontong, dan terus berupaya menjaga kepuasan pelanggannya. </p>
<p>Tentu saja tidak semua warung kelontong mampu melakukan hal tersebut. Banyak warung kelontong yang hanya menjalankan usaha seperti sebelumnya, sehingga tak berkembang dan bahkan bangkrut. Mereka bukan hanya harus bersaing dengan minimarket, tetapi juga dengan warung kelontong lainnya. Perlu diingat bahwa pendirian toko tradisional sangat &#8220;mudah&#8221;. Tak perlu izin yang <em>njlimet</em>.  </p>
<p>Karena itu, dibutuhkan suatu pemberdayaan yang cerdas agar toko tradisional tetap dapat berkembang dan berdampingan dengan ritel modern. Kelemahan utama ritel tradisional memang adalah sulitnya mendapatkan akses produk dari barang yang dijual dengan harga yang kompetitif sehingga sulit untuk menurunkan harga, serta manajemen yang masih bersifat &#8220;kekeluargaan&#8221;. </p>
<p>Dari sisi potensi, toko tradisional tetap bisa berkembang di Indonesia. Berdasarkan data AC Nielsen, frekuensi belanja rata–rata kunjungan kita dalam satu bulan ke toko tradisional merupakan tertinggi di Asia. Saat ini, toko tradisional masih mendominasi jumlah toko ritel di Indonesia, yakni lebih dari 99 persen dan masih yang paling sering dikunjungi oleh konsumen di Tanah Air dibandingkan ritel modern.</p>
<p>Toko tradisional masih menunjukkan pilihan utama sebagai tempat belanja barang–barang sehari–hari dan kebutuhan pokok, terutama produk–produk segar yang merupakan lebih dari 50 persen belanja bulanan konsumen. <em>Positioning</em> ini seharusnya dapat pula dimanfaatkan untuk meraih pangsa pasar dari barang–barang pabrikan / <em>grocery</em> tentunya dengan harga yang masih bersaing.</p>
<p>Toko tradisional masih bisa berkembang dan bersaing, jika memiliki pusat distribusi atau kemitraan dengan ritel modern. Dengan demikian, volume pembelian bisa lebih besar dan harga dapat lebih murah. Apalagi jika pusat distribusi atau kemitraan tersebut bisa melakukan perjanjian kerjasama yang makin menguntungkan. Kerjasama ini harus dikelola oleh koperasi atau komunitas yang didirikan toko–toko tradisional. Tentu saja, perlu keberpihakan yang cerdas dari pemerintah daerah agar bisa terealisasi. Semoga&#8230; (don@enciety.com)</p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 5 Oktober 2010 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/10/toko-tradisional-tetap-dapat-berkembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Living in Harmony</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/09/living-in-harmony-2/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/09/living-in-harmony-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 01:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Warung kelontong berdiri berderet-deret hampir di sepanjang pantai utara Jawa, khususnya mulai dari Pekalongan hingga Cikampek, setiap waktu Lebaran. Bukan hanya di tempat khusus peristirahatan, hampir semua warung dipadati pemudik yang ingin beristirahat sembari ngopi dan membeli jajanan kue kering maupun basah. Tak terkecuali yang berdiri dekat toko ritel modern. 
Peritel seharusnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Warung kelontong berdiri berderet-deret hampir di sepanjang pantai utara Jawa, khususnya mulai dari Pekalongan hingga Cikampek, setiap waktu Lebaran. Bukan hanya di tempat khusus peristirahatan, hampir semua warung dipadati pemudik yang ingin beristirahat sembari <em>ngopi</em> dan membeli jajanan kue kering maupun basah. Tak terkecuali yang berdiri dekat toko ritel modern. <span id="more-717"></span></p>
<p class="textboxleft">Peritel seharusnya dapat memanfaatkan kebiasaan lebih dari 50 persen responden perempuan, mencari informasi diskon sebelum belanja</p>
<p>Pasar–pasar tradisional juga terlihat menggeliat, aktivitasnya sering membuat macet jalanan, yang kemudian memunculkan istilah pasar tumpah. Tentu kita tak membahas soal kemacetan di jalur mudik dan balik Lebaran. Kita melihat dalam nuansa Lebaran, bisnis ritel tradisional dan modern dapat hidup berdampingan.</p>
<p>Apakah kehidupan yang harmonis tersebut, bisa terjadi di luar suasana Lebaran? Apabila berkunjung ke pasar tradisional, sering terlihat <em>department store</em> atau bahkan supermarket berada di dalamnya. Sejauh ini, mereka bisa hidup berdampingan dalam satu wadah. Dan tidak jarang pula, saat digandengkan justru para pedagang tradisional yang menempati lantai bawah memiliki jumlah transaksi yang tampak lebih &#8220;menggairahkan&#8221;.</p>
<p>Pasar tradisional tetap mempunyai kekuatan dalam menjual barang–barang segar, seperti sayur–mayur, buah–buahan, daging, telur, serta beras dan gula. Di sisi lain, saat ini konsumen memang kian menuntut kepraktisan dan keunggulan. Mereka menginginkan barang–barang konsumsi yang bersih, modern, suplai yang terjaga, dan informasi diskon harga yang didapatkannya sebelum belanja.</p>
<p>Untuk itu, toko modern maupun tradisional butuh &#8220;disegarkan&#8221;, terutama terkait manajemen konsumennya. Pembeli terbesar industri ritel di kota – kota utama, ibu–ibu rumah tangga mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk mencari informasi terkait diskon harga. Di mana, mereka cenderung mencari informasi di brosur, koran, dan disusul di tempat belanja. </p>
<p>Dengan &#8220;penyegaran&#8221; tersebut, diharapkan peritel juga bisa keluar dari kotak kebiasaan semata. Sehingga saat pasar tradisional direvitalisasi, para pengelola dan pedagang pasar harus yakin dapat menjadi rujukan utama masyarakat. Bukan hanya dapat menjadi pusat distribusi barang–barang konsumsi sebelum bergerak ke toko–toko, namun juga dapat saling melengkapi. </p>
<p>Toko–toko tradisional pun, berpotensi menjadi ritel modern. Tidak perlu kehilangan inisiatif lokal seperti minimarket dengan merek tertentu yang kini banyak bertebaran. Mereka bisa membangun <em>brand</em> tersendiri secara bersama–sama, sehingga kapasitas ekonominya memadai.  Dan tentu saja manajemennya harus dibenahi, dengan terapkan model swalayan misalnya.</p>
<p>Peritel modern dan tradisional memang diyakini berpeluang bisa membangun kerja sama, jika saja kedua belah pihak dapat duduk bersama untuk membahasnya. Pedagang tradisional dapat mempelajari dan menerapkan sistem manajemen ritel modern tanpa harus kehilangan kepemilikannya. Realisasi kerja sama tersebut akan menguntungkan kedua pihak dan juga konsumennya.</p>
<p>Untuk mendukung kerja sama tersebut diperlukan kesungguhan semua pihak, termasuk Pemerintah Pusat dan Daerah. Program revitalisasi pasar tradisional, tidak boleh hanya berhenti pada pembenahan infrastruktur saja namun juga harus menyentuh aspek manajemen. Oleh karenanya dibutuhkan manajemen ritel modern yang mau berbagi dan tumbuh bersama.</p>
<p>Keinginan akan kemitraan ini bukanlah hal yang baru. Sinergi ritel modern dan tradisional yang bergerak modern dengan kepemilikan yang tetap, diyakini akan memberikan dampak positif bagi iklim usaha. Bahkan bukanlah tidak mungkin jika pasar digandengkan dengan hipermarket, selama dapat disepakati jenis barang yang dijual. Atau bahkan toko–toko kelontong dapat dipasok oleh hipermarket. Keinginan akan Indonesia yang lebih baik dapat mendorong keyakinan hidup bersama secara harmonis. Semoga&#8230; (don@enciety.com)</p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</p>
<p>Dimuat : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 21 September 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/09/living-in-harmony-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Bekerja di Industri Ritel</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/09/mari-bekerja-di-industri-ritel/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/09/mari-bekerja-di-industri-ritel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 03:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Industri ritel terbukti mampu bertahan dari badai krisis. Ketika krisis ekonomi terjadi, bisnis ini masih mampu tumbuh positif. Tahun ini pun industri ini diprediksi mampu tumbuh antara 9 persen hingga 15 persen. Dengan kontribusi dalam penggunaan PDRB di atas 60 persen, dan proporsi tenaga kerja sekitar 35 persen, sektor ini terus merangkak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Industri ritel terbukti mampu bertahan dari badai krisis. Ketika krisis ekonomi terjadi, bisnis ini masih mampu tumbuh positif. Tahun ini pun industri ini diprediksi mampu tumbuh antara 9 persen hingga 15 persen. Dengan kontribusi dalam penggunaan PDRB di atas 60 persen, dan proporsi tenaga kerja sekitar 35 persen, sektor ini terus merangkak dan berkembang.<span id="more-714"></span></p>
<p>Hingga saat ini, perdagangan ritel tetap bisa menjadi tumpuan harapan sebagai penggerak utama ekonomi Indonesia, bersama dengan otomotif dan <em>consumer electronics</em>. Salah satu yang turut mendorongnya, adalah perubahan gaya hidup masyarakat yang kian memerlukan kenyamanan, memicu berkembangnya industri modern.</p>
<p class="textboxleft">Tren pertumbuhan industri ritel seharusnya dapat menjadi peluang untuk menyerap angkatan kerja usia muda yang tumbuh signifikan</p>
<p>Industri ritel yang terus berkembang itu makin menuntut saluran distribusi barang yang efektif dan efisien. Inilah yang menjadi faktor kunci keberhasilan pertumbuhan ritel modern. Keefektifan dan keefisienan distribusi itu selain membutuhkan teknologi yang handal, juga ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni  serta memadai. Secara kualitas, Indonesia tergolong masih kekurangan SDM di bidang ritel.  </p>
<p>Begitu luasnya industri ini, lebih dari 20 persen atau sekitar 2,2 juta angkatan kerja telah terserap di sektor ritel. Jumlah ini diharapkan dapat berkembang, terutama untuk menyerap pertumbuhan pengangguran angkatan kerja muda usia secara signifikan. Penyerapan kelompok usia 20–24 tahun sudah seharusnya menjadi prioritas bersama.  </p>
<p>Karena itu, kita harus makin mendorong industri modern ini bukan sekedar bekerja sama langsung dengan universitas/sekolah tinggi namun juga menyerap tenaga lulusan terbaik dari berbagai disiplin ilmu untuk menjalani program <em>management trainee</em> (MT). Program MT dimaksudkan untuk mendidik <em>fresh graduate</em> lulusan perguruan tinggi agar belajar bisnis ritel modern.</p>
<p>Idealnya program ini berlangsung dalam kurun waktu satu tahun. Namun pertumbuhan sebuah bisnis sering kali lebih cepat dari selesainya program, sehingga seringkali program ini pun tidak berjalan sebagaimana dengan waktu yang direncanakan. Jika perusahaan besar mampu menyediakan program MT bagaimana halnya dengan perusahaan ritel skala menengah dan kecil di daerah?</p>
<p>Peritel daerah terus tumbuh dan berkembang. Masing–masing daerah mempunyai <em>local champion</em>. Mereka mempunyai kemampuan untuk bersaing di bisnis ini, namun  kurang memiliki pengetahuan tentang bagaimana mendidik seorang <em>fresh graduate</em> untuk menjadi profesional di bisnis ritel. Mereka harus merekrut tenaga yang ada di pasar, meskipun tak semudah itu.</p>
<p>Besarnya jumlah pengangguran usia muda dan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai masih di bawah kebutuhan industri ritel, menggambarkan situasi paradoks. Sudah selayaknya perguruan tinggi dan bahkan sekolah menengah kejuruan melihat fenomena tersebut, dan menangkapnya sebagai peluang menyiapkan SDM yang mampu berkarir di daerah, nasional maupun internasional. </p>
<p>Integrasi ekonomi dunia mengharuskan standarisasi layanan ritel berikut dengan SDM–nya. Sudah selayaknya industri ritel daerah dan bahkan Perusahaan Daerah (PD) Pasar mentransformasikan bisnisnya menjadi modern dan bukan sekedar menarik rente ekonomi semata melalui peningkatan kualitas SDM. Masa transisi ini harus dipersiapkan cepat.</p>
<p>Dari sisi lain tampak bahwa peluang bekerja di industri ritel masih sangat terbuka. Bekerja di sektor ini juga punya kesempatan bagus untuk bisa menjadi manusia global. Hal ini semakin mendapatkan jalannya dengan kehadiran sejumlah peritel multi nasional. Peritel multi nasional saat ini, bukan sekedar mengirim SDM–nya ke gerai–gerainya di luar negeri untuk menimba pengalaman. Bahkan, komitmen salah seorang Presiden Direkturnya untuk mengembangkan SDM Indonesia untuk berkarir di luar negeri. (don@enciety.com)</p>
<p><em>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</em></p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 7 September 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/09/mari-bekerja-di-industri-ritel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Kresnayana Yahya : Kiat Menghadapi Globalisasi</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/08/inspirasi-kresnayana-yahya-kiat-menghadapi-globalisasi/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/08/inspirasi-kresnayana-yahya-kiat-menghadapi-globalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 07:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=711</guid>
		<description><![CDATA[Kresnayana Yahya Bagaimana kesiapan kita sebagai pribadi dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi era globalisasi? Hal Apa saja yang harus dipertahankan dan peluang apa yang belum kita manfaatkan? Ada dua hal yang penting diperhatikan. Pertama, meningkatkan efektifitas pada industri lokal dan berbahan baku lokal. Banyak bahan baku alam yang belum diolah dan dijadikan komoditi produk atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_right" style="width:150px;"><img src="http://enciety.com/files/2008/07/kresnayana1-150x150.jpg" alt="Kresnayana Yahya"  align="right"><br style="clear:both" /><span>Kresnayana Yahya</span></div> Bagaimana kesiapan kita sebagai pribadi dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi era globalisasi? Hal Apa saja yang harus dipertahankan dan peluang apa yang belum kita manfaatkan? Ada dua hal yang penting diperhatikan. Pertama, meningkatkan efektifitas pada industri lokal dan berbahan baku lokal. Banyak bahan baku alam yang belum diolah dan dijadikan komoditi produk atau <em>service</em> yang dapat memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Kedua, pada saat yang sama, harus memperbesar ekspansi pasar dan agresif. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi di banyak negara yang dapat mendorong peningkatan <em>supply</em> kita ke sana. Tentu harus ada yang mau melakukan studi dan melakukan sosialisasi terhadap informasi ini sehingga pebisnis lokal menjadi tahu. Informasi yang berkaitan tentang kebutuhan di luar negeri. Demikian sari pembuka inspirasi Kresnayana Yahya, 27 Agustus 2010, di Radio Suara Surabaya FM 100 dipandu oleh Restu Indah.</p>
<p>Menurut Kresnayana Yahya, ketahanan lokal ini dapat dicermati dari masih banyaknya ekspor bahan baku / bahan dasar. Perlu pengolahan satu tahap saja, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas industri dan meningkatkan <em>added value</em> dari sisi tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan luar negeri. Saat ini kita ekspor kopi, kakau dan barang tambang mentahan seperti butiran emas, nikel, mangan. Ada banyak potensi produk lokal, baik itu hasil pertanian dan pertambangan yang dijual tanpa ada sentuhan nilai tambah. </p>
<p>Meskipun kita paham bahwa ada persoalan serius dalam meningkatkan potensi lokal. Pertama, skala industri belum ekonomis. Kedua, belum ada investasi cukup untuk pengolahan dasar. Ketiga, belum tersedianya infrastruktur. Di sisi lain pasar global ini sudah terlanjur punya industri yang kuat, besar dan efesien. Misalnya kakau, negara yang tidak punya kebun, tapi punya kekuatan di <em>knowledge</em>-nya, memperoleh keuntungan. Industri kita menjadi susah bersaing padahal konsumen lokal kita juga besar. Pada titik ini sebetulnya, <em>added value </em>bisa dilakukan. Dengan memperkuat ketahanan lokal, kekuatan teknologi kita juga akan meningkat. Sehingga ini akan memberi aktivitas di dalam negeri lebih besar dan makin banyak mata rantai yang akan berpengaruh. Contoh lain soal rumput laut, seringkali dikatakan,”<em>you can supply, how much you can produce</em>”. Ini memberikan gambaran tentang banyak hal yang kita belum kuasai dan tidak diberi penjelasan. Padahal rumput laut ini jenis olahannya cukup banyak, menjadi produk makanan, kosmetik dan obat. Teknologi dan investasi kita belum cukup dan jikalau ada pabrik masih dalam skala kecil. </p>
<p>Apakah kita mampu membangun industri dalam skala besar? Saat ini kita belum punya BUMN dan BUMD unruk memperkuat pengolahan pangan. Kita belum memiliki perusahaan negara atau daerah yang mengolah bahan baku lokal sehingga menjadi kekuatan. Misalnya industri tepung dari ketela pohon atau umbi-umbian yang lain, industri bumbu dan sebagainya. Kalau itu semua digarap, ketahanan lokal kita akan luar biasa. Karena skala industri besar, maka negara musti terlibat. Hutan kita kalau dibangun program ketahanan pangan, kita bisa banyak menanam seperti empon-empon, ubi kayu. Kita mempertahankan hutannya, sekaligus humusnya bisa dipakai. Sesuatu yang dulu hanya dikelola swasta, sekarang ini negara perlu ikut mengelola. Pertumbuhan ketersediaan pangan lokal dibawah angka pertumbuhan penduduk, sepuluh tahun lagi akan serius. Masih banyak komoditi pangan kita impor seperti jagung, kedelai, gandum, bawang merah dan bawang putih. </p>
<p>Kebutuhan dunia pada <em>energy</em>, <em>water resources</em> dan <em>food</em> cukup tinggi. Khususnya pangan, diperlukan skala industri besar untuk memenuhinya. Skala industri makanan / pangan kecil memiliki potensi mati. Saatnya membangun ketahanan lokal dengan skala yang cocok. Misalnya, di Maluku dibangun pabrik sagu, Ambon industri pengalengan ikan, jadi ikan tidak diangkut saat masih mentah. Dengan kekuatan negara kepulauan ini, bisa dibangun industri yang memperkuat ketahanan lokal. Diharapkan skala industri ini menjadi efisien dengan pemanfaatan sumber daya lokal. Kita juga punya kesempatan mengembangkan kultur. </p>
<p>Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih belum berkualitas. Porsi lokal dalam ekonomi ini masih kurang. Kalau kita pakai telepon, 70 % lari ke luar, perbankan 30 &#8211; 40 % lari ke luar. Kita tidak melarang. Namun pertumbuhan ekonomi ini hendaknya diikuti pada tumbuhnya ekonomi di tingkat bawah. Informasi pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan penjalasan yang tuntas. Segala usaha harus ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan lokal. Perilaku kita yang <em>import minded</em>, juga ikut merusak. Di skala yang wajar, kita sebenarnya bisa makan pecel 8 ribu rupiah sudah enak dan lengkap gizinya, namun lebih memilih roti impor dengan kandungan gizi minim seharga 22 ribu rupiah. Harus dimulai dari keluarga, misalnya sejak kecil anak dididik untuk mencintai produk pangan lokal. Mengajak dan mengkonsumsi produk pangan lokal akan menjadi teladan dan menolong ketahanan lokal. Demikian harapan dan inspirasi Kresnayana Yahya, menutup dialog jumat pagi ini. (unung@enciety.com)</p>
<p>Disarikan dari : Dialog Inspirasi Kresnayana Yahya, 27 Agustus 2010, di Radio Suara Surabaya FM 100</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/08/inspirasi-kresnayana-yahya-kiat-menghadapi-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

