<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Enciety Dot Com</title>
	<atom:link href="http://enciety.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enciety.com</link>
	<description>Research, Consulting, Training</description>
	<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 04:34:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pengembangan Layanan Kesehatan</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/10/08/pengembangan-layanan-kesehatan/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/10/08/pengembangan-layanan-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 04:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[
Kesehatan diri dan keluarga akan menjadi pendorong yang kuat bagi kesehatan masyarakat. Makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami kesehatan keluarga, baik melalui informasi pemerintah,  melalui media cetak, TV, radio maupun internet mendorong makin berubahnya perilaku kesehatan masyarakat. Pemahaman tentang kanker sejak dini, pentingnya pemberian ASI eksklusif, atau terganggunya fungsi organ yang dikenali sejak dini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://enciety.com/files/2009/09/dialogbisnis_ss1.jpg" alt="" align="left" /></p>
<p>Kesehatan diri dan keluarga akan menjadi pendorong yang kuat bagi kesehatan masyarakat. Makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami kesehatan keluarga, baik melalui informasi pemerintah,  melalui media cetak, TV, radio maupun internet mendorong makin berubahnya perilaku kesehatan masyarakat. Pemahaman tentang kanker sejak dini, pentingnya pemberian ASI eksklusif, atau terganggunya fungsi organ yang dikenali sejak dini diharapkan akan memberikan warning kewaspadaan bersama untuk saling mengatasi.</p>
<p>Selain kesehatan fisik, rentannya daya juang &#8220;kejiwaan&#8221; dalam menghadapi problema di kota ini juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.</p>
<p>Namun sudahkah layanan kesehatan di kota Surabaya, sudah lengkap, bagus dan mampu memenuhi kebutuhan warga kota ? Apa yang perlu dikembangkan, ditambah dan informasi apa yang harusnya diketahui bersama ? Bagaimana soal pengembangan layanan kesehatan jiwa ?</p>
<p>Materi  ini akan dikupas tuntas dalam dialog prospektif bisnis enciety Business Consult di Radio Suara Surabaya, Jum’at, 9 Oktober 2009.</p>
<p>Talkshow ini akan dipandu oleh Ir Don Rozano, MM (enciety) dengan nara sumber dari Klinik Onkologi Surabaya - dr. Ario Djatmiko, FICS yang akan membahas pengembangan pelayanan kesehatan terpadu, dan Ibu Nalini M Agung, dengan sub bahasan pengembangan layanan kesehatan jiwa.</p>
<p>Masukan warga kota Surabaya diharapkan akan memperdalam materi diskusi ini, sehingga pendengar memperoleh informasi yang lengkap tentang  pengembangan layanan kesehatan. Bagaimana menurut anda ?</p>
<p>[Admin]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/10/08/pengembangan-layanan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembangunan Infrastruktur Jalan di Surabaya, tantangan dan peluangnya</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/10/01/pembangunan-infrastruktur-jalan-di-surabaya-tantangan-dan-peluangnya/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/10/01/pembangunan-infrastruktur-jalan-di-surabaya-tantangan-dan-peluangnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 10:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[
Terus meningkatnya jumlah warga kota di Surabaya, bertambahnya aktivitas ekonomi dan bisnis, serta makin pentingnya kebutuhan kemudahan akses, membuat infrastruktur terutama jalan menjadi hal yang penting untuk dibenahi. Kebutuhan, kendala dan dana akan menjadi persoalan sendiri yang membutuhkan perencanaan yang tepat dan cepat. Bagaimana kemampuan pemerintah kota dalam mensikapinya dan masukan warga kota tentang infrastruktur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://enciety.com/files/2009/09/dialogbisnis_ss1.jpg" alt="" align="left" /></p>
<p>Terus meningkatnya jumlah warga kota di Surabaya, bertambahnya aktivitas ekonomi dan bisnis, serta makin pentingnya kebutuhan kemudahan akses, membuat infrastruktur terutama jalan menjadi hal yang penting untuk dibenahi. Kebutuhan, kendala dan dana akan menjadi persoalan sendiri yang membutuhkan perencanaan yang tepat dan cepat. Bagaimana kemampuan pemerintah kota dalam mensikapinya dan masukan warga kota tentang infrastruktur jalan di Kota Surabaya.</p>
<p>Materi pembangunan infrastruktur jalan di Surabaya, tantangan dan peluangnya ini akan dikupas tuntas dalam dialog prospektif bisnis enciety Business Consult di Radio Suara Surabaya, Jum’at, 2 Oktober 2009.</p>
<p>Talkshow ini akan dipandu oleh Ir Don Rozano, MM (enciety) dengan nara sumber Dr. Haryo Sulistiarso dan Kepala BAPPEKO Surabaya  - Ibu Tri Rismaharini.</p>
<p>Masukan warga kota Surabaya diharapkan akan memperdalam materi diskusi, sehingga pendengar memperoleh informasi yang lengkap tentang  pembangunan infrastruktur jalan di Surabaya, tantangan dan peluangnya. </p>
<p>[Admin]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/10/01/pembangunan-infrastruktur-jalan-di-surabaya-tantangan-dan-peluangnya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Membangun Keyakinan Untuk Belanja</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/10/01/saatnya-membangun-keyakinan-untuk-belanja/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/10/01/saatnya-membangun-keyakinan-untuk-belanja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 08:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Lebih dari setengah pengunjung shopping mall di hari – hari kerja melakukan window shopping. Namun mereka tetap membelanjakan uangnya, terutama untuk makan serta membeli baju dan kebutuhan personalnya
Kondisi makro ekonomi Indonesia pada tahun ini cenderung terus membaik, jika dibandingkan negara–negara lain. Simak saja, inflasi turun, BI rate turun, indeks harga saham gabungan cenderung terus menanjak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Lebih dari setengah pengunjung shopping mall di hari – hari kerja melakukan window shopping. Namun mereka tetap membelanjakan uangnya, terutama untuk makan serta membeli baju dan kebutuhan personalnya</em></p>
<p>Kondisi makro ekonomi Indonesia pada tahun ini cenderung terus membaik, jika dibandingkan negara–negara lain. Simak saja, inflasi turun, BI <em>rate</em> turun, indeks harga saham gabungan cenderung terus menanjak, dan rupiah makin menguat. Kondisi ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan sektor ritel untuk tumbuh dan berkembang dengan lebih baik.<span id="more-246"></span></p>
<p class="textboxleft">Kondisi ekonomi yang masih positif itu, harus membuat para pemasar lebih kreatif dan inovatif</p>
<p>Kondisi ekonomi yang masih positif itu, harus membuat para pemasar lebih kreatif dan inovatif. Kondisi ini pun harus terus disuarakan kepada publik. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak perlu takut atau ragu–ragu dalam berbelanja. Industri ritel masih membutuhkan pengunjung yang tidak sekadar melakukan <em>window shopping</em>.</p>
<p>Adanya informasi yang terus–menerus kepada konsumen bahwa saat ini krisis global belum usai ternyata masih membayangi dan bukan menolong perekonomian, tetapi justru sebaliknya. Pasalnya, banyak konsumen memilih tidak membelanjakan uangnya. Dan, hal ini telah menyebabkan industri ritel tidak dapat tumbuh secepat tahun lalu.</p>
<p>Padahal di Indonesia, krisis ekonomi tidaklah tampak. Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi ternyata angkanya rendah, dan jauh dari perkiraan sebelumnya. Lalu, produksi manufaktur lokal lebih bagus, karena ada pembatasan barang impor. Perdagangan antar pulau bahkan berjalan dengan lebih cepat. Informasi yang positif inilah yang semestinya terus “dipasarkan” kepada masyarakat.</p>
<p>Dari sisi pemain ritel modern yang tahun ini mengalami masa yang berat, sudah dalam mood untuk kembali menggenjot pertumbuhan pada tahun depan. Keyakinan ini, seharusnya juga dimiliki pelaku ritel tradisional, yang tahun lalu pun tumbuh dua digit. Apalagi <em>recovery</em> krisis ekonomi global tampaknya lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.</p>
<p>Survei <em>online global</em> The Nielsen pada tengah tahun 2009 dalam hal <em>consumer confidence</em> pun dapat makin menopang optimisme para pemain ritel itu. Survei tersebut menanyakan seberapa optimistis ekonomi akan membaik dalam enam bulan mendatang. Dan, Indonesia skornya tertinggi di dunia.</p>
<p><strong>Apakah saat ini waktunya untuk berbelanja ?</strong></p>
<p>Untuk pertanyaan apakah saat ini waktunya belanja, 69 persen responden Indonesia menjawab ‘tidak baik’. Jadi memang persoalannya adalah bagaimana caranya membangunkan keyakinan konsumen untuk tidak khawatir berbelanja. Kalau semua konsumen menahan belanja, ekonomi justru akan kian melemah. Harap diingat, 64 persen pertumbuhan ekonomi disumbang oleh pertumbuhan konsumsi domestik.<br />
Apalagi pada dasarnya, fondasi ekonomi Indonesia sulit untuk bisa di-<em>complaint.</em> Populasi besar adalah potensi pasar yang luar biasa. Kondisi pasar dan komunikasi pun terbuka. Lantas, Indonesia menjadi salah satu negara yang pertumbuhan ekonominya positif di tengah krisis global lalu.</p>
<p class="textboxleft">Jadi memang persoalannya adalah bagaimana caranya membangunkan keyakinan konsumen untuk tidak khawatir berbelanja</p>
<p>Begitu pula dengan kemudahan dan kenyamanan konsumen melalui perbaikan pasar tradisional, peningkatan distribusi, pertumbuhan toko modern, dan produk yang inovatif. Para pelaku ritel tradisional dan modern haruslah bangkit dan menemukan mood untuk dapat menikmati gairah berbelanja yang lebih baik di tahun depan. Tidak ada alasan pesimistis.<br />
Nah, kini yang sangat diperlukan adalah mendorong terus upaya menggugah kepercayaan konsumen. Untuk melakukan dorongan itu, memang harus dilakukan dengan cara–cara yang tidak biasa. Kiat yang inovatif itu, dapat dilakukan seperti promosi Hari Batik, bulan konsumsi produk lokal nostalgia Nusantara, festival ikan se–Indonesia, pekan buah segar Nusantara, dan bulan sehat minum jamu keluarga Indonesia. [don@enciety.com]</p>
<p>*) Yongky Surya Susilo, Director Retailer Service The Nielsen Indonesia</p>
<p>Dimuat : Kolom Ritel - Kompas - 29 September 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/10/01/saatnya-membangun-keyakinan-untuk-belanja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lifestyle</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/30/life-style/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/30/life-style/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 09:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Data]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[32.8 % younger bikers di Surabaya, memilih internet sebagai media informasi.
50 % diantaranya mengendarai motor bebek Honda, 22.7 % Yamaha, 18.8 % Suzuki untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Sumber : Survey Media Enciety, 2009, n=67
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>32.8 % younger bikers di Surabaya, memilih internet sebagai media informasi.</p>
<p>50 % diantaranya mengendarai motor bebek Honda, 22.7 % Yamaha, 18.8 % Suzuki untuk menunjang aktivitas sehari-hari.</p></blockquote>
<p>Sumber : Survey Media Enciety, 2009, n=67</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/30/life-style/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Produk Srikandi Nelayan Surabaya Hasilnya Nyata</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/30/produk-srikandi-nelayan-surabaya-hasilnya-nyata/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/30/produk-srikandi-nelayan-surabaya-hasilnya-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 04:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Srikandi Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Pengembangan sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) telah menjadi perhatian utama. tidak dibutuhkan wacana, diskusi, ataupun pembahasan yang berkepanjangan. produk srikandi nelayan merupakan upaya keberpihakan dengan hasil yang nyata.
Tidak perlu basa basi dan langsung menukik ke arah sasaran yang jelas. Sehingga hasilnya pun jelas karena dapat dinikmati secara kasat mata. Pelaku sektor UMK memang memerlukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengembangan sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) telah menjadi perhatian utama. tidak dibutuhkan wacana, diskusi, ataupun pembahasan yang berkepanjangan. produk srikandi nelayan merupakan upaya keberpihakan dengan hasil yang nyata.</p>
<p>Tidak perlu basa basi dan langsung menukik ke arah sasaran yang jelas. Sehingga hasilnya pun jelas karena dapat dinikmati secara kasat mata. Pelaku sektor UMK memang memerlukan suatu keberpihakan yang nyata dan dilakukan  melalui semangat gotong– royong banyak pihak.<br />
Inilah yang dikerjakan oleh tiga pilar usaha “plus” Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, dengan gamblang memberdayakan usaha ekonomi kerakyatan. Mereka adalah PT Carrefour Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk, dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Tekadnya  sangat luhur: ingin menjadikan kota Surabaya lebih baik dan “wong cilik” bangkit menuju keluarga sejahtera.</p>
<p>Sebuah gambaran bagaimana para pelaku usaha yang cerdas dan peduli bisa membaca ke arah mana mereka harus bekerja keras. Untuk selanjutnya dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya.Sebagai kelompok mayoritas, setiap pertumbuhannya pastilah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan bahkan mengurangi kesenjangan antar pelaku usaha.</p>
<p>Kesuksesan Pemkot Surabaya menggabungkan <em>multi stakeholders</em> dan komunitas para ibu rumah tangga di pesisir Surabaya yang tergabung dalam kelompok Srikandi Nelayan, patut ditiru. Sebagai wujud nyata komitmen <em>multi stakeholders partnership</em> Pemkot Surabaya dan badan usaha yang peduli untuk mengembangkan potensi ekonomi warga kota Surabaya yang masih marjinal.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_left" style="width:280px;"><img src="http://enciety.com/files/2009/09/adv_jp_30092009_thumbnail.jpg" alt="Triana Mulyatsa (Telkom), Walikota Surabaya Bambang DH, Irawan D Kadarman (Carrefour) dan Yos Adiguna Ginting (Sampoerna) dengan bangga membawa hasil produksi Srikandi Nelayan Surabaya" align="left"><br style="clear:both" /><span>Triana Mulyatsa (Telkom), Walikota Surabaya Bambang DH, Irawan D Kadarman (Carrefour) dan Yos Adiguna Ginting (Sampoerna) dengan bangga membawa hasil produksi Srikandi Nelayan Surabaya</span></div></p>
<p>Program ini berawal dari kepedulian Pemkot Surabaya terhadap warga pesisir yang memiliki keterbatasan kapasitas ekonomi, untuk mengolah hasil laut dan perikanan.</p>
<p>Mereka cenderung menjual langsung hasil tangkapan, sehingga harganya tak stabil dan makin merosot ketika panen raya.</p>
<p>Kondisi inilah yang mendorong gagasan solusi yang cerdas dan peduli serta ikhlas. Kata kuncinya “Berawal Dari Hati”, suatu keberpihakan terhadap usaha mikro berbasis komunitas.</p>
<p>Dengan semangat gotong–royong, dan skema ekonomi kerakyatan, para ibu rumah tangga di pesisir Surabaya didorong membentuk UMK berbasis kelompok.</p>
<p>Melalui pendekatan ini, diharapkan nelayan di Surabaya dapat langsung menjual hasil tangkapan yang segar dan berkualitas utama, dengan harga yang baik.</p>
<p>Sedangkan “kelebihan” dari hasil tangkapan nelayan yang dapat menyebabkan harga anjlok, akan diolah para Srikandi Nelayan menjadi produk unggulan yang lezat, sehat, dan bergizi.</p>
<p>Kerja sama yang kreatif ini mengundang apresiasi tokoh Surabaya dan media yang hadir dalam Launching Produk Srikandi Nelayan.<br />
Produk Srikandi Nelayan Surabaya yang diluncurkan berupa abon udang, keripik kentang rasa udang dan bakso ikan. Semuanya mengandung varian rasa manis dan rasa pedas. Peluncuran di Golden City Mall ini dilakukan Wali Kota Surabaya Bambang DH bersama <em>Corporate Affairs Director</em> PT Carrefour Indonesia Irawan D. Kadarman, <em>Corporate Affairs Director</em> PT HM Sampoerna Tbk. Yos Adiguna Ginting, dan <em>Executive General Manager</em> PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Divisi Regional V Jawa Timur Triana Mulyatsa.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, juga ditandatangani Kesepahaman Bersama untuk mendukung keberlanjutan upaya ini dalam Sentra Bisnis Hasil Olahan Perikanan dan Kelautan Bulak, yang diharapkan akan berdiri dalam tahun ini. Kerja sama yang baru pertama kalinya diimplementasikan di Indonesia  tidaklah mudah untuk diwujudkan. Karena semangat gotong–royong lebih mudah untuk dibicarakan daripada dilaksanakan.<br />
”Kerja sama ini menunjukkan tingkat kecerdasan dan kepedulian dari berbagai pihak yang terlibat,”  kata Bambang DH Walikota Surabaya. Kerja sama ini bukan hanya menarik, namun juga nyata. Masing–masing pihak telah melaksanakan komitmen sesuai kompetensinya, untuk meningkatkan kapasitas ekonomi Srikandi Nelayan.</p>
<p>“Hanya pribadi dan perusahaan yang hebat, yang tidak takut untuk bekerja sama (seperti dalam program ini) dan kami yakin akan kesinambungannya,” lanjut Bambang DH.</p>
<p>Kini, saat yang tepat untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan yang berbasis komunitas secara nyata. Dengan memanfaatkan semangat gotong–royong, inisiatif multi stakeholders partnership yang dimulai dengan lahirnya produk unggulan Srikandi dari Surabaya ini, dapat mendorong UMK segera menjadi penggerak ekonomi. Dan, tentunya juga harus disertai kesungguhan semua pihak yang terlibat.</p>
<p>Dimuat : Jawa Pos, 30 September 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/30/produk-srikandi-nelayan-surabaya-hasilnya-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Segmentasi Konsumen Ritel Indonesia</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/29/segmentasi-konsumen-ritel-indonesia/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/29/segmentasi-konsumen-ritel-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 08:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Dengan industri yang masih tumbuh dua digit, seharusnya ritel tradisional dan modern saling melengkapi bukan saling menggantikan.
Perkembangan industri ritel nasional 2009 secara keseluruhan masih menunjukkan kecenderungan yang positif dengan pertumbuhan dua digit. Sampai saat ini dampak krisis ekonomi dunia tidak membuat pertumbuhan ekonomi dan industri ritel nasional menjadi minus.
Kita memang membutuhkan perdagangan ritel yang sehat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dengan industri yang masih tumbuh dua digit, seharusnya ritel tradisional dan modern saling melengkapi bukan saling menggantikan.</em></p>
<p>Perkembangan industri ritel nasional 2009 secara keseluruhan masih menunjukkan kecenderungan yang positif dengan pertumbuhan dua digit. Sampai saat ini dampak krisis ekonomi dunia tidak membuat pertumbuhan ekonomi dan industri ritel nasional menjadi minus.</p>
<p>Kita memang membutuhkan perdagangan ritel yang sehat. Alasannya bukan karena kontribusi sektor ini dalam penggunaan PDRB masih di atas 60 persen, atau proporsi tenaga kerjanya mencapai sekitar 35 persen, saja.<span id="more-216"></span>Krisis ekonomi yang masih mendekap dunia saat ini yang membuat ekspor dan investasi menurun, yang kian membuat industri ritel menjadi tumpuan harapan.</p>
<p>Industri ritel yang efisien dan maju diharapkan bisa meningkatkan ekonomi lokal, baik industri manufaktur ataupun pertanian lokal (makanan olahan). Bukan itu saja, dengan perdagangan ritel yang sehat, akses bagi konsumen akan semakin mudah, dengan harga kebutuhan rumah tangga yang bersaing.</p>
<p>Konsumen Indonesia yang tergolong multichannel users menjadi sebuah kekuatan penangkal krisis. Pasalnya, ritel tradisional maupun modern tetap dapat tumbuh dan berkembang, lantaran sifat konsumen yang masih mendatangi kedua jenis ritel ini.</p>
<p>Berdasarkan survei Enciety Business Consult 2009, kebiasaan belanja utama konsumen ritel tradisional dan modern menunjukkan perbedaan yang signifikan. Konsumen Indonesia lebih cenderung memanfaatkan ritel tradisional untuk belanja utama harian.</p>
<p>Kondisi ini seharusnya dapat dimanfaatkan para pengelola warung kelontong dan pasar tradisional. Frekuensi bertemu yang lebih sering, kalau dioptimalkan dapat meningkatkan kapasitas ekonomi dari para pelaku ritel tradisional.</p>
<p>Hanya saja, untuk dapat tumbuh dan berkembang, ritel tradisional menghadapi dua tantangan. Pertama, jumlah pelaku ritel tradisional cenderung meningkat, karena mudahnya pendiriannya (tanpa ijin pun bisa berjualan), dan sebagai alternatif lapangan pekerjaan. Kedua, sebagian besar ritel tradisional lebih cocok untuk konsumen berumur di atas 40 tahun.</p>
<p>Untuk kelompok anak muda dan keluarga muda yang di bawah 40 tahun di kota–kota utama di Jawa, membutuhkan pendekatan yang berbeda. Mereka sangat mengedepankan pragmatisme atau kemudahan dan kenyamanan, dan tentunya dengan standar hygiene yang memadai. Tidaklah mengherankan jika ritel tradisional membutuhkan revitalisasi dan repositioning.</p>
<p>Di sisi lain, konsumen Indonesia lebih condong memanfaatkan ritel modern untuk belanja utama mingguan dan bulanan. Nah, kompetisi intra dan antar minimarket, supermarket, dan hypermarket sungguh menarik. Masing–masing ritel modern ini, memiliki kekuatan (akses keuangan dan pengadaan barang), serta semakin dekat dengan perumahan.</p>
<p>Minimarket mempunyai tingkat pertumbuhan ritel tercepat. Kelebihan utamanya adalah  letaknya lebih terjangkau, kelengkapan yang cukup memadai, dengan harga yang cukup bersaing. Di samping itu, sudah disediakan pula alternatif pola pembayaran. Kendati didesain cash and carry, jenis ritel ini juga sudah menerima kartu debit atau bahkan e–wallet.</p>
<p>Dengan kelebihan ini tidaklah mengherankan, berdasarkan survei Enciety Business Consult 2009, minimarket mendominasi sebagai tempat belanja kelompok usia di bawah 20 tahun. Adapun untuk kelompok usia 20–29 tahun ketiga ritel modern tampak berimbang. Sedangkan di atas usia 30 tahun, konsumen hypermarket cenderung lebih besar.</p>
<p>Kompetisi memang bukan sesuatu yang menyenangkan, namun dapat mendorong kreativitas, dan bahkan kesempatan memperluas segmen. Terbentuknya pola ritel menurut kohor usia juga makin memberikan kesempatan menjangkau segmen pembelanjanya. Untuk itu, dibutuhkan kemampuan beradaptasi melalui inovasi yang terpandu. [don@enciety.com]</p>
<p>* Kresnayana Yahya - Chairperson Enciety Business Consult</p>
<p>Dimuat : Kolom Ritel - Kompas - 24 September 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/29/segmentasi-konsumen-ritel-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Persiapan Pengamanan Libur Lebaran</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/17/persiapan-pengamanan-libur-lebaran/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/17/persiapan-pengamanan-libur-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 11:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Topic Of The Week]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Materi persiapan pengamanan menghadapi hari libur lebaran ini akan dikupas tuntas dalam dialog prospektif bisnis enciety Business Consult di Radio Suara Surabaya, Jum’at, 18 September 2009.
Talkshow ini akan dipandu oleh Bp. Kresnayana Yahya (Chairperson enciety) dengan nara sumber Kombes Pol Ronny F Sompie (Kapolwil Surabaya) dan KABAG Bina Mitra Polwil Surabaya - Ibu Dra Sri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://enciety.com/files/2009/09/dialogbisnis_ss1.jpg" alt="" align="left">Materi persiapan pengamanan menghadapi hari libur lebaran ini akan dikupas tuntas dalam dialog prospektif bisnis enciety Business Consult di Radio Suara Surabaya, Jum’at, 18 September 2009.</p>
<p>Talkshow ini akan dipandu oleh Bp. Kresnayana Yahya (Chairperson enciety) dengan nara sumber Kombes Pol Ronny F Sompie (Kapolwil Surabaya) dan KABAG Bina Mitra Polwil Surabaya - Ibu Dra Sri Setyorahayu.</p>
<p>Masukan warga kota Surabaya diharapkan akan memperdalam materi diskusi, sehingga pendengar memperoleh informasi yang lengkap tentang kesiapan Polwil Surabaya dalam pengamanan menghadapi libur lebaran. [Admin]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/17/persiapan-pengamanan-libur-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Optimisme Usaha Ritel Indonesia</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/17/membangun-optimisme-usaha-ritel-indonesia/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/17/membangun-optimisme-usaha-ritel-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 03:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan usaha ritel makin menunjukkan pertumbuhan positif, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan rumah tangga. Selain mendorong output industri lokal, usaha ritel juga berdampak positif bagi penyediaan lapangan kerja, dan kemudahan akses serta &#8220;stabilitas&#8221; harga di tingkat konsumen Indonesia.
Konsumen kita tergolong multi channel users. Artinya, sekalipun sudah memanfaatkan ritel modern, mereka masih juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan usaha ritel makin menunjukkan pertumbuhan positif, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan rumah tangga. Selain mendorong <em>output</em> industri lokal, usaha ritel juga berdampak positif bagi penyediaan lapangan kerja, dan kemudahan akses serta &#8220;stabilitas&#8221; harga di tingkat konsumen Indonesia.</p>
<p>Konsumen kita tergolong multi channel users. Artinya, sekalipun sudah memanfaatkan ritel modern, mereka masih juga mengunjungi peritel tradisional. Berdasarkan hasil survey Enciety Business Consult tahun 2009, konsumen ritel modern masih memanfaatkan ritel tradisional, terutama: pedagang keliling, warung kelontong, dan pasar tradisional.<span id="more-175"></span></p>
<p>Konsumen makin peduli terhadap efisiensi transportasi kota. Kondisi ini, makin mendorong para ibu rumah tangga memanfaatkan model bisnis ritel yang lebih dekat dengan rumahnya, terutama untuk belanja harian dan mingguan. Hal inilah yang seharusnya dimanfaatkan oleh pelaku bisnis ritel tradisional, warung kelontong dan pasar tradisional.</p>
<p>Untuk membeli makanan segar, pilihan utama masih di ritel tradisional. Hanya saja, dengan pertimbangan efisiensi, sudah selayaknya dilakukan inovasi, layanan pesan-antar dengan memanfaatkan makin murahnya biaya telekomunikasi bergerak. Misalnya paket bahan-bahan masakan, seperti: Sayur Bening, Sayur Asem, ataupun Cap Cay.</p>
<p>Keperluan sehari-hari lain, terutama barang konsumsi dengan kemasan kecil-ekonomis, pilihan utama para ibu rumah tangga tetap warung kelontong. Keterjangkauan transportasi dan keterbatasan dana yang dimiliki konsumen yang menjadi penyebabnya. Hal inilah yang menyebabkan kecenderungan berbelanja harian di warung kelontong paling tinggi.</p>
<p>Kenyataan belanja harian di warung kelontong sangat tinggi, yakni hampir mencapai 89 persen di Surabaya. Namun baik warung kelontong dan pasar tradisional mulai sulit untuk bersaing untuk memenuhi kebutuhan belanja mingguan. Untuk mempertahankan eksistensi dan terutama pembelinya, dibutuhkan solusi yang makin cerdas dan peduli.</p>
<p>Keberadaan warung kelontong dan pasar tradisional masih menjadi mayoritas dari usaha ritel. Hanya saja keduanya akan menghadapi permasalahan yang rumit jika masih memakai model bisnis eksisting. Pesaingnya yang punya kelebihan (akses keuangan, pengadaan barang serta memperindah penampilan dan sajian <em>service</em>) semakin dekat dengan perumahan.</p>
<p>Kendati demikian warung kelontong dan pasar tradisional tidak membutuhkan bantuan bahkan dari pemerintah sekalipun. <em>Aid never reduce proverty and aid is not sustainable</em>. Mereka hanya memerlukan akses bisnis, terutama dalam hal pengadaan barang maupun akses keuangan secara proporsional. Sesungguhnya dengan pola kerja komunitas, mereka masih dapat tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Sampai saat ini, warung kelontong dan pasar tradisional masih mempunyai kedekatan budaya dengan lingkungannya, sehingga relasi sosial dengan pelanggan tidak mudah digantikan. Hanya saja, mereka membutuhkan implementasi praktis dari semangat gotong royong, terutama efisiensi dalam proses pengadaan (kulakan). Jika tidak, niscaya bisnis mereka sekedar hanya untuk survival.</p>
<p>Pebisnis yang mengenal konsumennya akan punya relasi yang kuat. Seharusnya hal ini dan kualitas layanan, yang merupakan ranah kompetisi yang sehat. Semoga harapan ini dapat menjadi nyata, karena masyarakat sebenarnya masih membutuhkan keberadaan para pelaku ritel yang mampu berkompetisi dengan pendekatan budaya lokal. [don@enciety.com]</p>
<p>*Kresnayana Yahya - Chairperson Enciety Business Consult</p>
<p><em>Dimuat : Kolom Ritel - Kompas - 17 September 2009</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/17/membangun-optimisme-usaha-ritel-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sektor Riil</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/15/120/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/15/120/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 04:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Graphics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/blog/2009/09/15/120/</guid>
		<description><![CDATA[electronicgraphics
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_ft size-full wp-image-119" style="width:320px;"><img class="alignleft size-full wp-image-119" src="http://enciety.com/files/2009/09/electronicgraphics.png" alt="electronicgraphics" width="320" height="146" /><br style="clear:both" /><span>electronicgraphics</span></div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/15/120/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kelompok Srikandi Nelayan Diberdayakan</title>
		<link>http://enciety.com/blog/2009/09/14/kelompok-srikandi-nelayan-diberdayakan/</link>
		<comments>http://enciety.com/blog/2009/09/14/kelompok-srikandi-nelayan-diberdayakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 07:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Srikandi Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enciety.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Ibu-ibu yang tergabung dalam Srikandi Nelayan cukup menguasai teknologi mengolah hasil ikan
Konsumsi rumah tangga memiliki rantai ekonomi yang jelas dibanding konsumsi pemerintah. Dengan 65% pertumbuhan ekonomi, berasal dari konsumsi rumah tangga.
Konsumsi rumah tangga ini bisa ditingkatkan melalui festival atau gelar produk. Dan upaya–upaya tersebut tidak hanya menguntungkan para pedagang ritel namun juga UMK yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="imagecaptioneasy_top_left"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_ft" style="width:280px;"><img class="alignleft" src="http://www.suarasurabaya.net/v04/clips/200905/kk65632_clip2.JPG" alt="Ibu-ibu yang tergabung dalam Srikandi Nelayan cukup menguasai teknologi mengolah hasil ikan" width="280" height="213" /><br style="clear:both" /><span>Ibu-ibu yang tergabung dalam Srikandi Nelayan cukup menguasai teknologi mengolah hasil ikan</span></div></div>
<p>Konsumsi rumah tangga memiliki rantai ekonomi yang jelas dibanding konsumsi pemerintah. Dengan 65% pertumbuhan ekonomi, berasal dari konsumsi rumah tangga.</p>
<p>Konsumsi rumah tangga ini bisa ditingkatkan melalui festival atau gelar produk. Dan upaya–upaya tersebut tidak hanya menguntungkan para pedagang ritel namun juga UMK yang menjadi pemasok dan para pekerja terkait. Bahkan, pedagang makanan dan minuman, sopir angkutan umum sampai tukang parkir dapat merasakan dampak positifnya.</p>
<p>Dengan cara ini pula sangat menguntungkan konsumen, karena biaya pemasaran dan distribusi makin murah. Untuk itulah, multi stakeholders partnership yang terdiri dari Pemkot Surabaya, PT Carefour Indonesia, PT HM Sampoerna dan PT Telkom Indonesia mengambil inisiatif program pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasiskan komunitas bagi kelompok Srikandi – para istri nelayan- yang berada di kawasan Bulak Cumpat Kenjeran, Minggu (31/05).</p>
<p>BAMBANG DH Walikota Surabaya dalam peluncuran program pemberdayaan ekonomi kerakyatan mengatakan di tengah kondisi krisis saat ini mendorong inisiatif Pemkot Surabaya menggagas solusi yang cerdas dan peduli. “Kata kuncinya “Berawal Dari Hati”. Suatu keberpihakan terhadap usaha berbasis komunitas atau kelompok,”ucap BAMBANG dalam siaran pers yang diterima suarasurabaya.net.</p>
<p>Dengan semangat gotong–royong, ujar BAMBANG, pihaknya memanfaatkan skema ekonomi kerakyatan berbasis komunitas. ”Ibu–ibu nelayan didorong untuk membentuk UMK berbasis komunitas atau kelompok. Hasil tangkapan nelayan yang segar dengan kualitas utama, dapat langsung dijual dengan harga yang baik,”ujarnya.</p>
<p>Sedangkan yang kualitasnya lebih rendah, atau “kelebihan” hasil tangkapan yang dapat menyebabkan harga anjlok, akan diolah UMK tersebut. Untuk meningkatkan kapasitas ekonomi kemampuan produksi dan pengembangan produk, mereka akan didampingi PT HM Sampoerna di bawah bendera Sampoerna Untuk Indonesia.</p>
<p>Adapun pemasaran dan distribusi, para Srikandi Nelayan ini akan didampingi PT Carrefour Indonesia. Harapannya, makin memudahkan konsumen untuk membeli produk hasil olahan laut tersebut. Tentu saja dengan rasa enak, sehat, dan halal.</p>
<p>Kata BAMBANG, Srikandi Nelayan juga akan didampingi PT Telekomunikasi Indonesia, yang mempunyai kepedulian dan kemampuan menyalurkan dana bergulir, serta meningkatkan kualitas hidup komunitas tersebut.</p>
<p>KRESNAYANA YAHYA Chairperson Enciety Business Consult mengatakan sampai saat ini banyak penawaran kredit untuk UMK yang sepintas tampak pro poor policy. Satu diantara bank dengan rasio kecukupan modal (CAR) terbesar berhasil menyalurkannya Rp 11 trilyun tahun lalu, dengan bunga kredit sebesar 24%–26%.</p>
<p>”Namun dengan besaran kredit korporasi hanya sebesar 13% memperlihatkan kondisi paradoksial dari “bantuan” untuk kesejahteraan UMK. Aid never reduce poverty, bantuan tidak akan pernah menurunkan angka kemiskinan,”tuturnya.</p>
<p>Menurut KRESNAYANA bantuan untuk kelompok marjinal, seperti petani dan nelayan tidak akan banyak bermanfaat. “Mereka tetap tidak bisa melawan siklus “abadi”, yakni saat panen justru menjadi waktu yang menyedihkan,” lanjutnya.</p>
<div class="imagecaptioneasy_top_left"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_ft" style="width:280px;"><img class="alignleft" src="http://www.suarasurabaya.net/v04/clips/200905/kk65632_clip3.JPG" alt="Multi stakeholders partnership dalam peluncuran program ekonomi kerakyatan" /><br style="clear:both" /><span>Multi stakeholders partnership dalam peluncuran program ekonomi kerakyatan</span></div></div>
<p>Ia mencontohkan harga udang ukuran kecil. Tahun lalu komoditas ini dapat dijual Rp15 ribu per kilogram, bulan lalu masih Rp10 ribu, dan panen bulan ini tinggal Rp5 ribu. Khusus untuk kasus ini, tidaklah mungkin hanya mengandalkan cara semacam festival atau gelar produk semata. Untuk itulah, intervensi yang lebih cerdas dan peduli sangat dibutuhkan.</p>
<p>Kemampuan mereka untuk berproduksi sangat terbatas–mikro. Mereka memilih menjual mentah tanpa proses, sehingga seolah–olah tidak memiliki bargaining position apa pun. Kalaupun diolah, masih sangat sederhana dan tidak mempunyai standar apalagi daya tarik bagi pembeli. Begitu juga bahan–bahan yang digunakan tidak semuanya layak konsumsi.</p>
<p>Sementara itu, DON ROZANO GM Enciety Business Consult pada suarasurabaya.net, menjelaskan, untuk tahap awal program ini diikuti 20 Srikandi Nelayan. Ditargetkan, kelompok bisa berkembang dengan jumlah anggota 200 orang.</p>
<p>“Kalau sistemnya berjalan dengan baik, optimis dalam satu tahun bisa menjaring 200 ibu-ibu nelayan. Pemkot Surabaya sendiri memberikan dana pancingan Rp 60 juta untuk mengurus perijinan lokasi, usaha dan sertifikasi produk,”tukas DON.</p>
<p>DON menambahkan dengan program yang komprehensif, ibu-ibu nelayan akan memiliki jiwa wirausaha dan kemandirian. Mereka akan menguasai teknologi produksi, pengurusan ijin serta kemandirian di bidang finansial. (tin)</p>
<p>Sumber : <a href="http://ekonomibisnis.suarasurabaya.net/?id=13d1e10bfca1c5d94e9226ff20f46f62200965632">Ekonomi Bisnis, Suara Surabaya.Net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enciety.com/blog/2009/09/14/kelompok-srikandi-nelayan-diberdayakan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 2.956 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2009-10-09 12:29:05 -->
<!-- Compression = gzip -->