<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Enciety Dot Com</title>
	<atom:link href="http://enciety.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enciety.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 08:36:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Surabaya</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/07/mengembangkan-ekonomi-kreatif-di-surabaya/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/07/mengembangkan-ekonomi-kreatif-di-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 06:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=701</guid>
		<description><![CDATA[Hadirnya taman kota menjadi inspirasi, perekat kebersamaan warga kota, memperkuat ciri khas Surabaya yang egaliter dan makin menjadikan Surabaya cantik. Perubahan wajah kota ini merupakan ide dan karya anak muda yang mampu memberikan sentuhan taman menjadi alternatif wisata kota yang murah meriah. Surabaya juga menjadi tempat kunjungan yang makin diminati. Ekonomi kota ini mampu tumbuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hadirnya taman kota menjadi inspirasi, perekat kebersamaan warga kota, memperkuat ciri khas Surabaya yang egaliter dan makin menjadikan Surabaya cantik. Perubahan wajah kota ini merupakan ide dan karya anak muda yang mampu memberikan sentuhan taman menjadi alternatif wisata kota yang murah meriah. Surabaya juga menjadi tempat kunjungan yang makin diminati. Ekonomi kota ini mampu tumbuh luar biasa. Capaian omset <em>Surabaya Shopping Festival</em> (SSF) terus meningkat dari tahun ke tahun, bukan hanya menunjukkan partisipasi dan tumbuhnya ekonomi lokal yang bermartabat tapi mampu juga menjadi pendorong ekonomi kreatif. Demikian sari pembuka Dialog Prospektif Bisnis Enciety Business Consult dari Ir Don Rozano, MM di radio Suara Surabaya FM 100, 30 Juli 2010 yang dipandu oleh Restu Indah.</p>
<p><strong>Peran desainer muda dalam pengembangan ekonomi kota yang berbasis kreatifitas</strong></p>
<p>Pertama, keterlibatan desainer muda dalam desain taman dan bangunan di kota Surabaya memberikan kontribusi besar pada diri mereka sendiri. Surabaya menjadi galeri untuk menuangkan ide dan kreatifitas. Kesempatan yang diberikan oleh pemkot, disambut sebagai wujud pengabdian kepada Surabaya. Hal ini merupakan investasi. Investasi karya yang dapat dibawa ke luar Surabaya. Kedua, kreatifitas ini memberikan sudut pandang baru. Taman menjadi indah, sekolah menjadi berwarna, memberikan dampak yang baik. Mampu membuka cakrawala, menjadi ruang pemikiran. Taman yang dikreasikan tersebut menjadi tempat bermain yang sehat. Sebagaimana dijelaskan oleh Ir Don Rozano, MM menjawab pertanyaan pembuka dari Restu Indah, penyiar Radio Suara Surabaya.</p>
<p><strong>Kesempatan dan Tantangan Membangun Surabaya Cantik</strong></p>
<p>Perubahan wajah kota ini dimulai dari revitalisasi taman Bungkul. Pemerintah kota Surabaya, melalui dinas Kebersihan dan Pertamanan, pada saat itu dipimpin oleh  Tri Rismaharini (Bu Risma), memulai menata taman bungkul dengan memberikan kesempatan partisipasi kepada desainer muda Surabaya. Kesempatan yang diberikan ini dijawab oleh Ipong Putra Indriawan (mas Ipong) dengan senang dan antusias. Sebagai arek asli Suroboyo, desainer muda yang sudah lebih dari 10 tahun terjun di bidang desain arsitektur ini merasa bahwa tantangan untuk mendesain taman bungkul merupakan kesempatan menyumbangkan sesuatu bagi warga kota. Kesempatan itu pula yang membuat desain taman Bungkul lahir lebih netral dan natural.</p>
<p>Adanya keinginan memberikan warga Surabaya alternatif jalan-jalan selain mall, juga menjadi salah satu alasan mengapa desainer muda ini berani menerima tantangan dari pemerintah kota. Taman Bungkul juga menjadi <em>windows shopping</em>, banyak tersedia makanan, minuman dan mainan anak-anak  dijual. Revitalisasi taman bungkul juga menumbuhkan kreatifitas pedagang asongan. Mainan kitiran yang dijual berubah menjadi terlihat kelap kelip di saat malam, setelah tiga bulan berjalan.  Sebelumnya mainan itu biasa dan tidak kelihatan di waktu malam. </p>
<p>Berbeda dengan mas Ipong, mas Cahyo yang juga desainer muda Surabaya, awalnya ragu menerima tantangan dari Bappeko untuk desain kota. Keraguan ini muncul dari basis komunitas desainer muda ini informal. Namun kekhawatiran tersebut dibalik oleh Bu Risma, yang saat itu menjabat kepala Bappeko Surabaya. Bu Risma meyakinkan bahwa Surabaya ini adalah tempat kita tinggal, apabila ada sesuatu yang salah, dan kita diberi kesempatan untuk memperbaiki apakah kita tidak akan ikut berperan memperbaikinya. Berangkat dari keyakinan tersebut, mas Cahyo dan rekan-rekan kemudian dapat membuktikan dan merasakan karyanya yang bermanfaat seperti taman pelangi, pasar ikan, pasar burung, kampung ilmu dan lainnya. Kendala untuk membangun komunikasi dengan pemkot agar bagaimana ide kreatif tersebut terwujud juga dapat dilampaui dengan baik. Bahkan memberikan semangat bagaimana dengan adanya keterbatasan dana di pemerintah tetap menghasilkan karya yang lebih baik. Apalagi didukung oleh staf Bappeko yang memiliki ide dan keinginan yang sama, sebagaimana dijelaskan mas Iman (Bappeko Surabaya).</p>
<p>Keberadaan taman kota ini dirasakan menjadi ruang baru bagi warga kota untuk berwisata lokal. Wisata murah meriah tanpa bayar yang sanggup menyatukan dan mengenalkan warga kota dari berbagai tempat. Menjadikan Surabaya makin guyub dan semangat gotong royongnya makin kuat. Masih ada kritik baik soal desain, kebersihan dan tempat sampah serta belum meratanya keberadaan taman ini di semua wilayah di Surabaya memberikan lecutan dan semangat agar Surabaya makin cantik.</p>
<p>Ekonomi kreatif bukan hanya soal karya kerajinan. Namun ide-ide kreatif yang mampu memecahkan persoalan kota, termasuk banjir, merupakan sumbangan luar biasa bagi ekonomi kreatif. Adanya pengakuan manfaat positif hadirnya taman-taman kota dari lintas segmen merupakan bentuk dinamika kreatifitas warganya.  Dan pemerintah hendaknya tetap harus memberikan ruang untuk berkreasi dan Surabaya makin cantik, dengan tetap terus menumbuhkan ruang publik untuk kreasi dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Harapan-harapan ini menjadi penutup dalam dialog prospektif bisnis  Jumat pagi ini. Semoga lebih baik. (unung@enciety.com)</p>
<p>Disarikan dari : Dialog prospektif Bisnis Enciety di Radio Suara Surabaya FM 100, 30 Juli 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/07/mengembangkan-ekonomi-kreatif-di-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendorong Ekonomi Lokal Lebih Cepat</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/07/mendorong-ekonomi-lokal-lebih-cepat/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/07/mendorong-ekonomi-lokal-lebih-cepat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 02:37:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=699</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Peranan ekonomi lokal kian mengemuka. Perputarannya yang menyebabkan Indonesia lolos dalam krisis ekonomi dan bahkan menjadikan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi peringkat ketiga tertinggi. Tidak mengherankan banyak pihak yang makin mengakui keberadaan peranan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). 
Kecenderungan peningkatan gairah belanja di Ritel Modern makin luar biasa jika didukung penawaran khusus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Peranan ekonomi lokal kian mengemuka. Perputarannya yang menyebabkan Indonesia lolos dalam krisis ekonomi dan bahkan menjadikan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi peringkat ketiga tertinggi. Tidak mengherankan banyak pihak yang makin mengakui keberadaan peranan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). <span id="more-699"></span></p>
<p class='textboxleft'>Kecenderungan peningkatan gairah belanja di Ritel Modern makin luar biasa jika didukung penawaran khusus dan promosi istimewa</p>
<p>UMKM mampu menjadi pendorong perekonomian nasional, karena bisnis ini mudah dimasuki dan dengan modal yang tidak besar. Hampir dalam setiap pameran UMKM, termasuk yang sering digelar belakangan ini, selalu saja muncul UMKM baru dengan produk berkualitas. Di sisi lain, semaraknya pameran UMKM itu juga menunjukkan betapa tingginya persaingan yang ada.</p>
<p>Selain persaingan, ada pula hambatan klasik yang dihadapi UMKM dan sering kurang diantisipasi karena minimnya pengetahuan dan pengalamannya. Misalnya, soal bahan baku. Banyak UMKM yang mempunyai produk baik namun kesulitan memenuhi order dalam skala besar, lantaran tak mampu mendapatkan bahan baku secara pasti. Ada sejumlah UMKM yang mensolusikan dengan berhimpun membentuk komunitas atau paguyuban untuk tingkatkan daya tawar.</p>
<p>Di samping harga bahan baku yang stabil pun sering tak didapat, antar–UMKM sejenis ini pun bersaing sering bersaing di area tradisional. Karena itu, diperlukan keberpihakan berbagai pihak untuk membina dan meningkatkan kapasitas UMKM. Salah satunya dengan membuka akses ke ritel modern, melalui keikutsertaan dalam bazar maupun permanen.  </p>
<p>Untuk itu, inisiatif dari salah satu ritel modern dalam meningkatkan kapasitas pemasok lokalnya mungkin bisa dijadikan referensi. Dari sekitar 70 persen dari total 4.000 pemasok atau sekitar 2.800 pemasok, berasal dari UKM. Kebanyakan memasok <em>grocery</em>, bahan makanan segar, peralatan rumah tangga, dan bahan tekstil. Sementara untuk yang mikro disiapkan Bazar.</p>
<p>Kebanyakan pemasok UMKM kemampuan distribusi dan produksinya terbatas. Karena itu, aspek lokalitas pun menjadi pertimbangan. Dalam penjaringan pemasok, digunakan sistem dua arah. Pertama, peritel modern menjemput bola ke produsen. Kedua, produsen mengajukan proposal untuk memasukkan barang. Kesesuaian dengan karakter ritel modern harus menjadi pertimbangan.</p>
<p>Bagi UMKM, selain memasarkan secara konvensional, memanfaatkan ritel modern untuk meningkatkan kapasitas usahanya layak menjadi pilihan. Dengan meyelaraskan karakter kemasan, bentuk, dan produksi. The Nielsen Company mencatat <em>spending retail</em> pada kuartal I-2010 meningkat 8 persen ketimbang kuartal yang sama pada 2009 menjadi Rp9 triliun.</p>
<p>Surabaya Shopping Festival (SSF) merupakan contoh mendorong upaya ekonomi lokal secara bermartabat.  Bukan hanya penyelenggaraan dan promosinya, nilai transaksinya pun semakin besar. Dan berarti kapasitas ekonomi domestik meningkat, bukan hanya pedagang di 18 <em>shopping mall</em>, namun juga UMKM yang menjadi pemasok, serta menguntungkan pedagang makanan dan minuman. </p>
<p> SSF membuktikan <em>coopetition</em> (<em>cooperation and competition</em>). Bersama melakukan kolaborasi untuk menggairahkan pembelanja dengan aneka promosi dan hadiah serta dalam menyajikan harga terbaik (diskon). Jumlah transaksinya setiap tahun meningkat. Walaupun SSF diselenggarakan di bulan yang bukan merupakan bulan favorit untuk berbelanja.</p>
<p>Tidak berlebihan jika diharapkan secara bersama mampu mengemas <em>event</em> semacam ini. Seperti halnya di Singapura, semua toko dapat terlibat dalam <em>event</em> promo guna menggaet wisatawan khususnya yang gemar belanja. Gairah berbelanja ini dapat menjadi magnet di saat <em>low season</em>. Tren ini, membutuhkan keterlibatan dari kelompok media utama sebagai media partner, dengan didukung media lainnya. Untuk itu dibutuhkan kepedulian semua pihak dalam mendorong kemajuan ekonomi lokal secara bermartabat.(don@enciety.com)</p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 27 Juli 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/07/mendorong-ekonomi-lokal-lebih-cepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Menunggangi&#8221; Pertumbuhan Ritel Modern</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/07/menunggangi-pertumbuhan-ritel-modern/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/07/menunggangi-pertumbuhan-ritel-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 02:29:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Belakangan ini tren belanja masyarakat makin meningkat. Seperti dicatat AC Nielsen, keinginan konsumen berbelanja cukup tinggi karena didorong prospek pekerjaan yang naik enam persen dari enam bulan sebelumnya. Sebesar 46 persen konsumen di Indonesia menyatakan saat sekarang adalah waktu yang baik untuk membeli barang yang diinginkan dan dibutuhkan. 
Kecenderungan belanja di Ritel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Belakangan ini tren belanja masyarakat makin meningkat. Seperti dicatat AC Nielsen, keinginan konsumen berbelanja cukup tinggi karena didorong prospek pekerjaan yang naik enam persen dari enam bulan sebelumnya. Sebesar 46 persen konsumen di Indonesia menyatakan saat sekarang adalah waktu yang baik untuk membeli barang yang diinginkan dan dibutuhkan. <span id="more-698"></span></p>
<p class="textboxleft">Kecenderungan belanja di Ritel Modern menunjukkan kondisi postif di mana pertumbuhan gerainya disertai peningkatan persaingan</p>
<p>Dengan demikian tidaklah mengherankan jika industri ritel modern di Indonesia terus menggeliat. Tingkat hunian peritel di pusat perbelanjaan tahun ini dan tahun depan diprediksikan akan meningkat menjadi 80%–81%, dengan proyeksi pertumbuhan permintaan ruang ritel meningkat sekitar delapan persen per tahun. </p>
<p>Pertumbuhan yang baik itu kian menggembirakan karena pemahaman masyarakat akan keberadaan ritel modern, juga makin meningkat dan dapat menerima keberadaanya secara rasional. Kedatangan ritel modern saat ini sudah bisa dipersepsikan positif. Misalnya, untuk <em>convenience store</em>, saat ini mencapai 450 gerai, dan diperkirakan dalam tiga tahun jumlahnya akan mencapai 750 toko. Sehingga kompetisi antar ritel modern tak terhindarkan. </p>
<p>Jauh di Ternate sana, pemimpin wilayah ini bahkan berani menyatakan munculnya sejumlah pusat perbelanjaan tidaklah mengancam keberadaan pasar tradisional. Pusat perbelanjaan modern dan pedagang tradisional dinilainya memiliki segmen konsumen yang berbeda, sehingga satu sama lain tidak akan saling mematikan, justru saling melengkapi.</p>
<p>Dengan demikian, tak ada alasan untuk tidak memanfaatkan geliat ritel modern yang terus tumbuh tersebut. Tentu saja, banyak pihak telah memahami ini, dan telah mengambil untung dari pertumbuhan tersebut. Simak saja, setidaknya ada 40 ribu item barang di satu hypermarket. Sebanyak 50 persen dari barang pasokannya dari kategori usaha mikro kecil menengah (UMKM). </p>
<p>Yang menggembirakan, penguasaan pangsa pasar produk lokal mayoritas di gerai ritel modern. Dan lebih dari 50 persen pemasoknya yang masuk ke ritel modern dari UMKM. Hal itu menunjukkan bahwa UMKM yang menjadi pemasok ritel modern terus tumbuh, dan akan semakin tumbuh. Dengan demikian, peluang bagi UMKM yang ingin memanfaatkan gairah industri ritel ini terus terbuka.</p>
<p>Pemanfaatan jaringan gerai ritel memudahkan sebuah produk UMK untuk menembus pasar secara nasional. Tentu saja sebuah merek produk lokal harus lolos seleksi produk yang dilakukan gerai ritel modern. Cara ini risikonya relatif lebih kecil, ketimbang sebuah produk harus memperluas jaringan distribusi sendiri, atau membuat produk baru, dan mengiklankannya secara masif.</p>
<p>Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa ritel modern pun mampu meningkatkan kapasitas ekonomi lokal, terutama industri makanan dan minuman, untuk menembus pasar nasional. Industri makanan dan minuman yang berkembang mengikuti pola konsumsi ritel kota–kota utama mempunyai tren sama, dan dapat mendorong peluang pertumbuhan ekonomi nasional.</p>
<p>Dengan berbagai aspek positif yang ada pada ritel modern, tak ada salahnya bagi UMK untuk memperbesar dirinya melalui industri ini. Jika langkah ini dilakukan, UMK juga akan didorong lebih cepat memperbaiki diri dalam hal kualitas produk, pengelolaan produk dan keuangan yang efisien, maupun manajemen sumber daya manusia yang efisien pula. </p>
<p>Dan, yang perlu dicatat lagi, bisnis ritel, termasuk ritel modern, terbukti tahan dalam menghadapi gempuran krisis ekonomi global yang imbasnya masih bisa dirasakan hingga saat ini. Tahun ini, tingkat pertumbuhannya diprediksi mencapai sekitar 9–15 persen. Kini, sudah saatnya Pemerintah Pusat dan Daerah bersinergi secara cerdas. Kemudian para pelaku UMK maupun usaha menengah atau dengan skala lebih besar mau atau tidak memanfaatkan peluang tumbuhnya ritel modern. (don@enciety.com)</p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</p>
<p>Dimuat : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 6 Juli 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/07/menunggangi-pertumbuhan-ritel-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berubah untuk Menjadi Besar</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/06/berubah-untuk-menjadi-besar/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/06/berubah-untuk-menjadi-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 01:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=696</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Bisnis ritel terbukti tahan menghadapi gempuran krisis ekonomi global yang imbasnya masih bisa dirasakan hingga saat ini. Tahun ini, tingkat pertumbuhannya diprediksi masih bisa mencapai dua digit. Pertumbuhan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil ini, merupakan pencapaian yang luar biasa.  
Tren penyaluran kredit usaha kecil mengalami peningkatan, keberpihakannya dapat dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Bisnis ritel terbukti tahan menghadapi gempuran krisis ekonomi global yang imbasnya masih bisa dirasakan hingga saat ini. Tahun ini, tingkat pertumbuhannya diprediksi masih bisa mencapai dua digit. Pertumbuhan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil ini, merupakan pencapaian yang luar biasa.  <span id="more-696"></span></p>
<p class='textboxleft'>Tren penyaluran kredit usaha kecil mengalami peningkatan, keberpihakannya dapat dilakukan melalui pembukaan akses pasar</p>
<p>Hingga Mei ini, tingkat penjualan ritel sudah mencapai dua digit, dan masih akan tumbuh seiring datangnya musim liburan dan lebaran. Peluang ini, seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemasok eksisiting dan potensial produk domestik terutama Usaha Mikro dan Kecil (UMK), terutama untuk mengisi peluang pertumbuhan non organik berupa pembukaan gerai baru.</p>
<p>Salah satu yang bisa dimanfaatkan UMK untuk memperbesar usahanya adalah dengan menjadi pemasok makanan ringan atau <em>snack</em>, yang termasuk kelompok barang yang sering dicari konsumen (<em>fast moving konsumer goods</em>). Mulai dari manisan, dodol, bakpia, pastel hingga beragam jenis keripik. Pilihan ini tetap prospektif kendati persaingannya ketat.</p>
<p>Pasalnya, masyarakat Indonesia kerap menyantap camilan saat santai sambil menonton televisi apalagi saat menonton Piala Dunia, atau bahkan pada acara–acara resmi seperti jamuan penting, menu camilan tak pernah ketinggalan. Tidak mengherankan jika masih banyak UMK yang tertarik menggeluti bisnis yang satu ini. Mengingat mudahnya bahan baku di dapat dan proses pembuatannya dapat dipelajari dengan cepat. Di sinilah diferensiasi menjadi dibutuhkan.</p>
<p>Indonesia punya keunikan kacang–kacangan. Seperti kacang tanah, kacang koro, kacang panjang, kacang kedele, kacang mede, makademia, dan masih terdapat puluhan ragam yang belum popular. Semestinya kita juga dapat mengemas secara bersama beberapa macam kacang dengan menarik. Di samping menunjang keanekaragaman makanan ringan, juga menawarkan sesuatu yang baru. </p>
<p>Inovasi kerupuk dan keripik, masih bisa dikembangkan mendorong kreasi baru dari ragam kripik alami. Dan jika inovasi ini dilakukan dapat menjadi andalan untuk menghidupkan mata rantai produk pertanian, serta menjadi makanan lokal yang eksotik dan tetap sehat. Dengan cara menggoreng tanpa minyak, sebagai pilihan proses untuk sajian camilan yang sehat.</p>
<p>Dengan tingkat persaingannya yang ada, UMK bukan saja perlu memperhatikan inovasi produknya, hingga dapat hasilkan produk baru. UMK sudah seharusnya mengelola bisnisnya dengan lebih baik. Tidaklah cukup menjadi “superman” yang dapat menangani semua hal, tetapi menjadi lebih menarik jika mampu membentuk kerja sama tim. Kerja sama multi stakeholder dapat menjadi jawabannya.</p>
<p>Keterlibatan pemerintah bukanlah sekedar untuk menyalurkan kredit pada usaha kecil. Namun perlu pula dipikirkan bagaimana skema kredit untuk usaha mikro. Banyak pertanyaan tentang bagaimana bisa menjadi pemasok di industri ritel? Produk UMK jika ingin masuk menjadi pemasok haruslah masuk dalam skala bisnisnya.</p>
<p>Untuk masuk dalam pemasok potensial bagi industri ritel, usaha kecil dan apalagi mikro haruslah membentuk komunitas, karena keberlanjutan dan fleksibilitas pasokan serta penawaran harga menjadi prasyarat utama. Dengan komunitas yang jelas maka program pemberdayaan pemerintah dan corporate social responsibility menjadi lebih bermakna.</p>
<p>Jika semua hal ini bisa diatasi, maka usaha ini tetap menjanjikan untuk bisa tumbuh dan berkembang di industri ritel. Tentu saja komunitas UMK harus bersedia untuk menerima masukan untuk berubah, guna memperbesar skala bisnisnya. Salah satunya, komunitas UMK perlu untuk mengetahui pertimbangan gerai tersebut dalam membeli barang. Pertimbangan tersebut antara lain adalah ketepatan, baik soal produk, waktu, tempat, harga, kuantitas, kualitas, dan cara penjualan. (don@enciety.com) </p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult </p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 15 Juni 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/06/berubah-untuk-menjadi-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Consumer Confidence Index</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/06/consumer-confidence-index-6/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/06/consumer-confidence-index-6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 03:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Graphics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://enciety.com/wp-content/uploads/2010/07/IKK_Juni2010.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/06/consumer-confidence-index-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wirausaha Lokal Tembus Pasar Nasional</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/06/wirausaha-lokal-tembus-pasar-nasional/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/06/wirausaha-lokal-tembus-pasar-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 01:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Jika Anda berbelanja di gerai ritel modern, tentu banyak dijumpai produk sambal dalam kemasan. Sambal ini ternyata tak semuanya produksi pabrikan besar, seperti perusahaan nasional yang sudah go public maupun perusahaan multinasional. Produk kelas usaha mikro kecil (UMK) sudah mengisi rak–rak.
Pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) selain membutuhkan akses pendanaan juga memerlukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Jika Anda berbelanja di gerai ritel modern, tentu banyak dijumpai produk sambal dalam kemasan. Sambal ini ternyata tak semuanya produksi pabrikan besar, seperti perusahaan nasional yang sudah <em>go public</em> maupun perusahaan multinasional. Produk kelas usaha mikro kecil (UMK) sudah mengisi rak–rak.<span id="more-692"></span></p>
<p class="textboxleft">Pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) selain membutuhkan akses pendanaan juga memerlukan Stabilitas Bahan Baku dan Akses Pemasaran</p>
<p>Para pengusaha UMK yang memilih memanfaatkan jaringan gerai ritel modern, mengakui efektivitasnya dalam distribusi. Dengan pemanfaatan jaringan ini, mereka tidak dipusingkan oleh keruwetan operasional. Tanpa harus membuka toko, produksinya bisa bertebaran di banyak tempat. Sehingga dapat berkonsentrasi pada peningkatan kapasitas produksi.</p>
<p>Jaringan gerai ritel dapat memudahkan sebuah merek lokal jika ingin menembus pasar nasional. Tentu saja sebuah merek produk lokal harus lolos “audisi” produk yang dilakukan gerai ritel modern. Ini namanya sebuah terobosan cerdas. Cara ini risikonya relatif lebih kecil dan bahkan lebih murah dibanding mengiklankan produk secara nasional. </p>
<p>Kenyataan tersebut menunjukkan jika perdagangan ritel yang sehat memang mampu meningkatkan kapasitas ekonomi lokal, terutama industri makanan dan minuman, untuk menembus pasar nasional. Industri makanan dan minuman seharusnya dapat berkembang mengikuti pola konsumsi ritel kota–kota utama yang mempunyai tren sama. Sehingga dapat menjadi salah satu mesin utama  perkembangan ekonomi domestik.dan mendorong peluang pertumbuhan ekonomi nasional.</p>
<p>Di Indonesia, industri ritel masih dapat berkembang ke kota kedua, ketiga, bahkan keempat di tiap kabupaten. Saluran distribusi barang, kini dituntut makin efektif dan efisien. Karena industri ritel yang sehat, merupakan faktor kunci dalam meningkatkan penetrasi pasar. Khususnya untuk produk kebutuhan sehari-hari yang tergolong<em> fast moving consumer goods</em> (FMCG).</p>
<p>Potensi bisnis makanan dan minuman Indonesia memang sangat besar, mengingat bahan bakunya tersedia melimpah. Biaya produksinya pun relatif lebih murah ketimbang negara berkembang lainnya. Pasarnya pun juga besar, mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar. Hanya mereka membutuhkan akses pendanaan, stabilitas bahan baku, dan akses pemasaran.</p>
<p class="textboxleft">Jika UMK dapat bermitra dengan jaringan ritel modern maka kapasitasnya dapat meningkat.</p>
<p>Jika UMK dapat bermitra dengan jaringan ritel modern maka kapasitasnya dapat meningkat. Contoh produksi sambal dalam kemasan produksinya dapat mencapai hingga lebih dari 3,5 ton sambal botol, setelah produknya diterima dan dipasarkan di ritel modern. Demikian juga UMK produsen manisan jambu Bangkok pun telah melakukan langkah yang sama, mampu memproduksi sampai dua juta ton.</p>
<p>Nah, bagi pengelola produk makanan dan minuman lokal yang ingin memanfaatkan gairah industri ritel nasional, dan meningkat menjadi pemain nasional harus mampu mengatasi sejumlah kendala. Kendala utama yang sering dialami adalah soal sumber daya manusia.dan ketiadaan sistem manajeman yang efektif dan efisien.</p>
<p>Tak banyak pengelola produk lokal yang memahami seluk–beluk jaringan distribusi pemasaran gerai ritel nasional. Pada umumnya mereka lebih mengerti tentang proses produksi, tetapi mengabaikan pemasaran dan distribusi. Kebiasaan ini, seharusnya mulai diatasi dengan membentuk komunitas yang mampu bermitra dengan jaringan ritel tersebut. </p>
<p>Kendala berikutnya adalah mengurangi ketergantungan terhadap intervensi pemilik perusahaan pengelola produk lokal, dengan mengembangkan sistem operasi yang efektif dan efisien, untuk menjaga kualitas produk. Sistem kontrol keuangan juga harus diperbaiki, agar kesinambungan produksi terjaga. Memang tidak mudah, namun tidak ada yang tidak bisa kalau kita mau. Apalagi jika melihat peluang ekonomi domestik. Selamat melakukan terobosan. (don@enciety.com)</p>
<p>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 1 Juni 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/06/wirausaha-lokal-tembus-pasar-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinergi dengan Bisnis Lokal</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/05/sinergi-dengan-bisnis-lokal/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/05/sinergi-dengan-bisnis-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 02:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Potensi bisnis lokal sangatlah besar dan bisa dikembangkan. Usaha mikro kecil (UMK) berpeluang memunculkan usaha unggulan. Kebanyakan, peluang bisnis yang digarap, makanan dan minuman dalam kemasan yang bercita rasa lokal, mulai snack tradisional, tape, tape ketan, manisan, kacang, sampai kunyit asam.  
Gairah berbelanja di perdagangan ritel yang sehat dapat bermanfaat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Potensi bisnis lokal sangatlah besar dan bisa dikembangkan. Usaha mikro kecil (UMK) berpeluang memunculkan usaha unggulan. Kebanyakan, peluang bisnis yang digarap, makanan dan minuman dalam kemasan yang bercita rasa lokal, mulai snack tradisional, tape, tape ketan, manisan, kacang, sampai kunyit asam.  <span id="more-691"></span></p>
<p class="textboxleft">Gairah berbelanja di perdagangan ritel yang sehat dapat bermanfaat untuk meningkatkan potensi bisnis usaha mikro kecil (UMK) lokal</p>
<p>Pemahaman selera lokal serta efisiensi biaya yang disebabkan jarak dan biaya transportasi, merupakan peluang yang belum dimanfaatkan menjadi kekuatan sesungguhnya. Persoalannya, secara bisnis kebanyakan mereka punya kelemahan dalam pengemasan, manajemen, maupun pemasaran. UMK memang membutuhkan perdagangan ritel yang lebih berpihak. </p>
<p>Saat ini, keuntungan yang mereka dapatkan sangat kecil, jika dibandingkan para pedagang. Sebagai ilustrasi: udang ukuran kecil. Saat panen harganya tinggal Rp3 ribu per kilogram, walau di pasar dijual seharga Rp30 ribu. Dan jika digoreng, dikemas, serta diberi sambal kemasan dapat dijual Rp65 ribu per 200 gram atau Rp330 ribu per kilogram.</p>
<p>Kemampuan untuk berproduksi sangat terbatas, UMK memilih menjual ”mentah”, seolah–olah tidak memiliki <em>bargaining position</em>. Kalaupun diolah, masih sangat sederhana dan tidak mempunyai standar. Sehingga tidak memberikan nilai tambah yang bersifat visual ataupun rasa, tidak mengherankan posisi UMK menjadi sulit. Belum lagi ancaman dari makanan dan minuman impor, sebagai konsekuensi dari pemberlakuan ACFTA (<em>ASEAN-China Free Trade Area</em>). </p>
<p>Lagi-lagi persoalan lemahnya daya saing dan tampilan produk menjadi kendala. Sedangkan potensi persaingan dengan makanan dan minuman impor sangat besar. Karena itu, UMK harus didorong untuk membangun usaha yang berbasis komunitas, dan mempunyai <em>partner</em> yang kuat untuk meningkatkan kapasitas ekonominya. </p>
<p class="textboxleft">Perdagangan ritel jadi tumpuan harapan, karena selama ini terbukti menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia.</p>
<p>Setelah itu, dapat dilakukan pembenahan yang terkait administrasi, legalitas, kemampuan produksi, pengembangan produk, sampai dengan pemanfaatan kredit. Kemudian, perdagangan ritel dapat membantu akses pemasaran dan distribusi, serta promosi. Perdagangan ritel jadi tumpuan harapan, karena selama ini terbukti menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia. </p>
<p>Dengan kontribusi penggunaan PDRB di atas 60 persen, dan proporsi tenaga kerja sekitar 35 persen, sektor ini terus berkembang bahkan di saat krisis ekonomi sekalipun. Gairah perdagangan ritel menjadi potensi dapat dioptimalkan, untuk meningkatkan kapasitas UMK lokal. Perdagangan ritel yang diprediksikan meningkat antara 9 – 15 persen, menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi.</p>
<p>Kondisi ini tentu menjadi peluang yang baik untuk UMK lokal, seperti industri rumah tangga ataupun pertanian lokal, termasuk makanan olahan.Sudah saatnya kita tidak sekedar menjadi bangsa konsumen semata namun juga mampu menghasilkan produk yang bersaing. Keunggulan komparatif yang dimiliki harus menjadi awalan untuk menuju keunggulan kompetitif.</p>
<p>Hanya saja, kita memang membutuhkan perdagangan ritel yang lebih sehat. Bukan saja untuk kian memudahkan akses bagi konsumen, namun juga guna menawarkan harga kebutuhan rumah tangga yang makin bersaing. Di samping itu, akan memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi UMK lokal. Apalagi sekitar 93,5 persen tenaga kerja dapat diserap oleh UMK.</p>
<p>Kini, saatnya secara bersama-sama mengembangkan ekonomi kerakyatan dengan berbasis semangat gotong-royong yang memanfaatkan gairah perdagangan ritel. Sehingga, pertumbuhan dan perkembangan positif ritel nasional dapat juga meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi domestik, terutama para pelaku UMK. Dan, tentunya juga harus disertai kesungguhan semua pihak yang terlibat. (don@enciety.com)</p>
<p><strong>*) Don Rozano – General Manager enciety Business Consult</strong></p>
<p>Dimuat di Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 25 Mei 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/05/sinergi-dengan-bisnis-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Pendidikan Semarakkan Ritel</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/05/gairah-pendidikan-semarakkan-ritel/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/05/gairah-pendidikan-semarakkan-ritel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 01:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[Ritel 360&#176; &#8211; Sebuah keluarga pergi ke pasar swalayan. Sang ibu belanja kebutuhan bulanan. Sang ayah mengantar anaknya ke bagian komputer, dengan harapan sang anak dapat menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Gambaran itu menunjukkan saat ini orang tua makin berharap penggunaan IT (Information Technology) akan menunjang pendidikan dan masa depan anaknya. 
Mereka memerlukan perlengkapan IT [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ritel 360&deg;</strong> &#8211; Sebuah keluarga pergi ke pasar swalayan. Sang ibu belanja kebutuhan bulanan. Sang ayah mengantar anaknya ke bagian komputer, dengan harapan sang anak dapat menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Gambaran itu menunjukkan saat ini orang tua makin berharap penggunaan IT (<em>Information Technology</em>)<span id="more-685"></span> akan menunjang pendidikan dan masa depan anaknya. </p>
<p>Mereka memerlukan perlengkapan IT yang harus dimiliki secara pribadi. Hal ini berbeda dengan masa lalu, ketika fasilitas harus dan diadakan lembaga pendidikan. Bahkan, perpustakaan yang seyogianya menyediakan buku pelajaran untuk setiap siswa, telah berubah menjadi berbasis IT, dan hanya menyediakan sedikit buku referensi saja.</p>
<p class="textboxleft">Peningkatan gairah menggapai tingkat pendidikan lebih tinggi merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan industri ritel</p>
<p>Belanja keluarga pun menjadi lebih beragam. Belanja terencana bahkan wajib, harus disediakan untuk alokasi siswa dan atau mahasiswa. Di perkotaan mulai terasa setiap anak makin merasa perlu punya komputer jinjing dan bisa akses ke internet.</p>
<p>Belanja bisa menjadi lebih besar karena telepon seluler pun sudah bisa akses ke internet, sekalipun dalam skala dan layar yang sangat terbatas. Semua itu menunjukkan, ritel dalam sektor terkait pendidikan makin lama makin berkembang karena daya beli, dan sekaligus tren di dunia pembelajaran pada umumnya. Kendati demikian, di tengah melonjaknya pemakai IT, minat baca dan membudayakan membaca tetap saja melonjak.</p>
<p>Karena itu, selain perlengkapan IT dan internet, ruang ritel untuk penjualan alat tulis dan buku pun produktivitasnya pun tetap membesar. Indikasi ini menunjukkan makin melebarnya jaringan toko buku dan peralatan sekolah. Dari kota propinsi sudah sampai ke kota kabupaten.</p>
<p>Bahkan, makin banyak jenis usaha tersebut masuk ke mal dan hingga ke kota kecamatan, karena permintaan (<em>demand</em>) yang makin beragam, dan kemampuan yang makin tinggi untuk meraih akses IT secara umum. Tidak heran jika 30–40% biaya pendidikan yang ditanggung keluarga saat ini bukanlah pengeluaran klasik seperti pakaian seragam, alat tulis dan kantor, serta perlengkapan penunjang persekolahan.</p>
<p>Buku dan majalah impor juga mengalami peningkatan sekalipun konsumennya terbatas di kelas atas, dan hanya tersedia di perkotaan. Alat peraga dan mainan anak yang sangat bervariasi dan berjenjang menunjukkan makin banyaknya <em>educational toas</em>, sebagai cara dan media belajar anak dan bayi secara berkelanjutan. Lalu, hampir semua sekolah melengkapi dirinya dengan perlengkapan multimedia.</p>
<p>Contohnya, televisi, LCD <em>projector</em> untuk menggantikan papan tulis dan OHP (<em>over head projector</em>). Tren itu juga menggerek secara tajam penjualan perlengkapan untuk internet seperti laptop/ netbook. Perangkat pembantu serta penyediaan media penyimpan data seperti <em>flash disk</em>, <em>external hard disk</em>, dan modem tentu saja permintaannya ikut melonjak.</p>
<p class="textboxleft">Bagi masyarakat yang pengeluaran konsumsi makannya sudah di bawah 50 persen, pengeluaran rumah tangganya makin menunjukkan keragaman pola belanja dan prioritasnya.</p>
<p>Pembukaan cabang dan penempatan cabang toko dalam mal kian menjadi tren. Tapi kini banyak pula supermarket dan hypermarket ikut menjual, bahkan mengobral alat tulis dan buku bacaan sampai VCD dan video bernuansa pendidikan dan musik. Nah, bagi masyarakat yang pengeluaran konsumsi makannya sudah di bawah 50 persen, pengeluaran rumah tangganya makin menunjukkan keragaman pola belanja dan prioritasnya.</p>
<p>Ada kecenderungan pembelanjaan untuk pulsa dan internet sudah lebih besar dari uang jajanan, dan uang untuk konsumsi kosmetiknya. Hal ini memberikan arah baru dari ritel  terkait dengan peningkatan kesadaran dan kebutuhan untuk membaca, serta mencari berita bahkan sampai menikmati apresiasi budaya.</p>
<p>Penjualan buku agama, sastra, dan novel menjadi andalan, dan bahkan menunjukkan potensi yang sangat mengesankan. Karena itu, butuh dukungan dan dorongan agar makin tinggi prioritas pada penikmatan dan keterampilan pada seni, budaya, musik, dan olahraga. (don@enciety.com)</p>
<p><strong>Kresnayana Yahya, Chairperson encienty Business Consult</strong></p>
<p>Dimuat di : Kolom Ritel 360&deg; &#8211; KOMPAS &#8211; 4 Mei 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/05/gairah-pendidikan-semarakkan-ritel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanam Sayur Menjadi Bagian Aktivitas Warga Kota</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/04/menanam-sayur-menjadi-bagian-aktivitas-warga-kota/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/04/menanam-sayur-menjadi-bagian-aktivitas-warga-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 09:31:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Urban Farming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[Keterbatasan lahan bukan halangan bagi warga kota Surabaya untuk aktivitas tanam sayur. Dengan lahan yang ada, bibit sayur dapat tumbuh subur dan menghasilkan. Pemanfaatan lahan ini memang secara ekonomis belum besar, karena hasil panen baru dinikmati oleh keluarga sendiri dan dibagikan kepada tetangga. Namun memilih aktivitas ini di Surabaya, tentu memberikan kenikmatan dan pengalaman sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keterbatasan lahan bukan halangan bagi warga kota Surabaya untuk aktivitas tanam sayur. Dengan lahan yang ada, bibit sayur dapat tumbuh subur dan menghasilkan. Pemanfaatan lahan ini memang secara ekonomis belum besar, karena hasil panen baru dinikmati oleh keluarga sendiri dan dibagikan kepada tetangga. Namun memilih aktivitas ini di Surabaya, tentu memberikan kenikmatan dan pengalaman sendiri bagi warga kota, selain sebagai pendukung nutrisi keluarga.</p>
<p>Seperti dilakukan oleh warga Asempayung, kelurahan Gebang, Surabaya Timur yang telah memanfaatkan lahan di depan rumah mereka untuk ditanami berbagai jenis tanaman. Bibit yang diperoleh dari Dinas PKPPK (Perikanan, Kelautan, Peternakan, Pertanian, dan Kehutanan) Kota Surabaya tersebut tampak tertata rapi di atas sebuah got kecil dengan media tanah <em>polybag</em>. </p>
<p>Seperti disajikan dalam Gambar 1.1. tampak daun-daun tanaman labu mulai tumbuh segar. Tanaman ini dikelola keluarga secara mandiri. Menurut informasi dari warga sekitar bahwa kegiatan ini memang dinikmati dan dianggap sebagai hobi yang perlu keseriusan. Kesulitan yang dialami warga, khususnya untuk tanaman labu, adalah perlunya media tanam yang langsung dengan tanah. Pengalaman sebelumnya, tanaman labu hanya berdaun lebat tetapi tidak dapat berbuah dengan media tanam ukuran 100 x 45 x 25 cm. Sehingga warga menggantinya dengan tanaman lain.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:583px;"><img src="http://enciety.com/wp-content/uploads/2010/04/tanaman11.png" alt="Gambar 1.1. Tanaman Labu dan Jagung"><br style="clear:both" /><span>Gambar 1.1. Tanaman Labu dan Jagung</span></div></p>
<p>Selain tanaman labu, warga juga menanam terong, jagung, rosela, melon dan lainnya. Warga optimis dengan media tanah <em>polybag</em> ini tanaman jagung dan terong dapat tumbuh dengan baik, seperti disajikan dalam Gambar 1.2.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:83pxpx;"><img src="http://enciety.com/wp-content/uploads/2010/04/tanaman12.png" alt="Gambar 1.2. Tanaman Jagung dan Terong" style="width:583px"><br style="clear:both" /><span>Gambar 1.2. Tanaman Jagung dan Terong</span></div></p>
<p>Nampaknya aktivitas warga kota ini akan makin banyak kita jumpai di kelurahan dan kecamatan lain di Surabaya. Apalagi dengan adanya dukungan program <em>urban farming</em> oleh pemerintah kota. Aktivitas rumah tangga ini memang belum sebesar kegiatan <em>urban farming</em> di wilayah lain. Seperti kegiatan <em>urban farming</em> di Kelurahan Made, kecamatan Sambikerep, Surabaya, yang sudah nampak nilai ekonomisnya dan mampu menjadi salah satu ikon wisata <em>urban farming</em> di Surabaya. Namun tentunya menggerakan rumah tangga untuk mampu terus memanfaatkan lahan mereka yang terbatas dengan kegiatan pertanian di kota diharapkan akan memberikan dampak yang lebih baik di masa mendatang.  (unung@enciety.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/04/menanam-sayur-menjadi-bagian-aktivitas-warga-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Economic &amp; Business</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2010/04/economic-business-4/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2010/04/economic-business-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 04:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Data]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[3,5 Ribu usaha di Surabaya Utara bergerak di sektor perdagangan &#8211; pakaian / tekstil / dll, 58 % berlokasi permanen, 42 % lokasi non permanen. 
SE BPS 2006, diolah Enciety Business Consult



]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><span style='font-size=14px'>3,5 Ribu</span></strong> usaha di Surabaya Utara bergerak di sektor perdagangan &#8211; pakaian / tekstil / dll, <strong><span style='font-size=14px'>58 %</span></strong> berlokasi permanen, <strong><span style='font-size=14px'>42 %</span></strong> lokasi non permanen. </p></blockquote>
<p>SE BPS 2006, diolah Enciety Business Consult<br />
</p>
<p>
<a href="http://rcommunity.enciety.com" target="blank"><img src="http://enciety.com/wp-content/uploads/2010/04/rcommunity_blogenciety1.png"  style="border:0"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2010/04/economic-business-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->